February 20, 2013

Sinopsis My Daughter Seo Young Episode 1 - 5

Sinopsis Sayangku Seo Young

Entah sudah berapa tahun saya nulis sinopsis ini, ya? *lebay* Kok rasanya nggak kelar-kelar juga. Sudahlah. Saya mulai dengan pengenalan karakter saja, ya..

Pengenalan karakter My Daughter Seo Young



Keluarga Lee

Lee Sam Jae adalah ayah yang ingin menghasilkan untung banyak tapi malah buntung. Sebelum krisis moneter tahun 1998, ia memiliki usaha yang cukup sukses. Tapi setelah krisis, usahanya bangkrut dan ia ditipu habis-habisan oleh temannya. Ia tak menyadari (atau menyadari tapi mengabaikannya) kalau istrinya bekerja banting tulang hingga menjadi pembantu rumah tangga. Anaknya bekerja serabutan agar memperoleh uang sekolah sendiri.

Ia ingin sekali menghidupi istri dan anak-anaknya, tapi dengan cara yang paling cepat. Seperti berjudi atau berhutang. Hingga ia selalu terbelit masalah terus menerus, dan hal itu malah membuat anak sulungnya harus melunasi hutang ayahnya dengan memberikan uang jerih payah sendiri.

Lee Seo Young adalah si anak sulung itu. Pernah menunggak setahun saat hampir lulus SMA, agar bisa bekerja mengumpulkan uang untuk membayar uang sekolah dan memasukkan adik kembarnya ke fakultas kedokteran.

Ia sebenarnya juga ingin menjadi dokter, tapi ia memilih untuk kuliah hukum karena masa belajar yang relatif cepat dan ia nanti dapat menjadi pengacara yang menghasilkan banyak uang. Lalu kapan ia punya waktu untuk belajar jika terus bekerja? Selain di rumah atapnya, ia juga belajar di bis, saat ia makan dan mendengarkan suaranya sendiri yang membaca diktat dan ia rekam.

Lee Sang Woo adalah adik kembar Seo Young. Walau lahir 3 menit lebih dahulu, Sang Woo selalu dianggap Seo Young sebagai adik kecilnya, yang kadang-kadang membuat Sang Woo kesal. Bukan kesal karena marah, tapi kesal karena kasihan melihat Seo Young harus memperhatikan dirinya padahal beban hidup Seo Young sudah banyak, melebihi dirinya.


Keluarga Kang

Kang Woo Jae baru saja menyelesaikan wajib militernya. Pria tampan dan kaya karena kakeknya memberikan warisan padanya, sehingga ia menolak untuk mengambil alih perusahaan ayahnya. Ia memilih untuk bekerja di film saat ia kembali ke Amerika nanti. Keras kepala? Sangat. Karena anti pada perusahaan ayahnya, Woo Jae memutuskan untuk kembali ke Amerika meneruskan kuliahnya hanya satu minggu setelah ia keluar dari wamil.

Namun karena motornya dicuri (oleh seorang wanita dan tepat di bawah hidungnya), Woo Jae menunda untuk kembali ke Amerika untuk menangkap pencuri wanita itu. 

Kang Ki Bum adalah ayah Kang Woo Jae yang juga keras kepala. Ia pemilik perusahaan fashion yang diturunkan oleh ayahnya, dan karena itulah ia marah pada putra sulungnya yang menolak mengambil alih perusahaan itu. Tapi ia tak dapat berbuat apa-apa karena Woo Jae memiliki uang sendiri, walaupun menurutnya kakek Woo Jae mewariskan semua uangnya pada Woo Jae karena pada akhirnya Woo Jae yang akan mewarisi perusahaannya.

Cha Ji Sun menikah dengan Ki Bum karena dijodohkan oleh orang tua. Pernikahan politik, karena Ki Bum memiliki kekayaan dan ia adalah putri dari anggota cabinet. Walau dijodohkan ia mencintai suaminya yang cuek dan hanya mementingkan perusahaannya.

Kang Mi Kyung adik Kang Woo Jae, yang sekarang sedang kuliah kedokteran. Sejak kuliah, ia berpura-pura menjadi anak yatim piatu dan berdandan tomboy, untuk mendapatkan pacar yang tak hanya memandang kekayaannya saja.

Kang Sung Jae anak terakhir keluarga Kang yang duduk di bangku SMA. Nilainya di sekolah selalu jelek, hingga ia harus les di rumah. Tapi guru lesnya tak ada yang tahan melihat kelakuannya yang tak pedulian dan tak sopan sama sekali. Namun semuanya berubah saat ia mendapat guru les yang terakhir.


Keluarga Choi

Choi Ho Jung adalah mahasiswi jurusan musik dengan spesialisasi harpa. Whoaa.. harpa? Iya. Spesialis itu dipilih oleh ibunya sebagai bekal untuk menikahkan Ho Jung dengan pemuda kaya, keturunan chaebol. Suka sekali tidur hingga siang, dan belum pernah merasakan cinta. Hingga ia bertemu dengan Sang Woo.

Choi Gang Sun adalah ibu Ho Jung yang bercita-cita mempunya menantu kaya. Namun usahanya belum membuahkan hasil hingga sekarang. Sangat memanjakan anaknya dan selalu tak puas pada hasil kerja suaminya. Ia adalah istri kedua suaminya yang ditinggal mati oleh istri pertamanya.

Orang tuanya mulanya tak setuju kalau Gang Sun menikah dengan duda beranak satu, tapi Gang Sun yang keras kepala, akhirnya berhasil melunakkan hati orang tuanya untuk menikah dengan Min Suk. Ia juga merupakan teman SMA Ji Sun.

Choi Min Suk adalah ayah Ho Jung sekaligus sahabat Ki Bum. Ia mendapat posisi tinggi di Winners lebih karena hubungan dekatnya dengan Ki Bum. Ia sebenarnya tak suka dengan pekerjaannya, tapi demi gaji yang menghidupi rumah tangganya, ia tetap bekerja di sana.

Choi Kyung Hoo adalah anak Choi Min Suk dari istri pertama. Profesinya adalah dokter dan sekarang sudah menjadi professor, mengajar di salah satu universitas di Amerika.

Sinopsis My Daughter Seo Young Episode 1 – 5


Seo Young dan pacarnya berlomba dengan pasangan lain untuk memenangkan sebuah lomba di kolam yang penuh pengunjung. Namun ternyata pacarnya itu sudah punya pacar lain. Seo Young? Cuek-cuek saja, karena ia hanya mendekati cowok itu, namun malah membuat pacar si cowok marah. Jadilah Seo Young dikejar oleh si pacarnya itu, dan terjebur di kolam. Pacar si cowok itu tidak puas, dan mencakar Seo Young.


Hmm… Seo Young adalah gadis pengganggu pacar orang lain? Tidak. Karena Seo Young hanya sedang melakukan syuting reality show, dimana dia dikondisikan menjadi gadis pengganggu hubungan orang lain untuk melihat reaksi mereka.


Itulah pekerjaan Seo Young, yang harus bersedia dicakar dan dimaki untuk mendapatkan uang kuliah dan untuk hidup sehari-hari. Begitu pula yang dilakukan adik kembarnya, Sang Woo, yang menjadi sopir tembak dan menjadi tutor, dengan alasan yang sama.


Mahasiswa hukum dan mahasiswa kedokteran. Mereka berdua benar-benar gigih untuk melanjutkan pendidikan mereka. Walau begitu, ada sedikit kabar baik dari ibu mereka. Entah bagaimana cara ibu berhemat, tapi ibu telah menyisihkan uang dari gaji menjadi pembantu rumah tangga untuk biaya kuliah mereka. Sang Woo menduga kalau ayahnya pasti juga telah membantu ibu, walau Seo Young menyangsikan dugaan itu.


Jadi Seo Young dapat tenang untuk meneruskan kuliah yang tinggal satu tahun lagi dan mengambil ujian Negara untuk menjadi pengacara. Setelah itu ia akan membiayai Sang Woo hingga Sang Woo menjadi dokter nanti.


Namun kabar buruk menghampiri Seo Young setelah ia melakukan syuting terakhirnya (menjadi gadis dengan penampilan menggoda untuk menipu pria dengan meminjam uang). Ia ditelepon Sang Woo kalau ibu mereka masuk rumah sakit, karena serangan jantung.


Betapa paniknya Seo Young mendengar hal itu. Ia harus buru-buru mencari tiket pesawat untuk pulang. Tapi tak ada taksi kosong di saat jam-jam sibuk seperti itu. Maka, saat ia melihat sepeda motor yang parker di pinggir jalan, tanpa pikir panjang, ia langsung melarikan sepeda motor itu ke bandara.


Pemiliki sepeda motor itu, Kang Woo Jae, tentu saja kaget dan marah melihat motornya dibawa lari. Oleh seorang gadis pula. Gadis yang beberapa saat yang lalu merayu seorang pria untuk meminjamkan uang padanya. Ia yang sedang bersama dengan temannya, langsung mengejar gadis pencuri motor itu. Tapi gagal. Gadis itu berhasil meloloskan diri.


Ia sangat marah melihat motor warisan kakeknya dicuri orang. Maka ia memundurkan jadwal keberangkatannya ke Amerika, yang rencananya minggu depan, untuk melaporkan ke polisi agar mereka melacak si pencuri itu. 


Walau kata temannya sih, Woo Jae melakukan hal ini karena harga dirinya. Sudah wanita, mencurinya tepat di bawah hidungnya lagi. Ckckck..

Seo Young meninggalkan sepeda motor itu begitu saja di depan pintu masuk bandara, dan segera mencari jadwal kepulangannya yang paling cepat ke rumah orang tuanya.


Namun ibunya ternyata sudah dibawa ke rumah sakit dan masuk ke ruang operasi karena serangan jantung. Sang Woo yang sudah lebih dulu tiba di rumah sakit, tak dapat menjelaskan pada Soo Yeong, dimana sebenarnya ayah mereka.


Ayah mereka datang, dan kaget  kondisi ibu, apalagi pertanyaan Seo Young yang bertanya mengapa ayah tak pernah mengatakan kondisi jantung ibu yang sebenarnya. Reaksi ayah malah, “Memang jantung ibu kenapa?”


Kaget yang belum pulih itu, sekarang terperosok ke kesedihan yang mendalam saat dokter keluar menemui mereka dan mengatakan kalau ibu meninggal di meja operasi. Sebenarnya dokter sudah mendiagnosa penyakit ibu ini dan memintanya untuk segera melakukan operasi, tapi ibu selalu menundanya, sehingga sekarang sudah terlambat.


Tak ada yang bisa Seo Young lakukan lagi, kecuali menangis saat ibu disemayamkan di rumah duka, juga saat dikremasi. Tapi saat akan menaburkan abu di pinggir tebing sebagai tempat terakhir (yang biasanya adalah tempat yang paling disukai), Seo Young menolak menabur abu ibu.


Seo Young tak mau melepaskan ibu di tebing pinggir laut itu. Sang Woo mengatakan kalau ini adalah tempat yang sering dikunjungi ibu. Tapi Seo Young malah bertanya, “Siapa yang bilang kalau ini adalah tempat favorit ibu? Apa ibu pernah mengatakan kalau ini adalah tempat favorit ibu?” Sang Woo tak bisa menjawab.


Maka Seo Young menanyakan hal ini pada ayahnya, “Benarkah ibu pernah berkata kalau ia suka duduk disin karena ingin menikmati pemandangan dan semilir angin?” Ayah menunduk,  maka Seo Young menjawab sendiri, “Bukan karena ibu hanya bisa duduk disini karena tak punya tempat lain untuk pergi, tapi tak dapat pergi dan merasa kesepian di sini?”


Memikirkan abu ibu yang akan ditabur di sini membuat Seo Young semakin marah, “Bukan karena ibu ingin mati di sini?” Ayah tak dapat menjawab, hanya bisa menenangkan Seo Young, tapi Seo Young malah berkata, “Ayah telah membunuh ibu.”


Sang Woo terkejut mendengar tuduhan Seo Young dan menegurnya. Tapi Seo Young bertanya kemana ayahnya saat ibu terkena serangan jantung? Dari handphone ibu, nampak ibu mencoba menelepon ayah hingga 70 kali, “Pada saat itu apa yang sedang ayah lakukan? Dan ayah ada di mana? Ayah berulah apa lagi?”


Ayah tak dapat menjawab, hanya maaf yang terucap. Sang Woo menghentikan pertikaian itu dan meminta Seo Young untuk memberikan abu ibu untuk ditabur, agar ibu bisa pergi dengan tenang. Tapi Seo Young menolak menaburnya di tempat ini.


Seo Young memeluk kotak abu semakin erat,  karena ia tak mau menaburnya di sini. Kota ini bukan kampung halaman ibu, bahkan ibu tak memiliki seorang temanpun di sini. Ia dan Sang Woo juga sudah jarang kemari, “Walau ibu meninggal sendirian.. “ Seo Young tak mampu melanjutkan kalimatnya, dan ia pun berlari pulang dengan memeluk kotak abu ibu.


Namun di rumah, masalah telah menunggu. Para penagih hutang ingin ayah mengembalikan uang mereka. Hutang itu dipergunakan ayah untuk membeli rumah (untuk disewakan pada turis), tapi ternyata surat rumah yang dimiliki ayah bukanlah yang resmi. Jadi ayah rugi dua kali.

Seo Young hanya bisa menghela nafas, dan meminta Sang Woo untuk mencari uang simpanan ibu untuk uang kuliah mereka dan melunasi hutang itu dengan uang kuliah mereka. Tapi Sang Woo menjawab hati-hati, kalau ayah sudah mencoba mencari pengganti uang dengan bertaruh. Dan yang dipertaruhkan ayah adalah uang kuliah mereka. Uang kuliah mereka sekarang telah lenyap.


Betapa marahnya Seo Young. Ia pun pergi meninggalkan rumah, mengatakan pada penagih hutang itu kalau ia tak memiliki kewajiban untuk melunasi hutang ayahnya. Dan secara hukum, mereka tak dapat memaksa seorang anak untuk membayar hutang orang tuanya. Biar ayahnya yang menanggung hutang itu sendiri.

Walau setelah itu, sesampainya di Seoul, Seo Young mentransfer uang tabungannya  (10 juta won) pada Sang Woo untuk melunasi sebagian hutang ayahnya, dan hanya menyisakan 320 ribu di tabungannya.

Ludes semua simpanannya untuk biaya kuliah, demi menyelamatkan ayahnya.


Dengan istri yang sudah meninggal, dan hutang yang menggunung, ayah kembali ke pinggir tebing dan berniat untuk bunuh diri. 


Tapi sebelum melangkah terjun, ia mendengar suara istrinya. Ia menoleh dan melihat mendiang istrinya duduk di bawah pohon, memijat-mijat tubuh yang sudah kelelahan dan menggeleng sedih, seakan tak setuju pada niatnya.


Bayangan istrinya itu hanya sesaat dan kemudian hilang lagi. Tapi bayangan itu membuat ayah terjatuh terduduk dan menangis.


Sang Woo membawa ayah ke rumah mereka di Seoul dan meminta maaf pada Seo Young. Karena rumah sudah disita, ayah tak memiliki tempat lagi. Seo Young marah mengetahui hal ini.  Ia bersikap dingin walau melihat ayah berdiri di halaman dengan canggung dan berjanji akan melakukan segalanya dengan benar mulai sekarang.


Dengan uang kuliah dan simpanan uang di tabungan sudah menghilang, Seo Young sudah tak berniat untuk melanjutkan kuliah, dan ia memutuskan untuk cuti. Namun ada kakak kelas yang mengajaknya untuk memberi les seorang murid SMA dengan bayaran dua kali lipat, bahkan akan memberi bonus jika nilainya naik.


Dan ternyata si murid itu adalah Sung Jae yang berniat untuk juga menggagalkan guru les yang ini. Ia tak akan bersikap lunak walau guru lesnya kali ini adalah seorang gadis.


Untuk memberikan kesan baik pada keluarga murid yang akan membayarnya dua kali lipat, Seo Young memakai gaun putih yang dibelikan oleh mendiang ibunya. 


Namun betapa kesalnya ia, saat ia berjalan menuju rumah murid itu, ada sebuah mobil melintas dan mencipratkan genangan air ke gaunnya.


Dan yang membuat lebih kesal lagi adalah mobil itu tak berhenti malah berlalu dengan kencang. Ia pun berlari kencang mengejar mobil itu. Tapi ia merasa kalau tak mungkin mengejar mobil itu,  maka Seo Young pun melempar ranselnya dengan sekuat tenaga. Dan lemparannya mengenai pintu belakang mobil itu.


Mobil itu pun berhenti dan keluarlah seorang pria.


Pria itu adalah Woo Jae yang tak melihat kalau ia melindas genangan air hingga terciprat di gaun seorang gadis. Ia sedang sibuk mengambil handphonenya yang terjatuh dan berbicara dengan polisi yang mengurus hilangnya sepeda motor tempo hari. 


Ia menyodorkan tas dan bertanya, “Apa kau melemparkan tas ke mobilku?”

“Ya,” sahut Seo Young sambil meraih ransel itu dengan kasar.

“Kenapa?” Woo Jae mulai naik darah karena respon gadis itu tidak menyenangkan.

“Karena kau tak berhenti dan malah terus.”

“Memang kau mengenalku?” tanya Woo Jae kesal. “Apa kita saling mengenal?”


Tapi Seo Young tak gentar. Ia malah menyalak balik,”Apa kau ini buta walau punya mata?” Ia menunjuk noda di gaunnya dan berkata kalau Woo Jae bertanggung jawab akan noda itu.


Woo Jae pun mengambil dompet dan mengeluarkan uang 100 ribu won, yang menurutnya ia sangat murah hati, karena ada di dompetnya ada 10 ribu won yang sebenarnya cukup untuk biaya laundry. Tapi Seo Young menampiknya karena seharusnya Woo Jae harus minta maaf terlebih dahulu karena ia lari bukan untuk mendapat uang.


Dengan muka masam, Woo Jae pun mengangguk dan meminta maaf. Tapi hal itu malah menyinggung Seo Young. Tak menerima permintaan maaf Woo Jae, Seo Young malah beranjak pergi meninggalkan pria itu.

Woo Jae mengejar Seo Young dan menyodorkan uang itu, menyuruh Seo Young menerimanya. Tapi Seo Young tak mau dan tetap berlalu pergi.

Akhirnya Woo Jae menyambar lengan Seo Young, “Jika aku telah membuat kerugian material, maka aku harusnya memberi ganti rugi secara finansial,” ia menarik tangan Seo Young dan meletakkan uang itu ke tangan Seo Young. Dan ia pun berlalu pergi.

Tapi Seo Young mengejarnya dan ganti menarik lengan Woo Jae, menghentikannya. Setelah itu ia menyelipkan uang Woo Jae ke dalam saku celana Woo Jae, “Korbanlah yang menentukan bentuk ganti rugi bukannya si pelaku. Kalau kau tak ingin mencuci gaun ini untukku, maka lupakanlah,” jawab Seo Young kali ini dengan kalem.


Woo Jae terpana mendengar ucapan gadis yang tak dikenal itu, hingga tak bisa berkata-kata. Ia berjalan menuju mobilnya, tapi tak kuasa untuk menatap lagi ke arah Seo Young yang sudah berjalan tanpa menoleh padanya lagi.


Dan betapa kagetnya ia melihat gadis itu sekarang ada di rumahnya, apalagi gadis itu ternyata adalah guru les adiknya. Seperti ibunya, iapun penasaran akan berapa lama guru les itu bertahan.


Namun ia harus mengakui kalau gadis itu punya nyali dan kemampuan. Menghadapi adik bandelnya yang memasang musik keras-keras, Seo Young tetap menjelaskan, seakan tak mendengar kalau ada music sekeras itu.


Saat ibu, Sekretaris Yoon dan dirinya masuk ke kamar karena ibu sudah tak kuat mendengar suara bising dari kamar Sung Jae, coba tebak apa yang dikatakan Seo Young? Seo Young dengan muka polos malah membela Sung Jae yang memiliki gaya belajar seperti itu, “Sung Jae mendengarkan semua ajaran saya, karena itulah ia memasang musik keras-keras.”

Sung Jae melongo, bengong mendengar jawaban guru lesnya itu. Apalagi Seo Young juga meminta agar tak seorang pun masuk ke kamar Sung Jae saat ia sedang mengajar.


Ha! Rasanya dagu Sung Jae bisa membentur meja karena ia melongo semakin lebar, menyadari betapa anehnya guru les yang satu ini.

Setelah Seo Young pulang, ia complain pada ibu karena guru lesnya itu tak mau mendengarkannya. Guru lesnya itu terus mengoceh, mengajarnya. Tapi ibu malah menganggap Sung Jae sangat cocok dengan Seo Young, “Karena kau pun juga tak pernah mau mendengarkan ibu.” LOL.


Ayah mencoba mencari kerja, tapi tak ada satupun jenis pekerjaan yang cocok untuknya. Rupanya jabatan terakhir sebagai pemilik perusahaan, tak ada gunanya di usianya yang setua ini.

Ia pun mencoba menjadi berguna dengan membeli sayuran di tempat Seo Young biasa belanja, untuk menyenangkan hati Seo Young. Namun betapa terkejutnya ia mendengar ucapan pemilik kalau Seo Young biasanya hanya belanja sayuran yang sudah busuk agar bisa mendapat harga diskon.

Ia pun mencoba meringankan beban anaknya dengan mencucikan baju Seo Young dan Sang Woo. Tapi hal ini malah membuat Seo Young marah, karena .. aduhh… masa iya, bapak nyuciin pakaian dalam anaknya? Kan malu, bapa..

Apalagi Seo Young melihat makanan yang dihidangkan ayah sangatlah lengkap, padahal uang mereka sangatlah tipis. Tak bisa menghardik ayahnya yang boros, atau mengeluarkan kemarahan dan kesedihannya, Seo Young pun berkata kalau ia memutuskan untuk pindah ke go shin won, tempat kos mahasiswa yang sangat murah, agar lebih konsentrasi dalam belajar untuk ujian negara.

Tentu saja yang lain kaget mendengarnya. Sang Woo mencoba menahan Seo Young agar tidak pindah. Tapi Seo Young sudah bulat tekadnya. Ia ingin tenang dalam belajar, dan tak mungkin membiarkan Sang Woo menumpang di kamar kos temannya dan menaruh ayah di wisma, jadi lebih baik ia yang pergi. Ayah, yang menganggap kalau keengganan Seo Young karena masalah uang, berjanji akan membayar uang sewa untuk bulan depan.

Tentu saja Seo Young merasa kesal mendengar jawaban ayah. Ia pun meninggalkan mereka, namun Sang Woo mengejarnya.


Sang Woo pun mengantarkan ke kamar kos Seo Young, dan melihat betapa kecilnya kamar kos kakaknya itu. Ia merasa kasihan pada ayah, namun lebih kasihan pada Seo Young. Seo Young menjawab dingin, kalau harusnya yang lebih-lebih-lebih harus dikasihani adalah ibu mereka, “Kau juga kasihan. Aku benci ayah.”

Ayah merasa harus membuktikan pada Seo Young kalau ia harus mampu mencari pekerjaan di Seoul ini. Dan betapa senangnya ia akhirnya bisa memperoleh pekerjaan di restoran.


Walau ternyata pekerjaan itu hanya sebagai tukang cuci yang harus menyikat wajan yakiniku yang sangat banyak. Sang Woo yang ingin melihat hari pertama ayahnya bekerja, tak tega melihat ayah kelelahan dan turun tangan membantunya.

Sung Jae mendapat pemberitahuan kalau dirinya masuk dalam finalis kontes desainer yang diadakan oleh pemerintah kota. Tapi waktu latihan dan kontes akan bertabrakan dengan waktu lesnya. Maka ia memutuskan untuk menyingkirkan Seo Young secepat mungkin.

Di les yang kedua, ia memotong gaun Seo Young lebih pendek, berharap Seo Young marah, menangis dan cabut dari rumahnya. Tapi ternyata Seo Young malah memakai gaun itu dan memuji potongan baju yang dibuat Sung Jae lebih bagus dari gaun aslinya.


Ia mencoba membatalkan waktu les yang ketiga, karena bertabrakan dengan jadwal kontes itu. Di depan ibunya, ia berpura-pura sakit. Dan ia menelepon Seo Young, mengatakan kalau ia ada di kantor polisi karena ia dan teman-temannya membuat keributan, sehingga Seo Young tak perlu memberinya les.
Namun Seo Young tak gampang dibohongi. Ia tahu tipuan Sung Jae.


Jadi, saat Sung Jae turun dari lantai dua dan keluar diam-diam melewati pintu gerbang, betapa kagetnya ia melihat Seo Young ternyata telah menungguinya di depan. Ia tak berkutik mendengar ancaman Seo Young yang akan memberitahu orang tua Sung Jae kalau Sung Jae bolos dari lesnya sekarang. 


Maka Sung Jae pun memohon agar diberikan kesempatan kali ini saja untuk tidak mengikuti les. Ia janji tak akan bolos lagi.


Namun Seo Young menyuruh Sung Jae untuk bernegosiasi dengannya, dan bukannya berjanji, karena ia tak percaya pada janji anak seperti Sung Jae.


Tak dinyana, Woo Jae mendengar percakapan mereka dari balik gerbang. Dan hal ini membuat rasa penasarannya bertambah besar, karena bukannya Seo Young mengadukan adiknya, Seo Young malah meminta ijin pada ibu untuk mengajak Sung Jae melakukan kunjugan edukasi ke pameran sejarah Mesir.


Ibu mengira Sung Jae tak mau ikut, apalagi ia tahu Sung Jae sakit. Jadi betapa kagetnya ia melihat Sung Jae turun (ia telah naik lagi lewat tangga tali) dan mengatakan kalau ia sudah agak enakan dan bersedia ikut Seo Young.


Ibu memberi tahu hal luar biasa ini pada suaminya, dan untuk pertama kalinya juga ia melihat suaminya dan anaknya yang tak pernah seia sekata, sekarang setuju dengan pendapat kalau guru les itu sangat cocok untuk Sung Jae.

Sung Jae pun untuk pertama kalinya, melihat Seo Young dengan tatapan kagum, karena melihat Seo Young dengan berani memarahi panitia lomba yang hendak mengeluarkan dirinya dari ajang itu. Seo Young bahkan membawa nama dewan pembina lomba dan memberikan pendapat yang masuk akal untuk menggertak angota panitia lomba itu.

Seo Young membesarkan hati Sung Jae dengan mengatakan kalau Sung Jae itu bukan orang yang tak berguna. Hanya Sung Jae bukan tipe pemikir, yang jika mau pintar harus punya otak seperti dirinya. LOL. Tapi kemampuan menjahit Sung Jae sangatlah bagus, karena itu jangalah menyerah. Seo Young mengatakan kalau ia tak pernah menyerah, karena itulah ia mau mengajar Sung Jae.

Dan betapa kagetnya ia melihat Seo Young menunjukkan dompetnya yang kosong. Seo Young mengatakan kalau ia tak mengajar, maka ia akan kelaparan. Tapi Seo Young tak mau ditraktir olehnya karena Seo Young paling anti dibayari oleh muridnya.


Ia juga kaget saat ingin mendengarkan musik di MP3 player Seo Young. Ternyata yang didengarkan Seo Young bukannya musik, tapi rekaman suaranya sendiri yang sedang membaca diktat kuliah.

Namun ia juga baru melihat betapa Seo Young yang tak pernah tersenyum, tersenyum padanya untuk pertama kalinya. Dan ia terpesona.

Aww… mungkin ini cinta pertama Sung Jae.

Sesampainya di rumah, Sung Jae langsung mengambil piring dan langsung makan, membuat orang rumah heran. Ayahnya menyuruh Sung Jae untuk memanggil Seo Young.


Woo Jae pun akhirnya yang mengejar Seo Young, untung Seo Young belum pergi jauh. Bukannya langsung memanggil, Woo Jae malah mengikuti Seo Young dari jauh.


Seo Young akhirnya menyadari kalau dia dibuntuti, dan langsung berbalik menghadapi Woo Jae yang malu karena tertangkap basah. Mulanya ia tak percaya kata Woo Jae yang mengatakan kalau ayahnya ingin bertemu. Tapi Woo Jae bisa meyakinkannya.


Dan saat bertemu Kang Ki Bum, Seo Young tak percaya pada apa yang didengarnya. Ayah Woo Jae itu mengatakan kalau ia menyukai Seo Young (sebagai guru yang bisa menundukkan Sung Jae) dan menyuruhnya untuk pindah ke rumah mereka. Seo Young akan mendapat gaji 3 x lipat dari gajinya sekarang dan ditambah bonus jika nilai ujian Sung Jae naik.

Tentu saja ibu kaget mendengar keputusan ayah yang tiba-tiba. Tapi ayah Woo Jae yang ingin cepat, meminta Seo Young untuk memberitahu keputusannya besok, sehingga lusa Seo Young bisa pindah ke rumah. Heheh.. sepertinya ayah Woo Jae ini yakin kalau Seo Young tak akan menolak. Ayah menyuruh Woo Jae untuk mengantarkan Seo Young pulang.

Aww… si ayah gak sadar, nih kalau dia jadi mak comblang.


Tentu saja Seo Young menolak hal itu. Tapi itu dilakukannya di luar rumah saat ia hanya sendirian bersama Woo Jae yang sudah membukakan pintu.  Namun ia dipaksa masuk mobil oleh Woo Jae yang mengatakan kalau Seo Young memang ahli bernegosiasi. Seo Young kaget mendengarnya, karena hal itu berarti Woo Jae mendengar ‘negosiasi’nya dengan Sung Jae.


Dan  ia juga meminta Seo Young untuk ‘bernegosiasi’ dengannya. Ia tak akan mengatakan kegiatan Seo Young dan Sung Jae hari ini jika Seo Young menerima tawaran ayahnya. Woo Jae mengatakan negosiasi ini ia lakukan untuk menyelamatkan adik kecilnya, Sung Jae.

Saat di rumah, ia kaget mendengar cerita Sung Jae kalau Seo Young tak memiliki sepeser pun uang di dompetnya. Seperti yang dipikirkan Woo Jae di mobil, ia benar-benar penasaran pada gadis seperti Seo Young.

Sementara Seo Young yang pulang langsung belajar, tak dapat berhenti memikirkan kata-kata Woo Jae yang memintanya untuk pindah ke rumah Woo Jae. Seperti yang dipikirkan Seo Young, apa maksud Woo Jae sebenarnya? Apakah Woo Jae hanya ingin mempermainkannya?


Walau begitu, Seo Young akhirnya memutuskan untuk pindah ke rumah Woo Jae. Ia mengemasi barang-barang di rumah lamanya, walaupun ayah merasa keberatan dan khawatir akan kondisi Seo Young yang mungkin tak akan nyaman di rumah orang. Seo Young pun bertanya balik,
“Sejak kapan ayah mencemaskan dimana aku tidur dan makan? Kenapa ayah baru melakukannya sekarang?”

“Tentu saja aku harus mengkhawatirkanmu, karena ibumu tak ada disini,” jawab Ayah tergagap mendengar pertanyaan Seo Young.


“Aku dan Sang Woo bahkan pernah tinggal di sauna. Saat kelas 10, saat itu ayah ditipu oleh teman ayah dan kita kehilangan rumah, ibu bekerja di sauna. Saat itu ayah pergi selama 3 bulan untuk mengejar teman ayah, dan akhirnya ayah kembali ke kamar yang akhirnya dimiliki atas jerih payah ibu.”

Ayah tercenung mendengar kata-kata yang baru pertama kali ia ketahui, “Kalian pernah melakukan itu dulu?”

“Tak nyaman di rumah orang lain? Aku bahkan pernah ingin mengetahui bagaimana rasanya perut kenyang walau merasa tak nyaman, saat ayah sedang menjalankan usaha MLM,” jawab Seo Young dingin. Note: jelas-jelas MLM itu money game yang hanya menguntungkan upliner, bukan downliner seperti ayah.

Ayah tak dapat berkata apa-apa.


Seo Young akhirnya pindah ke rumah Sung Jae, dan tinggal di kamar kosong sebelah kamar Woo Jae. Ia meletakkan kotak abu ibunya di dekat jendela. Tak sengaja ia menjatuhkan gantungan kunci berupa boneka di luar kamar, yang diambil oleh Sung Jae.

Gantungan kunci boneka yang sama yang dilihat Woo Jae saat ia melacak identitas pencuri sepeda motornya dari kamera CCTV yang ada di jalan raya.


Pindahnya Seo Young memang membuat sesi belajar dengan Sung Jae efektif. Walau di sela-sela belajarnya, Sung Jae bertanya mengapa Seo Young tak pernah tersenyum selama ini. Seo Young hanya menjawab pendek kalau ia tak memiliki alasan untuk tersenyum.

Hhh… menyedihkan.


Namun ia memang bertekad untuk menaikkan nilai Sung Jae. Karena, seperti yang dikatakan pada Sang Woo, ia akan membiayai kuliah Sang Woo hingga Sang Woo lulus menjadi dokter.


Sang Woo merasa hal itu tak adil, karena Seo Young baru saja menguras tabungannya untuk melunasi sebagian hutang ayah mereka. Seo Young sudah hampir kelaparan untuk mengumpulkan uang lagi dan sekarang Seo Young mau membiayainya? Ia tak akan tega. Lebih baik ia cuti dan melakukan wajib militer.


Mendengar hal ini, Seo Yeon marah. Karena melihat Sang Woo lulus dan menjadi dokter adalah cita-cita mendiang ibu mereka. Ibu meninggal karena mengumpulkan uang untuk melihat Sang Woo lulus. Jadi Seo Young akan meneruskan cita-cita ibu.

Dan Seo Young pun sepertinya memang tak berusaha untuk mengakrabkan diri dengan keluarga Sung Jae. Pagi-pagi sekali, ia sudah pergi ke kampus dan tak pernah mengambil sarapan di rumahnya. Sepertinya Seo Young memang berusaha untuk memberi jarak dengan keluarga Sung Jae. Ia tinggal di rumah Sung Jae hanyalah untuk mengajarnya.


Ibu Woo Jae sudah pasrah dengan dinginnya Seo Young. Tapi tidak dengan Woo Jae. Di suatu malam, saat Seo Young menolak makan malam, dan malah membuat ramen cup di dalam kamarnya, Woo Jae memanggilnya untuk keluar kamar. Woo Jae mengajak Seo Young pergi karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan tentang Sung Jae.


Seo Young menurut karena ia pikir Sung Jae sedang terlibat masalah lagi. Jadi betapa kagetnya ia saat melihat Woo Jae membawanya ke restoran Seolleongtang (sup buntut) dan menyuruhnya makan.


Seo Yeong marah dan memanggil Woo Jae. Tapi Woo Jae tak mau dipanggil dengan panggilan ‘kakak Sung Jae’ dan menyuruh Seo Young untuk memanggilnya ‘Kang Woo Jae-ssi, atau hanya Woo Jae atau jika mau.. oppa.”


Aihh.. manisnya.. Tapi Seo Young tak menganggap hal itu manis. Ia marah saat Woo Jae mengatakan kalau dirinya minder, dan karena minder itulah Seo Young tak mau makan bersama keluarganya, “Percaya diri saja, sama seperti saat kau percaya diri saat bersamaku.”Seo Young mengatakan kalau ia tak minder, tapi tak nyaman.


Jika memang tak nyaman, Woo Jae menyuruh Seo Young untuk meminta bibi pembantu untuk menyiapkan makan untuknya di kamar, “Kenapa kau tak menggunakan keahlian negosiasimu? Kau dihargai karena kemampuanmu.” Seo Young mendelik marah, membuat Woo Jae malah tersenyum, “Eh, kau ternyata bisa berekspresi juga. Kau sedang marah, ya?”


Seo Young benar-benar marah dan meninggalkan Woo Jae.  Tapi Woo Jae tak mau melepaskan Seo Young begitu saja. Ia mengejar Seo Young dan menggenggam pergelangan tangan Seo Young, mencegahnya untuk pergi. Ia meminta Seo Young untuk setidaknya makan sedikit saja, karena sekarang ramennya di rumah pasti sudah tak enak.


Seo Young melepaskan satu per satu jemari Woo Jae dari tangannya dan dengan sinis mengatakan, “Entah aku makan ramen atau kelaparan, urus saja masalahmu sendiri.”


Woo Jae kaget melihat reaksi Seo Young yang langsung kabur dengan taksi. Tapi ia tetap membawa pulang berbagai macam makanan yang ia beli di hypermarket dan menaruh semuanya (termasuk seolleongtang) di depan pintu Seo Young.


Seo Young sangat kesal, namun ia yang lapar dan ingat kata-kata pemilik restoran yang mengatakan sangat susah memesan tempat di restoran seoleongtang itu (yang menandakan betapa perhatiannya Woo Jae padaya). Maka iapun mengambil  sup itu dan memakannya hingga tandas.


Karena Woo Jae masih menyelidiki pencuri sepeda motornya, ia kembali menunda keberangkatannya ke Amerika. Tapi perjuangannya untuk menemukan wanita pencuri itu hampir membuahkan hasil. Ia tinggal meneliti kemana sepeda motor itu dibawa. Polisi memberinya setumpuk CD rekaman CCTV yang mungkin dilewati oleh pencuri itu.


Dan Woo Jae pun masih sempat melakukan jogging di waktu luangnya. Well, sebenarnya mungkin sekaligus menguntit Seo Young yang selalu berangkat di pagi-pagi buta. Tapi Seo Young menanggapi Woo Jae dengan dingin.


Sampai Woo Jae mengagetinya belakang.


Woo Jae tertawa melihat kalau ternyata Seo Young tak seberani kelihatannya. Ia berkata kalau bahaya jika Seo Young pergi di pagi-pagi buta karena lingkungan ini sepi, dan bisa terjadi apa-apa.


Seo Young mulai merasa takut dan menuduh Woo Jae menakut-nakutinya. Tapi Woo Jae tak berniat menakut-nakuti gadis seperti Seo Young, apalagi ia akan berangkat ke Amerika.


Seo Young mencoba menyembunyikan rasa kagetnya mendengar Woo Jae akan pergi ke Amerika, dan berpura-pura mengangkat bahu tak peduli saat Woo Jae menuduhnya pasti merasa bahagia dengan kepergiannya. Ia pun lari lagi meninggalkan Seo Young yang kali ini berjalan dengan penuh kewaspadaan.


Betapa kagetnya Seo Young melihat Woo Jae lari mundur melewatinya, dan maju lagi. Kembali melewatinya. Ia akhirnya menghentikan Woo Jae. Apakah Woo Jae sedang menggodanya?


Woo Jae mengatakan kalau sebenarnya ia memang ingin menggoda Seo Young, tapi sekarang ia malah penasaran. Ia minta maaf kalau ia pernah berkata yang menyinggung perasaan Seo Young,


“Dan karena aku selalu lari tiap pagi, biarkanlah aku menjadi biarkanlah aku menjadi pengawalmu. Ini hadiah terakhirku sebelum aku menghilang dari hadapanmu.”


Seo Young pun membiarkannya, dan ia tersenyum kecil melihat Woo Jae yang kembali lari, namun mundur kembali melewatinya, bolak balik, sama seperti tadi.


Aww… so sweet..


Namun akhirnya Woo Jae menemukan boneka Seo Young di meja Sung Jae. Sung Jae yang polos mengatakan kalau boneka itu milik Seo Young.


Tentu saja Woo Jae terkejut dan saat melihat foto CCTV itu, ia menyadari kalau sosok wanita itu adalah Seo Young.


Ia langsung menemui Seo Young dan menuduhnya pencuri. Seo Young tak tahu apa yang Woo Jae maksud, hingga Woo Jae menunjukkan foto sepeda motornya. Seo Young langsung ingat pada sepeda motor itu dan mengakui kalau ia meminjam sepeda motornya, tapi ia tak menjualnya walau ia tak mengetahui keberadaan sepeda motor itu.


Seo Young tak  menolak saat ia dibawa masuk ke mobil untuk digiring ke kantor polisi. Namun ia menjelaskan kalau ia melakukannya karena ada kondisi yang mendesak saat itu.


Woo Jae yang sangat marah, langsung menuduh kalau tak ada kondisi mendesak untuk orang seperti Seo Young, “Bahkan jika kau katakan karena ibumu meninggal pun, aku tak akan percaya.”


Seo Young terhenyak mendengar kata-kata Woo Jae. Tak sadar ia meneteskan air mata. Tapi Woo Jae tak tersentuh melihat air mata itu, malah sinis melihat air mata yang ia anggap sebagai air mata buaya. Ia pun menarik Seo Young dan membawanya ke kantor polisi.

Di depan kantor polisi, Seo Young melepaskan cengkeraman Woo Jae dan mengatakan kalau ia akan menyerahkan diri ke polisi. Woo Jae heran dan bertanya mengapa Seo Young tak memberi penjelasan sedikitpun padanya dan meminta belas kasihannya?

Seo Young pun menjawab kalau ia lebih baik menjelaskan di depan hukum daripada ke Woo Jae yang merasa dirinya superior karena memiliki orang tua yang kaya dan menganggap kalau Woo Jae lebih baik dibandingkan orang lain.

Woo Jae, antara marah dan bingung melihat sikap Seo Young, meminta Seo Young untuk mengatakan alasannya, jika Seo Young memiliki alasan. Seo Young bertanya bukankah tadi Woo Jae mengatakan kalau ia tak akan percaya pada alasannya, kan?

“Kau tadi mengatakan kalau kau tak akan percaya bahkan jika ibuku meninggal, kan?” tantang Seo Young. “Hari itu, ibuku meninggal.”


Woo Jae membentak Seo Young, menganggap Seo Young main-main dengan ucapannya. Ia mencengkeram tangan Seo Young lagi dan menyuruhnya untuk mengatakan hal ini di depan polisi saja. Dan ia pun menarik Seo Young.

Namun langkahnya terhenti karena ia disapa oleh polisi yang mengurusi kasusnya dan mengira kalau Woo Jae telah menemukan wanita pencuri itu. 

Ia terkejut merasakan tangan yang dicengkeramnya sekarang gemetar luar biasa. Saat ia menoleh, ternyata Seo Young ketakutan dan malah mencengkeram tangan dengan tangan satunya.

Entah apa yang ada di pikirannya, tapi alasan Woo Jae tentang kedatangannya ke kantor polisi untuk bertanya apakah ada hukum yang mengatur jika tunangannya (Seo Young) meminta putus.

Alasan yang dibuat-buat, tapi alasan itu menyelamatkan Seo Young dari hukum. Di rumah, Seo Young memberikan surat perjanjian yang mengatakan kalau ia akan mengembalikan sepeda motor Woo Jae atau ia akan membayar uang seharga sepeda motor itu jika tak ditemukan. Hal ini membuat Woo Jae terpana dan heran melihat keteguhan Seo Young.

Pada keluarganya, ia berkata kalau ia sudah membeli tiket ke Amerika untuk besok pagi. Tentu saja ayahnya sewot, dan mencoba menahan Woo Jae yang harus tinggal di Korea untuk mencari pencuri sepeda motornya.

Tapi Woo Jae tetap bersikeras, walau ia tak mengatakan kalau ia telah menemukan pencuri itu. Ia bahkan rela dicemooh ayahnya yang mengatakan kalau Woo Jae selalu tak pernah menyelesaikan apa yang telah ia lakukan.

Dan keheranan ini menjadi rasa bersalah saat ia tak sengaja melihat acara reality show yang menunjukkan kalau Seo Young yang pertama kali dilihatnya adalah Seo Young yang sedang berakting, bukan Seo Young yang sebenarnya. Apalagi saat mengingat ucapan Sung Jae yang melihat kalau dompet Seo Young kosong melompong.

Sepanjang perjalanan di mobil, Woo Jae teringat kata-kata kasarnya yang tak percaya kalau ibu Seo Young meninggal. Dan ia teringat kalau ia pernah mellihat sekelebat kotak yang ada papan nama orang, seperti papan nama orang yang meninggal.

Di rumah, rasa bersalahnya bertambah saat mendengar kata-kata Seo Young yang membangkitkan semangat Sung Jae yang enggan mengikuti lomba desain itu karena malu. Seo Young mengatakan kalau iapun merasakan cemas, takut dan marah  saat pertama kali ia mengajar Sung Jae. Tapi yang perlu ia lakukan hanyalah menahannya “Apakah kau akan menjadi model atau aktor, kau tak boleh menunjukkan perasaanmu.” 

Sung Jae bertanya kapan Seo Young pernah mengeluarkan perasaannya? Seo Young berkata kalau ia hanya perlu menahannya saja.

Acara reality show itu pulalah yang menyebabkan ayah menyanggupi bekerja menjadi penyebar leaflet yang mengundang konsumen ke night club.

Pada mulanya, ia tak mau saat ditawari menggantikan temannya yang sakit untuk bekerja di night club itu, apalagi berdandan super norak bagi pria seusia ayah. Tapi secara tak sengaja, ia melihat Seo Young di TV, yang dikejar, ditampar dan dicakar oleh pacar pria yang pura-pura didekati Seo Young. Ia melihat betapa kerasnya Seo Young untuk mendapatkan uang kuliah dan untuk hidupnya. Maka ia pun menyetujui tawaran itu.


Keesokan harinya, saat Seo Young sedang memeriksa rekaman CCTV yang bejibun banyaknya diperpustakaan, ia diberitahu kalau ada pria yang mencarinya. Ternyata pria itu adalah Woo Jae, yang meminta ganti rugi atas pencurian sepeda motor itu. Seo Young bertanya bukankah ia telah berjanji untuk mengembalikan uang sepeda motor itu, jika sepeda motor itu tak ditemukan?


Tapi bagi Woo Jae uang sepeda motor seharga 30 juta won itu adalah hutang pokoknya saja. Seo Young harus membayar bunganya pula, yaitu kompensasi atas emosi dan waktu yang telah ia habiskan atas sepeda motor itu. 


Seo Young hanya menatap Woo Jae, namun dalam pikirannya terucap, “Apa yang sebenarnya ia inginkan?”

Namun dari tatapan Seo Young, Woo Jae dapat menebaknya, “Pasti kau sedang berpikir, ‘apa yang sebenarnya bajingan ini inginkan?”

Seo Young terkejut, tapi lagi-lagi menyembunyikan dan dengan dingin berkata, “Aku tak mengatakan bajingan. Berapa yang kau inginkan?”

Woo Jae berkata kalau ia tak butuh uang. Ia hanya perlu diganti. Sepeda motor itu adalah temannya saat ia kesepian selama di Seoul. Maka Seo Young harus mau menggantikan sepeda motor itu, dengan menemaninya kemanapun ia pergi.

LOL.. canggih banget nih si Woo Jae.. Ia bahkan berhasil membungkam Seo Young yang bertanya kemana ia dibawa pergi dengan jawaban, “Sepeda motor tak pernah bertanya.” Ha!

Dan akhirnya Seo Young pun tahu kemana ia pergi. Mereka pergi ke restoran dan ia harus mau makan makanan segunung. Dan ia pun harus mematuhi saat Woo Jae memaksanya untuk makan, karena menurutnya sepeda motor tak pernah mengeluh apakah si pemiliki membelikan bensin premium atau pertamax.

Ia tersenyum melihat Seo Young lahap memakan setiap piring yang disodorkan padanya. Walaupun senyum itu langsung hilang dan digantikan dengan muka masam, tiap Seo Young menatap wajahnya. Haha..

Sadar kalau Seo Young akan selalu bertanya, maka saat ia membawa Seo Young ke bioskop, Woo Jae langsung menjelaskan kalau film yang akan mereka tonton ini adalah film untuk orang-orang serius seperti dirinya yang mahasiswa film di Amerika. Dan ia langsung berkata kalau sepeda motor tak akan bertanya tentang pilihan film itu. Kali ini Seo Young cukup lincah menjawab kalau ia memang tak bertanya.


Namun Seo Young yang sudah super kenyang tak dapat menghilangkan kantuknya, apalagi film yang mereka tonton adalah film hitam putih yang termasuk dalam kategori berpikir. Ia pun tertidur.


Woo Jae yang selama ini mengamatinya, mengacungkan tangannya, dan sekejap suara film itu mengecil. Aww… ternyata tujuan Woo Jae setelah memberi makan Seo Young adalah menidurkannya? So. Sweet.


Seo Young terbangun sebentar, namun kemudian tertidur lagi. Dan Woo Jae pun menonton film tanpa suara, namun yang ia lihat bukanlah film itu, tapi saat-saat ia bertemu Seo Young, dari yang menjengkelkan hingga yang mengesankan.

Di rumah ibu mendapat SMS dari Woo Jae yang memberitahukan kalau keberangkatannya ke Amerika akan ia tunda. Aww…


Di bioskop, film itu telah selesai, dan Seo Young akhirnya bangun. Ia kaget melihat Woo Jae juga tertidur di pundaknya. Dengan canggung ia membangunkan Woo Jae, yang langsung berkomentar, “Ahh.. filmnya bagus.”


Bwahahaha..


Seo Young bengong, apalagi saat di luar bioskop Woo Jae menanyakan pendapatnya akan film itu dan tiba-tiba Woo Jae  menghentikan langkahnya untuk membicarakan kemahiran sutradara dan sinematografi yang sangat ahli dalam membuat film itu. Woo Jae yang tadi juga tidur sepertinya?  Ia mencoba menahan tawanya, dengan memasang muka serius.


Aww… Seo Young bisa tertawa! Tapi Seo Young mencoba kembali seperti dirinya lagi dan mengatakan kalau sudah saatnya mereka pulang.

Woo Jae langsung mengatakan kalau Seo Young taka da jadwal mengajar. Ha..ketahuan. Dan Woo Jae pun meninggalkan Seo Young dengan bersungut-sungut, “Sebagai sepeda motor, kau itu terlalu pemilih.”

Tentu saja Seo Young bingung melihat mood Woo Jae yang naik turun. Ia tak menyadari kalau Woo Jae  tersenyum lebar saat meninggalkannya.


Ternyata Woo Jae membawanya ke pertunjukkan drum. Ia melihat Seo Young meinikmati pertunjukkan itu, walau tak bertepuk tangan, tapi jari tangannya bergerak dan kakinya ikut menghentak. Maka saat sang penabuh di panggung meminta sukarelawan untuk menggantikannya, ia mengacungkan tangan.


Tapi Woo Jae bermain sangat buruk sehingga si penabuh langsung menghentikan Woo Jae. Ia menyuruh Woo Jae turun dan gantinya ia menyuruh teman Woo Jae, Seo Young, untuk menggantikannya. Tentu saja Seo Young kaget karena hal itu tak ia sangka.


Ia pun maju ke depan, dan tak ia sangka, ia juga menikmati pukulan-pukulan di drum yang ia hasilkan. Ia tertawa bersama pemain lainnya, dan menyelesaikan pertunjukkan  itu dengan sukses.


Di pinggir panggung, Woo Jae merekam semua ini di handphonenya. Ia memotret wajah Seo Young yang tersenyum lepas seakan tak ada beban.


Jadi tadi Woo jae sengaja mengacaukan penampilannya sendiri agar Seo Young bisa tampil? Untuk apa? Untuk melihat Seo Young tersenyum? Aww... 


Suasana di mobil saat mereka pulang sangatlah canggung. Tak seperti biasanya Seo Young diam tapi tak cemberut, marah ataupun dingin. Woo Jae berterima kasih karena Seo Young mau melalui hari yang sangat sulit ini bersamanya. Tapi Seo Young mengatakan ia malah tak melakukan apapun, hanya makan tidur dan tertawa. Dan Seo Young pun akhirnya mengaku kalau ia sedikit tertidur saat menonton film.

Tapi Woo Jae tak marah, bahkan tersenyum mendengar kata-kata Seo Young, “Jadi kau tadi makan, tidur dan tertawa? Itu sudah cukup.” 


Seo Young tak mengerti kenapa Woo Jae tak menghukumnya, dan Woo Jae pun mengeluh kalau Seo Young ini benar-benar gadis yang jarang ada.

Seharusnya saat ia menyeret Seo Yong ke kantor polisi, Seo Young memberitahu alasannya mencuri sepeda motor, tak peduli betapa marahnya dia, dan menjelaskan kalau baju yang dipakai saat itu adalah pakaian kerjanya, “Kenapa kau membuatku nampak jahat? Kalau aku tak mengerti, seharusnya kau menjelaskan.”

Seo Young pun menyadari kalau Woo Jae menonton acara TV-nya. Tapi Woo Jae membantah kalau ia menontonnya. Seo Young memandangnya.

Ia pun berkata kalau ia tak bermaksud menontonnya. Seo Young tetap memandangnya. Ia menambahkan lagi kalau ia hanya menonton sekilas namun tatapan Seo Young tetap mengarah padanya. Akhirnya dengan enggan ia mengaku, “Aku menontonnya.”


Woo Jae menatap Seo Young, ingin melihat bagaimana reaksinya. Dan Seo Young pun menjawab canggung kalaupun ia mengalami keadaan darurat pun, tak membenarkannya untuk mencuri sepeda motor Woo Jae. 

Akhirnya Woo Jae pun menepikan mobilnya dan meminta maaf atas semua tindakan dan perkataannya  selama ini. Kata-katanya memang kejam, walau ia tak pernah bersungguh-sungguh atas kata-kata itu. Seo Young tersenyum dan mengatakan kalau Woo Jae memang kejam.


Woo Jae menoleh mendengar ucapan Seo Young dan melihat senyum yang tersungging di bibir Seo Young, membuatnya sumringah, “Ohh? Baru saja saya lihat senyumanmu. Itu artinya kamu memaafkan saya, kan?”


Seo Young tak menjawab. Masih dengan senyum di wajah, ia malah bertanya balik, “Kenapa kau menggunakan bahasa sopan lagi kepadaku? Seperti bukan dirimu.” Aww.. Woo Jae terkesima melihat Seo Young.

Mereka pun pulang ke rumah, dan Woo Jae meminta Seo Young untuk masuk 3 menit setelah ia masuk dan menyuruhnya masuk, apapun yang terjadi. Woo Jae sudah menebak kalau penundaan kepergiaannya ke Amerika pasti membuat marah ayahnya.


Dan benar saja. Di depan semua orang, Ayah marah-marah apalagi mendengar ucapan Woo jae yang mengatakan kalau ia akan pergi besok.


Woo Jae ditelepon kepolisian yang mengatakan kalau mereka telah menemukan pencuri sepeda motor itu. Dan Woo Jae pun membentak pencuri itu. Bukan karena telah mencuri sepeda motornya, tapi karena pencuri itu telah membuat hidup orang yang tak berdosa dalam masalah. Aww.. segitunya..


Setelah itu Woo Jae menemui Seo Young dan mengatakan kalau Seo Young masih harus membayar hutangnya dengan sarapan di rumah, sebagai pengganti dirinya yang akan pergi. Haaahh? Bukannya sepeda motornya telah ditemukan?


Tapi Seo Young yang tak tahu perkembangan baru itu pun menuruti permintaan Woo Jae. Eoknya ia turun namun ragu untuk masuk ke ruang makan yang sudah penuh orang itu.


Woo Jae yang ada di belakangnya, langsung mendorong Seo Young hingga masuk ke dalam ruang makan dan berkata pada bibi pembantu kalau ada satu orang lagi yang akan makan pagi ini.

Dan meja makan menjadi sepi karena semua orang bingung mau berkata apa. Sung Jae yang melihat kalau Seo Young hanya makan kangkung yang ada di hadapannya, mengatakan kalau ia tak suka abalone dan menggeser di depan Seo Young agar Seo Young bisa makan.

Tapi ibu yang polos, malah memarahi Sung Jae karena tak sopan telah memberikan makanan yang tak disukainya untuk Seo Young. Dan ibu pun memindahkan abalone itu lagi dari hadapan Seo Young. 


Seo Young masih terlalu canggung untuk makan bersama, dan ia pamit dengan menyudahi sarapannya yang belum habis.

Woo Jae yang kecewa karena Seo Young masih belum merasa nyaman sarapan bersama keluarganya, mengumumkan kalau ia menunda (lagi) keberangkatannya. Kali ini ia beralasan kalau rumahnya di Amerika sedang diperbaiki. Ayah hanya  bisa terduduk, shock akan berita ini.

Seo Young kembali ke kamar untuk meneruskan pencarian pencuri itu dari rekaman CCTV. Dan ia menemukannya. Ia segera memanggil Woo Jae untuk keluar menemuinya.


Di taman, Woo Jae senang melihat wajah Seo Young yang ceria saat menemuinya. Namun ia kecewa saat mengetahui alasan kecerian Seo Young adalah karena Seo Young telah menemukan pencurinya.

Mulanya ia mengajak Seo Young untuk makan dulu, tapi Seo Young bersikeras untuk melaporkan temuannya ini ke kantor polisi karena Woo Jae akan pulang hari ini. Maka ia pun memberitahukan kalau ia tak akan kembali ke Amerika malam ini dan polisi telah menemukan pencuri aslinya.


Seo Young pun marah dan bertanya mengapa Woo Jae tak memberitahukanya? Woo Jae pun tak tahu alasan mengapa ia tak segera memberitahukan Seo Young, “Jika aku memberitahukan padamu, aku tak akan bisa menyuruhmu untuk menjadi pengganti sepeda motorku.”

Seo Young kesal mendengar alasan Woo Jae, “Apakah kau memang suka menyeretku kesana kemari sebagai pengganti sepeda motormu?”

“Ya, aku memang menyukainya. Menggunakan sepeda motor sebagai alasan, bisa membuatmu makan di rumah dan bermain denganku. Aku menyukainya. Kau pikir mengapa aku melakukannya?”


Seo Young kaget, bingung akan jawaban Woo Jae yang tak terduga ini. Dan Woo Jae pun melanjutkan, “Aku benci perusahaan ayahku, tapi mengapa aku membuat harapan ayahku tumbuh dengan terus menunda kepergianku? Mengapa kau pikir aku ingin selalu melihatmu makan di rumahku, melihatmu bisa tidur dan bisa tertawa untuk menghilangkan stress-mu?”


Seo Young mengangkat tangannya, meminta Woo Jae berhenti berbicara. Tapi Woo Jae malah melangkah mendekati Seo Young, “Kenapa aku seperti ini? Beritahu padaku, guru Sung Jae yang pintar.” 


Seo Young mundur selangkah, terpana tak bisa menjawab.

Cerita Sang Woo


Sang Woo bertemu dengan Kang Mi Kyung karena ia membantu korban kecelakaan di jalan saat ia sedang menjadi supir tembak, yang jika ia tak turun tangan, maka kaki korban itu akan diamputasi. Sebenarnya sudah ada mahasiswi kedokteran tingkat 4 seperti dirinya, yaitu Mi Kyung, tapi Mi Kyung yang sudah ada di tempat kejadian. Tapi Mi Kyung salah mendiagnosa penyebab kecelakaan itu, dan jika ia tak turun tangan, maka kondisi pasien itu dalam bahaya..


Mi Kyung yang kagum sekaligus kesal pada Sang Woo yang mampu mendiagnosa penyakit dan melakukan tindakan darurat secara medis pada korban yang sedang ia tolong itu. Tapi ia harus tahu nama Sang Woo, karena kalau diagnose Sang Woo salah, maka ia akan membunuh Sang Woo. Dan Sang Woo pun menjawab, “Dan kalau aku benar, haruskah aku membunuhmu?”


Mi Kyung pun tak dapat menjawab, karena Sang Woo sudah keburu pergi dipanggil pemilik mobil yang sudah ingin pulang, dan ambulans yang sudah datang.


Dan di hari yang sama ia pun bertemu dengan Ho Jung. Menemukan tepatnya. Saat itu Ho Jung tertidur pulas di gang sempit karena mabuk. Dari penampilannya terlihat kalau Ho Jung adalah anak orang kaya. Ayah, yang tak tega dan takut kalau gadis itu dijahati oleh orang yang tak bertanggung jawab, menyuruh Sang Woo untuk membawa gadis itu pulang ke rumah mereka.


Ho Jung mabuk karena menghibur temannya yang baru saja putus cinta. Saat bangun, Ho Jung mengira kalau ia diculik (apalagi baju luarnya sudah terlepas), menangis dan memohon pada Sang Woo agar Sang Woo meminta uang tebusan pada orang tuanya asal ia selamat.


Betapa kagetnya ia, mendengar sindiran Sang Woo yang mengatakan kalau Ho Jung itu mabuk, dan muntah di bajunya dan gaun Ho Jung sendiri. Dan betapa malunya ia saat keluar, melihat ayah malah menyuruhnya makan dan bahkan gaunnya pun telah dicuci oleh ayah Sang Woo!


Sebagai balas jasa, Ho Jung pun membelikan semua keperluan Sang Woo dan ayahnya yang tak dimiliki mereka. Tapi Sang Woo menyuruh Ho Jung untuk membawa kembali pemberiannya. Ayah menyuruh Ho Jung untuk makan dulu (dengan memasak daging sapi yang tadi dikirimkan Ho Jung pada mereka). Saking gugupnya, Ho Jung memasukkan semua daging ke mulutnya hingga ia tersedak.

Dan Sang Woo pun harus memeluk Ho Jung dari belakang untuk melakukan tindakan Hemlich. Namun tindakan penyelamatan itu malah membuat Ho Jung tertarik pada Sang Woo.


Ho Jung pun mencoba mendekati Sang Woo dengan berpura-pura memiliki teman yang satu universitas dengan Sang Woo. Tapi selalu gagal.

Sang Woo bertemu kembali dengan Mi Kyung di rumah sakit tempat ia magang dan ia tak dapat menyembunyikan kegembiraannya bertemu di rumah sakit itu. Mereka pun berjanji untuk minum bersama.  

Namun kegembiraan itu tak ia rasakan saat melihat Ho Jung yang datang untuk melihatnya, melainkan terkejut karena Ho Jung mengakui kalau ia datang kemari bukan karena sakit, atau menemui teman dokternya, tapi untuk membuktikan kebenaran perasaannya pada Sang Woo. Dan ternyata benar. Ia menyukai Sang Woo dan mengajaknya untuk berkencan. Sang Woo yang sudah kelelahan karena jaga, tentu saja menolaknya.


Ternyata Mi Kyung sudah memiliki pacar yang menunggunya untuk makan malam bersama. Pacar itu tak mempermasalahkan status Mi Kyung yang (pura-pura) anak yatim piatu. Bahkan ibunya sudah ingin bertemu dengan Mi Kyung. Tapi Mi Kyung mencoba mengalihkan perhatian dengan membicarakan hal lain.

Komentar :

Satu aja. Woo Jae-nya kok keren, sih! Perhatiannya itu loh..  Kata Woo Jae pada Seo Young adalah Seo Young itu gadis yang one of a kind. Tapi menurut saya, Woo Jae juga cowok yang one of a kind juga. :)





17 comments :

  1. setuju bgt mbak dee sm komenya, si woo jae itu tipe sy bgt :)
    seneng mbak dee ngerecap dr awal tp sy jg pnsaran dg klnjutan ep.44 jd klo bs sinop ep.45 dilanjutin jg y mebak dee, g papa deh bacanya loncat2..he2

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju setuju (woo jae and sinopsis episode 45)
      nunggu sweet scenennya sang woo sama ho jung wkwkwkwk
      gomawo mbak dee, akhirnya kelar juga ya yang ini :)
      mbak irfa juga pas banget review ep 4-5...
      kompak cieeee

      Delete
  2. salam kenal ini pertama kalinya saya comment, padahal selama ini jadi pengunjung setia blog nya mba dee.
    seneng akhirnyaaa ada yg bikin recap MDSY,krna saya
    falling in love with this drama.
    dan wow banget untuk kang woo jae pada waktu pdkt-in seo young , sampe reply episode itu berkali-kali,dan gak bosen.
    saya mau protes sama SW nya ,setelah merrid ,woo jae dan seo young jadi flat hubungan nya , nggak banyak romantis nya , hehehehe. mending d lama"in pdkt nya .
    anyway,,,drama ini bagus pake banget pokok nya.

    ps:sekali comment lgsg panjang lebar,mian mb dee hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwk sama sama...
      mungkin itu juga yang buat SWnya nambha scene romantis waktu cerai :)

      Delete
  3. Akhirnyaaa aku tau awalnyaaaa
    hehehehe

    maaciih mba dee,,, :-*

    ReplyDelete
  4. hahaha..
    so sweet bgt,.
    kagum sama keteguhan seo young,,,
    tapi keras kepala banget si..

    ReplyDelete
  5. salam kenal juga dari sya, selalu baca dan mampir namun jarang komen, tengs banget atasrecapnya. Saya suka sekali dengan drama ini, Wo jae ssi adalah laki2 banget, dah cakep, perhatian sangat, body keren, baik n kaya pula, sempurna. Mudah2an di ending drama si SY dan WJ jadian kembali. Sungguh bodoh si SY kalo ga jadian lagi, mau cari dimana lagi lelaki sperti WJ.

    ReplyDelete
    Replies
    1. di dunia nyata mbak hihihi ^^

      Delete
  6. idem ma mbak dee woo jae nya gagah bgt,kebetulan baru abis nonton serialnya di lbs tv,eeee pas liat disini dia maen di serial ini,,uah pucuk dicinta woo jae tiba...
    teng u mbak sinopsisnya...lanjut ya mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. WOWO!!! main di lbs tv?
      subnya gimana mbak?

      Delete
  7. jujur aq lebih suka ngitin lee sang woo sama choi hojong couple.. ahhaha.. lucu bnagte liat tingkah mereka... apalagi yg di ep 46.. entah apa yg diomongin sangwoo sama hojong (blum ada eng sub soalnya) hikssss...
    cuma kata2 "ottokana ottokanna" ahahhahah...
    great job, mbak buat synopsisnnay dr ep 1- 5.. keliatannya perjuangannya masih panajnag nihh.. karena mbak deelah akhirnnya saya ememutuskan nonton (saya dikeluarkannya synopsis ep 44).. Makasih mbak dee ^^.. yenny_ye

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAPPY WATCHING AND READING XD
      emang hubungan SW sama HJ udah menarik dari awalnya hehe

      Delete
  8. Horeyyy..!! Jelas ddeh skrang.. Emg seru dramany.. Thx u mb dee

    ReplyDelete
  9. Horeyyy..!! Jelas ddeh skrang.. Emg seru dramany.. Thx u mb dee

    ReplyDelete
  10. jadi ketagihan baca sinopsisnya dan pengen ntn..
    tapi blm beres dramanya, banyak dan males donlotnya hehehe..

    langsung baca review ep 44 pun langsung ngerti dan serruuu..

    thanks mbak Dee :)

    ReplyDelete
  11. mbak dee
    share dong drama korea panjang,keluarga n bagus buat ditonton selain OB n MDSY lho..terima kasih mbak..

    ReplyDelete
  12. BISA DI BERI SARAN GK MBA LAGI MACET NIH TV KABEL SAYA JADI BISA MENONTON INI MY DAUGTHER SEO YOUNG DI MNA LAGI SELAIN KBS WORLD

    ReplyDelete