July 28, 2012

Novel Moon That Embraces The Sun - Bab 7



Bab ini bener-benar LOL banget. Kalau ada yang lupa, sampai dimana cerita ini, bisa lihat bab 6 dulu, ya.

Novel Moon that Embraces the Sun – Bab 7


Keesokan harinya, saat Hwon melihat Yeom ia langsung bertanya, “Jadi, apa yang ia katakan?” Hwon kesal melihat Yeom yang tak tahu apa yang sedang dimaksud oleh Hwon.

“Yeot hitam yang kemarin. Apakah kau menikmatinya?”

“Ah! Ya, yeot hitam itu sangat lezat sekali.”

Hwon menunggu lanjutan kata-kata Yeom, tapi Yeom cuma membuka bukunya. Hwon bingung akan maksud kata-kata Yeom, apakah Yeom menyukai Yeot hitam itu atau Yeon Woo juga menyukainya.

“Yeon, .. maksudku apa adikmu juga menyukainya?”

“Ya. Ia sangat menykainya.”

Hwon senang mengetahui kalau Yeon Woo menyukai yeot itu, tapi ia belum puas. Yang ingin Hwon ketahui bukannya Yeon Woo menyukai yeot atau tidak, tapi kesan Yeon Woo padanya setelah menerima hadiah itu. Setengah mati ia ingin tahu apa yang Yeom ceritakan pada Yeon Woo mengenai dirinya, dan apa yang Yeon Woo pikirkan tentangnya. Sekarang, ia mulai menyesali perilaku sebelumnya pada Yeom di pertemuan pertama mereka.

“Ehem. Kau tak mengatakan hal-hal yang buruk tentangku, kan?”

“Yang Mulia, apa yang Anda maksud..?”

“Maksudku, kau tak mengatakan hal yang berlebihan mengenaiku pada Nona Yeon Woo?

“Tidak, Yang Mulia. Saya tak mengatakan sepatah katapun tentang Yang Mulia padanya, jadi Yang Mulia tak perlu khawatir.”

“Apa?!”

Melihat kemarahan Hwon, Yeom menatapnya bingung. Hwon segera menenangkan nada suaranya dan berbicara sesopan mungkin.

“Ehem. Yang aku maksud adalah .. kau katakan dari siapa Yeot itu berasal?”

“Saya hanya mengatakan kalau yeot itu dari istana. Apakah saya mengatakan hal yang salah?”

Walaupun yang Yeom katakan tidak salah, Hwon merasa kecewa karena hadiahnya menjadi tak bermakna. Sesaat Hwon duduk merengut namun ia kemudian berbicara. “Tak masalah kalau kau berbicara berlebih.  Tak masalah kalau kau menceritakan padanya kalau pemberi yeot itu adalah aku.”

Yeom, yang tak mengerti perasaan Hwon, langsung memulai kelas saat itu juga. Hwon menolak untuk menyerah. Setelah kelas usai,  Hwon menyuruh kasim untuk membawakan kotak lainnya lagi –kali ini adalah pastel beras manis yang berisi kacang polong dan kenari (walaupun biasa disajikan untuk putra mahkota, kenari tetap dianggap suatu kemewahan).

“Ehem. Ini tak begitu banyak. Dan.. kau dapat mengatakan kalau ini dariku. Jika memungkinkan, baiknya kalau kau mengatakan hal-hal yang baik tentang putra mahkota. Ini akan meyakinkan seluruh rakyat dari kerajaan ini. Dan.. alasan mengapa aku jahat padamu bukan karena sifatku yang kurang baik, tapi karena aku ingin menguji kualitasmu sebagai guru.”

Yeom tersenyum tanpa kata.

Hwon tiba-tiba teringat, “O ya! Dan mari kita buat segalanya lebih jelas. Walaupun sekarang aku sedang mempelajari Kitab Ribuan Huruf darimu, bukan berarti aku tak tahu baca tulis, tapi karena cara mengajarmu yang sangat menarik. Aku telah menguasai Kitab Ribuan Huruf saat aku masih kecil.
Masalah ini harus benar-benar jelas untuk dimengerti.”

“Ya, Yang Mulia. Saya mengerti.”

Hwon merasa aman melihat senyum Yeom, tapi sepertinya belum cukup. Maka ia melanjutkan, “Baru-baru ini aku mempelajari Makna Lanjutan dari Ajaran Agung (The Great Learning). Jangan lupa untuk menyampaikan hal ini.”

“Yang Mulia, apa maksudnya?”

Hwon merasa frustasi dengan Yeom, tapi ia tak dapat mengatakan dengan mulutnya sendiri kalau ia berharap Yeom mengatakan hal ini pada Yeon Woo.

“Tak ada maksud apapun. Dan aku adalah seorang putra mahkota yang sangat menyukai belajar. Lebih dari itu, aku juga memiliki enam keahlian (perilaku, musik, memanah, berkuda, kaligrafi dan aritmatika) yang seharusnya dimiliki oleh sarjana. Di latihan memanahku hari ini, aku sanggung memanah enam.. tidak, tujuh dari sepuluh yang tepat sasaran.”

Yeom tak mengerti alasan Hwon mengatakan ini padanya. Ia menduga sesuatu yang mencurigakan, tapi ia tak dapat menebaknya. Maka, ia hanya tersenyum. Hwon merasa malu untuk terus memuji-muji dirinya sendiri, maka ia melemparkan tatapan pada kasim yang sedang bertugas.

Kasim itu langsung mengerti dan membantu Hwon, “Benar, keahlian Yang Mulia sangat mengesankan dan mampu menyaingi Raja Agung Sejong.”

Tercatat oleh sejarah kalau Raja Agung Sejong adalah pemanah yang handal. Hwon sangat bangga disamakan dengannya.

“Yah, aku sih belum sebanding dengannya. Haha. Ah, akhir-akhir ini aku menyukai puisi. Apakah kau mau mendengarnya?”

Hwon membaca sebait puisi dan kemudian bertanya, “Apakah kau tahu puisi ini?”

“Ya, Yang Mulia. Bukankah puisi itu yang berjudul “Syair musim semi dari ruang Putra Mahkota” oleh Kim Bu Shik?”

“Ah, kau sudah tahu…”

Hwon merasa kecewa karena gagal mengesankan Yeom. Tapi bukan Hwon namanya, jika menyerah begitu saja.

“Bukankah sangat indah bagaimana putra mahkota yang digambarkan di puisi ini selalu pergi menyapa Raja setiap pagi sesaat setelah subuh datang? Kim Bu Shik di masa lalu pasti sedang membayangkan diriku yang sekarang.”

“Yang Mulia benar-benar mengagumkan. Sangatlah tak mudah untuk melakukannya tiap hari.”

“Yah.. tidak setiap hari. Ayahanda sangat sibuk dengan urusan kerajaan, jadi aku sering tak dapat melakukannya.   Tapi mulai sekarang, aku akan melakukannya tiap pagi. Bukankah itu adalah bakti seorang anak yang sebenarnya?”

Kasim yang bertugas menahan tawanya. Ia merasa betapa manisnya Hwon yang mencoba memberi kesan pada Yeom dan betapa lucunya Yeom yang mendengarkan ucapan Hwon dengan penuh perhatian. Hwon ingin mendengar lebih banyak tentang Yeon Woo dan ia bertanya pada Yeom, “Jika kau mengetahui puisi ini, apa berarti adikmu juga mengetahuinya? Karena kalian berdua sama-sama membacanya..”

“Ya, Yang Mulia. Anak itu sangat menikmati membaca puisi. Dan ia mengetahui lebih banyak puisi daripada saya. Saat ia membaca puisi itu, ia bertanya-tanya apakah semua pangeran mahkota seperti itu.”

Mata Hwon berbinar dan ia mencondongkan tubuhnya ke arah Yeom, “Dan.. apa yang kau katakan?”

“Saat itu adalah saat sebelum saya lulus Ujian Negara dan bertemu Paduka. Jadi saya katakan kalau saya tak tahu.”

Hwon merasa kecewa dan kesal karena kakak beradik Heo membaca puisi itu lebih dulu. Walaupun kecewa, tapi ia mulai berbicara lagi.

“Jadi.. puisi apa yang dia sukai?”

“Ia sepertinya menyukai segala jenis puisi… Tapi belum lama ini, saya memberinya buku puisi dan saya memergokinya menangis saat membacanya.”

Yeom membacakan,

“Sinar fajar menyingkap riasan dari wajah kekasihku
Tapi pemikiran untuk berpisah terlalu memilukan.
Tak mampu mengucap, melalui pintu aku keluar menuju halaman dimana rembulan memancarkan sinarnya,
Dan hanya bayang-bayang bunga apricot yang menutupi badanku.”

Hwon tak pernah mendengar puisi ini sebelumnya. Tapi saat mendengar Yeon Woo sangat sedih saat membaca puisi ini, ia merasa harus sedih juga. Memikirkan seorang gadis dapat merasa sedih ketika membaca puisi terasa sangat indah hingga hatinya membuncah, bukan karena puisi itu tapi karena kesan pada gadis itu.

“Menyedihkan. Beritahu Nona Yeon Woo kalau aku juga merasa sedih karena puisi itu. Kau harus katakan padanya.”

“Ya? Ah, ya, Yang Mulia.”

Yeom tak mengerti alasan Hwon menyuruhnya memberitahu hal ini pada adiknya. Walau Yeom berpendidikan tinggi, tapi pemuda itu buta tentang asmara, jadi ia tak begitu memahami ketertarikan Hwon pada adiknya yang sangat mendadak.

“Tapi puisi itu karangan siapa?”

“Puisi itu ditulis oleh Jung Po dari dinasti Goryeo.”

“Ah, ya! Dan kau juga harus memberitahukannya kalau aku adalah putra mahkota yang menyukai puisi.”

Keesokan harinya, Hwon menyuruh pelayan untuk membangunkannya saat subuh. Ia masih mengantuk saat kasim menyikat giginya. Tapi ketika kasim itu bertanya apakah Hwon ingin kembali tidur, ia bersikeras ingin mengunjungi Raja untuk memberi ucapan selamat pagi. Dengan setengah tertidur, Hwon berjalan menuju kamar ayahnya.

Raja sudah bangun dan sedang membaca buku. Ia menyambut kedatangan Hwon dengan senang.

“Apa yang membuatmu datang pagi-pagi begini?”

“Untuk melakukan bakti saya. Hati saya terbebani karena merasa tak mampu mengucapkan selamat pagi setiap hari. Mulai sekarang, saya akan berbuat sebaik-baiknya.”

Raja tersenyum senang. “Melihat betapa terpujinya putra mahkotaku, aku akan membanggakannya di depan para pegawai kerajaan.”

Hwon merasa bangga. Lebih-lebih lagi, kabar tentang baktinya ini tak hanya didengar oleh Yeom, tapi juga ayah Yeom. Ini merupakan kesempatan besar agar Hwon terlihat baik oleh Yeon Woo.

Gembira, Hwon bertanya apakah ayahnya sudah memakan camilan pagi.

“Belum, belum. Apakah kau juga ingin mengurus masalah camilan pagiku?” (Catatan : Camilan pagi disajikan sebelum sarapan pagi)

“Ya, Yang Mulia. Mengurus makanan Paduka juga merupakan bakti seorang anak.”
Raja mengamati dengan teliti wajah Hwon yang gembira, dan kemudian menyuruh kasim untuk menyajikan camilan paginya untuk dua orang.

Kembali pada Hwon, Raja bertanya, “Bagaimana pelajaranmu akhir-akhir ini? Apakah kau senang dengan gurunya? Jika kau mau, kau dapat menggantinya dengan guru baru.”

“Tidak, Yang Mulia! Tentu saja tidak. Saya belajar banyak darinya. Ia benar-benar orang yang mengagumkan. Paduka tak perlu khawatir.”

Komentar:

Si tengil ketemu dengan si kutu buku.  Jadinya gayung malah tak bersambut.

Sebenarnya bab 7 ini masih ada lanjutannya. Tapi saya memotongnya dulu, ya. Nanti diteruskan lagi. Tapi kalau mau tahu lanjutannya, bisa dibaca di blognya blue. Bab 7-nya sudah selesai.

And, hey…..! I’m back! Do you miss me? No?

I miss you, girls.. :)

All credits go to the author of The Moon that Embraces the Sun, Jung Eun Gwol. Thanks to Blue for her English translation from Belectricground.com. Indonesian translation by Dee from Kutudrama.com

Selanjutnya : Bab 7 - 2

13 comments :

  1. wah,, seru mbak. Hwon lucu juga ya,, lebih lucu yg ini deh, seandainya adegannya dibuat drama juga... HAhhaha

    ReplyDelete
  2. iya...bakalan seru banget kl adegan ini dibuat dramanx...drama yg kemarin terlalu pendek...

    ReplyDelete
  3. lanjutin sinopsis a gentleman's dignity dunx, mba... =D

    ReplyDelete
  4. kaka lanjutin part 2 nya architecture 101 doong. jangan gantungin

    ReplyDelete
  5. wahh,, seneng deh,,
    mbak mulai berraksi lg,,
    i miss U,,,
    hehhehe..

    makasih ya mbak,,,
    lucu jga nih part ny..

    dephie_

    ReplyDelete
  6. MAKASIH mbak dee buat sweet translationnya
    gak banyak orang yang bisa nerjemahin puisi bahasa inggris tanpa menghilangkan unsur keindahan katanya and u do it! make me like the poem ^^
    btw, kenapa milih ngelanjutin novel mbak?ada apa gerangan? bored?
    oya, untuk pertanyaan terakhir di atas u know our answer-sama kayak mbak dee :)

    ReplyDelete
  7. @hazuki : iya, setiap kali aku baca novel ini selalu yang kebayang hwonnya jin goo dan yeom nya si yeom yang putih bersinar itu :)
    @54 m : semoga moodnya belum ilang :) thankyou ya..
    @dephie : kaya main film action, deh.. thank you :)
    @anonim : kalo ngikut novelnya, jadi daily drama dong; arch 101 nya lagi dicoba; hehe.. tau aja :)

    ReplyDelete
  8. Sama mba dee, aku jadi pengen ketawa ngebayangin kalo jin goo narsis, sementara siwan tetep lempeng aja, hahaha.. :D
    i miss you too mba dee.. ^^

    *echa*

    ReplyDelete
  9. emang lol banget..jd cengar cengir sendirian di depan laptop

    ReplyDelete
  10. Dee is baaaackk^^ Apa kabar dunia sana?? Aku baru tau ada terjemahan lanjutannya di blue...walau aku masih ngetem di dunia Kdrama, tapi aku lagi terjepit di ruang tengah bersama Gong Yoo dan Lee Min-jung. Tidak bisa jalan-jalan ke tetangga ;p
    oke, ini cuma mataku dan sedikit jari-jariku yang lagi jalan-jalan. Inception you know...inception....

    ReplyDelete
  11. Senenggggggg baca sinopsis mba dee mudah dimengerti, ndak acak2an bahasanya hehe

    ReplyDelete
  12. ternyata novelnya lebih gokil dr filmnya :D *itu pangeran konyol bgt ya :D
    sifatnya rada mirip kaya Pangeran yg di King 2 Hearts

    ReplyDelete
  13. maaf ini mungkin telat banget tapi mau nanya beli novelnya dimana yah ?

    ReplyDelete