November 4, 2012

Sinopsis Nice Guy Episode 16 - 1


Maru, please be happy..

Sinopsis Nice Guy Episode 16 – 1




Maru dan Eun Gi menyusuri jalan menuju rumah lama Maru sambil bergandengan tangan. Tiba-tiba Eun Gi menghentikan langkahnya dan berkata kalau ia akhirnya tahu seperti apa Kang Maru sebenarnya,

“Pria yang aku pertaruhkan semua harapan dan cintaku, pria yang sangat kusukai hingga dadaku seperti ingin pecah. Maru-ssi, bagiku kau adalah orang seperti itu.”
Maru hanya terdiam mendengar kata-kata Eun Gi. 


Mereka sampai di depan gerbang rumah lama Maru. Eun Gi tak dapat menyembunyikan nada bahagia saat bertanya pada Maru apakah ia ingat, “Di sini, di tempat ini. Di sini aku mengaku padamu.”


Melihat Maru hanya diam termangu, Eun Gi bertanya, “Apakah kau tak ingat?” Maru masih terdiam membuat Eun Gi khawatir dan berpikir kalau Maru sudah lupa. “Apakah kau ingat?  Kau tak mengingatnya?”

“Karena pria bernama Kang Maru, bangun-bernafas-dan mencintai, menjadi sesuatu yang aku sukai untuk pertama kalinya. Jadi harapanku adalah dapat melihatmu setiap hari, mengatakan ‘aku mencintaimu’ setiap hari, mendengar kau mengatakan ‘aku mencintaimu setiap hari”, bermimpi sebuah mimpi yang sama, melahirkan anak dan membesarkannya. Bersama-sama menjadi tua. Apakah itu mungkin?"

Maru terdiam karena ia menyadari, ingatan mana yang kembali pada Eun Gi. Ingatan yang masih melihat Maru sebagai pria yang dipukuli suruhan Jae Hee karena tak mau meninggalkan Eun Gi.


Perlahan Maru menjawab kalau ia ingat, membuat Eun Gi lega. Dan Eun Gi pun menanyakan pertanyaan yang sama seperti malam itu, “Apakah itu mungkin?”


Mata Eun Gi berbinar-binar dan meminta Maru menjawabnya. Maru hanya tersenyum samar dan mencium Eun Gi dengan lembut, tanpa menjawab.


Mendapat ciuman itu, senyum Eun Gi menjadi senyum yang membujuk. Ia meminta Maru untuk menikahinya, “Bukan sebagai tunangan pura-pura, tapi menikah sebenarnya. Aku ingin menjadi bagian keluarga Maru-ssi yang sebenarnya. Keluarga yang hangat dan tentram,” Eun Gi meraih tangan Maru dan membujuknya, “Ayolah, kita menikah. Ya?”


Hhh.. siapa juga yang bisa menolak permintaan gadis yang menatap penuh cinta dengan puppy eyes seperti Eun Gi.


Sesaat ragu, namun akhirnya Maru pun mengiyakan, membuat Eun Gi tersenyum bahagia.


Eun Gi tak membuang waktu dan membawa Maru pergi ke toko baju pengantin. Ia menunjuk salah satu gaun yang di etalase yang menurutnya sangat cantik. Maru hanya bisa meng-hmmm, sambil mengangguk. Eun Gi akan memakai gaun itu di pernikahan mereka nanti. 


Mulai besok, ia akan mempersiapkan pernikahannya. Ia sudah memilih gaun pengantinnya, dan ia akan segera mencari gedung pernikahan. Apa lagi yang harus ia lakukan?


“Kita harus pergi bulan madu,” jawab Maru.

Eun Gi membenarkan pendapat Maru. Enaknya kemana, ya? Eun Gi bertanya pada Maru, apakah ada tempat tertentu yang ingin Maru kunjungi?

“Mmhh.. kemana saja,” Maru tersenyum menatap Eun Gi.

Dee: Bali, ayo ke Bali! Tapi transit dulu ke Jakarta. I’ll take you anywhere you go.


Namun rencana Eun Gi tak hanya itu. Ia bertanya berapa anak yang seharusnya mereka punyai? Maru ingin satu putra dan satu putri. Tapi menurut Eun Gi terlalu sedikit. Ia ingin 9 anak, sehingga bisa membuat tim baseball.


Maru geli mendengar rencana Eun Gi.  Dan ia tersenyum saat Eun Gi membatalkan rencana pembuatan tim baseball (bukan rencana membuat 9 anak-nya). Eun Gi ingin membebaskan anak-anaknya untuk memilih cita-cita mereka sendiri dan tak ingin memaksa mereka.

Senyum Maru melebar saat Eun Gi mulai merencanakan pernikahan secara detail (Jae Gil menjadi penerima tamu, Choco menyanyikan lagu pernikahan untuk mereka) tapi tak tahu siapa yang akan meresmikan mereka.


Ia bertanya pada Maru, tapi Maru malah tertawa. Eun Gi pun merajuk, seolah ini adalah pertanyaan paling penting di dunia ini.


Maru menatap lembut pada Eun Gi dan menjawab, “Karena aku belum pernah melakukannya, aku juga tak tahu.”


Eun Gi langsung mencari orang yang bisa ia tanyai, “Sekretaris Hyun. Apa kita sebaiknya menanyainya? Tapi ia belum menikah, apa ia tahu? Kalau begitu, sebaiknya kita tanya ke siapa?” tanya Eun Gi sibuk dengan pikirannya sendiri.


Sementara Jae Hee minum-minum sendiri di kedai yang penuh dengan pria. Seorang pria mendatanginya dan mengajaknya minum bersama. Tanpa menoleh, Jae Hee menyuruh pria itu menyingkir darinya.


Tapi pria itu tetap menganggunya, sehingga Jae Hee membentak, “Apakah kau pikir aku datang ke sini untuk minum dengan orang rendahan sepertimu?”

Bentakan itu malah menarik perhatian orang di dalam kedai dan membuat mereka menggunjingkannya. Jae Hee semakin kesal dan membentak pada semua orang untuk tak memandanginya, “Apa kalian pikir aku adalah orang yang bisa kalian pandang seperti itu? Apakah orang seperti kalian cukup berharga bagi perusahaanku?”

Wow, apa Taesan itu sekarang perusahaannya? You wish.. Dan kata-kata itu malah membuat orang-orang ribut dan mulai menunjuk-nunjuk dirinya. Untung saja Min Young datang dan meminta maaf pada semua orang di dalam kedai. 


Ia meminta Jae Hee yang sudah mabuk untuk meninggalkan kedai. Tapi Jae Hee malah bertanya bagaimana Min Young bisa tahu ia ada di sini dan berapa orang yang disuruh Min Young untuk memata-matainya?


Pria yang mengganggu Jae Hee masih marah-marah dan mulai mengatai Jae Hee sinting. Namun kata-kata pria itu terhenti karena Min Young memukulnya.


Jae Hee seakan tak memperhatikan keributan itu, malah mengenang kalau tempat ini adalah tempat biasa ia minum bersama Maru, sebelum ia menyerahkan segalanya demi Taesan. Pada Min Young, ia mendesah dan bertanya apakah Maru juga masih sering ke tempat ini?


Rencana Eun Gi mulai meluas dari rumah yang akan mereka tinggali hingga tempat tidur dan seprei yang ingin dia beli. Akhirnya Maru menghentikannya, “Eun Gi-ya, mari kita menikah setelah semua ingatanmu pulih kembali.


Eun Gi mengerutkan kening, “Kenapa?”

“Apa yang terjadi jika kau berubah pikiran setelah semua ingatanmu kembali?”

“Mengapa aku harus berbah pikiran? Aku tak akan berubah pikiran. Hal itu tak akan mungkin terjadi,” bantah Eun Gi yakin.

“Kau tak pernah tahu,” kata Maru yakin. “Ketika ingatanmu kembali, mungkin ada pria yang lebih menarik yang menunggumu.”

“Aku tetap tak akan pergi padanya,” jawab Eun Gi juga yakin.


Maru mencoba beralasan kalau sangat susah menebak sebuah hati. Tapi Eun Gi tetap yakin kalau Maru tak akan berpaling, dan begitu pula dirinya. Maru mengangguk mengerti. Walau begitu, ia tetap meminta agar mereka menunggu lebih lama lagi.


“Jika setelah ingatanmu kembali dan kau masih tetap ingin menikah denganmu; jika kau masih ingin menikah dengan orang seperti Kang Maru dan memiliki anak dan tua bersamanya, maka saat itu mari kita menikah,” Eun Gi mengerutkan kening, bingung akan ucapan Maru, “aku juga tak akan melepaskanmu.”


Dipeluknya Eun Gi dan ia pun berkata seperti berjanji, “Saat itu aku tak akan pernah melepaskanmu. Tak peduli apapun yang terjadi, apapun orang berkata apa.”


Min Young membawa Jae Hee yang mabuk. Bibi pembantu membantunya membawa ke tempat tidur, dan  menyelimuti Jae Hee.


Setelah bibi pembantu pergi, Jae Hee membuka mata menatap Min Young. Min Young menunduk untuk  menciumnya, tapi Jae Hee memalingkan muka.


“Seo Eun Gi, gadis itu sudah gila. Membuang Taesan untuk mendapatkan Kang Maru?” Min Young hanya menatap Jae Hee yang meracau, “Ia mengatakan kalau aku benar-benar kacau, tapi gadis itu benar-benar sudah gila.


“Aku, Han Jae Hee, membuang Kang Maru untuk mendapatkan Taesan. Aku.. akulah yang benar,” air matanya merebak saat meminta pendapat Min Young, “Tanya pada setiap orang di jalan, mana dari kami yang benar, mana dari kami yang normal. Apa yang mereka lakukan jika mereka adalah Han Jae Hee? Apa yang mereka lakukan jika mereka adalah Seo Eun Gi.”


Min Young diam saja. Tapi Jae Hee sudah memutuskan kalau ialah yang benar, “Kitalah yang benar. Ya, kan?”


Sepertinya Min Young menduga kalau Jae Hee menyesal. Ia bertanya, “Jadi.. kau ingin kembali? Seperti Seu Eun Gi, kau ingin menyerahkan Taesan dan kembali pada Kang Maru?

Mata Jae Hee menerawang seakan mempertimbangkan hal itu. Tapi Min Young berkata kalau  Jae Hee tak boleh melakukan itu. Jae Hee bukanlah orang seperti itu. “Aku.. karena kau memintaku. Karena kau mengatakan kalau kau menginginkannya, aku telah mengkhianati Presdir Seo, orang yang paling mempercayaiku. Aku juga terlibat dalam kematiannya dan aku juga menjadi seperti ini hingga sekarang. Inilah jalan yang harus kita tempuh.”

Hanya kali ini saja Min Young akan membiarkan Jae Hee lemah seperti sekarang ini. Dan ia berharap mereka hanya perlu membunuh satu kali saja untuk mencapai tujuan mereka, yaitu Presdir Seo, “Jangan sampai kita memasukkan nama Kang Maru ke dalam daftar itu.”


Min Young beranjak pergi. Tapi Jae Hee menangkap ancaman dari kalimat Min Young, ia bertanya apa maksudnya.


Min Young berbalik dan malah berkata, “Oh iya. Yang kau bunuh tak hanya satu. Tapi dua. Dan Kang Maru yang harus menerima hukumannya menggantikanmu.”


Ouchh.. Ia pun kemudian meninggalkan Jae Hee yang tercengang. Walau setelah ia keluar kamar, ia terlihat menyesal telah mengatakannya. 


Ancaman Min Young terus terngiang-ngiang di telinga Jae Hee. Dan kenapa saya punya perasaan kalau mungkin Jae Hee ingin menambah daftar orang-orang yang ingin ia lenyapkan, ya..


Di kamar, Eun Gi mencoba mengingat-ingat wajah orang yang ada di mobil satunya saat kecelakaan itu terjadi. Tapi yang ia ingat hanyalah wajah samar pengendara mobil itu. Ia malah mengaduh kesakitan dan memegangi kepalanya.



Choco yang sedang browsing di internet, mendengar keluhannya. Ia menatap simpatik pada Eun Gi dan berkata kalau hidup itu memang sulit, “Kau dan kakakku, kenapa jalan hidup kalian sangat melelahkan dan sulit di usia yang masih muda ini?”


Tapi ia menghibur Eun Gi. Berdasarkan pengalamannya, jika Eun Gi sabar dan tabah, akan tiba saatnya masa depan yang cerah.

Kita juga berharap seperti itu, Choco. Kita semua berharap seperti itu…


Eun Gi berterima kasih pada Choco dan teringat pada kata-kata Dokter Seo untuk mengingat satu kenangan yang paling menyakitkan, yang membuatnya sangat terluka dan membuatnya ingin mati. Eun Gi merasa kalau kecelakaan di terowongan itu ada hubungannya dengan kenangan yang paling menyakitkan.


Ia meminjam komputer Choco dan mulai meng-google kecelakaan itu. Choco yang melihat apa yang Eun Gi cari, terkejut  apalagi saat salah satu berita dibuka dan dibaca oleh Eun Gi. Ada inisial pria “K’ 30 tahun, yang saat itu berada dalam kondisi kritis.


Choco semakin cemas dan bertanya mengapa Eun Gi mencari tahu kejadian kecelakaan itu? Eun Gi menjawab kalau ini adalah perintah dokternya. Ia bertanya-tanya siapakah orang yang berinisial K itu. Tapi Choco menggeleng semakin cemas, dan tak memberikan jawaban.


Jae Gil pulang dengan wajah muram. Tanpa tedeng aling-aling, ia bertanya pada Maru, “Apa kau mau mati? Apa kau tahu siapa yang baru saja aku temui?”

Maru tetap cuek dan basa basi bertanya, “Siapa?”

“Seniormu di kampus dulu. Tae Woo Hyung,  Ahli bedah syaraf,” kata Jae Gil mengingatkan. Maru terdiam dan mendongak menatap Jae Gil.


Tapi Jae Gil tak lagi berdiri. “Aku tak tahu kalau.. ,” lututnya lemas dan ia duduk dan menangis, “kalau kau ternyata sesakit itu..”


Buru-buru Maru menghampiri Jae Gil dan menyuruhnya diam karena yang lain akan mendengarnya. Tapi Jae Gil tak mau. Ia malah semakin berteriak, “Biarkan mereka dengar! Biar mereka dengar semuanya!”


Maru menutup mulut Jae Gil tapi Jae Gil menepis tangannya marah, “Aku akan memberitahukan Choco dan Eun Gi, aku akan..”


“Jae Gil.. kumohon..” pinta Maru memohon. Dan kemarahan Jae Gil mereda saat melihat Maru meminta, “Kumohon jagalah rahasiaku yang ini.”


Mereka minum di sebuah restoran. Jae Gil hanya memandangi Maru, membuat Maru bertanya dengan nada bergurau, “Apa aku mati? Aku tak akan mati. Kondisiku tak seburuk itu. Apa yang Tae Woo Hyung katakan? Apakah ia bilang kalau aku akan mati jika tak dioperasi?”


Tapi gurauan Maru tak mampu meredakan wajah sendu dari Jae Gil yang sudah menangis. Jae Gil akan membawa Maru ke rumah sakit besok sepagi mungkin. Maru menenangkan Jae Gil kalau semua dokter pasti akan seperti itu, “Mereka pasti memberitahukan kondisi yang terburuk dulu, karena mereka tak mau bertanggung jawab.”


“Cepatlah kau dioperasi, brengsek!” teriak Jae Gil marah dan menangis.


Tapi Maru tetap santai. Kali ini ia mengatakan kalau seniornya itu, Tae Woo, memang seperti itu, “Ia selalu omong kosong, makanya ketika aku kuliah dulu .. “


“Aku akan menceritakan semuanya pada Choco dan Eun Gi. Karena mereka, Kang Maru telah melakukan hal yang gila,” potong Jae Gil dan iapun bangkit berdiri. “Aku akan mengatakan pada mereka.“

“Apa kau pikir semua ini karena Choco dan Eun Gi? Apa kau pikir karena mereka aku menolak dioperasi?” tanya Maru. “Memang siapa mereka? Apa kau pikir mereka lebih penting daripada hidupku sendiri?”

“Kalau kau tak bermaksud mengatakannya, jangan mengatakannya,” kata Jae Gil memperingatkan.


Maru pun tahu diri dan kali ini ia berkata serius. Ia telah berbuat segalanya dari menjual tubuhnya hingga mengatasi muntah terus menerus, demi menjadikan Choco seperti sekarang ini.

Dan ia merasa telah membayar separuh hutangnya pada Eun Gi. Sedangkan separuh sisanya, adalah hutang milik Eun Gi sendiri, “Mempercayai orang brengsek sepertiku tanpa curiga sama sekali, itu adalah salahnya sendiri. Dan ia patut disalahkan karenanya.”


Jae Gil menggebrak meja frustasi, “Diam kau! Hentikan omong kosongmu ini karena kau itu sakit.”


Maru mengatakan ada kemungkinan terjadi sesuatu saat operasi, atau ia meninggal di meja operasi, atau semua ingatannya akan hilang, atau ia akan lumpuh total setelah operasi, “Lalu akan jadi ada Kang Maru selanjutnya? Apa yang bisa dilakukan pria yang menyedihkan seperti Kang Maru ini?”


Jae Gil mempertanyakan sikap Maru yang pesimis dan berpikir yang terburuk. Tapi Maru mengatakan ini karena itu memang jalan hidupnya. Ia merasa sangat bahagia sekarang. Choco sudah lebih sehat. Memikirkan hal ini saja membuatnya sangat bahagia.


Kemudian Eun Gi yang ia tunggu-tunggu, telah kembali padanya, “Tidur di dalam rumahku, makan di meja yang sama, pergi dan pulang kerja bersama-sama. Setiap saat aku menoleh padanya, ia selalu tersenyum menatapku.”


Maru tersenyum mengingat semuanya, “Apakah semua ini masuk akal?” Ia memandang Jae Gil yang menangis dan memohon pada Jae Gil, “Aku ingin merasakannya sedikit lebih lama lagi, Jae Gil. Setelah merasakan kebahagiaan yang tak masuk akal ini, walau hanya sebentar saja, aku mau dioperasi.”


Jae Gil terus menerus menangis, dan Maru menghiburnya, “Aku tak akan mati jadi jangan terlalu khawatir. Dan jangan sampai hal ini ketahuan. Ya? Biarkan aku merasakan kebahagiaan juga. Untuk sekali saja.”


Jae Gil hanya bisa mengatai Maru gila dan menangis tersedu-sedu.


Di tempat tidur, Eun Gi masih belum tidur. Ia tersenyum, merasa ingatannya sudah hampir pulih kembali, “Kita hampir sampai, Maru-ssi. Kupikir aku akan mengingat semuanya segera, jadi tunggulah sebentar lagi. Janganlah pergi.”


Keesokan harinya, Eun Gi dan Choco sudah di dapur bersama Jae Gil, sementara Maru masih tidur. Eun Gi dan Choco akan memasak belut dan harus mengatasi bagaimana menangkap tanpa takut menyentuh belut yang masih hidup.


Eun Gi yang tangguh akan menangkapnya menggunakan sarung tangan, membuat Choco yang ketakutan, kagum akan ide cemerlang Eun Gi.


Jae Gil tersenyum, walau menahan air mata, menatap kegembiraan kedua gadis itu. Ia mengatakan kalau Maru sungguh beruntung karena Eun Gi mau memasak masakan favorit Maru.


Choco tak mau kalah. Kalau Jae Gil mau, ia berani memasak semur ular kobra! LOL, rasanya gimana, ya?


Jae Gil menghampiri mereka dan langsung mengambil satu belut, dan mengacungkan pada kedua gadis pemberani tadi, membuat mereka buyar, berteriak dan lari ketakutan. Tapi Jae Gil mengejar mereka dengan belut di tangan.


Saat itu terdengar suara Maru, 

“Aku mendengar tawa temanku, adikku, dan kekasihku. Mereka adalah bagian dari mimpi paling indah, paling enak, paling mempesona dari semua mimpi yang pernah kualami.”

Gil mengajari mereka cara memasak belut. Ia memarahi Choco yang mencacah taoge yang seharusnya hanya dibuang ujungnya saja.  



Ia juga memarahi Eun Gi yang mengupas kulit kentang terus menerus di tempat yang sama. Memangnya kentang itu mau dibuat masker? LOL.


“Takut kalau aku membuka mata dan ternyata ini hanyalah mimpi, aku tak berani membuka mataku.”

Sup belut sudah jadi. Jae Gil dan Choco berdebat tentang garam yang tadi mereka masukkan.  Choco dan Jae Gil masih berdebat dan tak memperhatikannya. Maka Eun Gi menengok Maru masih tertidur, dan pelan-pelan menghampirinya. 

“Terima kasih telah memberiku pagi yang sangat indah ini.”
Eun Gi tersenyum, dan secepat kilat ia membungkuk untuk mencium pipi Maru. 


Senang sudah bisa mencium Maru, buru-buru Eun Gi pergi dan kembali bergabung dengan Choco dan Jae Gil. 


Setelah Eun Gi pergi, Maru membuka mata dan tersenyum,

“Aku tak akan serakah dan meminta lebih. Sekarang, aku bahagia.”
Komentar :


Dear Maru,

Hidup seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Please, jangan putus asa dan menganggap hidup selalu ada di bawah dan merasa itu adalah jalan hidupmu.

Seperti kata Choco,  jika sabar dan tabah, maka masa depan yang cerah akan datang. Jika saat ini kau merasa selalu ada di bawah, percayalah kalau nanti kau akan selalu ada di atas. Di atas bukan berarti di surga. Kau akan masih di dunia ini, berada di atas bersama temanmu, adikmu dan kekasihmu. 

Percayalah kalau semua itu adil. Jangan menyerah dan berbahagialah..

With love,
Dee

Bersambung ke Sinopsis Nice Guy Episode 16 - 2

34 comments :

  1. thankz ea mbak!! q tunggu sinopsis slanjutna!!

    ReplyDelete
  2. T_T *meweeekk
    gak bisa berkata2, pokonya dee eonni udah merangkum kata2 paling keren untuk buat sinopsis ini smp bkin aku berkaca2 =.=

    ReplyDelete
  3. maru pantas mendapatkannya. Jadi seimbang maru en dan gi skor 1-1. jae ha yang tak kenal putus asa berperan sebagai lampir tua pantas menerima imbalannya ha ha ha ha dan si gendruwo min young pun mendapat skor akhir nol...!!!! Hanya joon ha yang sangat normal dalam cerita ni... Oh joon ha...

    ReplyDelete
  4. sepertinya semua kejadian dalam cerita ini bertema 'salah paham'
    (T.T) dan naasnya yang menjadi korban adalah tokoh utama hiks..hiks.. Pengen jadi teroris trus bisa sandera si jahat Jae ha n si jahat Min young

    ReplyDelete
  5. huhu mbak deee thanksss bikin aku teary *mata gemerlapaan bintang*
    bener2 episode ini penuh kebahagiaan sekaligus menguras air mataaaa, di episode ini juga semakin meneguhkan keyakinan kita bahwa sekarang Marulah yang benar2 sangat mencintai Eun Gi~~ /mewek lagi/
    ayo dong Maru, kamu pantas bahagia, kamu harus bahagia Maru-sshi~

    ReplyDelete
  6. banyak adegan kissnya ^^ inilah bagian terindah dari seluruh drama ini hu hu hu (nangis sambil meraung raung) aku terharu.... Eun gi yang polos apakah benar2 menyayangi maru atau hanya pura2 seperti maru yang dahulu... Jae gil penuh perhatian (auchh...menyentuh) kyaaa >3< Choco ma jae gil tium tium accident.... Xixixixi

    ReplyDelete
  7. baru nemuin blog ini... hiks...ssudah nonton ssub englishnya, baca recap englishnya, dan baca lagi recap indonya.. masih tetap mewek,TT__TT
    The best episode so far..

    ReplyDelete
  8. *berdoa...*
    pliiisss...kasih happy ending buat maru-ssi dan eun gi-ssi
    kasihan banget maru selalu merasa bahagia dengan hal-hal kecil tapi merasa bahwa kebahagiaan itu gak akan abadi buat dirinya..sedihhhhh

    ReplyDelete
  9. wah episode yg mnghrukan sampe nangis g sbar pngen klnjutannya.fighting!

    ReplyDelete
  10. Q takut ngelanjutin nonton n bca recap nice guy nunggu klo happy ending ru nerus klo gak y gak Q terusin :-D akhir episode inilah yg paling berat menebak apa yg akan terjadi pda maru selanjutY setlh eun gi sembuh ri amnesia bener2 gak tega membyangkn n liatY(;_;)

    ReplyDelete
  11. aku mau happy ending,,, please,,,,!!!
    lanjut terus ya ngerecapny mba dee, mba fany,,:)

    ReplyDelete
  12. episode ini mengharukan cukup membuat mata qu berkaca2...

    kata2 maru disaat tidur, sedih banget cukup dgn mendengar canda tawa adik,pacar n sahabat dia sangat bahagia banget,
    melihta eun gi yg merencanakan pernikahan seneng bagt tp miris bgt bg maru karena tau rencana itu mungkin saa tidak akan pernah terjadi setelah Eun GI mengingat semuanya walaupun sebenarnya dia ingin sekali menikah dan hidup bahagia bersama Eun gi... :(

    Ini bener2 episode yang mengaharukan, semangat Maru shi, mudah2an kebahagian itu akan datang padamu dengan Happy Ending drama ini..

    Thanks mba dee di tunggu part 2 nya :D

    ReplyDelete
  13. nice guy emang TOPPPPPP banget lah..............
    bikin nangis senyum senyum gak jelas gregeten poko e campur aduk lah........
    tapi kenapa eun gi ingatannya udah balik???? bener bener ksian maru nya kalau eungi ntar ninggalin maru....... sedih banget beneran......
    gak sabar ngliat episode 17 nya,,,,,,,
    ayo hari kamis cepat lah datang,,,,,,,,,
    semangat terus ya buat sinopsis nya....
    ^_^ Fighting....

    ReplyDelete
  14. Terharu aq mendengar kata - kata maru...T_T
    Fighting Maru-ya !!!!
    Fighting jg mbak Dee ^_^

    ReplyDelete
  15. eps yg bnr2 menguras air mata buat sy ... :'(

    ~titaRha~

    ReplyDelete
  16. dear mbak dee,
    ur wish about sweet scene:done...
    ur wish about happy maru:actually done in this episode
    can i wish, sweet end too ^^
    THANKS FOR D SNOPSIS :)
    FIGHTING!!!

    ReplyDelete
  17. T____T baru baca aja ud berkaca2 ini mata
    mba dee emang pinter .. top markotop untuk cara penulisannya...

    maru-ya... please be happy be healthy

    lee

    ReplyDelete
  18. sinopsisnya kereeennn mbak..!!! >.<
    jadi betah nongkrongin blog nya..
    kalo nonton di KBS World, subtitlenya bhs inggris, kadang ngerti, kadang engga.. hehe..
    sinopsisnya membantu banget...!!!!
    lanjutin ya mape tamat mbak...
    hwaiting...!!! :D

    ReplyDelete
  19. 16-2 nya blm ya mba...?

    ReplyDelete
  20. Semoga Maru dan Eun Gi akan bersatuuu :)
    kasiann Maru nyaaa sedihh teruss :'(
    aq jd ikutan mewek
    T_T

    ReplyDelete
  21. Akhh nntn drama ini paling buat guwe GALAU ckckcckckck kalo sampe ini sad ending bisa gantung diri guweee,,,,,bisa nangis2 seminggu, hahahahah *lebay

    ReplyDelete
  22. Ah ah ah.. Hatiku sakit...
    Pertama : gara2 Maru hidup koq ya susah banget. Hhhiiikkssss...
    Kedua : penulis drama ini, padahal tadinya ngk mau nonton kl blm selesai (biar tau endingnya gmn)ehhh sampai ke hari ini perjuanganku buat katakan TIDAK pada drama ini gagal, akhirnya sinopsis masih lanjut amku baca.

    Bagaimana ini?????

    ReplyDelete
  23. “Kemudian Eun Gi yang ia tunggu-tunggu, telah kembali padanku” “Tidur di dalam rumahku, makan di meja yang sama, pergi dan pulang kerja bersama-sama. Setiap saat aku menoleh padanya, ia selalu tersenyum menatapku.”
    ######

    denger kang maru ngomong gini tuh rasanya.....................

    ReplyDelete
  24. terus denger suara hati maru yg sebenarnya tuh rasanya..............................

    hatiku kacau.. T^T
    antara ikut bahagia tapi secara bersamaan aku juga ngerasa sedih dari hati yang paling ujung T^T

    ReplyDelete
  25. Nyesek dg apa yg akan trjadi slanjutx..
    Dear PD Nim,
    Kumohon biarkan mreka bhagia n brsatu..
    Sdah trllu bnyak pnderitaan yg mreka alami, jdi tlong biarkan mreka brakhir dg bhagia..
    Jeballl..

    ReplyDelete
  26. so sad story,aduh ngebayangin yg mereka rencanain dalam situasi yang miris,mudah2an endingnya ga ngecewain semangat ya mba dee lanjutin sinop nya.
    aq perhatiin kok song joong ki mirip banget wonbin ya....jiahh sama2 ganteng apa ya saya lupa istilahnya

    ReplyDelete
  27. T.T
    cuma satu kata "mewek".. kata2 maru d eps ini dalem bgt,..

    ReplyDelete
  28. Huwaaa....
    ini udah keberapa kalinya nangis ya ??
    ga ke itung T.T

    kenapa harus serumit ini ya ?
    tp ceritanya ringan dan ga berat .
    ini sedihnya pake banget .

    lanjut part berikutnya ya :)

    ReplyDelete
  29. jae gil memang bnr bnr sahabat yg baik .,baca nya sampek ikut nangis terbaha prasaan benar benar episod ini biki haru .,kata" maru menyentuh abisst :)

    ReplyDelete
  30. saat baca sinop ini,, aku sedang sedih dan galau krn suatu hal.. aku nangis..T_T... tp trus bertanya22... aku nangis karna "suatu hal" itu ato krn terharu gdn keadaan Maru,,,,????????? he

    Thnx yan mb... sinopnya keren

    ReplyDelete
  31. Aq selalu nangis pas scene eung mnta maru utk mnkah ^^

    ReplyDelete
  32. Kata2 maru oppa pas bngun tdur d pagi hari adalah harapan smua orang d dunia ini...hehe..

    ReplyDelete