October 30, 2012

Sinopsis Nice Guy Episode 14 - 1


Sinopsis Nice Guy Episode 14 akan saya posting hari ini. Tapi tetap saya pecah jadi dua, ya. 

Sinopsis Nice Guy Episode 14 - 1



Maru panik saat melihat tempat tidur Eun Gi kosong. Ia mencoba bertanya pada suster, tapi sia-sia. Ia bertambah panik dan mencari sampai ke luar rumah sakit. Betapa leganya ia menemukan Eun Gi tertidur di bangku taman.


Ia menepuk-nepuk pipi Eun Gi, tapi Eun Gi tak segera bangun, malah meringkuk kedinginan. Buru-buru Maru melepas jasnya dan menyampirkan ke badan Eun Gi. Akhirnya Eun Gi membuka mata, membuat Maru lega.


“Apa yang harus kulakukan kalau kau keluar tanpa memberitahukanku sedikitpun? Apa kau tahu betapa khawatirnya aku?” tanya Maru mengeluarkan perasaannya.


Eun Gi hanya menatap tanpa menjawab, membuat Maru menjadi kesal. Apa Eun Gi tak mendengar apa yang sedang ia katakan?


“Kalau kau terus melakukannya..” Maru menghentikan kata-katanya, sadar kalau ucapannya terlalu keras. Dan kali ini suaranya melembut, “Tidak, maafkan aku. Lebih baik kita ke dalam saja, karena kau akan kedinginan.”


Maru menarik Eun Gi untuk bangkit, tapi Eun Gi malah mendorongnya, “Siapa kau?”


Maru sedikit kaget, tapi ia tetap berusaha meraih pundak Eun Gi. Tapi Eun Gi malah menampar tangannya dan bertanya, “Aku tanya siapa kau?”


Kali ini Maru benar-benar kaget. Apalagi saat Eun Gi berdiri dan membuang jasnya ke tanah, langsung pergi meninggalkannya.


Eun Gi berjalan dan menatap sekitarnya dengan pandangan seperti pertama kalinya ia melewati  tempat itu. Maru mengejarnya dan mencoba menghentikannya. Tapi dengan tajam, Eun Gi menyuruhnya untuk minggir dan lagi-lagi menepis tangan Maru.


Namun kali ini Maru kembali menarik tangan Eun Gi, menyuruhnya untuk tak main-main dengannya. Tapi Eun Gi memang tak main-main. Ia menatap garang pada Maru dan melepaskan tangannya dengan kasar.


Sekretaris Hyun menemui dokter Seo dan dengan panik ia bertanya, apa gerangan yang sedang terjadi pada Eun Gi.


Tanpa menyadari kalau Maru mengikutinya dari belakang, Eun Gi menyusuri jalan dengan pandangan bingung bercampur ketakutan. Tak memakai jaket dan hanya memakai sandal rumah, ia memandangi satu per satu barang yang ia lewati. Pada saat itu terdengar suara dokter Seo yang menjelaskan,

Dokter Seo: “Kadang kala, karena kejutan yang sangat mendadak, pasien akan kehilangan seluruh ingatan setelah kecelakaan. Ini adalah cara pasien untuk melindungi dirinya sendiri dari ketakutan dan luka yang mungkin dialami.”

Sekretaris Hyun : “Apakah itu berarti ada kemungkinan ia tak akan mengenali kami lagi?”


Lampu untuk penyeberang berganti merah, dan Eun Gi berdiri di pinggir jalan. Ia tak menyeberang bukan karena lampu itu merah, tapi karena banyak mobil yang masih melaju kencang di hadapannya. Lampu masih merah, tapi sudah tak ada mobil yang melintas di hadapannya. Jadi ia mulai melangkahkan kaki..

Dokter Seo : “Anggap saja ini adalah ujian kecil untuk menemukan ingatannya kembali. Jika ia mampu melewati ujian ini, maka, seperti kotak pandora, seluruh ingatannya akan keluar semua.”

.. dan ada mobil yang melaju kencang, siap menyambarnya. Eun Gi tak sempat mundur. Tapi tubuhnya ditarik oleh seseorang.


Ia berbalik dan mengerutkan kening, memandang Maru bingung. Kali ini ia tak marah, tapi ragu-ragu. Ia bertanya, “Apa.. kau.. mengenalku?”


Maru menggandeng tangan Eun Gi yang ragu saat memasuki kamarnya sendiri. Ia semakin ragu dan menghentikan langkahnya. Tapi Maru menariknya lembut dan membawanya ke meja belajar.


Ia melihat foto yang ditunjukkan Maru. Foto kencan pertamanya saat mereka ada di Aomori.


Tapi Eun Gi malah membanting foto itu, “Bohong!” Suara bantingan itu membangunkan Choco yang sudah tertidur. Tapi ia tak peduli.


Ia menatap Maru dan berkata lebih keras lagi kalau semuanya ini bohong. Ia mulai melempar isi mejanya, menjatuhkan lampu belajar hingga Choco kaget dan ketakutan. 


Buru-buru Maru menahan Eun Gi dan menenangkannya. Tapi Eun Gi tak mau dan malah meronta-ronta, hingga Maru harus memeluknya. Tapi Eun Gi masih meronta-ronta dan menjerit, “Bohong! Semuanya bohong!”


Choco semakin ketakutan melihat Eun Gi yang tantrum seperti itu. Masih memeluk Eun Gi, Maru menyuruh Choco untuk segera turun ke bawah sekarang. Teriakan histeris Eun Gi semakin mejadi-jadi semakin memberontak.


Tapi Maru tak mau melepaskan Eun Gi. Ia membiarkan Eun Gi menjerit-jerit, tapi ia tetap mendekap Eun Gi erat, hingga akhirnya Eun Gi kelelahan dan pingsan. 


Eun Gi lemas dan hampir terjatuh, namun Maru menahannya dan ia duduk sambil masih memeluk Eun Gi. Ia mengamati Eun Gi yang bernafas teratur, yang berarti gadis malang itu tidak pingsan, tapi tertidur.


Di bawah, Jae Gil menenangkan Choco yang menangis karena takut setengah mati melihat sikap Eun Gi tadi. Jae Gil curiga bagaimana semua ini dapat terjadi, karena sebelumnya Eun Gi baik-baik saja.


Jae Hee minum anggur (lagi?) di rumahnya. Ia teringat kata-kata Min Young yang berniat mencopot Eun Gi sebagai pewaris Taesan. Namun ia tak terlihat gembira.


Ia malah teringat tatapan Maru yang mendorongnya dan mengusirnya dari rumah saat Eun Gi pingsan. Ia mendesah, seolah tak percaya mendapat perlakuan seperti itu.


Pagi datang. Choco tertidur di sofa tempat Jae Gil biasanya tidur, dan Jae Gil tidur di lantai, menemani Choco. Sementara Maru tidur dengan posisi yang sama dengan malam sebelumnya, memangku dan memeluk Eun Gi.


Saat Maru mencuci muka, Jae Gil memberitahukan tentang kedatangan Jae Hee. Ia sudah melarang Jae Hee masuk dan menyuruh Choco untuk berjaga di depan.


Choco berdiri di teras rumah dengan cemberut. Tak merasa terusik dengan sambutan Choco, Jae Hee mengeluarkan senyum andalannya dan malah memuji Choco yang sekarang sudah besar padahal dulu saat mereka bertemu, Choco masih bayi. Choco tak terpengaruh. Dengan ketus ia melarang Jae Hee untuk masuk ke rumah.


Jae Hee mencoba membujuk Choco mengatakan kalau dia tidaklah jahat. Tentu saja Choco hanya tertawa sinis, “Kalau kau bukan orang jahat, apa semua orang jahat di dunia ini sudah mati? Dasar pengkhianat.”


Jae Hee tak marah dikatai sepert itu. Ia malah bertanya apakah ia masih dianggap pengkhianat?

Astaga.. menurut elo?


Tentu saja Choco membeberkan semua kesalahan Jae Hee, dari meninggalkan kakaknya hingga menikahi seorang chaebol. “Semua keinginannmu sudah tercapai. Kau pasti sangat bahagia sekarang.”


Jae Hee termangu mendengar pernyataan Choco. Ia seperti berkata pada diri sendiri, “Kupikir jika semua keinginanku terpenuhi, aku akan bahagia. Tapi..”


Maru keluar dan Jae Hee menatap pria itu, “..Ternyata aku tak sebahagia yang kupikirkan. Kurasa aku merasakan hal ini karena kakakmu tak ada di sampingku.”


Choco tak bersimpati dengan Jae Hee, malah mengatainya ‘Heol’ (Whor*?). Maru menyuruh Choco untuk masuk, dan Choco meminta Maru untuk tak berlama-lama di depan rumah, “Kak, dia sudah bukan orang yang kita kenal. Sekarang ia sudah menjadi tante-tante yang aneh.”


Setelah Choco masuk, Maru langsung mendorong Jae Hee ke tembok. Bukankah Maru sudah menyuruh Jae Hee untuk pergi?

Walau terkejut, Jae Hee mencoba untuk tak panik dan berkata kalau bagaimanapun juga ia adalah ibu Eun Gi. Ia berhak menemui putrinya.


“Apa yang kau katakan pada Eun Gi?” tanya Maru geram. “Apa yang kau katakan padanya hingga ia pingsan!”


“Aku menceritakan tentangmu. Bukan sesuatu yang baru,” Jae Hee menepis tangan Maru yang mencengkeram lengannya. Seharusnya ia yang bertanya pada Maru, bukan Maru yang bertanya padanya. “Aku tak tahu apa yang menakutkan dari ceritaku hingga ia pingsan.” 


Tak menghiraukan kalau Jae Hee adalah seorang wanita, Maru mendorong Jae Hee ke tembok dan kali ini mencengkeram kerah bajunya dan mengancam, “Jika kau membuat ulah lagi pada Eun Gi, kau akan melihat apa yang Kang Maru mampu lakukan," ia mendorong Jae Hee sekali lagi, “dan sampai sejauh mana aku akan melakukannya.”


“Cinta itu bukan hanya tentang kesetiaan. Juga bukan rasa kasihan. Hanya karena kau ingin semuanya kembali normal, bukan berarti kau harus mencintainya. Cinta adalah..,” dengan lebih lembut Jae Hee berkata, “adalah apa yang kau berikan padaku. Itu adalah cinta, kan?”                                                                   


Maru tertegun dan melepaskan cengkeramannya. Jae Hee mengakui kalau ia menyesal telah meninggalkan cinta itu. Dan karena alasan itulah yang membuat ia ada di sini. Tak peduli apa yang telah terjadi, ia ingin mendapatkannya kembali, “Itulah yang dinamakan cinta.”


“Kita bertemu kembali dengan kau menjadi tunangan Eun Gi. Aku tak tahu apa yang membuatmu kembali, dan tapi jujur aku tak membencinya. Aku malah senang, karena aku bertemu kembali denganmu. Tanpamu, dunia terasa membosankan.”


Jae Hee tersenyum dan berkata kalau ia akan pergi sekarang dan mereka pasti akan bertemu lagi. Masih tetap tersenyum, Jae Hee meninggalkan Maru yang termangu.


Di mobil, Jae Hee mendapat telepon dari Min Young yang memberitahukan kalau ia telah mendapatkan hasil MRI dan CT Scan milik Eun Gi. Dan ia juga tahu kalau sampai sekarang Eun Gi masih menerima perawatan dari ahli syaraf, dr. Seo Min Hyuk.

Karena itu, Min Young merencanakan untuk mengajukan gugatan untuk mencopot Eun Gi dari ahli waris Taesan dengan alasan ketidakmampuan mental.


Setelah menutup telepon, Jae Hee berkata pada dirinya sendiri, “Jangan khawatir, Eun Gi. Aku akan menjagamu sampai kau meninggal nanti. Aku tak akan mengusirmu tanpa uang sepeserpun, seperti yang dilakukannya. Selama kau tahu diri, selama kau tetap bodoh, cantik dan baik seperti sekarang ini.. aku tak akan membencimu.

Kenapa aku harus membencimu? Karena Maru dan aku, hidupmu menjadi hancur. Kaulah korban yang paling utama. Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf.”


Eun Gi telah bangun. Namun ia tak mempedulikan Maru yang mengajaknya turun karena Choco telah memasak sup untuk mereka. Melihat Eun Gi hanya diam dan tak sudi melihatnya, Maru menyodorkan jus tomat yang dibawanya untuk diminum lebih dulu.


Tanpa sepatah katapun, Eun Gi menampar gelas itu. Menanggapi itu, Maru hanya berkata kalau ia akan membawakannya lagi.


Jae Gil dan Choco hanya bisa melihat Maru kembali membuat jus tomat untuk yang kedua kalinya. Jae Gil menatap Maru khawatir, apakah Eun Gi baik-baik saja? Maru hanya meng-hmmm.. dan tersenyum tipis, untuk kemudian naik ke atas lagi.


Jus tomat kedua pun ditampar Eun Gi hingga jatuh ke lantai. Lagi-lagi Maru berkata kalau ia akan membawakannya lagi, “Mungkin kau tak suka jus tomat. Apa kau mau susu?”


Tak ada jawaban. Eun Gi tetap memalingkan muka.


Jae Gil dan Choco menyarankan agar Maru membiarkan Eun Gi. Jika Eun Gi lapar, pasti Eun Gi mau makan. Tapi Maru tak menjawab, hanya tersenyum dan naik ke atas lagi.


Jae Gil dan Choco yang khawatir, berteriak dari bawah, meminta Eun Gi untuk tidak marah pada Maru dan segera minum.


Tapi Eun Gi tetap tak mau minum dan menampar gelas, walau kali ini keluar kata-kata dari mulut Eun Gi, dan tetap pedas, “Hentikan! Aku tak mau makan!”


Maru tetap menyiapkan gelas yang kesekian kalinya. Tak nampak kemarahan atau kekesalan di wajah Maru, malah Choco yang kesal dengan sikap Eun Gi.” Menyebalkan. Apa dia pikir hanya dia saja yang mengalami saat-saat sulit? Kakakku juga. Aku harus berbicara langsung padanya.”

Jae Gil menarik tangan Choco, menahannya untuk ikut campur urusan ini.


Sambil tetap tersenyum, Maru menyodorkan gelas susu itu pada Eun Gi. Eun Gi menatap marah pada Maru, “Apakah kau tak mendengar kata-kataku? Aku bilang, aku tak mau makan!”


“Apa yang akan kau lakukan jika kau tak makan?” tanya Maru sabar. “Kau harus makan dan tetap hidup.”


Kali ini Eun Gi mengambil gelas itu, namun dengan sengaja ia membantingkan gelas itu hingga pecah berkeping-keping. Melihat tindakan itu, Maru hanya diam dan tetap sabar.


Tapi Choco yang menguping di bawah tanggalah yang tak sabar lagi karena menurutnya sekarang Eun Gi sudah keterlaluan. Ia mulai naik tangga untuk berbicara pada Eun Gi, tapi tubuhnya ditarik Jae Gil yang mengajaknya untuk nonton film di bioskop saja. Choco tak dapat melepaskan diri karena Jae Gil mengangkatnya dan membawanya keluar.


Pada Eun Gi, Maru berkata kalau ia akan mencobanya lagi. Masih ada botol susu di lemari es, juga tomat. Jika habis, ada 3 toko di daerah mereka.  Ia juga punya banyak waktu karena ia sementara tak bekerja di Taesan. 


Namun Eun Gi tetap keras kepala. Gelas yang berkikutnya pun juga dibantingnya hingga pecah lagi. Maru berdiri untuk mengambil susu lagi. 


Tapi kali ini Eun Gi menahan ujung celananya dengan tangannya yang berdarah. Rupanya pecahan kaca mengenai tangannya.


Maru mengambil obat dan menaruh salep betadine ke luka Eun Gi. Eun Gi menerima perawatan itu tapi tetap memalingkan muka.


Maru berkata kalau ia senang melihat Eun Gi marah dan memecahkan barang seperti ini. Sangatlah  wajar jika Eun Gi sangat marah.Maru malah khawatir melihat Eun Gi selalu tampak bahagia dan ceria, karena mungkin sebenarnya di dalam hatinya, Eun Gi sangat terluka, “Jika memungkinkan, aku ingin melihatmu menjerit dan menangis.”


Eun Gi diam tapi terlihat kalau ia mendengarkannya. Dan kali ini ia melihat Maru yang meniup luka ditangannya agar lekas kering.


Maru bertanya apa yang diceritakan Jae Hee padanya. Apakah Eun Gi terluka karenanya? Apakah Eun Gi terluka karena kenangan bersamanya sehingga menyembunyikan kenangan itu?


“Jika kau terluka karenanya, janganlah disembunyikan tapi keluarkanlah semuanya. Berhenti melukai dirimu sendiri, dan lukailah aku,” Maru meraih tangan Eun Gi dan menusukkannya ke dadanya. “Kau harus hidup dengan baik agar aku bisa pergi. Kau harus bangkit sepenuhnya, agar aku bisa lenyap dari hadapanmu tanpa rasa khawatir.”


Maru berdiri dan berkata kalau ia akan mengambil susu lagi dan meninggalkan Eun Gi yang tetap diam.


Saat Maru naik atas, ia melihat Eun Gi meringkuk dan menangis memilukan. Kali ini ia membiarkan Eun Gi menangis untuk mengeluarkan seluruh perasaannya.


Ia meletakkan gelas susu di meja dengan pelan dan turun dengan gontai. 


Namun sakit kepala yang hebat tiba-tiba menyerangnya lagi.


Eun Gi terus menangis sambil memegangi dadanya. Tangisannya semakin keras untuk menekan rasa sakit hati yang terasa di dadanya.


Maru mendengar tangisan Eun Gi, tapi ia sekarang berada di kamar mandi dan muntah karena sakit kepalanya yang tak tertahankan. Maru menekan matanya untuk mengurangi rasa sakit yang menyiksa kepalanya, tapi sia-sia.


Sakit kepala itu terasa sangat menyakitkan. Ia tetap muntah dan muntah. ia pun menangis.


Entah yang mana yang lebih menyiksa. Sakit di kepalanya atau dalam hatinya. Ia menahan nafas agar isakannya tak keluar, tapi sia-sia.


Wajahnya semakin memucat dan ia hanya bisa menyandarkan diri di sana.


Saat malam, Eun Gi sudah tenang. Ia berbaring di tempat tidur dan gelas susu telah kosong.


Maru tetap bersandar di kegelapan.


Keesokan harinya, Eun Gi turun tangga dan menyapa Maru seolah tak terjadi apapun kemarin malam. Ia telah kembali menjadi Eun Gi setelah kecelakaan. Eun Gi yang manis.


Maru sepertinya tak kaget akan hal ini. Eun Gi bercerita kalau semalam ia tidur nyenyak sekali dan bermimpi sangat panjang. Namun dalam mimpinya itu, Maru sangatlah berbeda dengan Maru yang sekarang. Maru yang dimimpi itu menipunya, melukainya, terlalu percaya diri. Benar-benar pria jahat.


Maru, yang sedang mengoles selai di roti, terdiam sejenak namun kemudian bertanya, bagaimana jika saat ingatan Eun Gi kembali dan menyadari kalau ia adalah pria yang seperti di mimpi itu? 

“Hmmh?” tanya Eun Gi kaget.


Maru membalikkan badan dan meletakkan piring roti untuk sarapan mereka, “Apa yang akan kau lakukan jika aku adalah pria jahat yang seperti dalam mimpimu?”


Eun Gi terdiam menatap Maru yang tersenyum padanya. Dan kemudian ia menjawab, “Aku tak akan memaafkannya. Karena aku telah memilihnya dan demi dia aku mengabaikan ayahku.”


Di luar dugaan, Maru malah tertawa kecil, membuat Eun Gi bingung. Mengapa Maru malah tertawa?


“Karena aku lega,” kata Maru masih tetap tersenyum. “Kau harus ingat untuk melakukannya, ya. Jangan lupa, jangan ragu dan jangan pernah lepaskan pikiran itu. Kau harus melakukannya, Seo Eun Gi.”


Joon Ha menemui Eun Gi di café dan bertanya tentang apa yang dikatakan oleh Jae Hee sehingga Eun Gi pingsan. Eun Gi menggeleng, ia ingat kalau Jae Hee datang dan berbicara padanya. Tapi ia tak ingat apa pembicaraan mereka.


Joon Ha mendengar kalau ingatan Eun Gi sudah kembali. Tapi Eun Gi membantah. Ia hanya ingat kepingan-kepingan ingatan yang acak. Ia juga ingat kalau Joon Ha pernah memberitahunya kalau Maru mendekatinya untuk membalas dendam pada seseorang.


Tapi ia tak ingat siapakah orang itu. “Aku hanya ingat kalau Maru sangat dekat dengan orang itu dan karena orang itulah ia mendekatiku. Kau sendiri yang mengatakannya.”



 “Aku mengatakannya?” tanya Joon Ha ragu.

Eun Gi mengangguk yakin dan bertanya siapa orang itu? Seperti apakah Kang Maru yang sebenarnya?


Joon Ha hanya diam menatap Eun Gi yang meminta penjelasan Eun Gi. Tak satupun kata keluar dari mulutnya. 

“Apakah kau tahu sisi lain dari Kang Maru yang tak aku ketahui?”
Komentar :

Drama ini benar-benar seperti kue lapis. Perasaan yang nampak di luar, belum tentu seperti ada di dalam. Perasaan yang ada di dalamnya, belum tentu sama dengan yang dibawahnya.


100% saya yakin kalau Joon Ha benar-benar nice guy. Dari adegan di rumah sakit saat ia menjenguk Eun Gi di episode 13, walau ia sepertinya menyukai Eun Gi, tapi ia mengalah pada Maru.

Dengan ia berkata jujur, proses kembalinya ingatan Eun Gi akan jauh lebih cepat. Bagai mencabut duri dalam daging, cara mencabut paling efektif adalah mencabutnya dengan cepat. Sangat menyakitkan tapi duri itu dapat segera hilang. Dan juga kesempatan mendapatkan Eun Gi semakin besar.

Tapi ia tahu kalau ingatan Eun Gi kemali, (normalnya) Eun Gi akan membenci Maru. Ia ingin menyelamatkan posisi Presiden untuk Eun Gi. Untuk itu ia membutuhkan bantuan Maru. Dengan ia berbohong, ingatan Eun Gi mungkin tak akan kembali, tapi Eun Gi akan bahagia bersama Maru dan proses pengembalian posisi Presdir akan semakin mulus.


Jadi haruskah ia menjadi pria tak baik dengan berkata jujur atau pria baik-baik dengan berkata bohong?


Apa itu cinta?

Menurut Jae Hee, cinta itu egois. Tak peduli apa yang telah terjadi, ia ingin mendapatkan Maru kembali. “Itulah yang dinamakan cinta,” kata Jae Hee seolah bangga.

Sementara saya yakin, kita yakin, kalau Maru itu mencintai Eun Gi, tapi menurut Jae Hee tidak. Menurutnya yang Maru rasakan sekarang ini adalah rasa kasihan. Dan kasihan bukanlah cinta.

Ada banyak cinta. Yang dirasakan Maru pada kedua wanita itu memang cinta.


Yang dirasakan Maru pada Jae Hee adalah cinta pertama. Yang dirasakan Maru pada Eun Gi mungkin adalah cinta sejati.

Jika cinta pertama tak perlu pembuktian, karena sudah jelas. Pertama kali ia merasakan, itulah yang dinamakan cinta pertama.

Namun cinta sejati perlu pembuktian. Cinta sejati adalah cinta yang berani berkorban. Mungkin Maru merasa kalau cinta pertamanya adalah cinta sejatinya. Ia telah berkorban demi Jae Hee, menjadikan dirinya tumbal untuk kejahatan yang dilakukan Jae Hee.

Tapi cinta menjadi sejati jika cinta itu selamanya. Agar bisa selamanya, pihak lain juga mau berkorban untuknya.

Apakah Jae Hee mau berkorban? Mungkin arti berkorban bagi Jae Hee adalah, ia mengorbankan perasaannya untuk menikahi chaebol tua dan kaya.

Enam episode (jika tak diperpanjang) adalah waktu bagi Eun Gi dan Maru untuk membuktikan apakah cinta mereka adalah cinta sejati atau bukan.


Bersambung ke Sinopsis Nice Guy Episode 14 - 2

13 comments :

  1. hiks,
    baca ni sinopsis sambil dengerin lagunya Mistake SNSD ma Love Story-nya Rain,
    walau inti lagu ma ni sinop beda, tapi,,
    tetep dapet feel-nya,,,
    palagi paz scene kedua-duanya ngrasain "sakit" yang berbeda (atau mungkin sama)di waktu yang bersamaan,,,
    hiks hiks,

    makasih ya mbak buat updatenya,,
    ku tunggu lanjutannya

    ReplyDelete
  2. HHhmmm......liat ketulusan MR pd EG....buat hati treyuhh....

    ReplyDelete
  3. “Kau harus ingat untuk melakukannya, ya. Jangan lupa, jangan ragu dan jangan pernah lepaskan pikiran itu. Kau harus melakukannya, Seo Eun Gi.”
    nangis baca ini ditambah insiden yg lagi terjadi ma shinee sekarang bikin tambah nangis. aku paling sebel klo udh nangis, sebel!

    ReplyDelete
  4. cukup 6 episode lagi.. jangan di perpanjang....
    ini sudah cukup menyesakan hati....
    cukup membuat frustasi.... TT

    ReplyDelete
  5. Kata kata maru ke eun gi pas awal awal itu bikin nangis itu kyk udh ada niatan mau mati dianya kalo eun gi inget semua aaaaaah poor maru

    ReplyDelete
  6. cieee mbak dee,
    and who is gotten by you now? first love or true love? or both? ^^
    eh eh, ketinggalan berita, shinee kenapa mbak april? ---> oot mianhae :P

    LOVE JUNHA!!! haha, seneng banget ngeliat dia di episode2 belakangan >___<

    ReplyDelete
  7. for bad english and comment, IM SORRY....
    *mbak elok sih jarang dateng ngajarin :P
    yang bener kan who is by ur side now keke~

    ReplyDelete
  8. sumpahhh kang maru sabarrrrrrrrrrrrrr bangetttttt ngerwat eun gi, tuh gelas dah di pecahin berkali2 maru superrr sabar,,, sweet baanget..

    Aq mpe nangis lihat adegan n scene ni mba dee,,, nyesek banget rasanya nih hati... :D

    fighting mba dee..

    ReplyDelete
  9. Eun Gi terdiam menatap Maru yang tersenyum padanya. Dan kemudian ia menjawab, “Aku tak akan memaafkannya. Karena aku telah memilihnya dan demi dia aku mengabaikan ayahku.”

    Di luar dugaan, Maru malah tertawa kecil, membuat Eun Gi bingung. Mengapa Maru malah tertawa?

    “Karena aku lega,” kata Maru masih tetap tersenyum. “Kau harus ingat untuk melakukannya, ya. Jangan lupa, jangan ragu dan jangan pernah lepaskan pikiran itu. Kau harus melakukannya, Seo Eun Gi.”
    ###

    Iya maru psti akan merasa lega.. kalo eun-gi seperti itu dy bisa dengan tenang pergi dr hidup eun-gi. Dengan penyakit yg kini bertambah parah. ㅠㅠ

    kalo eun-gi memaafkan dan ingin bersama maru, maru jadi susah untuk melepas eun-gi dan pergi.. ㅠㅠ
    Dan pastinya maru jg sulit kalo harus liat eun-gi sedih jika tau kenyataan maru sakit dan hanya punya sedikit kemungkinan u/ hidup atau sembuh.

    Sulit juga buat aku liat maru menderita huhuhuhuhu ㅠㅠ ㅠㅠ ㅠㅠ

    ReplyDelete
  10. ini drama super duper nice...
    pinter banget mainin perasaan penontonnya
    kalo nyesek, nyesek bgt
    sebel , sebel bgt
    dan kalo adegan2 sweet ga nyadar kita ud senyum2 sendiri
    ahahaha

    ReplyDelete
  11. whaattt??
    aku baru tw klw teryata jae hee tu "sadar" dg apa yg dya lakukan kpd eun gi:
    "..Kenapa aku harus membencimu? Karena Maru dan aku, hidupmu menjadi hancur. Kaulah korban yang paling utama. Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf.”
    kukira dya sama sekali g sdr dg prbuatnnya ke eun gi,, g twnya si jae hee msh punya setitik hati nurani y??..
    tp ya cmn setitik-kn?
    percumaaa..nti jg setitik itu bakal hilang krna t'tutupi dg banyakx kotoran,,

    mb dee n mb fanny,, jeongmal gomawo ats kerja krsnya bwt sinop ni..

    ReplyDelete
  12. ahh,, saya memutuskan-- untuk i miss u -- saya akan membaca sinopnya aja. sementara Nice guy, saya ingin menontonnya..

    Tapi,, entah mengapa, setiap mau nonton NG, saya malah takut... takut dengan kesedihan2 yang dimunculkan dalam drama ini. Dan tiap episeodnya, selalu ada bagian yang bikin saya mengeluarkan air mata. Jadi, sesekali saya gk nonton, tp baca sinpnya NG disini... eh, tnyata,, tetep aja, i shed the tears... ditambah mbaca penjelasan Mb dee ttg first love n true love...

    But, anyway,,, thnx ya mb...

    ReplyDelete
  13. baru nonton drama ini sekarang.. #kudet yeee..
    tp drama apa yg aku tonton aku sellau negok sinopnya disni,
    lebih penasarannya si ke komen2nya.. >,<
    nyesek, ketawa ngenes gimana gitu pas nonton, pas baca malah makin galau sendiri..
    mba yang bikin sinopsis,, keren daaah,,, <3

    ReplyDelete