rotator and add

November 11, 2012

Sinopsis Nice Guy Episode 18 - 2

Sinopsis Nice Guy Episode 18 - 2


Pagi itu, Min Young sudah menunggu kedatangan Jae Hee. Kali ini Jae Hee tak ada ramah-ramahnya sama sekali pada pengacara itu. Ia bahkan menyindir Min Young ada perlu apa ia datang ke tempat dimana pemiliknya belum datang.



Min Young memilih mengabaikan sindirian Jae Hee dan berkata kalau sebentar lagi akan diadakan rapat direksi yang akan membicarakan tentang skandal tentang Jae Hee dan Maru. Dan ia menyuruh Jae Hee untuk tidak mengakui skandal tersebut. Ia sudah memberitahu wartawan kalau berita kemarin adalah fitnah serta pencemaran nama baik dan mereka akan menuntut pelakunya.

Walau Kang Maru akan hadir di rapat itu, tapi ia akan menghentikannya agar Kang Maru tak akan sempat mengatakan sesuatu yang tak diharapkan.


Jae Hee mengerti dan menyuruh Min Young untuk pergi karena ia ingin sendirian. Tapi urusan Min Young belum selesai. Ia bertanya apa yang akan Jae Hee lakukan dengan Maru? Apakah Jae Hee akan meninggalkan Taesan dan mengikuti Maru?


Jae Hee tak mau menjawabnya, “Mengapa aku harus memberitahukan padamu, Direktur Ahn? Ini adalah masalah pribadiku. Kenapa?”


Kedua tangan Min Young langsung menyambar kerah baju Jae Hee dan mencengkeramnya dengan kasar. Jae Hee terkejut apalagi mendengar kata-kata Min Young, “Kau yang main-main denganku dulu. Kau menyuruhku untuk menjadi milikmu. Untuk melindungimu.”


Jae Hee mencoba menyela, tapi Min Young belum selesai berbicara, “Kau bilang kita tidak satu level? Siapa yang membuatmu seperti sekarang ini? Siapa yang membuat orang yang seharusnya dipenjara 30 tahun karena pembunuhan, dari kasta terendah di masyarakat, mampu meraih segalanya?”


Jae Hee ketakutan melihat sisi gelap Min Young yang belum pernah ia lihat. Min Young mengancam Jae Hee kalau ia tak akan pernah bisa bersama Maru, “Jika kau pergi kepadanya, kau harus mati dulu.”


Min Young melepaskan cengkeramannya dan dengan lebih pelan ia berkata kalau Jae Hee adalah miliknya. Untuk mendapatkan Jae Hee, ia telah meninggalkan semuanya dan melangkah hingga sejauh ini, “Ayo kita menikah, Han Jae Hee.”


Dan untuk meresmikannya ia mencium paksa Jae Hee. Jae Hee berusaha menolak, tapi sia-sia.

Whoa.. bukankah seharusnya kau harus berlutut untuk meminangnya, Min Young? Kenapa kau malah mencengkeram dan mengancam calon pengantinmu?


Di toilet, Jae Hee masih shock dan hanya bisa mengusap mulut jijik, mencoba menghapus bekas ciuman Min Young.


Saat mengawasi sesi pemotretan iklan Taesan di studio foto, para staf dan model menggunjingkan Maru di belakangnya. Tapi Maru tetap mempertahankan sikap cuek namun sopannya.


Joon Ha mendatanginya dan mengulurkan sekaleng kopi padanya, “Apakah kau baik-baik saja?”

Aww.. I know you never ever want to harm Maru, Joon Ha-ssi.


Mereka duduk berdua di taman perusahaan dan Joon Ha menunggu Maru berbicara. Tapi Maru hanya diam dan meminum kopinya dengan tenang, membuat Joon Ha bertanya, 

 “Kenapa kau tak bertanya apa-apa padaku? Bagaimana kabar Eun Gi? Apa ia terluka? Apa ia menangis? Apakah ia menderita? Atau.. apakah ia sudah melupakan Kang Maru, apakah ia makan dengan baik atau hidup dengan baik? Apakah kau tak ingin tahu?” 


“Aku ingin tahu,” jawab Maru jujur. “Tapi kalaupun aku ingin tahu, aku tak mau menanyakan apapun padamu.”


Sekarang Joon Ha yang malah penasaran. Mengapa Maru tak ingin tahu?


“Jika ia benar-benar telah melupakan Kang Maru, dan sedang makan dan hidup dengan baik, maka itu akan melukaiku,” kata Maru tersenyum. Namun ia menghela nafas dan menunduk saat melanjutkan, “Dan jika jawabannya sebaliknya, aku juga tetap akan terluka.”

Joon Ha tersenyum dan meminta Maru untuk menanyainya saja, “Jawabannya bisa saja tak terduga.”


Tapi Maru tetap tak mau dan ia meminta diri untuk pergi. Hanya ketika ia sendiri di ruang kerjanya, terlihat sebenarnya ia ingin tahu keadaan Eun Gi. Ia mengambil handphone-nya, dan menulis nama Seo Eun Gi di sana. Tapi ia ragu untuk menekan nama itu.


Mendadak ada telepon masuk dari nomor yang tak dikenal. Maru mengangkat telepon, namun tak ada suara yang terdengar. Maru mengucap halo berkali-kali, tetap tak ada suara yang menjawab.


Hanya terdengar lagu San Fransisco mengalun, membuat Maru tersadar dan berbisik dalam hati, “Ini Eun Gi..”


Eun Gi hanya mendengarkan suara Maru yang tadi berkata halo berkali-kali. Ia tak bersuara, tapi juga tak mematikan handphone. Hanya lagu San Fransisco yang menemaninya menghadapi Maru.


“Halo..”

“Halo..”

“Apakah kau sudah makan? Apakah kau tidur dengan nyenyak?”

“Bagaimana denganmu? Apakah kau bisa tidur nyenyak? Apakah kau merasa tidak nyaman?”

“Apakah kau menderita? Aku sendiri.. merasa menderita.”


“Hari itu.. badanmu demam.Kau memakai baju pengantin yang tipis, apakah kau tidak sakit?”

“Aku harap kau tidak menderita. Aku harap kau tak menderita karenaku.”

“Aku merindukanmu, Eun Gi-ya.”

Eun Gi menutup telepon dan memutuskan pembicaraan. Tapi Maru tetap memegangi handphone-nya, dan kali ini berbicara tidak di dalam hati, “Aku merindukanmu, Seo Eun Gi.”


Walau sambungan telepon sudah terputus, Eun Gi masih memandangi nama Maru yang ada di layar handphone.


Dan Maru tersenyum setelah menerima telepon itu, “Besok telepon aku kembali, Eun Gi-ya. Aku akan selalu menunggu telepon darimu.”


Jae Shik malam-malam datang ke rumah Maru untuk membicarakan sesuatu. Selain mencari Maru ia juga mencari makan. Sudah terbiasa, Choco tetap menghidangkan makanan untuk Jae Shik.


Belum juga makan, Jae Shik sudah ribut dengan bahan daging yang digunakan. Ini daging sapi lokal atau impor? (Lokal) Bagaimana dengan levelnya? (Level apa?) Ia tak mau memakan apapun yang dibawah level 1+.


Choco hanya bisa menelan kekesalannya melihat sang Ratu Jae Shik ini. Dan seperti kebiasaan Jae Shik, ia harus minum susu dulu sebelum makan. Dan kesabaran Choco sudah habis dan ia juga takut kalau Jae Shik marah, maka ia pura-pura mau ke kamar kecil dan menyerahkan segalanya pada Jae Gil.


Tapi Jae Gil terlalu sibuk dengan kayu kecil yang sedari tadi dibawa Jae Shik. Di kayu itu ada ukiran tangan Jae Shik . Ada nama Maru dan tanda tanya (?) di kayu itu. Apakah Maru yang ditulis Jae Shik itu adalah Maru-nya?


Jae Shik sedikit tergagap dan menutupinya dengan kemarahan. Ia marah karena Jae Gil mengambil barang orang seenaknya dan tak ada susu untuknya.


Malam-malam, Jae Hee masih ada di kantor dan minum-minum. Ancaman Min Young masih terekam jelas di benaknya membuatnya resah. Ia juga teringat kata-kata Maru tentang tawarannya untuk mendapatkan Maru dengan imbalan meninggalkan Taesan selamanya.


Maru ternyata bekerja lembur di ruangannya. Terdengar ketukan di pintu dan Jae Hee masuk dengan membawa alkohol dan dua gelas untuk mereka berdua, “Ayolah minum dengan noona, Maru.”


Tak menunggu jawaban Maru, Jae Hee duduk dan menuangkan minuman di gelasnya dan gelas Maru. Entah karena kasihan atau ingin cepat mengusir Jae Hee, Maru terpaksa duduk menemani Jae Hee dan berkata kalau tak pantas bagi mereka untuk minum-minum di kantor.


Tapi Jae Hee mengatakan tak apa-apa. Selama Maru tak memberitahukan pada siapapun, maka semuanya oke, “Dan jangan sekali-kali kau beritahu Direktur Ahn.”


Maru hanya terdiam melihat Jae Hee minum dan melantur. Menurut Jae Hee, betapa ironisnya mereka. Demi menggapai kekayaan dan kekuasaan, mereka mengorbankan kesehatan dan masa muda mereka. Dan setelah menjadi kaya berkuasa namun tua dan sakit-sakitan, mereka menghabiskan semua kekayaan mereka demi menjadi muda dan sehat. “Apa otak mereka terbuat dari batu?” cemooh Jae Hee.


Maru tetap diam saja. Jae Hee kemudian menelepon Jae Shik. Ia menyuruh Jae Shik untuk menghentikannya jika nanti ia mulai bertingkah gila dan berkata akan menyerahkan semuanya demi mendapatkan seorang pria. “Jika aku… tak mau mendengarkanmu.. kau boleh menyeretku ke rumah sakit jiwa, dan menggunakan apapun untuk menyumpal mulutku. Jangan biarkan aku untuk keluar. Kau harus bertanggung jawab dan menghentikanku.”


Eun Gi bekerja di rumah dan sedang berbincang-bincang dengan Sekretaris Hyun tentang uang yang dulu pernah masuk ke rekeningnya. Ia baru tahu kalau dana itu adalah dana rahasia yang dimiliki Jae Hee dengan bantuan Direktur Kim (Direktur yang dulu koma dipukuli dan Maru yang jadi tersangka utama).


Masih tetap menelepon Sekretaris Hyun, Eun Gi menyadari kalau gelasnya telah kosong dan ia berniat turun ke bawah untuk mengambil minuman kembali.

Betapa kagetnya ia melihat Jae Hee masuk rumah. Jae Hee mabuk dan hampir saja terjerembab jika tak ditahan oleh.. Maru.


Maru tak melihat kehadirannya. Tapi Jae Hee melihatnya. Ia menyapa Eun Gi dengan riang dan bertanya apakah Eun Gi belum tidur?


Hati Maru mencelos saat mendengar nama Eun Gi disebut. Ia langsung melepaskan tangannya dari lengan Jae Hee. Namun terlambat, Eun Gi sudah melihat semuanya.


Walaupun marah, Eun Gi menyembunyikannya dan berbasa-basi bertanya mengapa Jae Hee minum-minum. Jae Hee tersenyum dan mengatakan kalau ia sedang bahagia maka ia minum. Ia pun mengajak Eun Gi dan Maru untuk minum bertiga. “Kalian pasti sudah lama tak pernah bertemu, kan? Pasti banyak sekali hal yang dapat diperbincangkan.”


Maru melihat betapa muramnya wajah Eun Gi. Maka Maru menarik Jae Hee dan dibantu dengan bibi pembantu, ia membimbing Jae Hee masuk kamar.


Di dalam kamar Jae Hee, setelah melihat bibi pembantu menyelimuti Jae Hee, ia pun melangkah pergi. Tapi langkahnya terhenti karena ucapan Jae Hee, “Aku menyesalinya. Maru.. Aku menyesalinya. Sangat, sangat menyesalinya.”


Maru tak merespon apapun dan keluar kamar. Di luar ia menatap ke seluruh ruang tengah, mencari sosok Eun Gi. Tapi gadis itu tak terlihat di manapun.


Eun Gi duduk di kamar saat terdengar suara ketukan pintu. Maru masuk dan menyapanya. Ia melihat kamar Eun Gi dan bertanya, “Apakah kau tinggal di sini?”


“Hmm…” tukas Eun Gi pendek, mengiyakan tapi tak mau menatap Maru.

Mendapat sambutan yang tak ramah, Maru tetap memandang Eun Gi dan bertanya, “Apakah kau baik-baik saja?”

“Hmm..”

“Apakah kau sudah makan?”

“Hmm..”

“Tidurmu juga nyenyak?”

“Hmm..”

"Kau tak sedang sakit, kan?”

“Hmm..”


Maru tersenyum dan bertanya, “Apakah kau tak tahu kata lain selain ‘hmm’?”

Kali ini Eun Gi mengangguk, tidak meng-hmm lagi, tapi tetap menolak untuk menatap Maru.


“Jadi seperti ini bentuk kamarmu,” kata Maru. Ia berjalan sambil melihat-lihat ruangan Eun Gi. “Setelah tinggal di kamar sebesar ini, kau harus tinggal di kamar Choco. Pasti terasa berat untukmu.”


Tepat di hadapan Eun Gi, Maru berhenti dan memandangnya, “Apakah kau tak ingin mengatakan sesuatu padaku?”


Eun Gi hanya diam dan menatap lantai. Maru pun tahu diri dan berkata, “Kalau begitu, aku akan pergi.”


Maru keluar dan menutup pintu. Dan saat itu juga, Eun Gi bangkit dan pergi mengejar Maru.

Hingga di depan pintu. Eun Gi berhenti tepat di depan pintu, meraih gagang pintu dan ingin membukanya. Tapi terhenti.


Maru berdiri di balik pintu, menunggu pintu itu terbuka, menunggu Eun Gi mengejarnya.

Tapi Eun Gi hanya terdiam dan malah melepas gengamannya.

Begitu pula Maru. Ia tak berani meraih gagang pintu untuk membukanya. Ia malah mengeluarkan handphone dan menelepon Eun Gi dari balik pintu.


Berhadap-hadapan, terpisahkan oleh sebuah sekat, Maru berkata pada Eun Gi, “Apakah sekarang ini adalah satu-satunya tempat yang bisa kau tempati? Mengapa wajahmu pucat sekali? Aku tak dapat melihatnya karena kelihatan sangat pucat.”


Eun Gi tercekat mendengar suara Maru, tak dapat menjawab apapun.

“Apakah Han Jae Hee tak memberimu makan? Apakah ia mengganggu dan merepotkanmu?” Maru tetap tak mendengar satu katapun dari Eun Gi. “Aku benar-benar akan pergi. Hiduplah dengan bahagia. Selamat malam.”


Sambungan telepon terputus dan Eun Gi tetap berdiri di depan pintu dan dalam hatinya berkata, “Aku sangat bahagia karena hari ini melihat wajahmu. Jaga dirimu.”


Keesokan paginya, Maru dihadang oleh Jae Gil yang berbaring di depan pintu, menghalanginya untuk pergi ke kantor. Jae Gil tak akan pindah sampai Maru mau pergi ke rumah sakit.


Maru tak ingin berdebat, tapi ia harus kerja. Jae Gil tak mau mendengar bualan Maru. Ia duduk dan bertanya, “Apa sekarang pekerjaan lebih penting? Aku berniat untuk menyeretmu ke rumah sakit setelah kau menikah. Tapi kau menghancurkan pernikahanmu, jadi tak ada alasan lagi untuk tidak pergi. Ayo, sekarang pergi!”

Maru sangat kesal dan membentak Jae Gil. Tapi Jae Gil tak takut. Ia tahu kalau Maru seperti ini karena takut terjadi sesuatu. Maka ia minta agar Maru tak perlu khawatir,

“Jika kau mati saat dioperasi, aku akan mendampingi Choco seumur hidupku. Jika kau mendapat komplikasi atau lumpuh, aku akan merawatmu seumur hidupku. Jadi janganlah khawatir dan pergilah operasi.”
Aww.. Mr Big and Nice Guy..


Jae Gil kembali berbaring dan memutuskan untuk tetap seperti ini, “Hingga kau mati atau aku yang mati. Jika kau benar-benar ingin pergi kerja, maka langkahilah aku.”

LOL, baru tahu saya kalau berbaring telungkup dan dilangkahi bisa menyebabkan kematian.


Choco masuk dan kaget melihat Jae Gil berbaring di depan pintu. Ia bertanya pada Maru mengapa Jae Gil berbaring seperti itu. Maru memasang wajah senyumnya dan mengatakan tak tahu. “Jae Gi yang menyuruhku untuk melangkahinya dan pergi.”


Dan Maru benar-benar menginjak pantat Jae Gil dan melangkah pergi. Jae Gil menjerit kesakitan dan berdiri, namun tak dapat berkata banyak karena sudah ada Choco di antara mereka. Ia hanya mengernyit sakit merasakan ijakan Maru.


Tapi Choco yang polos bertanya mengapa Jae Gil menyuruh Maru menginjaknya, seolah badanya memang boleh diinjak, “Apakah kau menyukai pijat Shiatsu?”

LOL.



Jae Hee masih berbaring di tempat tidur, merasa kacau. Saat bibi pembantu datang, ia bertanya padanya, apakah Maru semalam pergi ke kamar Eun Gi?

Bibi pembantu mengiyakan. Tapi ia mengatakan kalau Maru tidak lama tinggal di dalam kamar. Yang lama adalah saat Maru keluar dan berdiri di depan pintu kamar Eun Gi.


Eun Gi menemui Joon Ha dan berkata kalau ia sekarang sedang menyelidiki tentang kematian ayahnya. Banyak sekali kecurigaan yang menyebar di publik dan beberapa orang berpikir kalau ini adalah kasus pembunuhan.


Menurut bibi pembantu, Min Young dan Jae Hee datang di waktu yang bersamaan pada malam itu. “Apakah itu hanya kebetulan? Ayah tak mengetahui tentang video perselingkuhan mereka, kan?”


Joon Ha ragu, namun akhirnya ia jujur. Presdir Seo sudah tahu jauh sebelum ia menunjukkan video itu pada Eun Gi.

Eun Gi ngeri membayangkan ayahnya yang sedang sakit menghadapi pengkhianatan orang kepercayaannya. Joon Ha menambahkan kalau sebenarnya Presdir Seo sudah berencana untuk menyingkirkan mereka sekaligus, “Ia menyuruhku untuk melakukannya.”

“Kenapa kenyataan seperti ini harus kau sembunyikan hingga sekarang? Apakah ini yang ingin kau katakan setelah ingatanku kembali? Apakah tak ada yang kau sembunyikan lagi? Katakan padaku semuanya!”


Joon Ha duduk sendirian di taman. Kenangan saat Presdir Seo meninggal dan ancaman Min Yong padanya masih terekam jelas di kepalanya. Ancaman kalau Min Young juga akan melaporkan ayah Joon Ha yang ditugaskan oleh Presdir Seo untuk melenyapkan ibu Eun Gi.


Dan yang selanjutnya terjadi adalah Joon Ha mendatangi Maru dan meminta bantuannya.


Maru sedang berjalan menyusuri taman. Saat itu, terdengar suara Eun Gi, “Setiap orang memiliki kenangan yang tak dapat dihapus, tak peduli seberapa kerasnya mereka mencoba.”


Dan duduk di bangku taman, Maru menemani Jae Hee yang menangis tersedu-sedu dan menggenggam tangannya. Pelan-pelan, Maru meraih Jae Hee ke dalam pelukannya.


Sekali lagi, terdengar suara Eun Gi. Namun kali ini Eun Gi terlihat mengawasi Maru dan Jae Hee dari jauh, “Kenangan adalah suatu hal yang selalu berubah dan memudar. Kenanganku, apakah aku dapat mempercayai kenangan itu? Yang aku lihat hari itu, sebenarnya apa?”


Komentar :

Sepertinya beberapa adegan terakhir ini adalah penggalan-penggalan cerita yang belum utuh. Seperti akhir episode 16, yang kita lihat ternyata bukanlah runutan cerita yang sebenarnya. Jadi lebih baik, tak perlu ditebak-tebak. Tinggal 4 hari ini.. 


Yang menarik perhatian saya adalah lagu San Fransisco. Saya tahu lagu itu catchy, saya tahu lagu itu easy listening. Tapi mengapa scriptwriter-nya memilih lagu ini? Coba kita lihat lirik dari lagu San Fransisco (Be sure to wear some flower in your hair)

If you're going to San Francisco
Be sure to wear some flowers in your hair
If you're going to San Francisco
You're gonna meet some gentle people there

For those who come to San Francisco
Summertime will be a love-in there
In the streets of San Francisco
Gentle people with flowers in their hair

All across the nation such a strange vibration
People in motion
There's a whole generation with a new explanation
People in motion people in motion

For those who come to San Francisco
Be sure to wear some flowers in your hair
If you come to San Francisco
Summertime will be a love-in there

Lagu San Fransisco sendiri sering diartikan sebagai lagu kebebasan.Dan bolehkah saya mengatakan kalau di San Fransisco-lah Maru dan Eun Gi akan bertemu kembali? 

Di San Fransisco, Maru terbebaskan dari segala rasa bersalah yang menjeratnya selama ini. Rasa bersalah itu membuatnya tak berani mengambil kesempatan yang datang saat ingatan Eun Gi masih setengah kembali.

San Fransisco ini bukanlah kota San Fransisco yang ada di Amerika. Tapi San Fransisco ini adalah sebuah dunia yang baru untuk Maru tempati. San Fransisco adalah dunia utopianya Maru ia menjadi orang yang benar-benar baru.

Bagaimana caranya Maru bisa pergi ke San Fransisco dan menjadi gentle people? Dua episode akhir mendatang yang akan menjawabnya.


Yang pasti, jika Maru telah sampai di sana, ia akan menunggu Eun Gi yang akan datang dengan bunga di rambutnya. Dan jika Eun Gi datang ke San Fransisco, akan ada cinta yang menantinya di sana.



26 comments:

  1. mba dee semoga san fransisco nya itu bukan heaven ya mba dee :'(
    ya ampun tolong jangan... pleaseeeee

    ReplyDelete
  2. wahhhh..... sebenarnya aku udah baca sinop ini hari jumat dini hari di koalasplayground, yapi tetep aja klo ga baca blognya mba dee & fanny rasanya ada yg kurang.
    setuju dgn mba dee, akhir eps 18 hanya potongan2 awal eps 19.
    sepertinya junha akan memberitahu eungi klo jaehee dan minyoung terlibat dlm kematian ayahnya.
    dan junha juga bakalan menceritakan hal yg sama pd maru ditambah cerita ttg keterlibatan ayah junha dgn kematian ibu eungi.
    yg membuat saya "wah' disini yaitu opini mba dee ttg lagu san fransisco. bener2 keren mba........
    makasi mba dee

    ReplyDelete
  3. tambahan mba di koalasplayground kan udah ada unconfirmed spoiler eps 19 & 20, menurut mba dee gimana??
    trus di forum sompi juga ada spoiler klip adegan di rumah sakit. disitu ada klip maru dan eungi berpelukan. masih penasaran apa mereka udah baikan ato maru hanya mencoba menenangkan eungi.
    katanya sih kemungkinan junha ato minyoung yg sakit.
    tp aku lebih yakin ke junha krn eungi ada disana.
    ......
    tapi tetep aja ini semua UNCONFIRMED.
    lebih aman tunggu dari KBS aja memang :D

    ReplyDelete
  4. dari awal emang penasaran arti makna tersembunyi lagu itu...
    semoga memang indah akhirnya hehe
    GOMAWO MBAK DEE xD
    eh, kangen juga ngeliat jae hee nangis wkwkwkwkwk
    kasian dia juga diperlakuin gitu sama pelamarnya -.- crazy,

    ReplyDelete
  5. Waktu nonton adegan maru & eun gi telp tp hanya dlm hati ga kerasa air mata netes dipipiku,, asli tersentuh bgt,, palagi d tambah lagu san fransisco, jd tambah melow hiks,, memang sepertinya akhir ep 18 adl penggalan2 story yg akan kita temui jawabannya di ep 19,,
    So, just wait & see ntar pas preview nya nongol dr kbs,,

    ReplyDelete
  6. mbak dee preview 19 n 20 udh kluar dan yg diterka² slma ini benar,,, diakhir episode maru hilang ingatan sma ktika eun gi dlu kehilngan ingatan ,, matu bljar nulis nma eungi ditembok n slah akhrnha eungi mmbntu maru, itu cuplikan perview episode 20 episode 19 maru ditkam n masuk RS jd gk sbar hari rabu n kmis bsok ,,,

    ReplyDelete
  7. 'San Fransisco' disini ketika Maru amnesia, dia lupa masa lalunya yg suram dan Eun Gi sdh memaafkan MaRu. Mereka hidup bahagia - versi happy ending.

    Versi sad ending, msh ingat buku The boy who cried wolf? Di saat MaRu benar2 mencintai Eun Gi, Eun Gi tak mempercayainya. MaRu meninggal.
    Amit...amit smg endinya tdk spt ini.

    Thanks recapnya Dee, salut dgn analisa 'San Fransisco'nya.

    -anit-
    I'm otw to my office sambil menikmati kemacetan membaca blog ini*
    *galauuu :-)

    ReplyDelete
  8. ya bner wktu adgan maru ma eungi telp tp hya diam q jg nngis palgi tlpn dah d ttup maru blang aku mrindukan mu aduh sumpah dras air mata yg kluar mrasa ssak d hti.trus pas hdap2an d dpan pntu napa sih maru g bka aja ngmong lngsng g lwat tlpn biar tau ekspresiny eungi kya gmn! greget bgt bgt bgt bgt deh!

    ReplyDelete
  9. penasaran episode selanjutnya..
    mudah-mudahan endingnya tidak seperti yang di bayangkan (kang maru meninggal)

    ReplyDelete
  10. cinta dalam hati T_T

    ReplyDelete
  11. Makasih mba dee ditunggu eps selanjutnya.Sebenarnya aku udah baca spoiler eps 19 dan 20 tp aku g brni komen yg itu tkt ada apa2nya. Apry. 6d

    ReplyDelete
  12. yang d koala itu cuma fanfic ternyata

    ReplyDelete
  13. Moga happy ending nya jelas! Galau ya, makin galau karna udh ga bs liat d youtube karna abis kuota *curcol* :)

    ReplyDelete
  14. episod ternyesek ...
    Oia q baca ep 1 di tmpt lain jd inget di awal2 drama dikasih liat eun gi punya sakit.apa sekarang udah sembuh ya?

    ReplyDelete
  15. eps. yg banyak ngeluarin air mata..:(
    saat adegan mereka yg hanya bisa mengeluarkan kata2 dari hati,,

    adegan maruu menawarkan diri untuk dibeli oleh ja hea, asalkan tidak menganggu eun gi lg,, hmm.. so sweet banget, maru tetap akan melindungi eun gi..

    ReplyDelete
  16. aku nangis pas jae gil di depan pintu....waaaaa kasian

    ReplyDelete
  17. bener2 nyesek di ep 18 ini...semangat mb dee ditunggu lanjtnya...

    ReplyDelete
  18. Ahhhh.... Gak sbr nunggu episode 19 dan 20 keluar.
    Penasaran tingkat akut...
    Drama ini bner gak ketebak endingnya gmn.
    Berharap happy end.
    ^^
    Di tgg spoiler nya.

    ReplyDelete
  19. mba dee, mksih sinopsisnya,
    mbe dee jeli yah, sampe cari lirik san fransisco dan menghayatinya, mgkin d situ ada mksud atau sebuah kunci ending dari Nice Guy :D
    mba dee pintar :)

    ReplyDelete
  20. thank you buat sinopsinnya ya mbak dee
    episode 18 ini emang nguras air mata.....
    palagi waktu maru sama eun gi ngomong dalam hati ditelpon.trus...waktu maru ada di depan kamar eun gi.
    aku suka jae gil oppa,dia bener2 bestfriendnya maru...
    tapi kenapa jae gil gak ngomong tentang penyakitnya maru ke eun gi/joon ha ya,biar mereka gak salah paham.
    maru,jae gil,and joon ha emang nice guy bgt
    min young??=crazy akut.
    semangat ya mbak dee ditunggu yg selanjutnya

    -lautan elsa d-

    ReplyDelete
  21. Kayaknya si jae hee udah tau penyakitnya maru deh

    ReplyDelete
  22. ehm, gak sabar nunggu episode berikutnya,,,
    ketika Maru bertanya pada Eun-Gi, dan Eun gi hanya "hmm" teringat Maru pas nganter susu,,,sabarnya,,,,
    hiks, kenapa keduanya gak jujur saja, kenapa mesti begitu rumit,,
    so,,,rumit,
    belum ada preview buat episode 19 ya ??
    gak sabarrrr,,,
    makasih mbak Dee and mbak Fanny,,
    Fighting !!!

    ReplyDelete
  23. Mbak Dee...spoiler 19 dan preview resmi KBS ep. 19 udh keluar mbak...

    ReplyDelete
  24. dimana mbak spoiler nya episode 19

    ReplyDelete
  25. aq merinding bacanyaaaaaaaaa
    lagu san francisco aq sampe donlot wkwkwkwkw kebawa suasana dan emang indah bgt lagunya
    happy ending pleaseee :(

    ReplyDelete