June 26, 2012

Sinopsis A Gentleman's Dignity Episode 2 - 1

Sebelumnya : A Gentleman's Dignity Episode 1 - 2

Sinopsis A Gentleman's Dignity Episode 2 - 1

Adegan Pembuka Episode 2


Di sebuah pagi menjelang siang, keempatnya duduk di sebuah café. Kali ini Tae San yang menyuarakan pikirannya, “Kami duduk-duduk  di sini, seharusnya membicarakan masalah hubungan internasional yang sedang tak menentu. Tapi kami malah menggosip tentang teman-teman sekelas kami yang sudah hidup mapan. Kecuali Do Pal.”



Do Pal adalah nama akrab Do Jin. Ketiga teman yang sedang menggosip itu menyadari Do Jin yang hanya diam memandang mereka dan bertanya apakah Do Jin sedang ada masalah? Di kantor? Do Jin menggeleng dan berkata dengan bijak,
“Kita sekarang sudah berumur empat puluh, umur dimana kadang kita tak menyadari kalau ada seseorang yang menyukai kita.”


Teman-teman Do Jin langsung menyuarakan dugaan mereka, apakah ada wanita yang sedang menyukai Do Jin? Siapa? Berapa umurnya? Tapi ujung-ujungnya pertanyaan mereka semua sama,  “Apa ia cantik?”


Do Jin tak menjawab, dan malah berkata, “Konfusius pernah berkata,” sehingga ketiganya langsung sibuk sendiri mengabaikan Do Jin yang tetap cuek meneruskan ceramahnya, “umur 40 melambangkan umur yang tak tergoyahkan oleh yang namanya nafsu.”

Tapi tiba-tiba mereka melihat ke arah Do Jin, memperhatikannya. Do Jin menyadari kalau tatapan mereka bukan ke arahnya tapi melaluinya, tepatnya ke belakang Do Jin. 


Do Jin yang ingin tahu apa yang dilihat teman-temannya membalikkan punggung dan melihat seorang wanita semampai yang memakai rok mini berdiri membelakangi mereka.


Dan Do Jin langsung melupakan petuah dari.. siapa tadi?.. dan ikut melongo menatap wanita itu, apalagi saat wanita itu membungkuk ..


Ha! Suara Tae San pun menyuarakan apa yang mereka baru saja lakukan, “Konfusius ternyata salah. Kami masih, selalu dan terus menerus menjadi pria yang memiliki nafsu.”

A Gentleman’s Dignity Episode 2


Di kantor, Do Jin mengamati sarung tangan yang tadi membuatnya kesal pada Yi Soo. Dan rupanya kekesalannya belum surut. Jika tadi Yi Soo dapat memegang sarung tangan itu seolah-olah tangan itu menggenggam tangannya, maka sekarang Do Jin mengatur letak sarung tangan itu sebagai tanda kekesalannya.


Hehehe.. si Do Jin nih kekanak-kanakkan banget, deh..


Sementara itu Yi Soo hanya bergelung di tempat tidur dan tak ada mood untuk memasak saat Se Ra mengajaknya makan. Ia malah bertanya pada Se Ra tentang bagaimana karakter Do Jin yang dikenal Se Ra. Yi Soo mengaku pernah bertemu dengan Do Jin satu kali di lapangan softball.

Se Ra : “Karena kau pernah melihatnya, kau pasti tahu kalau ia tampan, pandai dan punya banyak wanita. Karena ia tak memiliki kekurangan, jadi ia juga egois. Ia tak hanya kalem, tapi juga dingin.”
Mendengar hal itu Yi Soo malah mengeluh lagi. Apa yang pertama kali harus ia lakukan? Perdamaian ? Atau penjelasan?


Dan melihat beberapa tulisan perdamaian di berbagai tempat, ia menganggapnya ini adalah tanda kalau ia harus melakukan perdamaian terlebih dahulu.


Maka ia mengumpulkan keempat muridnya dan membawanya ke kantor Do Jin untuk minta maaf. Tapi Do Jin tak mau melakukannya.


Ia malah menyindir Yi Soo yang sibuk mengurusi masalah murid-muridnya tapi tak bisa mengurusi masalah pribadinya sendiri. Do Jin kemudian meninggalkan mereka dan langsung masuk ke dalam gedung. 


Dengan suara keras Dong Hyup mencemooh Do Jin, membuat Yi Soo gusar dan meminta Dong Hyup untuk diam.


Satu cara gagal, ia memakai cara lainnya. Ia pergi ke café Jung Rok dan bertanya jenis kopi apa yang cocok untuk pria yang suka pilah pilih?


Jung Rok mengaku memiliki teman seperti itu (“Ia egois dan tak mau memikirkan orang lain”) dan kopi yang tepat untuknya adalah jenis Americano dengan tiga espresso.


Yi Soo memesan kopi dan saat menunggu, ingatannya kembali saat Do Jin menembaknya dengan pertanyaan ‘kau adalah cinta bertepuk sebelah tangan, menyukai Tae San yang juga pacar sahabatmu’. Saking kagetnya, Yi Soo tak dapat menjawab apapun. Dan Do Jin menganggap diamnya Yi Soo membenarkan dugaannya.


Teringat hal itu Yi Soo putus asa tak tahu apa yang harus dia lakukan nanti. Sekarang? Ia hanya dapat memukul-mukulkan kepalanya ke meja, mengutuki kebodohonnya. Akibatnya? Ia malu sendiri karena banyak pengunjung yang memperhatikannya. LOL.


Dengan bekal kopi yang disarankan Jung Rok, ia membawanya pada Do Jin sambil berkata, ”Aku tak tahu jenis kopi apa yang kau sukai”.


Sambil mendorong kopi itu menjauh, Do Jin mengatakan kalau ia bukan tipe pria yang gampang ditebak. Tapi ia terdiam saat Yi Soo mengatakan kalau ia membawa kopi americano dengan espresso dan menunjukkan satu gelas dengan 2 espresso dan gelas lainnya dengan 3 espresso. Ia tak berkomentar apapun, tapi jelas terkesan melihat pilihan Yi Soo dan mengambil gelas kopi dengan 3 espresso.


Yi Soo menaikkan alisnya menyadari kebenaran ucapan penjual kopi tadi dan ia pun mulai berbicara, tapi Do Jin menyelanya dengan menyuruhnya duduk di meja besar. Yi Soo bingung, apakah Do Jin ingin ia menunggunya lagi? Tapi Do Jin tak mendengarkannya karena ia (sok) sibuk dengan pekerjaannya.


Yi Soo akhirnya duduk dan membuka buku yang ia bawa. Tak lama kemudian ia telah asyik dengan bacaannya.


Do Jin yang melihat Yi Soo sudah tak melihatnya lagi, malah ganti memperhatikan gadis itu. Do Jin tersenyum melihat Yi Soo yang tenggelam dalam bukunya, tak memperhatikannya.


Tapi akhirnya Yi Soo menyadari kalau Do Jin mengawasinya. Do Jin buru-buru kembali menekuri pekerjaanya dan Yi Soo pun menutup bukunya. Ia berdiri dan bertanya,  “Berapa lama aku harus menunggu?”


Lagi-lagi Do Jin tak menjawab pertanyaannya malah balik bertanya, “Apakah kau benar-benar tak mengingatku?”


Yi Soo minta maaf, tapi ia mengaku tak dapat mengingat pertemuan mereka. Dan sepertinya kata-kata ini menjadi isyarat bagi Do Jin untuk kembali meninggalkannya. Ia beralasan kalau dia harus pergi karena ada janji dengan orang lain.


Yi Soo kaget juga kesal , “Bagaimana mungkin kau tiba-tiba memiliki janji?” Tapi Do Jin tak menghiraukannya dan tetap pergi.


Sambil menggerutu Yi Soo duduk di kursi kerja Do Jin, mengambil Post It  dan memakai bolpen perekam Do Jin ia menulis pesan untuk Do Jin.


Tak hanya satu tapi buanyaakk sekali pesan. Rupanya pesan yang ingin ia sampaikan sangatlah kasar, sehingga ia harus berkali-kali mengulanginya hingga tersisa 5 pesan yang ia anggap sopan.


Ia mengumpulkan 5 Post It itu, dan meraup tumpukan Post It lainnya untuk dimasukkan langsung ke dalam tasnya. Semua Post It itu tak jadi diberikan pada Do Jin karena, “Ia tahu apa yang pantatku lakukan musim semi lalu.”

Note : karena saya menonton dengan sub Inggris, saya tak dapat menahan geli saat membaca kata-kata Yi Soo : He know what my butt did last spring. Mirip seperti film thriller I know What You Did Last Summer. LOL dan abaikan.


Ia pergi meninggalkan kantor Do Jin dan sangat kesal melihat Do Jin duduk di sebuah café.


Namun saat saat pandangan matanya bertemu dengan Do Jin, ia merasa déjà vu. Dan Yi Soo menyadari kapan saat pertama kali mereka bertemu. 


Do Jin masih tetap menatap Yi Soo tanpa berkedip. Bahkan saat teman kencannya datang dan lagi-lagi menutup matanya, ia langsung melepaskan tangan temannya dan kembali menatap Yi Soo.


Yi Soo berjalan ke depan toko, persis di hadapan Do Jin. Ia menempelkan salah satu Post It di jendela kaca yang memisahkan mereka dan kemudian pergi meninggalkan Do Jin.


Tak menghiraukan teman kencannya, Do Jin keluar café dan mencabut Post It itu yang bertuliskan, “Aku berharap agar aku adalah janji pertemuanmu yang berikutnya. Aku akan menunggu telepon darimu.”


Yi Soo pulang ke rumah dan melihat Se Ra sudah berdandan maksimal. Apakah Se Ra akan menghadiri sebuah pesta? Tidak, Se Ra akan menemui Tae San karena pertemuan kali ini pasti akan ada perkelahian.

Yi Soo mengangkat alis mendengar kata-kata Se Ra yang tak logis, “Kau ingin berkelahi tapi dandananmu seperti ini?”


Se Ra tertawa, dan bergaya seksi, “Apakah aku tak boleh tampil cantik untuk berkelahi? Bukannya wasit juga memakai perlengkapan untuk melindungi tubuhnya? Ini perlengkapan berlindungku.”

LOL.


Sepeninggal Se Ra, Yi Soo tak sempat menyesali dirinya sendiri (“Jadi aku tadi gagal karena penampilanku seperti ini.”),  karena ada SMS masuk yang mengabarkan, “Ini adalah SMS terjadwal, karena saat kau membaca pesan ini, aku sudah ada di langit Jepang dan akan sampai di bandara Incheon tak lama lagi.”


Si pengirim SMS ini adalah Im Me Ahri. Ia berada di pesawat dan tak sengaja melirik ke computer penumpang sebelah. Begitu tahu kalau penumpang itu sedang menonton Secret Garden, ia langsung nimbrung dan melemparkan sejuta pertanyaan sehingga pria itu memberikan salah satu earphonenya pada Me Ahri.


Me Ahri langsung menerima earphone itu, tapi komentarnya tetap tak berhenti. Ia memuji penulis naskahnya yang sangat piawai membuat drama (Ha!) dan meminta pria itu untuk mengulang lagi episode ini. LOL.


Di lokasi proyek, Tae San diberitahu kalau ada wanita cantik seperti Miss Korea yang datang menemuinya. Tahu kalau wanita yang dimaksud adalah Se Ri, ia langsung mengambil peralatan proyeknya dan mengatakan kalau ia tak bisa menemui tamu itu tanpa perlindungan.  


Saat bertemu, mereka saling jaim karena keduanya sama-sama tak merasa bersalah dan tak mau minta maaf. Tak mendapat titik temu, Se Ra akhirnya memilih pergi, namun high heels-nya menginjak genangan lumpur, dan ia tak dapat melangkahkan kakinya karena genangan itu sangatlah besar.


Tiba-tiba ksatria berbaju proyek menggendongnya dan membawanya melewati genangan lumpur itu. Dan setelah itu mereka berbaikan.

Caranya? R rated and no for minors.


Di bandara Yi Soo telah menunggu kedatangannya dan terkejut melihat Me Ahri, “Rupanya kau tak bercanda kalau penampilanmu sekarang sudah seperti dewi.” Me Ahri memamerkan tubuhnya yang ramping dan mengatakan kalau semua pasti akan mati terkejut melihatnya.


Di belakang mereka, pria yang duduk di samping Me Ahri juga berjalan keluar. Saat membeli buku panduan wisata, pria itu mengeluarkan dompet yang didalamnya terdapat foto Do Jin yang duduk mengelilingi seorang wanita.


Hmmm.. serupa tapi tak sama. Seperti foto  Joseoners dengan Park Ha. *Abaikan karena tetap gak nyambung*


Me Ahri minta agar ia diperbolehkan menginap di rumah Yi Soo sebentar. Yi Soo mengingatkan Me Ahri kalau Tae San sudah tak pernah bertemu dengan Me Ahri sejak 2 tahun kepergiannya.


Tapi Me Ahri mengatakan kalau kakaknya, Tae San, sudah pernah mengunjungi musim panas yang lalu bersama Se Ra. Ia minta agar Yi Soo tak memberitahukan kedatangannya pada teman-teman Tae San, terutama Yoon karena ia perlu menurunkan berat badannya lagi, “Dua hari terakhir ini aku makan banyak sekali dan timbanganku naik 2 kilo. Aku akan menemui Yoon oppa setelah beratku turun lagi.”

Hmm.. sepertinya anak ini naksir teman kakaknya, deh.. Berapa ya umurnya? 18 tahun? 20?


Yi Soo mengijinkannya. Tapi Se Ra, pacar kakaknya, tak mengijinkan Me Ahri untuk numpang di rumahnya. Bukankah Me Ahri tak menyukainya? Tapi Me Ahri tetap bersikeras akan menginap, “Aku tak menyukaimu, bukan tak menyukai rumahmu.” 


Kata-kata Me Ahri membuat kesal Se Ra dan ia mengadu pada Yi Soo. Yi Soo tak dapat berbuat apapun karena ia yang mengajarkan Me Ahri untuk berani mengungkapkan pikirannya.

Se Ra tak dapat berbuat apa-apa kecuali mengomel kalau adiknya berbeda dengan kakaknya. Belum sempat mereka berdebat lebih jauh, terdengar suara bel membuat mereka waspada. Apakah Tae San? Tidak, ternyata Do Jin.


Kedatangan Do Jin adalah untuk mengambil bolpennya kembali. Yi Soo membantah telah mengambilnya. Tapi Do Jin tak percaya, dan ia juga tak sedang main-main, “Kau menggunakan pena itu untuk menulis pesan tadi.”


Yi Soo tak terima dituduh seperti itu. Untuk membuktikannya, ia akan mengeluarkan isi tasnya yang tak pernah ia ganti sepanjang hari ini. Dan ia menuangkan tasnya sehingga semua isi tasnya jatuh ke lantai.

Dompet.. handphone.. buku.. kunci mobil .. IPod ..  bolpen..


Yi Soo kaget melihat bolpen itu ada di tasnya, sedangkan Do Jin melihatnya dengan tatapan ‘tuh, kan..’. Tapi seperti kantung doraemon, tas Yi Soo masih mengeluarkan barang..


.. yaitu berjuta-juta Post It ..


Yi Soo terbelalak melihat belangnya ketahuan. Mereka saling bertatapan, kemudian adu cepat untuk mengambil bolpen itu. Tapi Yi Soo kalah cepat, dan hanya bisa terduduk lemas saat Do Jin berhasil mengambilnya terlebih dahulu.


“Kenapa .. bolpen .. itu .. bisa .. ada .. di .. sini?” tanya Yi Soo lirih, dan dengan tasnya, pelan-pelan ia meraup semua Post It yang ada di lantai.


Tapi Do Jin lebih cepat karena ia menggenggam tangan Yi Soo.


Aww.. romantisnya. Tidak juga, karena tangannya menggenggam dan menahan tangan Yi Soo agar ia dapat memungut satu Post It yang bertuliskan ‘Kalau kau tak mau menemuiku, kenapa kau menyuruhku untuk menunggu? Dasar Bajxxxxxx’.


Masih dengan menggenggam tangan Yi Soo, Do Jin mengacungkan Post It itu dan berkomentar, “Huruf Hangul (Korea) itu sangat luar biasa. Semua pesan ini bermakna sama, kan?” 


Yi Soo buru-buru memunguti semua Post It-nya dan meminta Do Jin untuk menunggu di luar rumah sementara ia menaruh tasnya. Ia akan menjelaskan semuanya pada Do Jin. Tanpa menunggu jawaban, Yi Soo pun bangun dan langsung masuk kamar.


Do Jin melihat kalau ada 1 Post It yang masih tersisa di lantai dan berpikir saat membaca pesannya ‘Pria  yang mirip xxx’.


Yi Soo masuk ke kamar untuk mengamankan barang-barangnya dan mengeluh kalau ada juga seseorang yang memberikan penderitaan dan kesialan seperti ini. Me Ahri hanya menatap Yi Soo tapi ia tak sempat berkomentar sedikitpun karena Yi Soo sudah  keluar lagi.


Tapi Do Jin sudah tak ada di pekarangan. Ia menelepon Do Jin dan bertanya baik-baik, dimanakah ia sekarang? Di mobil. Yi Soo celingak-celinguk mencari mobil Do Jin, tapi mobil itu tak ada. Saat ditanya letak mobil itu, Do Jin hanya menjawab pendek, “Aku dan mobilku, keduanya sudah pergi dari rumahmu.”


Ha! Yi Soo sepertinya harus menyiapkan kesabaran segudang deh untuk penderitaan dan kesialannya  ini.


Do Jin juga berkata kalau ia sebenarnya datang untuk melakukan perdamaian. Tapi setela melihat bolpennya dicuri dan kata-kata di Post It itu, ia tak berniat meneruskan perdamaiannya, “Murid-murid yang preman, kata-kata makian, dan mencuri bolpen. Kau punya banyak kesalahan. Aku harus memikirkan hukuman apa yang harus kau terima..”


Ceklik. Dan hubungan telepon pun terputus. Yi Soo bengong, tak tahu harus melakukan apa. Ia hanya dapat berkeluh kesah di depan Me Ahri, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia sudah tak tahan diperlakukan seperti ini.


Me Ahri mendengarkan curhat Yi Soo dan diam-diam mengambil handphone Yi Soo dan mengetik sesuatu. Rupanya ia mengambil kesempatan dalam kesempitan, menyapa Yoon dengan menggunakan nama Yi Soo.


Hingga pada pertanyaan yang tak bisa ia jawab (‘apakah kau sudah berdamai dengan Do Jin?’), dan ia mengembalikan handphone itu pada  Yi Soo.


Yi Soo yang menyadari kalau SMS yang dikirim Me Ahri adalah SMS yang centil-centil genit, membuatnya bertambah kesal. Kebetulan Se Ra masuk kamar dan Yi Soo bertanya apa ia perlu menendang Me Ahri dari rumah yang langsung disetujui oleh Se Ra.


Heheh.. kayaknya aura balas dendam itu mudah menular, ya?


Yi Soo segera mengirim SMS lagi dan mengatakankalau ia sedang mengusahakannya. Yoon yang saat menerima SMS itu sedang berkumpul di bar, menyemprot Do Jin karena belum mau melakukan perdamaian dengan Yi Soo.


Tae San ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tapi Do Jin dan Yoon malah menyemprot Tae San agar tak ikut campur dengan urusan ini.


LOL.

Seharusnya ada satu lagi yang bisa kena semprot. Jung Rok. Tapi Jung Rok pergi ke toilet. Sudah sejak lama. Dan itu membuat mereka bertiga menyadari kalau Jung Rok pasti menghilang untuk bertemu dengan gadis-gadis.


Mereka sangat kesal, apalagi melihat kalau handphone Jung Rok tertinggal di saku jasnya. Kelihatan sekali kalau Jung Rok menggunakan mereka sebagai alibi jika diperiksa oleh istrinya.


Benar saja. Tak lama kemudian, handphone Jung Rok berbunyi. Mereka terlompat kaget melihat nama Min Sook terpampang di handphone itu.


Seperti memilih siapa yang harus menjinakkan bom, Tae San menyuruh Do Jin untuk mengangkat telepon itu. Tapi Do Jin tak mau. Ia menyuruh Yoon untuk mengangkatnya, tapi Yoon juga tak mau. Ia adalah pengacara dan seorang pengacara tak boleh memberi kesaksian palsu.


Do Jin akhirnya mengangkat teleponnya.


.. untuk diberikan pada Yoon dan mereka langsung menjauh seperti bomnya akan meledak. Hahaha. Yoon gelagapan, tapi mau tak mau ia menyapa Min Sook dan mengatakan kalau Jung Rok sedang ke toilet. Dan sebentar lagi mereka akan pindah ke bar lain.


Setelah telepon ditutup, dengan sigap Yoon segera menyuruh mereka untuk pergi ke bar Rich dan melakukan pembayaran. Ia juga menyuruh Tae San untuk membooking ruangan di Rich dan untuk memberikan kesan mereka telah menikmati waktu cukup lama di sana, Yoon menyuruh “Siapkan botol dan snack untuk 4 orang, yang memperlihatkan kami minum sudah cukup lama di sana”


Melihat kelincahan Yoon, Do Jin hanya bisa berkomentar, “Katanya kau tak boleh memberikan kesaksian palsu.” Tapi Yoon membantahnya, “Ini namanya mempertahankan diri.”  LOL.


Tapi ada satu masalah lagi. Bagaimana mereka bisa memberitahu Jung Rok kalau mereka akan berpindah tempat, sementara handphonenya ada di sini? Dengan kalem Do Jin mengatakan kalau Jung Rok punya 2 handphone dan ia tahu nomor satunya.


Kedua temannya mendelik pada Do Jin dan menyalak, “KENAPA TAK KAU KATAKAN SEBELUMNYAAA?!”

Double LOL.


Dan mereka pun berlari seperti kesetanan menembus jalanan agar bisa mendahului Min Sook. 

Apakah berhasil?

1 comment :

  1. makasih buat sinopsisnya yaaa eonni

    semangat terus nulisnyaaa

    ReplyDelete