June 23, 2012

Sinopsis A Gentleman's Dignity Episode 1 - 2

Sebelumnya : Sinopsis A Gentleman's Dignity Episode 1 - 1

Sinopsis A Gentleman's Dignity Episode 1 - 2


Dan ternyata kejadian sebenarnya adalah : anak-anak itu meminta rokok, tapi saat tahu Do Jin tak merokok, anak-anak itu meminta uang rokok.


Bukannya menceramahi dengan gagah berani akan bahaya merokok seperti pengakuan Do Jin di kantor polisi, Do Jin ketakutan dan berbohong dengan mengatakan kalau ia tak memiliki uang.



Dengan tangan di saku dan  mengenggam uangnya erat-erat,  namun gemerisik uang kertas bunyi uang digenggam erat jelas kedengaran oleh anak-anak itu.  LOL.


Anak-anak itu tentu saja tak dapat dibohongi, apalagi dengan tipuan seperti itu. Mereka memaksa Do Jin untuk mengeluarkan tangan di saku. Do Jin mengeluarkan tangannya tapi genggamannya tetap tak terbuka, membuat anak-anak itu hilang kesabaran.


Untungnya setelah itu Yoon datang, berteriak dan menjadi knight in shining armour untuk Do Jin yang menjadi Damsel in distress. Ha!


Jadi ketika si damsel in distress-nya datang, ia melihat ketiga temannya tertawa terbahak-bahak mendengar kejadian yang sebenarnya dari bolpen perekamnya. Gusar sekaligus malu, Do Jin mencoba merebut bolpen perekam itu, tapi ketiga temannya lebih cepat dan mereka menggoda Do Jin dengan saling melempar bolpen itu, membuat Do Jin semakin kesal. 


Saat itu terdengar ucapan Do Jin : “Kami bertemu pertama kali saat kami berumur 18 tahun, dan persahabatan kami telah berlangsung selama 22 tahun. Walaupun dari fisik kami terlihat berumur 40, saat kami bersama, kami selalu menjadi 18 tahun lagi. “


Dan terlihat betapa mereka bercanda dan bermain seperti remaja di awal tahun baru. Makan jajanan di pinggir jalan dan berkumpul bersama di rumah Do Jin.


Tak sengaja Tae San menemukan stoking yang sudah robek-robek di kamar Do Jin, membuat tanda tanya besar dari ketiga temannya. 


Do Jin hanya terdiam, mencoba mencari jawaban yang tepat untuk stoking robek itu. Dan jawabannya adalah : “Gadis itu memang datang dengan memakai stoking yang robek-robek.”


LOL. Dan Do Jin mendapat timpukan bantal bertubi-tubi, tanda ke(tak)percayaan temannya pada ucapannya.

Dan ucapan Do Jin terdengar lagi : “Namun saat kami sendiri, kami benar-benar dewasa.”


Ternyata Do Jin dan Tae San adalah mitra dari sebuah kantor arsitek yang bernama Hwa Dan. Do Jin bekerja lebih ke arah desain aristekturnya dan Tae San lebih ke arah konstruksi. Kali ini Do Jin menghadapi satu klien wanita paruh baya yang sulit dan hanya bisa dihadapi oleh Tae San. Rupanya wanita itu, Presdir Song, mengagumi (fisik) Tae San dan akan menyetujui semua yang dikatakan oleh Tae San.  


Saat Tae San datang dan Do Jin meninggalkan mereka berdua dengan pesan kalau kontrak mereka dengan Presdir Song harus tetap berjalan, Tae San tentu saja ogah-ogahan.


Tapi begitu ia mendengar kalau Presdir Song telah mempromosikan Hwadan ke temannya sehingga mereka mendapat kontrak baru, ia langsung bersemangat dan menujukkan otot lengannya pada Presdir Song.


Keberhasilan mereka, tepatnya Tae San, diceritakan Do Jin pada Yoon di lapangan softball. Di tempat yang sama, Yi Soo juga berada di lapangan yang sama, sedang merangkai SMS untuk dikirimkan pada Do Jin sebagai korban murid-muridnya (Saya ingin bertemu untuk mengurus tentang perdamaian). Do Jin menerima SMS itu dan bergumam kalau ia tak mau bertemu.


Yoon menyangka kalau Do Jin tak ingin menemui salah satu pacarnya. Dengan setengah menuduh ia bertanya, “Tak dapatkah kau setia pada satu orang saja?” yang dijawab Do Jin dengan, “Jangan khawatir, aku setia tidak pada siapapun juga...” Hei…!


Tae San datang dan menyuruh Do Jin untuk melengkapi tim mereka yang kekurangan pemain. Sebelum Do Jin menolak, Tae San sudah mengancam akan menggagalkan kontrak mereka dengan Presdir Song. Do Jin menghela nafas dan berkata kalau ia akan melakukannya.


Sebenarnya keengganan Do Jin untuk bermain softball lebih karena ia sangat payah memukul bola yang melayang kepadanya. Berkali-kali ia gagal dan wasit selalu mengatakan strike out. Do Jin kesal dan hampir melabrak wasit wanita itu, jika saja teman-temannya tak menghalanginya.


Setelah permainan, Do Jin ingin tahu siapa wanita yang menjadi wasit pertandingan tadi. Belum sempat Do Jin mengungkapkan kekesalannya, wanita itu melepaskan helm yang menutup mukanya sehingga terlihat betapa cantiknya ia.


Wanita yang pantatnya pernah menyenggol tasnya hingga benang roknya terlepas.


Yi Soo menghampiri Tae San, dan Do Jin berbisik pada temannya kalau ia akan dapat memperoleh nomor telepon Yi Soo dalam waktu 30 detik saja.

Tae San meminta Do Jin untuk tak bersikap playboy pada Yi Soo, karena ia masih ingin berhubungan baik dengan Yi Soo. Ia juga ingin menjodohkan Yi Soo dengan Yoon. Tapi Do Jin tetap akan melakukannya.


Saat Yi Soo sudah di hadapan mereka, Tae San memperkenalkan Do Jin pada Yi Soo. Di luar dugaan, Yi Soo hanya mengangguk sopan pada Do Jin dan kemudian setelah bercakap-cakap sejenak dengan Tae San, Yi Soo pergi meninggalkan mereka. Do Jin tak punya kesempatan, bahkan untuk mengedipkan mata menggoda sekalipun.


Tae San tertawa terbahak-bahak melihat kegagalan Do Jin yang mungkin ini adalah pertama kalinya dan mengatakan, “Apa perlu aku beri 30 detik lagi?”


Do Jin kesal sekaligus penasaran. Ia mengejar Yi Soo dan bertanya apa Yi Soo tak mengenalinya? Yi Soo menatap Do Jin dan mencoba menggali memori di kepalanya. Setelah beberapa saat ia kemudian menyadari kalau mungkin..

“Maaf, tapi apakah anda..”

“Benar sekali,” kata Do Jin sambil tersenyum.


“Orang tua murid saya?” tanya Yi Soo polos. Hihihi.. tua dong si Do Jin.

Do Jin mencoba menahan sabar, dan ia melepaskan topinya dan menyibak poninya dengan super cool. Yi Soo terbelalak menatapnya, membuat Do Jin yakin kalau Yi Soo mengenalnya. Tapi Yi Soo malah bertanya, “Apakah anda dari dinas pendidikan?”

Do Jin sangsi dan curiga kalau Yi Soo berpura-pura, tapi ia tetap bertanya, “Apakah kau benar-benar tak mengingatku?”


Yi Soo mengaku kalau ia tak tahu apa yang sedang dibicarakan Do Jin. Ia pun meninggalkan Do Jin sesegera mungkin, membuat Do Jin frustasi dan berteriak, “Apakah kau benar-benar tak mengingatnya? Pantatmu ingat akan apa yang kau lakukan musim semi lalu.”

Yi Soo berjalan dengan menutupi pantatnya. Aahhhh.. ternyata Yi Soo memang mengingatnya, hanya malu untuk mengakuinya.


Yi Soo pergi ke apartemen Do Jin untuk menyelesaikan perdamaian antara murid dan korbannya. Tapi Do Jin belum datang. Do Jin masih di perjalanan pulang bersama Yoon.


Di mobil, Do Jin bercerita pada Yoon kalau tahun lalu ada nomor telepon dua wanita yang ia ingin peroleh. Namun kedua-duanya tak berhasil ia dapatkan. Yoon : “Kedua wanita itu sangat beruntung.”


Dan terjadi kilas balik, di hari berhujan dimana Do Jin yang sudah meninggalkan café dengan teman kencannya, tiba-tiba meninggalkan teman kencannya dan kembali ke café. Ia mencari sosok Yi Soo. Tapi ia terlambat, karena Yi Soo sudah pergi.


Begitu pula saat kejadian benang rok Yi Soo tertarik. Ternyata setelah Do Jin meninggalkannya, Do Jin berbalik kembali untuk menemui gadis bergaun merah itu untuk meminta nomor teleponnya. Tapi sayang Yi Soo sudah keburu memanggil taksi dan pergi.

Dan moral story dari cerita Do Jin adalah : hari ini ia bertemu dari satu dari wanita itu. Dan ia baru menyadari kalau kedua wanita itu adalah wanita yang sama. 


Sebelum Do Jin melanjutkan ceritanya, handphonenya berbunyi. Dari guru para preman yang memalakinya. Do Jin tak mau mendengar pembelaan guru wanita itu yang memintanya untuk memaafkan murid-muridnya, karena mereka memiliki masa depan yang masih panjang.


“Apakah karena mereka memiliki masa depan yang panjang dan aku memiliki masa depan yang 24 tahun lebih pendek membuatku harus memaafkan mereka?” Do Jin menghardik guru wanita itu. “No way. Aku juga masih muda dan keren.”


LOL. Yoon geli mendengar kata-kata Do Jin. Muda dan keren? Tapi tawanya terhenti karena ia mendengar hardikan Do Jin selanjutnya yang tak mau berdamai. Ia jadi menyadari lawan bicara Do Jin dan bertanya padanya setelah Do Jin menutup handphonenya semena-mena, apakah telepon itu dari guru para preman? Do Jin masih belum berdamai? 


Do Jin mengiyakan. Dan Yoon langsung memarahinya. Tahukah Do Jin kalau guru itu adalah orang yang ia kenal. Tae San juga mengenalnya. Do Jin pun tadi juga bertemu dengannya. “Ia adalah wasit wanita dari pertandingan softball hari ini.”


Do Jin terperanjat mendengar kata-kata Yoon, “Jadi wanita ini adalah wanita itu?” 

Yoon mengangguk dan dengan keras menjawab, “Ya, Kim Do Jin yang muda dan keren. Jadi sekarang bereskan masalah ini segera.”


Ia menyuruh Do Jin untuk turun dari mobilnya, karena sudah sampai ke depan gedung apartemennya. Do Jin langsung keluar dan membanting pintu. Namun ia membuka pintu lagi dan meneriaki Yoon, “Kenapa kau baru sekarang memberitahukanku kalau wanita itu adalah wanita ini?


Yoon kaget mendengar teriakan Do Jin. Belum sempat ia menjawab, Do Jin sudah membanting pintu lagi. Namun pintu mobil terbuka lagi dan kepala Do Jin muncul di pintu untuk berkata, “Setidaknya kau memberitahukanku sebelum aku keceplosan berkata ‘muda dan keren’! Kau punya banyak kesempatan!”

LOL. Dasar..


Tak hanya Do Jin yang kaget, Yi Soo yang baru saja keluar dari gedung apartemen Do Jin pun juga kaget saat ditelepon Yoon yang memberitahukannya kalau korban itu adalah Do Jin. Ha!


Ia berteriak frustasi karena ketidakberuntungannya, “Kenapa kehidupan bisa tak terduga seperti ini?”


Dan lagi-lagi ia tak menyadari kalau ada Do Jin yang berdiri di depan gedungnya dan bersiap untuk menyapa Yi Soo dengan sikap terbaiknya. 


Betapa kagetnya Do Jin saat Yi Soo lagi-lagi melewatinya dan tak melihatnya. Ia malah melewati Do Jin yang mengangkat tangannya, dan berjalan sambil melepaskan tantrumnya. Do Jin akhirnya mengikuti dan tersenyum melihat tingkahnya yang antik.


Do Jin mengikuti Yi Soo yang berjalan dan memberanikan diri untuk meneleponnya. Ia sudah senang dan bersiap untuk mengangkat teleponnya. Tapi ternyata Yi Soo mengurungkan niatnya dan Do Jin pun menghela nafas kesal.


Yi Soo masuk ke toko 24 jam, Do Jin juga ikut masuk. Ia ingin menyapa dan menenangkan Yi Soo yang sibuk menyalahkan diri sendiri, namun ia urungkan. Ia malah kaget dan kesal karena Yi Soo terbahak-bahak sendiri dan berkata sendiri, “Muda dan keren? Pasti dia orang gila.”


Jadi ketika Yi Soo memberanikan diri untuk mengirim SMS ke Do Jin, memintanya untuk bertemu, Do Jin  malah mempersulitnya. Hanya ketika Yi Soo menjanjikannya akan datang dengan mawar di mulut, Do Jin bersedia untuk menemuinya. Dan hubungan telepon pun terputus.


Yi Soo hanya bisa melemparkan omelan pada handphonenya, “Omonganku tadi kan hanya main-main. Apa dia benar-benar orang gila?” yang tentu saja dilihat oleh Do Jin yang bertambah gusar mendengarnya.


Hahaha.. stupid girl and proud man..


Keesokan harinya, Yi Soo menemui Do Jin. Tapi Do Jin membalas perlakuan Yi Soo (yang tak sengaja mengacuhkan Do Jin) dengan mengacuhkannya juga.

Mula-mula Yi Soo minta maaf karena ia tak dapat mengingat Do Jin saat di lapangan softball. Do Jin yang penasaran, bertanya apakah Yi Soo benar-benar tak mengingatnya? Yi  Soo berpura-pura kalau ia memang tak mengingat Do Jin.



Do Jin tak mempermasalahkan hal itu. Tapi karena Yi Soo juga tak ingat janjinya untuk datang menemuinya dengan mawar di mulut, Do Jin menyuruhnya pulang. 


Tapi Yi Soo menyelanya. Dengan enggan, ia mengeluarkan setangkai mawar dari tasnya. Ia membawa kok bunga mawarnya tapi, “bisakah kalau aku tak meletakkannya di mulut, melainkan di telinga saja?” tanyanya dengan nada super cute.


Do Jin yang mendengarkan kata-kata Yi Soo sambil minum, hampir saja tersedak mendengarnya. Tapi ia tak keberatan dengan permintaan Yi Soo. Ia menyuruh Yi Soo untuk memakainya dan menungguinya bekerja karena ada pekerjaan yang masih harus diselesaikan.


Yi Soo mengomel dalam hati, tapi ia mencoba mengulur waktu untuk tak memakaikan mawar itu di telinganya. Tapi hanya sekali lirikan tajam dari Do Jin membuatnya buru-buru mematahkan tangkainya dan menyelipkan kuntum mawar itu di telinganya.


Kepatuhan Yi Soo membuat Do Jin puas dan diam-diam ia tersenyum menikmati kebersamaan mereka berdua. Iapun kembali bekerja dan ditemani oleh Yi Soo membuatnya merasa tenang di seakan di padang rumput yang cerah dengan semilir angin. 


Sementara Yi Soo melihat-lihat kantor Do Jin dan menyadari kalau meja yang ada di dekatnya adalah meja Tae San. Ada foto Tae San dengan Se Ra. Juga ada sarung tangannya.


Sarung tangan yang sudah usang namun masih menyimpan kehangatan Tae San. Ia menggenggam sarung tangan itu dengan posisi seolah-olah Tae San sedang menggenggamnya.


Dan hal itu terlihat oleh Do Jin. Padang rumputnya saat itu langsung lenyap dan ia kembali ke dunia nyata. Dengan keras ia mengatakan kalau ia harus buru-buru pergi dan ia tak punya waktu untuk Yi Soo. 


Yi Soo mencoba meminta waktu 5 menit untuk bicara. Ia benar-benar ingin minta maaf akan kejadian di lapangan, dan ia juga ingin minta agar Do Jin mau berdamai untuk kasus murid-muridnya. Mereka masih sangat muda dan perlu dilindungi.


Dengan ketus Do Jin berkata kalau ia tak peduli dengan anak-anak itu dan ia tak berniat untuk berdamai. Ia kemudian berjalan meninggalkan Yi Soo. Tapi Yi Soo tak mau menyerah. Ia tetap mengejar Do Jin sampai keluar kantor.


Hingga Do Jin berbalik dan berjalan ke arahnya. Dan bertanya, “Kau menyukai Tae San, kan? Kau, adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dan ia juga pacar sahabatmu sendiri.”


Yi Soo terbelalak mendengar pertanyaan Do Jin yang tak nyambung tapi menelanjangi perasaannya.

Komentar :

Di Sinopsis AGD 1 – 1, Fanny dan Vitaa berkomentar kalau aura drama ini mirip dengan Secret Garden, dan penyebabnya mungkin karena scriptwriternya (SW) adalah Kim Eun Seok yang juga menulis Secret Garden.

Memang benar. Kim Eun Seok (Secret Garden, On Air) memang menulis drama ini dan ia menawarkan drama ini pertamakali pada Jang Dong Gun. Aura Secret Garden dan On Air di drama ini juga akan terasa di episode-episode berikutnya.


Benang merah yang tersangkut di tas Do Jin, yang membuat rok Yi Soo perlahan-lahan terurai membuat saya berpikir tentang benang jodoh.

Menurut kepercayaan, benang jodoh adalah benang tipis namun kuat, yang salah satu ujungnya terikat di jari kita dan ujung yang lain terikat di jari jodoh kita. Dan tiap orang terlahir dengan benang jodoh yang terikat di jari dengan ujung benang lainnya terikat di jari jodoh kita.


Apakah sebuah kebetulan kalau rok Yi Soo terlepas saat Yi Soo hendak membeli buku dengan sampul dua sejoli dengan benang merah di jari? Apakah kebetulan ataukah mereka memang berjodoh?

Jika berjodoh, berarti Kim Eun Seok memang sengaja memilih karakter tampan dan mapan yang berusia 40 tahun untuk melengkapi dramanya.

Teringat kalimat pembuka dalam novel Pride and Prejudice “It is a truth universally acknowledged, that a single man in possession of a good fortune must be in want of a wife.” Sebuah kenyataan yang umum diketahui, kalau pria single  yang kaya pasti menginginkan seorang istri.

Bagaimana mungkin seorang pria berumur 40 tahun, tampan, kaya, mapan, bukan gay, tapi masih belum memiliki seorang istri?

Jawabannya sederhana : karena mereka belum menemukan jodohnya.


Selanjutnya : Sinopsis A Gentleman's Dignity Episode 2

2 comments :

  1. kalo yg nulis ceritanya yg juga nulis cerita secret garden, waaaah, bakalan jadi romantis juga kayaknya nih cerita...

    lanjutin ya onn...

    ReplyDelete
  2. celebrating mba dee yg baru turun gunung dengan selamat !!!!

    http://i1076.photobucket.com/albums/w442/myontokki/flawon-new1.jpg

    ReplyDelete