July 29, 2012

Novel The Moon That Embraces The Sun Bab 7 - 2


Note : Untuk yang belum membaca awal dari bab 7, klik di sini.

Di akhir bab ini ada kata-kata yang saya sukar terjemahkan. Fine rain. Di sini saya sebut dengan hujan. Tapi fine rain bukanlah hujan biasa. Hujan itu bukan hujan deras, juga bukan hujan rintik-rintik. Fine rain adalah hujan yang berbutir halus tapi sangat banyak. 

Hujan ini yang membuat Hwon basah kuyup di akhir bab 7, dan hujan ini pula yang membuat Hwon singgah di rumah Wol di bab 1. Dan menurut Yeom, nama Yeon Woo (di bab 6) sendiri berarti hujan (fine rain).

Novel The Moon That Embraces The Sun - Bab 7 – 2


Hari itu, Hwon terus menerus mengingatkan kasimnya untuk memberitahukan pada Yeom apa yang telah ia lakukan hari ini. Saat jeda pergantian antara pelajaran pagi dan pelajaran siang, ia mempelajari buku-buku puisi dan harap-harap cemas menanti pelajaran sorenya bersama Yeom.

Saat pelajaran sore tiba, Yeom menemui Hwon seperti biasanya. Hwon menyikut kasimnya. Mendapat isyarat itu, si kasim tersenyum dan berkata, “Bakti Yang Mulia sangatlah dalam dan besar, sehingga Paduka Raja sangat mengaguminya. Saat subuh datang, Yang Mulia mengunjungi Paduka Raja dan bahkan menemaninya sarapan pagi.”

“Yang Mulia adalah putra teladan yang pantas menjadi panutan semua orang.”

Mendengar pujian tulus dari Yeom, Hwon berjanji akan mengunjungi orang tuanya setiap pagi, tak peduli betapa lelah dirinya. Ingin tahu bagaimana reaksi Yeon Woo akan hadiahnya kemarin, Hwon bertanya, “Apakah kau menikmati pastel beras mansinya?”

Yeom menjawab ragu, “Saya belum memakannya sama sekali. Pastel itu masih tersimpan di kamar saya.”

“Kenapa? Apakah terjadi sesuatu?”

“Itu.. Ayah saya kemarin merotan adik saya lagi. Jadi saya tak memiliki kesempatan untuk memberikannya pastel itu.”         

“Apakah mungkin Nona Yeon Woo suka membuat onar?”

“Bukan, bukan itu, Yang Mulia. Untuk ukuran seorang gadis, karena ia membaca terlalu banyak buku, ayah melarangnya untuk membaca lebih banyak lagi. Tapi ia melanggar larangan ayah dan diam-diam membacanya di perpustakaan. Setiap hari ia selalu dipukul dengan rotan, tapi hari berikutnya ia menyelinap lagi masuk ke dalam perpustakaan untuk membaca. Dan tak ada hari dimana kaki adik saya bersih dari memar-memar.”

Hati Hwon pedih memikirkan memar di kaki Yeon Woo. Dan rasanya seperti kakinya juga tersiksa. Ia mulai membenci ayah Yeon Woo.

“Bukankah Hongmunkwan (Sarjana Utama dari kantor Penasehat Khusus) dikenal sebagai pria yang berpengetahuan? Bagaimana mungkin ia memperlakukan putrinya seperti ini? Ia tak merotanmu karena kau menyukai ilmu pengetahuan. Apakah ia sering mendapat pukulan rotan?”

“Ya, pukulan ayah benar-benar keras kemarin, jadi saya menjadi khawatir. Tapi ia mungkin sudah kembali membaca sekarang. Bahkan saat kami mengoleskan salep di kakinya, ia mulai menanyakan tentang buku yang ingin ia baca.”

“Jadi ia mendapat banyak pukulan. Di kakinya yang halus itu… Kakinya bahkan harus diolesi salep.”

Marah, Hwon mulai menggerutu sendiri. Tapi hal itu tak dapat meredakan marahnya. Namun kemudian ia mendapatkan ide.

“Aha! Buku apa yang ingin ia baca?”

“Shiji oleh Sima Qian. Karena buku itu dihancurkan ditengah-tengah ia membaca, ia jadi ingin tahu akhir kisah itu.”

Wajah Hwon menjadi cerah, “Aku juga menyukai buku itu. Aku tak percaya Nona Yeon Woo juga menyukai buku itu.”

Setelah pelajarannya usai, Hwon meminta Yeom untuk menunggu dan ia segera lari ke perpustakaan pribadinya. Ia meraih beberapa jilid dari Shiji, membawakannya sendiri pada Yeom, dan bahkan menolak bantuan pelayannya untuk membawakan buku itu.

Hwon berkata dengan aura kemenangan, “Bawalah buku-buku ini pada Nona Yeon Woo. Aku akan meminjamkan jilid selanjutnya nanti, tapi bawalah yang ini sekarang.”

Yeom benar-benar bingung. Bukan hal mudah menerima pinjaman buku dari koleksi pribadi Putra Mahkota. Dan mengetahui kalau kebaikan hati itu tak ditujukan padanya tapi pada adiknya, Yeom tak tahu bagaimana harus menanggapinya.

Namun, tawaran Hwon sangatlah menggoda. Karena Yeon Woo selalu membaca buku secara diam-diam, maka yang pertama kali ayahnya lakukan setelah pulang adalah memeriksa buku-buku yang ada di dalam rumah. Bahkan kemarin Yeon Woo dirotan dengan sangat keras karena ketahuan merusak kunci gembok untuk mengambil buku.

Jika Yeom menerima pinjaman buku ini, Yeon Woo akan dapat membaca tanpa menimbulkan kecurigaan ayahnya dan kakinya akan memungkinkan untuk sembuh. Demi kesembuhan kaki Yeon Woo, Yeom tak punya pilihan lain kecuali menerima buku-buku itu.

Dan sejak saat Yeom mulai meminjam buku dari Putra Mahkota, perasaan Hwon pada Yeon Woo semakin dalam. Karena walaupun Yeom yang meminjam buku, tapi Yeon Woo-lah yang membacanya. Menyadari hal ini, Hwon membaca buku-buku itu juga sebelum meminjamkan pada Yeon Woo dan saat Yeom mengembalikannya, ia membaca ulang buku-buku itu kembali. Beberapa kali, Yeom meminjam buku-buku yang tak pernah dibaca sendiri oleh Hwon. Dan pada saat itu, Hwon meneguhkan hati untuk selalu membacanya setelah buku itu dikembalikan. Seperti itulah Hwon mengejar Yeon Woo dengan buku yang ia baca.

Hwon membayangkan bagaimana rupa Yeon Woo dan segera hal itu membuatnya menjadi rindu pada Yeon Woo.  Bersamaan dengan itu, Yeom mulai berbagi cerita pada Hwon tentang hal-hal yang Yeon Woo pikirkan tentang Putra Mahkota.

Sebenarnya tak ada yang spesial. Kata-kata Yeon Woo tentang kemurahan hati Putra Mahkota karena ia sering meminjamkan buku dan beberapa kata lain seperti menghargai dan terima kasih. Tapi kata-kata itu sangat spesial bagi Hwon.

Hingga suatu hari, Hwon memutuskan untuk menulis surat pada Yeon Woo. Tapi ini bukan tugas yang mudah. Pertama, karena Yeom tak akan pernah mau memberikan surat seperti itu pada adiknya. Dan Hwon juga khawatir akan Yeon Woo yang menerima surat seperti itu. Akan menjadi skandal besar jika ketahuan seorang putra mahkota yang belum menikah mengirimkan surat cinta pada seorang gadis. Tapi tak satupun masalah ini mengurungkan niat Hwon.

Masalahnya adalah isi dari surat itu. Setelah cemas dan gelisah akan apa yang akan ditulis, Hwon ingat kalau Yeon Woo menyukai puisi. Maka ia mencari di setiap buku puisi yang ia temukan, sampai ia akhirnya memilih puisi yang menyatakan perasaannya pada Yeon Woo. Dengan tulisan tangan terbaiknya, ia menulis puisi itu di atas sebuah kertas. Tak puas dengan tulisan tangannya, ia menulis ulang dan mengulang lagi. Akhirnya ia memilih satu yang ia anggap paling baik dan memasukkannya ke dalam amplop.


Isi surat Hwon hanyalah sebuah puisi dan tak ada lagi yang lainnya. Jika surat ini menimbulkan masalah, ia dapat beralasan kalau ia hanya mengirim sebuah puisi. Dan jika Yeon Woo menganggap putra mahkota berlaku lancang, ia bisa berkelit kalau ia hanya ingin membagi sebuah puisi yang bagus.

Tapi jika Yeon Woo mengakui perasaannya, Yeon Woo akan membalasnya dengan sebuah puisi juga.

“Bulan terbit di atas lautan,
Cahayanya menerangi seluruh langit
Membenci malam, yang memisahkan sepasang kekasih
Aku tak dapat pulas, selama aku merindukan kekasihku
Setelah meniup lilin
Dan bahagia akan cahaya bulan yang memenuhi kamar
Kupakai jubahku dan berjalan menuju kebun
Dimana embun menyejukkanku
Namun aku tak dapat mengumpulkan dan mengirimkannya padamu
Aku akan kembali ke dipan
Dan memimpikan sebuah mimpi berjumpa dengan kekasihku.
-   Merindukan kekasihku di Malam Bersinar Rembulan” oleh Zhang Jiuling (puisi dari Dinasti Tang)- 

Dengan hati berdebar-debar, Hwon meletakkan surat itu di dalam sebuah buku. Dan seperti yang ia duga, Yeom menolak untuk mengirimkan surat itu. Tapi Hwon menjawab dengan acuh tak acuh, “Ini bukan apa-apa. Aku menyukai puisi ini yang aku baca tadi malam. Karena adikmu juga menyukai puisi. Aku hanya menuliskannya ulang untuknya. Jika adikmu adalah pecinta puisi, kupikir ia akan memberikan kesannya melalui puisi… Surat tertutup itu tak berbeda dengan buku yang aku pinjamkan sebelumnya.”

“Kalau begitu pinjamkan saja buku puisinya, Yang Mulia. Tak patut kalau seperti ini.”

Hwon terkejut dengan keras kepalanya Yeom. Hwon beralasan kalau dari satu buku itu, hanya satu puisi yang layak dibagikan, dan juga ia tak dapat meminjamkan karena ia masih belum selesai membacanya.

“Kalau paduka memang ingin menunjukkan puisinya, maka pinjamkanlah buku itu setelah paduka selesai membacanya. Saya tak dapat membawanya pulang.”

Hwon menaikkan suaranya, “Aku menyuruhmu untuk membawanya! Orang yang akan membuka surat itu adalah adikmu, bukannya kau. Ini bukanlah masalahmu yang harus kau putuskan. Jika, setelah adikmu membuka surat itu dan membacanya, adikmu merasa hal ini tak patut, ia dapat mengembalikan puisi ini padaku. Tapi jika ia ingin membagikan kesannya akan puisi itu, maka itu adalah haknya untuk memutuskan hal itu." 

“Adik saya adalah wanita yang bermartabat. Dia bukanlah gisaeng.”

“Beraninya kau memandang rendah diriku! Apakah kau pikir aku adalah orang bodoh tak berguna yang suka menggodai gisaeng? Karena aku memandang karakter adikmu sama tingginya seperti aku memandangmu, maka aku berharap dapat saling berbagi pengetahuan dari setiap buku. Apakah aku berani memperlakukan seorang wanita yang membaca bukuku seolah-olah ia adalah gisaeng rendahan?”

Yeom memegang amplop itu tanpa kata. Hwon menatap marah pada Yeom. Kasim yang bertugas menatap cemas pada mereka berdua, tampak olehnya kalau Yeom masih belum mau mengalah. Kasim itu kasihan pada Hwon yang telah menghabiskan seluruh harinya untuk memilih puisi dan melatih tulisan tangannya. Maka ia hati-hati saat angkat bicara untuk membela Hwon, 

“Sarjana, saya juga sudah membaca puisi itu. Puisi itu ditulis oleh seorang menteri terkemuka dari dinasti Tang, jadi jangan khawatir. Bukan sebuah pelecehan jika para sarjana saling bertukar puisi. Bukan begitu? Dan saya juga mendengar kalau para wanita bangsawan juga saling menunjukkan puisi dan tulisan mereka satu sama lain. Mohon sarjana menganggap surat ini sama seperti itu. Yang saya lihat, adikmu masih muda dan pastilah kesepian karena ia tak dapat membagi pemikirannya pada orang lain. Saya khawatir dengan reaksi berlebihan pada sesuatu yang sepele, kau malah akan menempatkan Yang Mulia pada posisi yang tak mengenakkan.”

Sekarang Yeom tak memiliki pilihan lain selain membawa surat itu. Jika ia tetap menolak tanpa tahu isi surat itu, pasti akan menjadi hinaan bagi Putra Mahkota. Dan setelah menerima banyak buku, sangatlah munafik jika Yeom menolak membawa satu puisi. Yeom menyadari kalau tak seharusnya ia menerima pemberian Yeot itu dari awal, tapi sekarang sudah terlambat. Tanpa bisa memilih, Yeom mengambil buku dan amplop tertutup itu.

Bagi Hwon, malam itu berjalan sangat lambat. Ia tak sabar menunggu hari berganti. Ia coba menenangkan diri karena Yeom mungkin saja datang dengan tangan kosong keesokan harinya. Atau mungkin saja Yeom hanya membawa sebuah surat pendek yang berisi kesan Yeon Woo akan puisi itu dan tak lebih dari itu.

Keesokan harinya, Hwon cemas melihat Yeom masuk. Tangannya tak membawa surat, hanya sebuah kotak makan. Yeom membungkuk tiga kali pada Hwon dan memberikan kotak makan itu padanya. Kemudian ia mengambil amplop putih dari dalam bajunya.

Hati Hwon berdebar semakin kencang. Ia telah menunggu-nunggu saat ini, tapi setelah saatnya tiba, ia malah tak dapat bernafas.

Hwon menerima amplop itu. Amplop itu beraroma anggrek yang juga muncul dari badan Yeom. Maka ia juga membayangkan kalau itu adalah wangi dari Yeon Woo. Karena sibuk dengan amplop, ia tak memperhatikan kotak makan itu hingga beberapa saat, dan ia menyadari kalau kotak itu bukan kotak kosong. Di dalamnya berisi tanah.

“Apa ini?”

“Ini adalah hadiah sebagai tanda terima kasih Yeon Woo karena Paduka telah meminjamkannya buku.”

Mata Hwon melebar. Saat melihat lebih dekat, ia menyadari kalau kotak itu bukan kotak biasa, tapi dapat berubah menjadi pot bunga.

“Apa yang tertanam di dalamnya?”

“Saya juga tak tahu. Yeon Woo berkata kalau Paduka menyiramnya setiap pagi dan sore, dan Paduka menunggu dengan sabar, Paduka akan menemukan jawabannya.”

Hwon sangat gembira. Ia tak dapat tenang. Saat Yeom memulai kelasnya, Hwon menyembunyikan surat itu di dalam bajunya. Karena takut potnya tak sengaja tersenggol, maka ia meletakkan pot itu di sebelahnya dengan hati-hati.

Walaupun kelas telah usai, tapi Yeom kelihatan khawatir dan ragu untuk meninggalkan ruangan. Tapi tak seperti Yeom, Hwon malah menyuruh Yeom untuk keluar. Dan ia menyuruh kasim yang bertugas untuk berdiri menjauh darinya. Tanpa seorang pun di dekatnya, Hwon mengambil amplop itu dari dalam bajunya.

Hwon menerawangkan amplop itu ke cahaya, dan ia melihat kalau memang ada tulisan di dalamnya. Sekali lagi ia melambaikan tangannya pada kasim untuk menjauh dan akhirnya membuka surat. Di dalamnya berisi sebuah puisi pendek,

“Kerinduan kita akan satu sama lain,
Dapat bertemu hanya dalam mimpi.
Aku pergi karena ingin mencari kekasihku,
Apakah kekasihku juga pergi karena mencariku?
Kuharap di sebuah mimpi panjang yang lain
Kita akan bertemu di jalan mimpi kita.”
-        Sebuah Mimpi Saling Merindu  - Hwang Jin Yi (Penyair sekaligus Gisaeng di era Joseon)

Hanya sebuah puisi pendek. Tapi Hwon membaca surat itu berulang-ulang. Puisi yang ia kirim kemarin adalah tentang keinginannya untuk bertemu walau hanya dalam mimpi. Yeon Woo menjawab alasan mereka tak bertemu dalam mimpi karena mereka sama-sama pergi mencari sehingga malah melewatkan satu sama lain. Dengan puisi ini, Hwon mendapat keyakinan kalau sama seperti ia merindukan Yeon Woo, Yeon Woo pun juga merindukannya.

Setelah membaca belasan kali, Hwon mulai memperhatikan tulisan tangan Yeon Woo. Sangat indah hingga ia malu akan tulisannya sendiri di suratnya kemarin. Hurufnya sangat sempurna sehingga ia sulit mempercayai kalau itu adalah kaligrafi milik gadis berusia 14 tahun.

Hwon memanggil kasimnya untuk mendekat. Setelah itu ia menunjukkan tulisan tangan Yeon Woo dengan bangga, “Lihat! Siapa yang percaya kalau ini adalah tulisan tangan dari gadis yang berusia 14 tahun? Apakah kau pernah melihat keahlian seperti ini sebelumnya?”

Kasim itu terkejut melihat tulisan tangan itu. Kaligrafi itu menunjukkan aura dari sarjana tinggi, namun juga memperlihatkan aura kecantikan seorang wanita.

“Apakah ia benar-benar berusia 14 tahun?”

“Aku juga terkejut. Sangat mengejutkan mendapati seorang wanita yang tahu huruf Hanja (huruf Cina), dan lebih mengejutkan lagi melihat tulisan tangannya yang sangat indah. Ia hanya terpaut satu tahun dengan Putri Minhwa, tapi keduanya sangat berbeda bagai malam dan siang.”

“Tak hanya Sarjana Utama yang cemerlang, tapi anak-anaknya juga cemerlang. Saya sangat terpesona pada Sarjana Yeom, tapi ini..”

Saat Hwon tenggelam akan pikiran tentang Yeon Woo,     hujan mulai membahasahi halaman. Melihat hujan turun, Hwon meraih kotak (sekarang pot bunga) dan membawanya keluar. Di hari yang bersinar, rintik hujan yang berjatuhan menjadi berkilau keemasan. Hwon membentangkan lengannya, dan mencoba meraih hujan ke dalam pelukannya. Hujan turun membasahi wajah Hwon dan membasahkuyupi badannya.

Komentar :

Aihh.. co cweeeettt…

Anak tengil jadi suka belajar karena gadis yang ditaksir adalah seorang kutubuku? Dan ia suka pada gadis yang bahkan tak pernah ia lihat wajahnya? Ini mungkin yang disebut suka dengan inner beauty.

Hwon belum pernah melihat Yeon Woo. Tak ada mbah Google dan kaka Facebook yang dapat membantunya mencari tahu wajah asli Yeon Woo. Tulisannya memang cantik, tapi bisa juga kan seorang gadis yang berwajah biasa memiliki tulisan cantik?

Yeon Woo mungkin saja memang cantik, karena Yeom sangatlah tampan hingga Hwon terkesima saat pertama melihatnya. Bisa saja kan kakaknya tampan tapi adiknya tidak?

Tapi Hwon tetap menyukai Yeon Woo, merindukannya. Dari gambaran yang diberikan Yeom, tulisan tangannya dan aroma anggrek (yang btw juga muncul di bab 1) yang terselip di amplop balasan Yeon Woo, membuat Hwon membayangkan sosok Yeon Woo sebenarnya.

Jadi so sweet banget membaca bab ini. Kekeraskepalaan Hwon sangatlah cute. Puisi berbalas puisi, hadiah berbalas hadiah, dan pengakuan rindu yang mirip pengakuan suka. Aww.. that’s love, right?

All credits go to the author of The Moon that Embraces the Sun, Jung Eun Gwol. Thanks to Blue for her English translation from Belectricground.com. Indonesian translation by Dee from Kutudrama.com

18 comments :

  1. puisinya manis banget..
    itu mah ngga perlu nulis surat lagi,semuanya dah terwakilkan sama isi puisinya.

    makasih bgt lho mba dee buat terjemahannya,kalo mba ngga ngelanjutin nerjemahin aku ngga tau lanjutan.,secara aku males kalo harus baca yg b.inggris.,hehee

    ReplyDelete
  2. aww co cwett..
    aq seneng dee dah come back..kayak yoochun yg jg br nongol setelah sekian lama(soro dee..ga nyambung,habis aq kangen ama dia...)

    ReplyDelete
  3. kembali ke dunia sweet lagi malah buat saya mengingat sweet capture lain, palagi diingetin anonim di atas...
    hehe di bab ini yang katanya cinta monyet ternyata malah bikin pinter ^^
    makasih mbak dee,bener2 soon part 2nya (banyak yang ngedoain tuh :P)

    ReplyDelete
  4. mbak...huaitiii...terusin donk lanjutannya..

    ReplyDelete
  5. lanjut donk mbak....
    hwaiting... mbak dee

    ReplyDelete
  6. Duh baca novelnya jauhhh lbh bgs dr filmnya. Puisinya indah banget. Thanks De, terjemahaan bhs mu wokee banget. Smg novel ini masuk ke Indo...

    ReplyDelete
  7. mbak dee,, thanks yah lanjutan novel TMTETS nya..
    sangat menggemaskan ngelihat pola tingkah mereka,,
    klu ada lnjtnny lg mbak dee..
    jgn lupa posting ya mbak..
    aq msh d sni,, mnunggu postingan mbak dee slnjtnya..
    semangat..
    dephie_

    ReplyDelete
  8. Bulan Agustus tanpa postingan dari Mbak Dee. . . .
    Huft... Membosankan -_-

    ReplyDelete
  9. lanjutannya mana y??

    ReplyDelete
  10. novel lebih bagus dr dramanya :)
    kutunggu lanjutannya ya :)
    thx

    ReplyDelete
  11. wah gawat.. kalo 47 chapter tapi kluarnya 1 - 1 mau sampe kapan selesainya? -_- coba ajah gw bisa bahasa korea ya -_- soalnya gw udh nemuin novel originalnya, tapi waktu gw copyke google translate isinya jadi sama sekali ga nyambung -_-

    ReplyDelete
  12. tetep semangat Mbak buat lanjutin ceritanya :-)

    ReplyDelete
  13. mbk dee lnjtn trans novel.ny enggk dlnjut y
    aach senyum gaje nh gegara bca.ny
    sweeet bgt cimon.ny xD
    Lnjutin lah mbk ne novel
    hwaiting ^^

    ReplyDelete
  14. mbak dee....pleaseeee lanjutin novel nya dooong...galau abiiss deh mbak gk bsa lanjutin baca novel nya. pleeeaaseee mbak, lanjutin yaa novel nya....hwaiting mbak dee yg kece....^_^

    ReplyDelete
  15. Mbak lanjutin donk cerita'y, tetep semangat ya mbak.. Heheheheh gomawo..

    ReplyDelete
  16. Iyaaa mba deee... ayooo dong lanjutin lagi novelnya #nangiskejer

    ReplyDelete
  17. @all : karena novelnya udah terbit, jadi gak aku lanjutin lagi. Mau cari novelnya ga nemu? Hehe.. tungguin giveaway dari kutudrama, ya karena salah satu hadiahnya adalah satu set lengkap Novel The Moon Embraces The Sun.

    Tungguin ya.. di bulan ini kok.. :))

    ReplyDelete
  18. Wah ska bgt klo dah baca blog ini, tpi blum lama bru nsa komen ( gaptek.com ). Klo ga dpet giveaway nya, bsa beli dimana ya novelnya. Penasaran bgt, biar dah nonton plus baca sinopnya. Thanks for everything.

    ReplyDelete