October 9, 2012

Sinopsis Nice Guy Episode 8 - 2

Sinopsis Nice Guy Episode 8 – 2


Maru telah sampai di vila Pyeongyang. Betapa terkejutnya ia saat melihat isi rumah yang berantakan dan Jae Hee duduk terpekur di lantai dengan hanya memakai satu sandal. Wajahnya sudah lebam dan lengnnya berdarah karena cakaran.

Whoaa… Jae Hee memukuli dan mencakari dirinya sendiri agar aksinya lebih terpercaya? Ckckck..



Seakan dejavu, Maru melihat Jae Hee remaja dengan satu sepatu di kaki dan sepatu lainnya di dalam pelukannya, ketakutan.


Maru memalingkan muka saat Jae Hee mengangkat wajahnya, tak tega melihat Jae Hee yang seperti tikus yang ketakutan, sama seperti belasan tahun yang lalu. Maru bertanya dimanakah Jae Shik?


Dengan lirih Jae Hee menjawab tak tahu. Mungkin Jae Shik sudah melarikan diri karena mendengar kalau Maru akan datang kemari. Mencoba menekan perasaannya agar tak terlihat, Maru bertanya dimana kotak P3K.

Jae Hee berkata ada di laci di ruang tengah. Saat Maru pergi untuk mengambilnya, Jae Hee memanggilnya. Ia tak yakin kalau Maru akan datang kemari, jadi “Terima kasih, Maru.”

Ewww...


Eun Gi memandangi SMS itu, mencoba memahami apa yang maksud sebenarnya pengirim SMS itu.


Maru mencari-cari kotak P3K, dan saat ia menemukan ada telepon masuk. Ia mengangkat telepon itu hanya untuk mendengar ia dimaki-maki karena tak mau mengangkat telepon. Apakah handphone itu hanya untuk membaca jam saja? Maru tak mengenali suara itu, maka ia bertanya siapakah dia?

“Aisshh… anak ini. Apa kau tak mengenal suara hyung-mu? Bawa uangnya dan segeralah kemari!”

Ternyata yang meneleponnya adalah Jae Shik yang sedang ada di kantor polisi bersama dua orang wanita (satu germo dan satu lagi wanita penghibur). Mereka mengadukan Jae Shik karena tak bisa membayar minuman yang telah Jae Shik habiskan dalam satu hari ini. Semuanya 3 juta won. Jae Shik minta tolong Maru untuk membayarinya lebih dahulu.


Mulanya Maru terlihat kesal karena lagi-lagi kakak Jae Hee membuat ulah. Tapi setelah itu ia tersadar dan ia bertanya, “Hyung, kau sekarang ada dimana?”


Saat Jae Shik menjawab kalau sekarang ia ada di Busan, wajah Maru mengeras. Apalagi saat Jae Shik berkata kalau ia akan membayar Maru 3 kali lipat setelah ia bertemu dengan Jae Hee dan meminta uang darinya.


Maru kembali menemui Jae Hee dengan membawa kotak P3K. Namun kali ini Maru hanya terdiam. Ia mengangkat wajah Jae Hee, melihat lukanya dan mulai mengoleskan obat di bibir Jae Hee.


Dengan mobilnya, Eun Gi mendatangi vila itu. Betapa terkejutnya ia melihat mobil Jae Hee dan mobil Maru berjejer berdampingan.


Maru telah selesai mengobati Jae Hee, namun ia tetap terdiam. Dengan air mata menggenang, Jae Hee bertanya pilu, “Apa yang telah kulakukan padamu?” Ia sekarang menyadari kalau semua yang dikatakan Maru semuanya benar. “Saat itu aku tak berpikir jernih. Aku memang salah. Aku bersalah padamu, Maru.”


Dengan kalem Maru berkata, “Noona, kau benar-benar mengenalku dengan baik, lebih dari aku mengenal diriku sendiri.”


Jae Hee ragu akan kata-kata Maru. Apa maksud perkataannya?


Pada saat itu Eun Gi sudah masuk ke dalam rumah dan berjalan pelan-pelan agar langkahnya tak terdengar. Di balik pintu ia mendengarkan ucapan Maru.

“Hati kecilku sendiri sebenarnya tak ingin balas dendam. Apapun yang kau lakukan padaku, hati ini tetap merindukanmu. Karena kebodohanku, perasaanku tak pernah berakhir.”


Jae Hee ingin berkata, tapi Maru memotongnya dengan menyuarakan kata-kata Jae Hee 6 tahun yang lalu,

“’Maru, tolong aku!’ Saat kau meminta tolong aku langsung meninggalkan adikku yang sedang panas lebih dari 38 derajat Celcius. Saat itu, seperti orang gila aku lari menemuimu. Kau tahu kalau aku akan datang padamu, tak peduli apa yang Noona lakukan. Aku akan mengerti, memaafkanmu dan menahan semua penderitaan ini. Kau juga tahu kan tentang hal ini?”


Jae Hee berlinang air mata saat menyanggupi keinginan Maru. Bukankah dulu Maru menginginkannya turun ke bawah? Jae Hee mengangguk meyakinkan Maru, “Aku akan turun ke bawah dan akan membuang semuanya. Aku akan kembali turun ke Jae Hee yang lama.”


Eun Gi terpana mendengar percakapan mereka. Tak tahan akan apa yang selanjutnya akan ia dengar, Eun Gi berbalik meninggalkan mereka dan sayangnya tak mendengar jawaban Maru selanjutnya.


Jae Hee berkata kalau ia akan melakukan hari ini, atau malah sekarang juga. Tapi Maru malah menyarankan sebaliknya.


Maru malah meminta Jae Hee untuk tak melakukannya karena mulai sekarang ia tak akan mempedulikan apa yang Jae Hee lakukan. “Tak peduli jalan mana yang akan diambil Han Jae Hee, apakah jalan menuju neraka ataupun menuju kehancuran, aku tak tertarik lagi.”


Jae Hee tak mengerti akan ucapan Maru. Ia menyangka Maru akan mempedulikannya tapi ternyata tidak. Jae Hee mencoba menahan Maru dengan berteriak frustasi.


Tapi Maru tak terpengaruh lagi. Dengan kaku, ia malah berkata, “Perasaanku pada Han Jae Hee sekarang sudah mati.” Dan Maru terus berjalan meninggalkan Jae Hee yang menangis terisak-isak.


Namun saat Maru berada di luar rumah, ia tak dapat menyembunyikan perasaannya. Ia teringat saat pertama kali mereka bertemu, bagaimana perasaan cinta setengah mati pada Jae Hee yang ia rasakan saat kuliah dulu.


Semuanya itu membanjiri ingatannya dan menangis karenanya.  Ia mencintai Jae Hee, namun sekarang adalah saatnya ia benar-benar akan melepaskan Jae Hee. Tanpa rasa dendam dan tanpa rasa amarah.


Air mata Jae Hee sudah mengering dan ia tak menangis lagi tapi ia masih termangu.


Sementara Eun Gi yang keluar rumah sejak tadi masih duduk terpaku di mobilnya. Akhirnya ia menyalakan mobil dan pergi.


Sibuk akan perasaannya sendiri, Maru tak mendengar suara bunyi mobil dinyalakan. Setelah Eun Gi melaju melewatinya, ia baru sadar kalau tadi Eun Gi kemari. Tapi pembicaraan terakhir dengan Jae Hee seakan mematikan semua sel otaknya sehingga ia masih berpikir mengapa Eun Gi bisa kemari dan apa alasannya.


Ada telepon masuk, dan Maru mengangkatnya. Dari Jae Hee yang belum bisa menerima Maru yang benar-benar meninggalkannya, “Apakah karena Eun Gi? Apakah kau mencintainya? Kang Maru!”


“Aku telah melakukan kesalahan dan aku menyesalinya,” kata Maru membuat Jae Hee sedikit lega mengira Maru akan kembali. Tapi tidak karena ia menyesal telah menyeret Eun Gi ke dalam masalah ini. Maru menutup telepon, dan tatapannya kembali melihat ke arah Eun Gi yang baru saja pergi.


Maru menelepon Eun Gi, tapi Eun Gi tak mau mengangkat telepon itu.


Di rumah, kondisi Presdir Seo sudah tak bagus. Ia bertanya apakah Joon Ha sudah mencoba menghubungi Eun Gi? Joon Ha menjawab kalau ia sudah menelepon tapi Eun Gi tak mau menjawabnya.


Presdir Seo sepertinya sudah tak peduli lagi dengan Jae Hee, karena ia mengabaikan pertanyaan Joon Ha tentang keberadaan Jae Hee yang tak dilihatnya pagi ini. Ia malah menanyakan apakah perintahnya sudah dijalankan? Tentang wasiat dimana Jae Hee tak memperoleh apapun?


Joon Ha mengingatkan Presdir Seo, apakah Presdir tak sedikit keterlaluan? Tapi bagi Presdir Seo yang merasa tak akan hidup lebih lama lagi, ia harus melakukannya sekarang. Karena jika tidak, segala sesuatunya akan terasa sulit bagi Eun Gi nanti.


Eun Gi tiba di parkiran rumah Maru. Ada telepon masuk dari Joon Ha dan lagi-lagi ia tak mengangkatnya. Ia malah menjalankan mobilnya lagi, pergi ke tempat lain.


Dan mobilnya berselisih jalan dengan mobil Maru yang menyusulnya. Maru masuk ke rumah, menyadari kalau Eun Gi tidak pulang. Ia melihat tumpukan baju Choco yang kemarin dipinjamkan.


Ia juga melihat foto pantai milik Jae Hee, dan baru menyadari kalau ada tulisan Jae Hee dibelakangnya, “Piknik pertama kita. Ayo pergi! Jae Hee love Maru”


Jae Hee pergi ke ruang safety box di sebuah bank. Kata-kata Min Young terngiang-ngiang, kalau Presdir Seo akan mencabut pisaunya, dan kali ini mereka tak akan selamat kecuali melarikan diri. Mereka berdua.”

Tapi ia belum menyerah. Ia mengambil sesuatu dari safety box. Sebuah amplop yang menjelaskan tentang peristiwa 6 tahun yang lalu.


Malam itu ia bertemu dengan pegawai Tae San yang tak terima dikeluarkan dengan semena-mena. Ia membawa amplop berisi dokumen kebusukan Tae San dan Presdir Seo. Ia memberikannya pada Jae Hee selaku wartawan HBS untuk diliput sebagai berita besar.


Tapi Jae Hee menolak dokumen ini, dan menyuruh pria itu untuk memeras Tae San saja dengan dokumen ini.


Pria itu langsung menyadari kalau Jae Hee adalah wanita yang kabarnya disukai oleh Presdir Seo, dan hal ini membuatnya marah. Ia menyerang Jae Hee, mencoba memperkosanya.

Jae Hee berteriak panik dan meronta-ronta. Tapi pria itu terlalu kuat, sehingga Jae Hee mengambil botol yang  ada di dekatnya dan memecahkannya ke kepala pria itu. Ia juga menendang pria itu hingga pria itu terjatuh.


Pukulan itu tak mematikan, tendangan itu juga tak mematikan. Tapi pria itu terdorong ke bawah tempat tidur dan belakang kepalanya terantuk ujung meja. Dan seketika itu juga pria itu mati.


Amplop yang sekarang ia dekap itu adalah amunisi terakhir Jae Hee untuk menghadapi Presdir Seo.


Sementara Jae Hee pulang ke rumahnya, Joon Ha membuka data pribadi Jae Hee dan Min Young. Terlihat kalau ia stress dan ragu akan tindakannya.


Sedangkan Min Young ada di ruangan kantornya, sedang mengemasi barang-barang pribadinya. 


Eun Gi tiba di pantai tempat foto Jae Hee berada dan ia memotret pemandangan pantai dengan handphone-nya, persis seperti foto itu.


Dalam sekejap, foto itu sampai di handphone Maru, yang langsung bergegas pergi setelah mengetahui keberadaan Eun Gi.


Tak lama, Maru sudah tiba di pantai dimana Eun Gi duduk menikmati pemandangan pantai. Eun Gi berterima kasih atas baju yang sekarang ia pakai. Bagaimana Maru bisa menebak ukurannya? Pantas saja Maru disebut playboy.


Eun Gi memuji keindahan pantai ini yang baru ia ketahui sekarang. Bagi Maru, tentu kedatangannya ke pantai ini bukan yang pertama, kan?


Maru menjawab jujur kalau ini adalah kali pertamanya datang ke sini. Dulu ia pernah berjanji akan pergi ke pantai ini bersama seseorang, tapi pada akhirnya mereka tak jadi pergi.



“Seperti apa orang itu?” Eun Gi tetap bertanya walau ia sudah tahu jawabannya.

“Orang yang pernah kucintai.”

“Siapa dia?”


Maru menoleh dan menatap mata Eun Gi saat menjawab, “Han Jae Hee.”

Komentar :


Sekarang  adalah saatnya Maru berkata jujur dan menceritakan semuanya pada Eun Gi. Sebelumnya, pada Jae Hee ia mengakui kalau ia menyesal dan merasa bersalah telah menyeret Eun Gi ke dalam masalahnya.

Apakah ia sekarang menyukai Eun Gi? Saya rasa iya karena ia mencium Eun Gi saat Eun Gi tertidur. Jika Maru masih berpura-pura, ia pasti mencium Eun Gi saat Eun Gi terbangun.

Tapi apakah Eun Gi bisa menerima pengakuan jujur Maru?

Eun Gi sudah terluka saat mendengar separuh pengakuan Maru saat di vila. Sayang ia tak tinggal lebih lama untuk mendengarkan penolakan Maru pada Jae Hee. Ia hanya mendengar bagian dimana Maru sangat terobsesi pada Jae Hee dan bersedia melakukan segalanya untuk Jae Hee.

Min Young pernah mengatakan kalau Eun Gi termasuk orang yang mengerikan karena tak dapat menerima perselingkuhan. Saya tak setuju dengan pernyataan Eun Gi orang yang mengerikan. Tapi  saya setuju kalau Eun Gi tak bisa menerima perselingkuhan. Perselingkuhan berarti berbohong. Dan Maru telah berbohong padanya untuk membalas Jae Hee.

Perasaan Eun Gi mati selama beberapa tahun terakhir ini. Perginya ibu kandungnya, ayahnya yang berselingkehadiran Jae Hee di rumahnya, telah melukai perasaannya.


Dengan membawa semua luka itu, ia bertemu dengan Maru yang ia anggap sebagai penyelamat. Ia bersedia melepaskan semuanya demi pria itu. Ia bahkan memaafkan (atau mungkin tak mempedulikan) kenyataan kalau Maru ternyata telah mengenal Jae Hee. 

Jadi betapa kata-kata Maru di vila itu merupakan pukulan yang menghantam semua kepercayaan dirinya. Ia tak merasakan ciuman yang Maru berikan di pipinya semalam tadi. Ciuman yang jauh lebih jujur dari kecupan penyemangat atau ciuman di kastil Hirosake.

Apakah ia akan mempercayai semua kata-kata Maru setelah ini?

Berikutnya, Sinopsis Nice Guy Episode 9. Spoiler Nice Guy Episode 9 dan Preview Episode 10

18 comments :

  1. cape juga bca sinopsisnya ..
    bukan karena panjang sinopsisnya, tp karena emosi naik turun yg dirasain pas bca sinopsisnya ..
    ckckck ..

    horee ..
    besok udh rabu lgi ..
    saatnya menyiapkan energi untk membca sinopnya ..
    kekekke ..

    .ndah.

    ReplyDelete
  2. hooreeeyy.... perasaan maru pd jae hee sudah mati..

    maru nya udh mulai suka sm eun gi, tp eun gi nya galau ... :(


    eh joon ha dket ya sm presdir ...? tar jgn2 djodohn sm eun gi,
    *asal nebak :p

    ~titaRha~

    ReplyDelete
  3. hooreeeyy.... perasaan maru pd jae hee sudah mati..

    maru nya udh mulai suka sm eun gi, tp eun gi nya galau ... :(


    eh joon ha dket ya sm presdir ...? tar jgn2 djodohn sm eun gi,
    *asal nebak :p

    ~titaRha~

    ReplyDelete
  4. hooreeeyy.... perasaan maru pd jae hee sudah mati..

    maru nya udh mulai suka sm eun gi, tp eun gi nya galau ... :(


    eh joon ha dket ya sm presdir ...? tar jgn2 djodohn sm eun gi,
    *asal nebak :p

    ~titaRha~

    ReplyDelete
  5. berharap di akhir cerita nanti 'happy ending'...

    ReplyDelete
  6. waaah aku salut sama aktingnya park shi yeon ~ hehe park shi yeon sukses buat orang-orang benci sama dia sebagai han jae hee dan tiap episode kita malah semakin benci sama han jae hee ~ >___<

    ReplyDelete
  7. dtnggu lgi episode 9 nya...jdi smakin pnsaran sja ya???hemmzzzz
    lope lope lah kang maru <3<3<3<3<3

    ReplyDelete
  8. Ngga kebayang orang bisa melukai dirinya sendiri sampe berdarah-darah gitu...bener-bener deh..tapi, setuju akting Park Shi Yeon bagus di sini :)

    Sayang Eun Gi ngga denger sampe akhir >,<

    ReplyDelete
  9. bener2 seperti nonton di tv,emosi ikut keseret2..padahal cuma liat gambar doang,semangat mb dee untuk episode seterusnya!

    ReplyDelete
  10. dari episode 1- 8 ini saya merasakan ke galauan nya maru...bagaimana tidak galau setelah apa yg di lakukan maru tdk ada artinya di mata jae he orang yg sangat maru cintai...dan marru merasa tdk percaya apa yg ada di depan matanya seolah olah ia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yg ada di hadapannya adalah mimpi...
    bukankah manusia tak luput dari kesalahannya ?itu lah maru ingin berlapang dada atas kesalahan jae hee dan ia ingin menyeret jae he untuk membuka mata lebar lebar ....tapi sayngnya jae he terobsesi dengan kekayaan walaupun harus mengesampingkan harga diri dan persaan cinta nya .....

    tapi seandainya endingnya jaehe kembali ke maru setelah bertobat ..dan memberikan kesempatan satu kali buat jae he saya senang juga mereka bersatu atas cintanya ..."toh manusia pasti pernah melakukan kesalahan"...dengan syarat jae he benar2 bertobat..
    ini cocok di sebut 'nice guy'

    dan seandainya endingnya maru sama eun gi ..bagus juga aslakan maru benar2 mencintai eun gi.....

    hehe....lebih jelas lagi tunggu episode selanjutnya.....

    makasih mba sinopsis nya "fighting"......

    ReplyDelete
  11. Saya ngarep Eun Gi jadian dgn Park Joon Ha aja, sdh capek liat ketololan MaRu. Smg pria kyk Maru gak ada di kehidupan nyata, cukup di drama aja:-)
    -anit-

    ReplyDelete
  12. wahhhhh,,,,, mantap sinopsisx!!!!
    mdh2an maru akhirx sm eun gi. Berharap boleh dong!!!!
    @yayu->yang sabar yah sampe minggu depan!!! :D

    ReplyDelete
  13. Yaey maru eun gi maru eun gi!! Tp kasian joon ha. Mungkin gak kalo eun gi pas lupa ingatan malah sm joon ha ato malah eun gi diambil sm jae hee buat ngambil hartanya lagi sekaligus bales dendam sm maru? Aaaaah unpredictable bgt ini drama

    ReplyDelete
  14. Satu lagi jae hee 2 kali bunuh orang coooy! Bener2 udah gak punya hati lagi tuh si jae hee sampe bisa bunuh 2 orang

    ReplyDelete
  15. saya sukaa ma drama ini,,, unpredictable deh,, moga endingnya unpredictable tp happy ending... aamiiinnn....

    ReplyDelete
  16. ingin kubunuh jae hee. udah jahat sok menyesal perbuatannya lagi. tp tetep enak critanya

    ReplyDelete
  17. WOW BGT CERITANYA !
    Hadeeeh ribet yaaa oh Maru Maru Maru

    ReplyDelete
  18. makin penasaran ja.. Aq brharap ntar endingx jgan smpai maro ma jae hee..
    Ti2k..
    Klo ntar emank ma jahe.. Mksudq jae hee..
    Aq anggap maru bner2 pria bodoh mskipun ntar jahe sdah tobat..

    ReplyDelete