October 30, 2012

Sinopsis Nice Guy Episode 14 - 2

Sinopsis Nice Guy Episode 14 - 2


Maru kembali bekerja ke kantor. Ia ditelepon Jae Hee untuk menemuinya. Jae Hee mengakui kalau ia kekanak-kanakkan dengan menjebak Maru sebagai mata-mata perusahaan lain. Untuk itu ia minta maaf dan mengulurkan tangannya, “ Mari kita mulai segala sesuatunya dari awal lagi.”



Maru tak menyambut tangan Jae Hee malah tersenyum sinis, “Apa yang akan terjadi kalau aku tak mau memaafkanmu?”


Yang patut dikagumi dari Jae Hee adalah mimik wajahnya. Ia nampak tertekan mendengar penolakan Maru dan bertanya “Haruskah aku berlutut kepadamu? Aku dapat berlutut. Di hadapanmu aku dapat berlutut seribu bahkan sepuluh ribu kali.”


Maru hanya menatap Jae Hee. Sambil menitikkan air mata, Jae Hee merendahkan tubuhnya untuk berlutut, tapi Maru mencegahnya. Tak tega Jae Hee berlutut padanya?

Tidak.


“Menjijikkan,” kata Maru sambil menatap Jae Hee muak. “Rasanya aku mau muntah.”


Ia kemudian mendorong Jae Hee. Tanpa menoleh lagi, ia langsung pergi meninggalkan  Jae Hee yang tertegun dan menangis.


Joon Ha bertanya lagi, apakah Eun Gi yakin apa yang ia ingat? Eun Gi yakin. Tapi Joon Ha tetap bertanya lagi dan lagi, “Bukan orang lain? Kau tak sedang bermimpi, kan? Apakah kau yakin tak sedang mengarang ingatan itu?”


Eun Gi menjadi bingung. Apalagi ketika Joon Ha menjawab, “Aku tak pernah mengatakan hal itu padamu. Bahkan ini pertama kali aku mendengarnya.”

“Benarkah?” tanya Eun Gi ragu.


Dengan nada yakin, Joon Ha mengatakan kalau ia pernah mendengar jika sebagian orang di dunia ini menipu diri sendiri dengan menciptakan kenangan palsu. 30% kenangan mereka adalah ingatan yang terlupakan dan dikarang.


Eun Gi sedikit ragu, tapi ia percaya kata-kata Joon Ha. Mungkin ingatannya yang keliru. Walau begitu ia bertekad untuk mendapatkan kembali ingatan-ingatan itu. Ia juga tak akan sembunyi dan ketakutan. Ia akan melakukan apapun yang dapat mengembalikan ingatannya.


Min Young memberikan laporan tentang kesiapan dokumen yang diperlukan untuk menurunkan Eun Gi. Yang dibutuhkan oleh mereka sekarang adalah bukti ketidakmampuan untuk menjalankan perusahaan, walau itu tak mudah.

Min Young menduga, selama Eun Gi masih sakit, ia akan tetap bersembunyi di belakang Maru. Jae Hee tersenyum mendengarnya. Ia mengusulkan untuk memisahkan mereka berdua.


“Dan kita ambil Kang Maru,” kata Jae Hee,  membuat Min Young langsung menoleh mendengar usul itu. Tapi Jae Hee tak tahu, karena ia asyik dengan pikirannya sendiri, “Dia terlalu berharga untuk diberikan pada orang lain. Aku ingin dia. Aku menginginkan semua darinya.”


Terdengar ketukan di pintu, dan betapa kagetnya Jae Hee dan Min Young melihat Eun Gi yang katanya bersembunyi di belakang Maru, berjalan masuk ke dalam ruangan.


Mereka semakin kaget mendengar kedatangannya Eun Gi ke kantor kali ini adalah untuk mulai bekerja.


“Aku merasa seperti dikecilkan karena penyakitku. Bagaimanapun juga, ini adalah perusahaanku dan karyawanku,” ujar Eun Gi sambil tersenyum. “Mungkin penyembuhanku akan sejalan jika aku bekerja di sini dan berinteraksi dengan mereka.”


Eun Gi menunduk hormat dan meninggalkan ruangan. Jae Hee shock dan terlihat marah.


Haha.. Atta girl. Walaupun ingatan Eun Gi belum kembali, tapi sifatnya sudah kembali menjadi Eun Gi yang lama.  Eun Gi yang berani dan cenderung nekad.


Maru bahkan terkejut melihat keberanian Eun Gi. Apakah Eun Gi serius? Tapi Eun Gi memang sudah berniat, “Di sinilah tempatku. Di sini adalah tempat aku ingin memulai untuk menggali ingatanku.”


Maru diam dan terlihat kecewa mendengar alasan Eun Gi.


Jae Hee ternyata juga serius dan bergerak cepat. Melalui telepon, ia langsung memberikan tugas, yaitu proyek perusahaan kosmetik Tak Yang yang belum selesai ditangani Eun Gi tahun lalu.


Ia tahu kalau Eun Gi cukup dekat dengan CEO Min dan memintanya untuk menemui Presdir Min. Orang yang menangani kontrak ini sedang berhalangan dan banyak yang mengincar proyek ini, sehingga mereka harus cepat. Kebetulan pertemuan itu adalah hari ini.


Kebetulan Maru masuk ruangan dan ia langsung menyadari ada masalah saat melihat betapa paniknya wajah Eun Gi dan Sekretaris Hyun.


Sekretaris Hyun memiliki sedikit informasi tentang Presdir Min. Ia  sangat menyukai Eun Gi, bahkan ingin menjadikan Eun Gi sebagai menantunya. Tapi Eun Gi benar-benar tak mengingat Presdir itu sama sekali. Sekretaris Hyun tahu kalau saat itu Eun Gi menangani proyek ini bersama Sekretaris Kim. Maka ia pun pergi untuk mencari tahu informasi tentang Presdir Min.


Maru meminta Eun Gi untuk tak memaksa diri. Lebih baik ia mundur saja dan beralasan kalau ia sedang berhalangan hadir.


Tapi Eun Gi tak mau. Ia bertekad untuk menyelesaikannya, “Aku tak mau mengatakan 'aku tak bisa'. Aku tak mau lagi. Aku percaya dapat menghafal semuanya. Bagaimana orang itu, bagaimana keluarganya, apa hobinya.. Aku tinggal menghafalkannya, kan?”


Di dalam mobil, Eun Gi sibuk komat-kamit menghafalkan informasi yang diberikan Sekretaris Hyun. Sekretaris Hyun mengatakan kalau tahun lalu anak Presdir Min telah menikah dan ia sekarang sangat bahagia karena cucu laki-lakinya telah lahir. Sekretaris Hyun menyarankan agar Eun Gi membuka percakapan dengan hal yang menggembirakan ini.


Tapi Maru yang mengantarkan Eun Gi yang khawatir. Saat mengantarkan Eun gi ke depan pintu ruangan meeting, ia mengusulkan untuk menemaini Eun Gi ke dalam. Tapi Eun Gi menolak dan menenangkan Maru. Dengan percaya diri, ia masuk ke dalam ruangan.


Di dalam Eun Gi berbasa-basi dengan mengatakan kalau terakhir kali mereka bertemu adalah tahun lalu saat ulang tahun Presdir Min. Saat itu ia sedang bersama almarhum ayahnya.


Presdir Min tersenyum ragu. Ia mengatakan kalau yang dikatakan Eun Gi mungkin terjadi karena ia sekarang sudah gampang lupa. 


Eun Gi menambahkan kalau ia juga mendengar berita tentang putranya. Presdir Min hanya berdehem tak nyaman walau ia tetap tersenyum kecil. 


Jae Hee menandatangani semua dokumen di mejanya dengan senyum gembira. Tapi tidak dengan Min Young.


Ia bertanya apakah sekarang Eun Gi menemui Presdir Nam, dan bukannya Presdir Min? Apa yang membuat Jae Hee melakukan hal itu? Bagaimana jika Eun Gi gagal sehingga Presdir Nam menarik investasinya?


Senyum puas terpancar di wajah Jae Hee. Memang itulah yang ia inginkan. Semakin besar kesalahan Eun Gi, semakin dalam pula kesan yang akan diterima oleh para direksi.


Dan rencana  Jae Hee sudah mulai berjalan. Sambil menuangkan minum dan menyajikan makanan, Eun Gi mengatakan kalau rasanya baru kemarin ia mendengar tentang pernikahan putra Presdir Min. Ternyata sekarang Presdir Min sudah memiliki cucu. Ia memuji Presdir Nim yang mendapat anugerah begitu besar.


“Apa kau sedang mabuk?” tanya Presdir Nam tajam, dan saat itu juga senyum Eun Gi lenyap. “Beraninya kau datang kemari sambil mabuk! Dasar gadis tak tahu diri. Apa yang kau bilang tentang anakku?”


Maru berlari menuju ruang meeting Eun Gi. Ternyata tinggal Eun Gi sendiri yang duduk terpekur.


Dengan lesu ia berkata kalau orang yang ada di depannya ternyata bukanlah Presdir Min dari perusahaan kosmetik Tae Han, tapi Presdir Nim dari perusahaan Moh Sung Chemical, “Putranya baru saja meninggal karena kecelakaan 5 bulan yang lalu. Dan pada orang tua yang baru saja kehilangan putranya, aku..”


Eun Gi tak bisa melanjutkan kata-katanya, dan ia meraih botol soju. Maru mengambil botol itu, tapi ia pun juga tak bisa berkata apapun.


Ada telepon dari Jae Hee yang langsung menghardik Eun Gi, “Apa yang baru saja kau lakukan? Apa kau kembali ke Taesan hanya untuk menghancurkannya? Karena kau tak dapat mempercayai Han Jae Hee sebagai Presiden Direktur?”


Eun Gi terpana mendengar semua tuduhan Jae Hee. Apalagi Jae Hee mengungkit semua kesalahannya dan membuat Presdir Nam menarik semua investasinya, “Bagaimana caramu mempertanggungjawabkan hal ini?!”


Semua teriakan dan jeritan Jae Hee hanya dapat Eun Gi dengar dari telepon. Ia tak melihat bagaimana wajah Jae Hee yang puas saat ia menghardik Eun Gi. Tapi Min Young melihatnya.


Sambil menahan tangis yang hampir tak terbendung, Eun Gi membela diri kalau Jae Hee telah memberikan informasi yang salah padanya.


Tapi belum sempat ia membela diri sepenuhnya, Maru telah mengambil handphone dan menutupnya sambil berkata, “Kurasa kita telah terjebak, Seo Eun Gi.”


Dan memang benar. Min Young memberitahukan kalau sekarang gosip kegagalan Eun Gi pasti sudah menyebar luas. Min Young menyarankan agar Jae Hee mengungkapkan hal ini di rapat direksi berikutnya dan ia akan menyiapkan dokumen pendukungnya. 


Jae Hee tersenyum meremehkan. Ia tak menyangka kalau mereka dapat mengakhiri dengan sangat mudah, “Rasanya mengasyikkan jika prosesnya tak mudah. Kalau sekarang, rasanya tak mengasyikkan.”


Malamnya, ditemani kaleng soju, Eun Gi mengeluarkan perasaannya. Ia merasa malu dan menyadari kalau seharusnya ia mendengarkan kata-kata Maru. Ia sudah berusaha tapi ternyata ia tak mampu berdiri tanpa bantuan orang lain. “Sebenarnya apa yang bisa aku lakukan?”



“Janganlah kecewa. Lain kali akan lebih baik,” hibur Maru tapi Eun Gi malah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau pasti akan memperoleh semua ingatanmu. Lagipula kenapa kau sangat terburu-buru menginginkan ingatanmu kembali??


“Karena aku ingin mengingatmu,” kata Eun Gi. “Aku ingin mengingat Maru, yang sangat mengenalku dan mencintaiku.”


Kegagalan ini benar-benar membuat Eun Gi putus asa dan menangis. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Seharusnya ia tak kembali ke perusahaan. “Sudahlah, sekarang saatnya untuk menyerah. Kita menyerah saja sekarang.”


Maru membawa Eun Gi yang tertidur ke kamar dan menyelimutinya.


Keesokan harinya, Maru membuka selimut Eun Gi dan menyuruhnya pergi ke suatu tempat. Ia harus mengakhiri sesuatu yang sudah ia mulai. Tapi Eun Gi tak mau dan menarik selimutnya lagi.


Maru kembali menarik selimutnya dan tak mengijinkan Eun Gi untuk menyerah. Eun Gi tak boleh menyerah sampai ingatannya kembali dan berhasil mengambil Taesan lagi. Jika saat itu Eun Gi masih tetap tak menginginkan Taesan, ia boleh melepaskan Taesan.


Tapi Eun Gi tetap tak bisa melakukannya. Bukankah Maru sudah melihat apa yang ia lakukan kemarin, “Apakah kau tak melihatnya? Aku tak dapat melakukannya,” jawab Eun Gi menggelengkan kepalanya.


“Kau dapat melakukannya,” kata Maru yakin, membuat Eun Gi menoleh padanya, kaget akan keyakinannya. “Aku adalah buktinya.”


Dan yang dilakukan Maru adalah mengantarkan Eun Gi ke depan rumah Presdir Nam dan menurunkannya. Tanpa pesan dan tanpa saran apapun, Maru meninggalkan Eun Gi sendiri.


Eun Gi bengong akan sikap Maru. Belum sempat ia protes, mobil Maru sudah pergi dan Presdir Nam keluar gerbang. Eun Gi buru-buru menunduk hormat.


Tapi Presdir Nam hanya menatap ketus pada Eun Gi, dan langsung masuk mobilnya.


Eun Gi hanya bisa berdiri, tak tahu apa yang harus ia lakukan.


Di kantor, Joon Ha memberitahu Maru kalau pihak Jae Hee sudah mendapatkan bukti CT Scan dan MRI milik Eun Gi. Mereka sudah mengetahui kondisi kesehatan Eun Gi yang sebenarnya, maka dari itu mereka menguji Eun Gi seperti kemarin. Tujuannya hanya satu, yaitu mencabut hak Eun Gi untuk memiliki perusahaan.


Betapa Joon Ha sekarang mempercayai dan mengandalkan Maru, karena ia bertanya padanya, “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” 


Sudah malam dan Eun Gi masih tetap berdiri di tempatnya berdiri tadi pagi. Tapi rasa dingin sudah mulai menusuk. Kedua tangannya saling menggenggam, untuk sedikit mendapatkan rasa hangat di cuaca yang sudah mulai dingin.


Presiden Nam datang dan terkejut karena melihat Eun Gi masih ada. Tapi ia tak menghiraukannya, langsung masuk ke dalam rumah.


Dari jauh, Maru melihat Eun Gi dengan iba.


Jae Hee pulang ke rumah dengan mood yang sangat bagus. Ia langsung memeluk Eun Suk yang menyambutnya di di ruang tengah dan ingin memberi Eun Suk hadiah. Apa yang diinginkan oleh Eun Suk?


“Eun Gi noona,” jawab Eun Suk dengan berbinar-binar. “Aku ingin Eun Gi noona.”


Senyum Jae Hee hilang. Dengan sabar, ia meminta Eun Suk menyebutkan hal lain selain Eun Gi. Eun Suk bertanya mengapa Eun Gi tak pulang ke rumah? Jae Hee tak menjawab, hanya meminta Eun Suk meminta hal yang lain.

“Es krim dan Eun Gi nonna,” jawab Eun Suk keras kepala.

Ha. I love this kid. Eun Suk benar-benar adik Eun Gi. Sama-sama keras kepala.


“Apa kau tak mau yang lain selain Eun Gi noona?” tanya Jae Hee. Nadanya mulai tinggi, “Di dunia ini banyak barang mahal dan mewah, tapi yang kau pikirkan hanyalah Eun Gi noona? Mobil-mobilan, robot, baju, aku tadi sudah bilang kalau aku akan membelikanmu apapun, aku akan melakukan segalanya. Tapi hanya itu yang bisa kau pikirkan?”


Tentu saja Eun Suk langsung menangis dibentak ibunya seperti itu. Jae Hee kaget karena sepertinya baru pertama kali ia membentak Eun Suk seperti itu.


Bibi pembantu langsung datang dan dan Jae Hee menyuruhnya untuk membawa Eun Suk pergi. Tapi ia masih mendengar kata-kata Eun Suk sebelum ia pergi, “Aku benci ibu. Aku benci ibu!”


Akhirnya Presiden Nam keluar. Tapi ia keluar rumah untuk menyuruh Eun Gi untuk pulang saja. Ia pun beranjak masuk ke dalam.


“Saya memiliki alasan. Saya mengalami amnesia,” kata Eun Gi tiba-tiba, menghentikan langkah Presdir Nam. “Itulah sebabnya saya memilih cara aman dengan berpura-pura mengenal Anda. Karena saya hanya berpikir untuk melindungi Taesan, maka saya menipu dan membawa-bawa nama putra Anda hingga Anda terluka karena saya.”


Eun Gi meminta Presdir Nam untuk memarahinya sampai Presdir Nam tak marah lagi. Yang Eun Gi ingin lakukan adalah meminta maaf.


Presdir Nam keluar gerbang lagi dan bertanya apakah Eun Gi kehilangan ingatannya? Eun Gi menjelaskan kalau ia tak hanya hilang ingatan, tapi otaknya juga rusak. Presdir Nam bertanya bagaimana mungkin ia mau mempercayakan investasinya pada orang yang rusak otaknya?

“Saya tak meminta Anda untuk berinvestasi kembali. Saya melakukan ini untuk menarik kembali semua rasa sakit akibat perbuatan saya.”


Presdir Nam mengkritik Eun Gi yang membocorkan rahasia pribadinya karena dapat membahakan karirnya di dunia bisnis. Tapi Eun Gi percaya kalau ia akan sembuh. Presdir Nam bertanya lagi, “Bagaimana kalau aku menyebarkan berita tentang penyakitmu? Apa yang akan kau lakukan?”


“Saya datang kemari, mempertaruhkan segalanya. Jika Anda menyebarkan berita itu, saya tak dapat berbuat apa-apa,” Eun Gi menunduk dan berkata, “karena saya bersalah pada Anda.”


Eun Gi pun membungkuk untuk minta maaf. Tapi Presdir Nam tak menjawab apapun, malah berbalik masuk rumah.


Eun Gi duduk di tempat tidurnya dan sepertinya hatinya sudah tenang kembali karena telah meminta maaf.


Min Young melaporkan kalau semua dokumen untuk mencopot Eun Gi telah siap dan secepatnya rapat direksi akan diadakan. Jae Hee tersenyum mendengar laporan Min Young, apalagi dia ada telepon dari Presdir Nam.


Jae Hee langsung meminta maaf pada Presdir Nam. Ia tak tahu harus berkata apa atas tindakan yang dilakukan Eun Gi kemarin. Seharusnya ia tak mengirim Eun Gi yang tak berpengalaman dan masih harus banyak belajar.


Tapi Presdir Nam menyela kalau ia ingin bertemu dengan Eun Gi lagi. Jae Hee sangat kaget mendengarnya. Apalagi saat Presdir Nam mengatakan kalau ia bersedia berinvestasi di proyek Jeju, asal Eun Gi yang menjadi penanggung jawabnya.

Jae Hee mencoba mengungkit kejadian kemarin yang tak menyenangkan. Tapi Presdir Nam malah tak ingat kalau ada kejadian yang tak menyenangkan. “Almarhum Presdir Seo benar-benar membesarkan putrinya dengan sangat baik. Aku ingin mulai kerjasama ini dengan Direktur Seo, orang memiliki kedekatan emosi denganku.”

Hahay.. Sekarang Jae Hee pasti merasa kepalanya seperti terkena bumerang.



Tapi kegagalan rencana ini, tak membuat Jae Hee mundur. Ia meminta Min Young untuk tetap mengadakan rapat direksi dan membuka semua dokumen Eun Gi. 


Di rapat direksi, Jae Hee berkata kalau ia ingin membicarakan tentang posisi Direktur Seo Eun Gi. Mendengar kata-kata Jae Hee, Eun Gi menatapnya tegar.


Jae Hee sudah hendak membeberkan semua rahasia Eun Gi. Tapi ada salah satu sekretaris masuk dan memberikan memo untuknya. Ia terkejut saat membaca memo itu, “Mari kita bicarakan rencana lamamu untuk membunuh Seo Eun Gi. Sekarang.”


Tentu saja kita tahu dari siapa memo itu, bukan? Dan entah mengapa, saya sangat senang melihat si pengirim memo itu kembali setelah ia tak muncul di episode 13. 


Jae Hee langsung meminta diri untuk keluar sebentar. Dan betapa kagetnya ia melihat Maru sedang bercakap-cakap dengan kakaknya dengan gembira. Jae Shik malah menepuk-nepuk pundak Maru dengan akrab.


Melihat Jae Hee, Jae Shik langsung menghampiri dan menyapa adiknya. Ia berkata kalau ia telah menceritakan semuanya pada Maru. Tentang bagaimana Jae Hee menyuruhnya untuk melenyapkan Eun Gi.


Dan ia melemparkan bom, “Kata Maru, kalau aku mau masuk ke ruang meeting dan menceritakan semua perintahmu, Maru akan mencukupi seluruh kehidupanku.”


Jae Hee menoleh pada Maru yang tersenyum padanya. Alasan Jae Shik mau membantu Maru? Sederhana. Maru selalu menepati janjinya, tak seperti Jae Hee.


Sedikit mengejek Maru, Jae Shik berkata kalau gaya Maru sedikit ketinggalan jaman (yang benar?) tapi setidaknya ia melakukan apa yang harus ia lakukan, “Kau pasti lebih tahu dariku, kan? Marulah yang membayar semua kejahatan yang kau lakukan dan ia membungkam mulutnya.”


Jae Hee terkejut mendengarnya. Tapi Jae Shik memang tahu, bukan karena Maru memberitahukannya. Ia mengacungkan telunjuk pada Jae Hee, “Tapi ini adalah persis seperti kelakukanmu yang selalu kau lakukan. Ya, kan?”

LOL. Rasakan, Jae Hee..


Akhirnya Jae Hee kembali ke ruang rapat dan mengumumkan kalau ia berpikir untuk menjadikan Eun Gi.. sebagai CEO Publik untuk Taesan.


Tentu saja semua kaget, apalagi Min Young. Tapi Jae Hee memuji Eun Gi yang telah memiliki banyak pengalaman, maka ia merasa posisi itu tepat untuk Eun Gi.


Ia menghampiri Eun Gi dan mengulurkan tangannya, “Apakah kau mau menerima posisi ini, Direktur Seo?”

Senyum terulas di bibir Jae Hee. Tapi matanya menatap sadis pada Maru yang masuk dari pintu darurat dan berdiri sambil tersenyum.


Komentar :

Rasanya di akhir episode ini saya mendengar kata-kata dari benak Maru. Game on, Jae Hee.

Episode ini, banyak sekali orang-orang yang saya sukai.


Saya suka Joon Ha yang mau berbohong demi Maru. Ia tahu ia berbohong demi kebahagiaan Eun Gi.


Saya juga suka Eun Suk yang meminta Eun Gi noona. Pokoknya Eun Gi nonna. Eun Suk boleh memilih semua barang di dunia ini dan ia memilih Eun Gi noona.


Dan saya benar-benar suka dengan Jae Shik. Dia jahat. Mungkin dia nanti akan berbalik arah, karena ia lebih cinta uang daripada Maru. Ia berani berbuat jahat, memeras orang lain demi uang untuk kepentingannya sendiri. Tapi yang ia lakukan sekarang adalah memeras Jae Hee untuk kepentingan Eun Gi. Yipiiee..


Sepertinya hanya tinggal menunggu waktu, untuk menyukai Min Young. Di episode ini, Min Young mulai tidak sreg dengan Jae Hee.

Pertama, Jae Hee mengatakan ingin mengambil Maru di pihaknya. Come on Jae Hee.. Ada orang yang menyukaimu, dan kau malah mengatakan ingin mengambil orang lain? Bodoh saja si Min Young kalau ia tak cemburu.

Kedua, Min Young sepertinya tak suka Jae Hee menggagalkan sebuah perjanjian bisnis demi menjatuhkan Eun Gi. Ini menunjukkan kalau Jae Hee tak profesional. Pantaskah Jae Hee memiliki Taesan? Jika Min Young mulai berpikiran obyektif, tentu jawabannya tidak.

Kita tinggal menunggu kapan Min Young mulai sadar, dan berpindah kubu ke Eun Gi.

10 comments :

  1. keren... makasih ya dh diposting sinopsisnya.. tiap jam buka blog ini, nunggu episode 14.. preview episode 15 donk.. hehehe

    ReplyDelete
  2. wahh keliatan banget deh klo dee eonni benci ma jaehee, hahaha~
    klo akhirnya eungi tidak bisa bersama maru aku harap di bisa bersama joonha...

    ReplyDelete
  3. Kalo eps 13 kita diliatin yg sweet sweet skrg kita diliatin yg sisi strong dan eps ini jae hee mati kutu

    ReplyDelete
  4. eungi kembali dengan keras kepalanya dan dengan kemanisannya saat meminta maaf, apakah dulu begitu? ^^
    dan eunsuk seperti mamanya juga, jika eunsuk menginginkan eungi, maka jae hee? maru...
    em,ternyata masih ada greget lain di episode 15,open it mbak dee! haha :D
    THANKS FOR ALL!!!

    ReplyDelete
  5. kenapa ngerasa kalo ingatan eungi sebenernya uda balik tapi dia pura2 masi amnesia ya

    ReplyDelete
  6. episode ini di buat tegang setelah eps sebelum dibuat sedih...?!

    Good job MARU,,, kamu pinter, jenius jadi dokter jenius jadi binis man juga jenius hahaha

    semangat,, preview eps 15 n 16 nya mba dee jgn lupa hehehe

    ReplyDelete
  7. sblmnya sy agak kecewa sm reaksi maru saat jae hee berbicara ttg cinta dihadapanya,
    tp setelah liat sikap maru saat jae hee mau membungkuk, rasanya puas, puas bgt,
    haha

    mngkn maru blm yakin dia itu mencintai eun gi atau cm rasa bersalah / kasihan atau apapun itu
    ,
    tp sy yakin klo maru udh ga mencintai jae hee sprti dulu.

    komentar untuk jae hee: senjata makan tuan, rasakan ... haha *evil laugh

    berharap ending yg tragis untuk org serakah sprti jae hee.. tp rasanya sy ga akan tega jg melihat eun suk klo ibunya brakhir tragis..

    ~titaRha~

    ReplyDelete
  8. Nice guy Daebak bgt,, semua akting, emosi, mimik pemainnya bener2 bagus bgt..Sampe kalo abis nonton tiap episode Nice Guy bkin mood aq langsung brubah juga..Klo maru nya galau aq juga galau hahhaa..Klo marunya romantis bkin aq happy seharian :)

    ReplyDelete