October 17, 2012

Sinopsis Faith Episode 11


Entah kenapa, saya melihat wajah Lee Min Ho di sini keren banget. Banyak banget posenya dia, tanpa senyum pun kelihatan keren.

Sinopsis Faith Episode 11



Ki Chul mengatakan kalau ia adalah orang pencemburu, dan ia tak suka akan orang-orang yang ada di daftar Raja. Maka ia membunuhi orang-orang itu.


Choi Young mengarahkan pedangnya ke leher Ki Chul karena ketidaksopanannya pada Raja. Tapi Ki Chul hanya tersenyum sinis, dia tak akan seberani itu jika ia tak memiliki rencana cadangan.


Dan rencana cadangan itu adalah pembunuhan yang lain, yaitu Ratu dan Eun Soo. Choi Young dan Gong Min terkejut mendengar rencana cadangan Ki Chul. Gong Min sangat marah, tapi Choi Young langsung menenangkannya dan berbisik meminta Gong Min agar mengulur waktu. Ia akan membereskan semuanya.


Maka ia keluar dan menyuruh woodalchi untuk mengatakan pada Dayang Choi agar menjaga ketat kediaman Ratu, sedangkan ia pergi keluar istana.

Tiga tebakan, mau kemana dia pergi.


Choi Young bersama anggota Suribang mencari Eun Soo dengan mencari kereta hitam terlebih dahulu. Mereka menemukannya, tapi di dalam kereta itu hanya ada Yi Seong Gye. Untung Dae Man telah menemukannya. Dengan peluitnya, ia memberitahukannya pada Choi Young.


Eun Soo masih tak mau menjawab pertanyaan Hwasuin, membuat Hwasuin kesal. Hwasuin mengatakan kalau cara ini adalah cara Ki Chul untuk mendapatkan orang-orangnya, membunuh orang terdekatnya.


Hal ini menyadarkan Eun Soo. Apakah itu berarti Ki Chul yang membunuh Pangeran Kyeong Chang? Hwasuin mengiyakan dan pura-pura terkejut akan ketidaktahuan Eun Soo. Walaupun sebenarnya target racun itu sebenarnya adalah Choi Young (untuk mendapatkan Eun Soo).


Jawaban Hwasuin malah membuat Eun Soo semakin tak mau menjawab pertanyaannya. Terserahlah kalau Hwasuin mau membunuh. Hwasuin dan Eum Ja bingung, mereka mencoba taktik yang lain. Bagaimana dengan si pasien remaja itu?


Walaupun Eun Soo sempat ragu karena tahu pasien remaja itu akan menjadi raja selanjutnya, tapi ia tetap bersikap tak peduli, “Bunuh saja dia. Kalian tak boleh membunuhku. Jadi terserah kalian akan membunuh siapa, aku tak peduli.” Dan Eun Soo pun beranjak meninggalkan mereka.


Eum Ja menghalanginya dengan menghunuskan pedang ke leher Eun Soo. Tapi seakan menantang, Eun Soo malah maju semakin mendekatkan lehernya pada pedang itu. Buru-buru Eum Ja menarik pedangnya, sehingga Eun Soo terbebas dari pedang dan pergi.


Hwasuin ingin mengejar Eun Soo, tapi Eum Ja menghentikannya karena ia mendengar langkah orang mendekat. Ternyata mereka adalah para woodalchi yang hendak menyelamatkan Eun Soo.


Melihat Eun Soo pergi begitu saja, Eum Ja dan Hwasuin ingin tahu apakah Eun Soo benar-benar tak peduli akan nyawa orang lain atau hanya gertakannya saja. Maka Eum Ja mulai meniup serulingnya, sehingga para woodalchi itu mulai jatuh kesakitan.


Eun Soo yang mendengar suara seruling di belakang dan teringat bagaimana kehancuran yang disebabkan oleh Eum Ja, berbalik dan menyuruh Eum Ja berhenti.


Tapi Eum Ja tak mau berhenti. Walau sekarang Eun Soo ada dalam jangkauan serulingnya,  ia tetap memainkan serulingnya, hingga telinga Eun Soo berdarah.


Untung ada anggota Suribang yang mengacaukan perhatian Eum Ja dengan membidikkan panah ke arahnya. Otomatis Eum Ja menghentikan tiupan serulingnya.

Kedatangan Suribang itu juga menandakan kedatangan Choi Young dan Dae Man juga. Sebelum menghadapi Eum Ja dan Hwasuin, yang pertama kali Choi Young dilakukan adalah memeriksa Eun Soo.


Darah menetes dari telinga Eun Soo. Choi Young menatap Eun Soo yang tertunduk, dan membersihkan darah yang ada di telinganya. Merasakan sentuhan Choi Young, Eun Soo mengangkat wajahnya, dan saat itu Choi Young melihat kalau keadaan Eun Soo baik-baik saja.


Maka ia pun berdiri dan menghadapi Eum Ja dan Hwasuin dan bertanya, apakah pertarungan ini akan dilanjutkan atau tidak?


Hwasuin sudah mendapat jawaban atas pertanyaan yang tak dijawab oleh Eun Soo. Yang pertama yang harus mereka bunuh adalah pria di samping Eun Soo. “Ia selalu datang dan selalu menemukanmu. Setiap saat, setiap waktu.”


Kedua musuhpun itu pergi dan Choi Young membiarkannya. Menurut Choi Young keduanya adalah lawan yang belum bisa dihadapi oleh para woodalchi, jadi lebih baik mereka melepaskannya.


Yang lebih menjadi perhatiannya adalah kondisi Eun Soo. “Apakah kau baik-baik saja?” tanya Choi Young, tangannya menyentuh pundak Eun Soo yang segera ditepis dan Eun Soo pun berlalu pergi.


Tapi Choi Young tak memiliki banyak waktu lagi. Ia menyuruh Deok Man untuk menjaga Eun Soo dan ia segera berlalu pergi dengan kudanya.


Setelah semuanya terkendali, Choi Young segera kembali ke istana dan melaporkan kalau Ratu dan tabib langit telah aman. Tapi 5 orang yang ada daftar telah meninggal dengan pesan yang sama: Ji Gwa Pil Gye : Jika kau tahu kesalahanmu, segeralah diperbaiki.

Ki Chul tersenyum mendengar pesannya tersampaikan. Pesan itu ditujukan tak hanya untuk rakyat Gae Kyeong (ibukota Goryeo) saja, tapi juga seluruh kerajaan.


Gong Min mengerti maksud Ki Chul yang mengancam semua orang agar tak berada di pihaknya. Bukannya takut, ia malah mengumumkan, “Pada purnama bulan ini, akan ada khotbah kenegaraan. Pada saat itu, orang-orangku akan memberikan pendapat tentang bagaimana Raja ideal yang mereka inginkan.”

Ia tak hanya menantang Ki Chul, tapi juga mengajak Ki Chul untuk hadir dan mendengarkannya. Bagi Ki Chul, tantangan Gong Min itu sekaligus mencemoohnya. Ia menghampiri Gong Min, namun Choi Young langsung menghadangnya. 



Maka di tempatnya berdiri, ia bertanya, “Apakah tadi Paduka berkata ‘orang-orang Paduka’?

“Di Goryeo ini, ada orang yang tak takut akan ancaman dan tak puas dengan makanan secukupnya. Mereka adalah orang-orang yang menginginkan raja yang layak. Aku akan menunjukkannya padamu.”
Ki Chul geram bukan kepalang. Ia mengeluarkan naegongnya, dan sekejap tangannya membeku. Melihat bahaya mengancam, Choi Young langsung maju. 


Namun Ki Chul tak peduli. Ia mendorong bahu Choi Young dengan tangannya. Tapi Choi Young pun juga tak mau mundur. Ia memegang tangan Ki Chul yang menempel di bahunya.

Gong Min yang berada di singgasana, mulanya tak menyadari, tapi ia kemudian melihatnya.


Mereka tetap berdiri di tempatnya, Ki Chul menyerang dan Choi Young bertahan. Es bertemu dengan tenaga listrik. Hampir saja Choi Young mundur, jika Ki Chul tak menarik tangannya.


Ki Chul mengerti kata-kata Gong Min. Ia menunggu orang-orang Gong Min pada purnama bulan ini.


Sepeninggal Ki Chul, Gong Min mengkhawatirkan bahu Choi Young. Tapi Choi Young meminta Gong Min untuk tak mengkhawatirkannya dan segera pergi ke tempat kediaman Ratu.


Diingatkan seperti itu, Gong Min segera pergi ke kamar No Gook dengan dikawal Choong Seok. Saat itu No Gook sedang minum teh ditemani dayang Choi.


Tanpa ba bi bu, Gong Min langsung menyambar tangan No Gook hingga gelasnya terlepas. Tapi Gong Min tak peduli. Ia malah menyeretnya pergi.


Persis seperti pertemuan pertama mereka. Namun kali ini No Gook menahan tangan Gong Min,  menghentikan dengan tatapan tanya.


Gong Min tak menjawab tatapan itu, malah mengumumkan dengan lantang pada semua kasim, dayang dan penjaga, “Mulai sekarang, Ratu akan tinggal bersamaku di kediaman Gangahnjeon.” Pada dayang Choi ia berkata kalau hal ini akan berlaku sampai bahaya benar-benar hilang. Ia pun kembali menarik tangan No Gook dan membawanya pergi.

Aww… Gong Min is so damn cool!


Dayang Choi buru-buru mengambil jubah No Gook yang tertinggal. Semua mengikuti langkah Gong Min yang cepat. Choong Seok berjalan mengawal di depan mereka.


“Hari ini, Pangeran Deok Seong (Ki Chul) datang ke istana,” kata Gong Min.

“Saya tahu,” jawab No Gook lirih.

“Ia juga mengancamku dengan nyawamu,” lanjut Gong Min.

“Saya juga tahu,” jawaban No Gook ini mengagetkan Gong Min yang langsung menghentikan langkahnya. Sontak semua orang berhenti dan diam terpaku.


Gong Min  menatap No Gook, dan dengan perlahan ia berkata, “Karenanya..” ia menghentikan kata-katanya, bingung. Ia baru sadar kalau sedari tadi ia menggenggam tangan No Gook, maka ia melepaskan tangan itu.


No Gook menyela kata-kata Gong Min dengan lembut, “Bersama, saya akan tinggal dengan Paduka.”


Gong Min tersenyum lega dan tatapannya tak pernah lepas dari No Gook. Canggung dengan keadaan yang sangat baru ini, No Gook berjalan lebih dulu.

Tapi Gong Min mendampinginya, berjalan bersampingan dan tersenyum gugup.

Aww…

Choong Seok yang ada di depan juga ikut berjalan, tapi bajunya langsung ditarik hingga ia mundur ke belakang.


Ternyata Dayang Choi yang menarik bajunya. Ia langsung memberi perintah pada semuanya untuk berjalan lebih perlahan, dan memberi jarak pada mereka.




Aihh… cuit-cuit.. Dayang Choi ini ngerti juga. Pernah muda, sih..


Sementara itu Choi Young mencari tempat sepi untuk melihat lukanya. Duh, lukanya biru kehitaman karena beku.


Di rumah sakit kerajaan, Eun Soo masih memikirkan perkataan Hwasuin yang menyuruhnya untuk menyebut orang yang paling berharga untuknya, dan orang itu akan dibunuh oleh Ki Chul.


Ia juga teringat kata-kata Hwasuin yang akan mereka bunuh pertama adalah Choi Young, “Ia selalu datang dan selalu menemukanmu. Setiap saat, setiap waktu.” Dan ia teringat betapa Choi Young mengkhawatirkan dirinya saat itu. Ia langsung memeriksa telinganya yang berdarah.


Kata-kata Hwasuin itu benar-benar membuatnya khawatir. Ia pun pergi ke tempat perawatan, mencoba menyibukkan diri untuk memeriksa Yi Seong Gye. Tapi ternyata Yi Seong Gye sedang bersama dengan seseorang.


Choi Young.


Eun Soo melihat betapa Yi Seong Gye memuji-muji Choi Young yang ia dengar sanggup mengalahkan 100 musuh. Dan betapa tertariknya Yi Seong Gye melihat pedang yang Choi Young gunakan.


Tapi Choi Young menghentakkan pedangnya ke lantai, dan memberi aturan dasar yang harus dipelajari Yi Seong Gye. Pertama, jangan pernah tertarik pada pedang orang lain.


Kedua, jika ada 100 musuh di hadapannya, jangan melawan. Tapi lari saja dulu. Yi Seong Gye mengerutkan kening mendengar nasihat dari prajurit yang katanya tangguh. Tapi Choi Young mendorong dahinya dan berkata, “Jika tujuanmu adalah pemimpin yang ada di belakang 100 orang itu, kenapa juga kau harus bertempur? Ya, kan?”


Yi Seong Gye tertawa, menyadari kebenaran kata-kata Choi Young. Choi Young berbalik untuk pergi dan melihat Eun Soo bersembunyi di balik pintu. Ia segera menghampiri Eun Soo dan bertanya tentang keadaan telinganya. Eun Soo menjawab kalau telinganya sudah sembuh dan ia juga sudah memeriksa para woodalchi lainnya.


Tak ada lagi yang perlu dibicarakan, dan Eun Soo berbalik pergi. Tapi Choi Young menghentikannya. Ia ingin bicara dengan Eun Soo dan mengajaknya keluar.


Lucu sekali Dol Bae yang mengintip Daejangnya, seperti adik yang ingin mengintip kakaknya pacaran. Tapi si kakak yang sadar kalau adiknya mengintip, melemparkan kerikil ke belakang, menyuruhnya untuk minggir. Dan si adik lainnya, Deok Man menyeretnya pergi agar tak mengintip kakak mereka.


Choi Young membuka pembicaraan dengan mengatakan kalau ia sudah berbicara dengan Yi Seong Gye, dan ia merasa kalau anak itu tak cukup mampu untuk membunuhnya.


Eun Soo hanya diam saja, membuat Choi Young salah tingkah. Choi Young kemudian mengatakan lagi kalau ia akan meminta Yang Mulia untuk membiarkannya pergi mengantar Eun Soo ke gerbang langit, dan menunggu saat gerbang langit itu terbuka lagi.


Tapi Eun Soo tahu kalau Choi Young masih memiliki banyak tugas di kerajaan ini, sementara mereka tak tahu kapan gerbang langit akan terbuka, dan Ki Chul mengincarnya karena ia mengetahui masa depan.


“Semakin banyak orang yang ingin mengetahui dirimu, dan ini akan semakin membahayakanmu,” kata Choi Young.

Namun ada yang masih ingin ditanyakan Eun Soo, “Terakhir kali aku ingin melarikan diri dari rumah Ki Chul dan hampir saja jatuh dari tebing, apakah itu kau yang menyelamatkanku? Yang meraihku agar tak jatuh?”

Choi Young diam tapi dengan ia tak membantah sudah memastikan jawabannya. Setelah mengambil nafas panjang, Eun Soo bertanya lagi, “Kau selalu menyelamatkanku saat aku ada dalam bahaya.”

“Kan aku berjanji padamu,” jawab Choi Young.

“Janji untuk mengembalikanku dan melindungiku?” “Ya.”

“Kalau kau melawan Ki Chul, dapatkah kau menang?” “Aku akan kalah.”

“Di dunia ini, kalau kau kalah, artinya kau akan mati, kan?” “Hal itu mungkin terjadi.”


Walau jawaban Choi Young yang pendek-pendek, tapi itu sudah cukup untuk Eun Soo. Ia mengerti dan akan memikirkannya lagi.


Choi Young memperhatikan kalau Eun Soo sudah tak lagi sering tersenyum, dan iapun bertanya, “Apakah kau tak mau tersenyum di hadapanku atau kau sudah tak dapat tersenyum lagi?”


Eun Soo tak menjawab pertanyaan Choi Young, malah berbalik pergi.


Ki Chul marah dan merencanakan untuk memanggil Chilsa, kelompok yang berisi 7 pembunuh bayaran, untuk membunuh orang-orang yang ingin bergabung dengan Gong Min. Dan Hwasuin bertanya apa yang harus mereka lakukan dengan Eun Soo?


Bagi Ki Chul, untuk menaklukkan Eun Soo, mereka harus melenyapkan raja dan Choi Young. Setelah itu Eun Soo akan kembali merangkak padanya.


Walaupun Penasihat Jo memuji tindakan Gong Min yang berani menghadapi Ki Chul, Gong Min masih belum khawatir, bagaimana caranya mengumpulkan orang-orang itu? Penasihat Jo mengatakan kalau tak akan sulit mengumpulkan orang-orang yang mau berbakti pada Gong Min, karena Gong Min memiliki Eun Soo, tabib langit.


Choi Young mendelik marah pada Penasihat Jo. Walaupun pandangan Choi Young membuat Penasihat Jo salah tingkah, tapi ia tetap meneruskan kalau semua orang sudah tahu tentang Eun Soo yang menyelamatkan banyak orang dan mengetahui masa depan. Ia bahkan sudah menyebarkan berita ini ke seluruh pelosok kerajaan.


Mendengar hal ini, Choi Young langsung memohon pada Gong Min agar tak menjual Eun Soo untuk mendapatkan hati para pengikutnya. Ia berjanji untuk mengumpulkan orang-orang itu sebelum bulan purnama. Dan Gong Min berjanji akan mengembalikan Eun Soo ke langit.


Tak hanya Penasihat Jo yang akan menyebarkan kabar tentang hebatnya tabib langit, tapi juga ayah Yi Seong Gye. Ia menemui Jang Bin untuk berterima kasih dan memberi hadiah pada Eun Soo. Ia sangat bersyukur anaknya bisa ditolong oleh tabib langit.


Saking gembiranya, ia berkata kalau ia akan memberitahukan tentang kehebatan Eun Soo hingga ke orang-orang Yuan. Mendengar hal ini, bukannya gembira, Jang Bin malah terlihat khawatir.


Kata-kata terakhir Choi Young mengganggu pikiran Eun Soo. Di depan kaca kuning yang buram, ia melihat wajahnya dan bergumam, apakah ia memang tak pernah tersenyum lagi.

Ia mencoba menyunggingkan senyumnya dan berkata, “Ah, tak mungkin. Yoo Eun Soo, don’t worry. Be happy. Aja!” Eun Soo pun mengepalkan tangannya bersemangat.


Maka Eun Soo pun menulis arah berdasarkan petunjuk Deok Man. Jang Bin yang melihat mereka berdua bertanya apa yang sedang Eun Soo lakukan?  Membuat peta.

Ia tahu kalau Ki Chul tak akan pernah memberikan buku hariannya, maka ia akan pergi ke tempat gerbang langit dibuka dan menunggunya dengan sabar di sana. 


Eun Soo juga bertanya, apakah ia akan mendapat uang jika ia memintanya pada No Gook? Ia kan sudah mengoperasi dan merawat No Gook, dan ia pantas menerima bayaran. 

LOL. Jang Bin mendelikkan matanya mendengar ada orang yang meminta bayaran untuk menyembuhkan Ratu. Mungkin biasanya orang di Goryeo sudah pingsan kali karena bisa bertemu dengan Ratu dengan jarak sedekat itu.


Jang Bin bertanya, apakah Eun Soo sudah memberitahukan hal ini pada Choi Young? Eun Soo tak menjawab, malah meminta baju laki-laki untuk menyamar, “Di drama sageuk, setiap wanita yang menyamar selalu memakai baju laki-laki dan topi bamboo.”

Mengapa Eun Soo tak mau tinggal di kerajaan ini lebih lama lagi? Apakah Eun Soo merasa tak aman walau ada Woodalchi yang menjaganya?


Eun Soo tak tahu mengapa ia harus tinggal lebih lama lagi di sini, “Aku tak ingin bertanggung jawab atas sejarah maupun politik yang ada.”


Di rumah Ki Chul, pemimpin Chilsa datang untuk menyetujui permintaan Ki Chul dan mendapat bayaran di depan.


Choi Young mulai mencari orang yang tepat untuk menjadi orang-orang Gong Min. Ia pergi ke suatu rumah, dimana ada seorang pria yang tidur bermalas-malasan.


Orang itu adalah Guru Yi Saek, sarjana yang lulus ujian negara pada usia 13 tahun. 


Choi Young langsung membangunkan Guru Yi  dan memintanya untuk menyampaikan pesan pada guru dari Guru Yi. Guru Yi berkata kalau gurunya tak berbicara bahasa preman seperti Choi Young.


Tapi Choi Young tahu kalau gurunya Guru Yi bersembunyi karena ia takut kehilangan nyawa. Maka ia memberi pesan, “Pergi dan katakan pada gurumu untuk menemuiku jika ia punya nyali bertemu denganku, Woodalchi pengawal raja.”

Dae Man masuk dan memberi kabar yang mengejutkan.


Di istana, Jang Bin menemukan kalau isi kotak hadiah dari ayah Yi Seong Gye telah hilang dan Deo Gi memberitahukan dengan bahasa isyarat kalau Eun Soo mengambil isi kotak itu dan pergi.


Ternyata Eun Soo sudah berkeliaran di jalan dengan baju pria dan topi bambo agar orang tak curiga padanya. Tapi orang yang ia tanya arah sudah mencurigainya, karena ia berbicara dengan bahasa yang aneh (kalau menurut Eun Soo sih bahasa sageuk yang di drama). Orang yang ditanya itu malah menganggap Eun Seo aneh dan berlalu pergi.


Akhirnya Eun Soo melanjutkan perjalanannya. Namun langkahnya terhenti karena ia melihat seseorang berdiri santai di depannya


Ternyata Choi Young sudah menunggunya. Buru-buru ia berbalik, mencari jalan lain.


Tapi malang karena Choi Young menarik buntalan kainnya. Eun Soo memintanya untuk tak ikut campur akan urusannya. Ia menendang-nendang ke belakang.


Pada dasarnya jangkauan kakinya lebih pendek dari jangkauan kaki Choi Young, tendangan kakinya hanya bisa mengenai angin. 


Choi Young membalikkan badan Eun Soo dan mengangkat topi Eun Soo dan hanya bisa mendesah kesal. Ia kemudian menutupkan topi itu kembali dan meluapkan kekesalannya pada Deok Man yang bersembunyi tak jauh dari mereka. Bukankah Deok Man sudah diperintahkan untuk mengawasi Eun Soo baik-baik?


Deok Man sudah mengawasi Eun Soo. Tapi ia tak tega melihat segala persiapan yang dilakukan oleh Eun Soo. Masa juga ia harus mengikat Eun Soo agar tak kabur? Jadi yang hanya bisa ia lakukan hanyalah mengawasi dari jauh.

Choi Young menyuruh Dae Man untuk mengambil satu kuda dan membawanya kemari.


Menjajari Eun Soo, Choi Young mengambil topi dan buntalan kainnya. Ia tak mau mengembalikan barang-barang itu pada Eun Soo. Apakah ini cara Eun Soo yang katanya ‘akan memikirkan lagi’? Pergi sendirian menunggu gerbang langit? Choi Young meraba buntalan kain itu dan menyindir kalau Eun Soo benar-benar mengemasi barangnya dengan baik.


Tak terima, Eun Soo mengatakan kalau ia mendapat imbalan dari ayah Yi Seung Gye. Ia juga menyuruh Choi Young untuk tak mengikutinya. Tapi Choi Young masih memikirkan, apa ia harus memaksa Eun Soo dengan paksa atau cukup dengan kata-kata saja.


Tapi Eun Soo punya pendapat lain, “Kita.. sudahi saja janji kita. Aku akan melupakan kalau kau pernah menculikku. Dan aku hanya meEnganggap kalau aku sedang sial dan akan melupakannya, jadi anggap saja kau tak pernah berjanji.”


Choi Young tahu alasan sebenarnya di balik kata-kata Eun Soo. Apakah Eun Soo takut ia mati saat ia melindungi Eun Soo? Jadi Eun Soo memutuskan untuk pergi ke gerbang langit sendirian? “Karena aku?”

Eun Soo tak menjawab, hanya mengulurkan tangan. Ia mengajari Choi Young kalau berjabat tangan adalah cara langit saat bertemu pertama kali dengan seseorang, juga saat berpisah.


Choi Young memandangi tangan Eun Soo, dan kemudian ia meraih tangan Eun Soo. Tapi Choi Young tak berniat untuk berjabat tangan. Ia malah menarik tangan Eun Soo dan menyeretnya untuk ikut dengannya, “Aku yang berjanji. Hanya aku sendiri yang bisa membatalkan atau meneruskannya.”


Eun Soo meronta, meminta Choi Young untuk melepaskan tangannya, tapi genggaman Choi Young kuat sekali, maka Eun Soo mengancam kalau ia akan kabur kalau Choi Young tetap memaksanya.


Choi Young menghentikan langkahnya mendengar pilihan kata-kata Eun Soo dan bertanya, “Kau bilang kabur?”


Eun Soo berkata kalau ia tak tega melihat orang mati karenanya juga terlibat, “Aku juga tak ingin lagi menangis karenamu. Jadi lepaskanlah aku.”

Choi Young tak mau. “Bagaimana mungkin aku melepaskanmu? Aku harus..”

“Melindungiku?” tanya Eun Soo menyela. “Hentikan itu sekarang juga.Kau tak perlu melindungiku lagi.”


Eun Soo meraih buntalan kain yang masih dipegang Choi Young, mengambil topinya dan berjalan pergi meninggalkan Choi Young.

Ada seorang pria bertudung hitam mengawasi Eun Soo.


Choi Young menerima panggilan dari tetua yang menjadi guru Yi Saek, Lee Jae Hyun. Lee Jae Hyun ingin tahu apa yang membuat Choi Young melayani Gong Min sebagai rajanya. Kenapa harus raja ini?


“Karena raja ini adalah raja pertama yang saya pilih sendiri,” jawab Choi Young.

Waahhh.. Choi Young sudah siap ikut pilkada, nih.. Eh, pilpres ding..

Lantas, kenapa Choi Young memilih raja ini? Mendengar pertanyaan Lee Jae Hyun, Choi Young menjawab kalau Raja Gong Min ini lemah dan gampang takut. Setelah membuat keputusan, dia bingung. Kadang ia menyesali keputusannya. Tapi ada satu hal yang membuat Choi Young memilih Gong Min, “Karena ia tahu malu.”

Para sarjana itu kaget mendengar kata-kata Choi Young yang mengatakan kalau ia harus melindungi raja Gong Min sebelum rasa malu Gong Min itu hilang.


Sarjana Lee Jae Hyun menyetujui ucapan Choi Young, dan bertanya tentang pertemuan kerajaan di pertengahan bulan. Agar ia bisa datang ke pertemuan itu, maka ia tetap harus hidup dan ia pun bertanya, “Dapatkah kau melindungi nyawa kami semua. Dapatkah kau berjanji pada kami?”

Ahhh… janji lagi? Melindungi sekian banyak orang?


Langkah Choi Young sangat berat setelah pertemuan itu. Dae Man dan Deol Bae hanya saling sikut-sikutan melihat Daejangnya yang sangat galau ini.


Deok Man ternyata mengawal Eun Soo di perjalanan menuju gerbang langit. Mereka singgah di rumah makan yang dulu pernah Eun Soo lewati bersama Choi Young (saat berdua pergi menuju rumah Pangeran Kyeong Chang).


Saat melihat Deok Man yang berjaga di pintu, sesaat Eun Soo malah melihat Choi Young, bukannya Deok Man. 


Eun Soo mengajak Deok Man untuk makan bersama, dan semakin ia ngobrol dengan Deok Man, ia semakin teringat pada Choi Young.

Aww.. ada yang kangen, nih..

Lagi-lagi ada pria bertudung hitam mengintai mereka.


Choi Young memberitahukan keberhasilan misinya. Guru Jae Ik, Lee Jae Hyun bersedia datang saat khotbah kerajaan. Ia juga memberitahukan kalau ia sudah mengirim Eun Soo pergi. Gong Min tahu, ia hanya mengeluh kenapa Eun Soo tak berpamitan dulu padanya dan pada No Gook?


Dan Choi Young pun menjawab kalau Eun Soo pamit, pasti Gong Min tak akan mengijinkannya pergi. Gong Min pura-pura kesal pada Choi Young, apa Choi Young selalu bisa membalas semua kata-katanya?

LOL. Tapi Choi Young belum selesai. Ia minta satu hal lagi pada Gong Min. Gong Min yang perasaannya sudah tenteram karena dia sudah memiliki orang-orang, menggoda Choi Young, apa lagi yang ingin Choi Young minta dan harus mengganggunya?

Choi Young berkata kalau para woodalchi sudah terlatih untuk melindungi walaupun tanpa ada perintah dari atasan. Jadi ia meminta Gong Min untuk tetap bersama dengan mereka. Begitu juga dengan Guru Jae Ik yang datang, maka Gong Min akan dapat segera membangun pemerintahannya kembali.


Ia juga mendengar kalau Ratu juga tinggal di kediaman Gong Min. Gong Min berkilah kalau ia melakukan itu untuk menghadapi segala kemungkinan..

Choi Young tersenyum mendengar jawaban Gong Min yang tak jelas. Ia berkata separuh mendoakan agar Gong Min dapat menghadapi semuanya dengan baik.
Gong Min tersenyum, tapi terlihat bingung.


Dayang Choi juga bingung akan sikap Choi Young. Ia memberitahu kalau Chilsa hendak menyerang para sarjana dan bertanya apakah Choi Young akan melawan mereka. Choi Young menjawab kalau ia akan memikirkannya.

Tapi Dayang Choi juga tahu kalau Choi Young berjanji pada Guru Jae Ik kalau ia akan melindungi mereka semua. Dayang Choi bertanya, bukankah keponakannya ini baru saja sembuh dari tusukan pedang dan dari serangan Ki Chul? Apa Choi Young bisa melindungi mereka semua?


Choi Young mendesah, sepertinya tantenya ini juga tak mempercayainya juga. Mae Hee juga tak mempercayai kalau ia bisa melindunginya, “Begitu juga dengan orang itu. Ia tak mau percaya.”

“Orang itu?” tanya Dayang Choi bingung.


Choi Young tak menjawab, malah berkata kalau ia sekarang sudah tak dapat mengingat wajah Mae Hee lagi. Karena sudah terlalu lama, maka ia tak dapat mengingat gadis itu lagi. Jika seperti ini terus, bagaimana ia dapat mengenali Mae hee jika ia bertemu di dunia sana? Hal itu tak boleh terjadi, kan?


Dayang Choi menatap Choi Young dengan khawatir, tapi  ia hanya bisa menduga-duga.


“Jadi, sebelum aku benar-benar melupakannya, kupikir aku harus pergi dan menemuinya,” kata Choi Young lirih.

Choi Young bangkit, tanpa mempedulikan kebingungan tantenya. Tapi dayang Choi menahan keponakannya pergi dan bertanya apa yang akan Choi Young lakukan?


“Seperti yang selalu dikatakan oleh ayah, strategi terbaik adalah strategi yang paling sederhana,” ia melepaskan tangan Dayang Choi dan memberikan senyum termanisnya.


Di kegelapan, Choi Young yang sudah memakai baju biasa, datang ke aula istana dan menatap singgasana Gong Min. Teringat bagaimana ia melindungi Gong Min, kata-kata Gong Min yang hanya mempercayai dirinya saja, dan bagaiamana Gong Min datang ke penjara untuk menemuinya.


Choi Young menundukkan kepala, memberi hormat pada singgasana raja yang kosong, untuk kemudian berlalu pergi.


Dan ada tatapan khawatir yang mengiringi kepergiannya. Dayang Choi.


Ki Chul membuka lagi kotak Hwata-nya. Saat ia membuka buku harian, ada bundelan halaman yang jatuh. Ia memandangi bundelan itu sebelum mengembalikannya kembali.


Dayang Choi mengungkapkan kecemasannya akan kepergian Choi Young pada No Gook. Walau khawatir, ia tak bisa mencegah Choi Young. No Gook menawarkan diri untuk mememerintahkan Choi Young agar menghentikan niatnya. Tapi menurut Dayang Choi, kamar Choi Young sudah kosong, Choi Young sudah pergi, “Mungkin hanya ada satu orang yang dapat mencegah niat Choi Young.”


No Gook mengerti siapa orang yang dimaksud oleh Dayang Choi. Iapun memerintahkan dayang Choi untuk segera pergi.

Dan lagi-lagi mata-mata Ki Chul mendengarnya.

Choi Young mendapat laporan terbaru dari Suribang tentang pertemuan yang akan terjadi nanti malam. Sebelum pergi, Choi Young memberikan training pada anggota Suribang, membuat anggota Suribang yang suka memanah juga ingin dilatih.

Dayang Choi yang menunggang malam itu juga, menemukan Eun Soo yang sedang mencari tempat penginapan bersama Dae Man. Ia menarik Eun Soo dan menyuruh Dae Man untuk berjaga, jangan sampai ada orang yang mendengar pembicaraanya dengan Eun Soo.


Setelah berdua, Dayang Choi mengatakan kalau sepertinya keponakannya hanya mendengarkan Eun Soo. Eun Soo bertanya, apakah ada sesuatu yang terjadi? 

“Belum terjadi, tapi mungkin akan terjadi”, kata Dayang Choi.

Dayang Choi menceritakan tentang riwayat pedang Choi Young.  Pita yang tersemat di pedang Choi Young adalah pita milik Mae Hee tunangan Choi Young. Pedangnya sendiri sebelumnya adalah milik guru Choi Young. Guru Choi Young meninggal di tangan raja sebelumnya, karena mempertahankan kehormatan Mae Hee.

Tak dapat mengatasi rasa bersalah atas kematian guru mereka, Mae Hee memutuskan untuk bunuh diri. Setelah kematian Mae Hee, Choi Young seperti tak hidup. Ia sering tidur, dan jika ada pertempuran, ia selalu menjadi yang pertama yang menyerang.

Namun dayang Choi melihat perubahan di diri Choi Young. Choi Young sekarang seperti memiliki tujuan hidup. Ia menduga, semua ini karena Eun Soo, orang yang Choi Young panggil sebagai ‘orang itu’.

Dan Dayang Choi bertanya, apakah Eun Soo berkata kalau ia tak mempercayainya? Kalau Eun Soo sudah tak membutuhkan dirinya lagi? Eun Soo terbelalak mendengar tebakan Dayang Choi. Dayang Choi mendesah, walau ia tak mendengar jawaban Eun Soo, tapi ia mengerti, “Jadi itu sebabnya ia ingin pergi ke suatu tempat yang membutuhkannya. Ia ingin mati.”


Eun Soo semakin terbelalak, menyadari apa yang akan terjadi pada Choi Young.
Choi Young menyuruh Dae Man untuk kembali ke markas terlebih dahulu. Ia akan pergi sendiri. Dae Man mencoba untuk tetap ikut serta, tapi Choi Young menolaknya.

Sementara di rumah Ki Chul, ia mendapat pesan dari mata-matanya, kalau Choi Young akan datang untuk menemui Ki Chul. Ki Chul tersenyum saat membaca pesan itu.


Dan Eun Soo melarikan kudanya. Pembicaraannya yang terakhir terngiang-ngiang di kepalanya.

"Kalau kau melawan Ki Chul, dapatkah kau menang?” “Aku akan kalah.”

“Di dunia ini, kalau kau kalah, artinya kau akan mati, kan?” “Hal itu akan terjadi.”




Dan Eun Soo semakin mempercepat lari kudanya. Sementara Choi Young berjalan di bawah sinar bulan menuju rumah Ki Chul.

Komentar :

Saya baru menyadari arti Faith yang terkandung dalam drama ini. Bagaimana rasanya tak dipercaya?

Setelah episode yang lalu, Gong Min mengalami krisis kepercayaan diri karena No Gook, Choi Young bahkan woodalchi tak mempercayainya, sekarang giliran Choi Young.


Eun Soo tak yakin kalau Choi Young dapat mengembalikannya ke masa depan. Jika Choi Young menemaninya pergi, Eun Soo takut Choi Young akan menelantarkan tugasnya.

Dengan begitu banyak tanggung jawab yang dibebankan pada Choi Young (dan Eun Soo belajar sejarah kalau Choi Young akan menjadi jenderal besar), Eun Soo sebagai orang luar dari dunia masa lalu memilih untuk pergi sendiri.

Tapi ia tak menyangkan kalau tindakannya itulah yang menyebabkan Choi Young malah berakibat fatal. Untuk meluruskan sejarah, ia harus menyelamatkan Choi Young. Terlebih lagi, dengan menyelamatkan Choi Young, ia juga akan menyelamatkan hatinya sendiri.

5 comments :

  1. Aaaaaaaaah choi young jgn mati doooong ini keren nih kayaknya mereka udah mulai sadar sm perasaan mereka deh tp choi young gak mungkin mati kalo mati ya pasti tamat

    ReplyDelete
  2. thanks mba dee..selalu nungguin sinopsis faith dr mba dee..meski saya sbnernya udh nonton sampe eps 20 kemaren,,tp saya ttp nungguin sinopsis dr mba..sperti mereview cerita,,dan bsa lebih paham cerita faith klo baca sinopsis..hehe lanjutkan ya mba :)

    ReplyDelete
  3. Mbak dee.. katakan padaku, sejak kapan young manggil eun soo dengan sebutan imja?
    Tiap young manggil eun soo dgn sebutan imja, pipi aku jadi ikutan blushing. Hahahahahha

    ReplyDelete
  4. makin seru,
    Eun soo ternyata cntik bgt pake pkaian cwk

    ReplyDelete
  5. baru baca ><, Seep ternyata, HeHe

    ReplyDelete