February 29, 2012

Sinopsis Ojakgyo Brothers Episode 57


Banyak sekali Aww.. so sweet di episode ini. Tapi mungkin juga karena ada yang menikah.

Menikah! Whoaa.. akhirnya ada juga K-drama yang menikah bukan di sepuluh menit episode finalnya.

Btw, episode ini juga bisa dimasukkan sebagai program penyuluhan Keluarga Berencana, loh..

Sinopsis Ojakgyo Brothers Episode 57




Apa yang terjadi setelah ibu tertawa histeris? Tak ada. Ibu hanya diam mendengarkan penjelasan anak bungsunya. Yang menginterogasi malah nenek dan ayah. Tae Hee dan Ja Eun, berdua ada di dapur dan sedang menuangkan minum. Untuk disajikan pada tamu atau agar memiliki alasan untuk menyingkir?


Tae Pil meminta restu orang tua mereka agar mereka bisa berpacaran. Pacaran mereka bukan pacaran main-main. Walau kelihatannya hubungan mereka adalah hubungan yang mustahil, tapi mereka benar-benar sudah berusaha untuk tak berpacaran. Tapi akhirnya mereka tak kuasa menolak perasaan mereka dan menganggap hal ini sebagai takdir semata.


Nenek hanya mampu mengucap ‘Omo..' (astaga)  berkali-kali. Apalagi saat Tae Pil meminta restu padanya, bukankah nenek sangat baik hati? Ia bahkan memberi restu pada Tae Hee – Ja Eun untuk berhubungan meski saat itu nenek tak tahu kalau ayah Ja Eun bukanlah penabrak ayah Tae Hee. Tapi nenek sudah memiliki niat mulia itu, sebelum semuanya terungkap, kan? Jadi Tae Pil memohon nenek untuk memberi restu pada mereka juga, dan mereka akan seperti Tae Hee dan Ja Eun. Saling mencintai dan saling menghargai.


Nenek tak dapat mengucapkan sepatah katapun selain ‘astaga..’. Ibu yang tetap terdiam, malah bangkit meninggalkan mereka dan masuk kamar.


Semua orang kaget dengan sikap ibu yang tumben bersikap tak sopan pada tamu. Tae Pil memanggil ibunya, tapi ayah berkata kalau ibu saat ini pasti merasa terkejut dan ia meminta Yoo Eul untuk pulang saja sekarang.
Tae Pil kaget mendengarnya. Ayah meminta Tae Pil – Yoo Eul untuk memberi mereka kesempatan untuk berpikir. Mereka tak berpikir akan langsung mendapat persetujuan saat ini juga, kan?


Yoo Eul mengerti dan minta maaf karena berita ini tentu mengejutkan semua pihak. Tapi ia dan Tae Pil pacaran yang tidak main-main. Mereka melakukannya karena mereka yakin dan saling percaya. Jadi ia minta ayah memberikan restu.


Setelah kepulangan Yoo Eul, di dalam kamar ayah menegur ibu yang meninggalkan tamu di luar. Semua putra ibu datang dan duduk di hadapan ibu.


Tae Pil berkata kalau ia sedih melihat ibu yang langsung masuk, bagaimanapun juga Yoo Eul adalah tamu mereka, kan? Tae Pil melihat ibunya menatapnya dengan marah, tapi ia tetap meneruskan kalau Yoo Eul adalah wanita yang baik.


Kata-kata Tae Pil tak sampai di titik, karena ibu sudah memukulinya.

“Apa aku tak tahu kalau dia adalah wanita yang baik. Lantas kalau ada wanita yang baik, apa berarti kau harus memacari mereka semua?”


“Ibu,” teriak Tae Pil kesakitan karena dipukuli terus menerus.

Tapi ibu masih tetap memukuli Tae Pil. Ia marah karena selama ini ia mengira Tae Pil bekerja keras menjadi manajer toko, ternyata di sana ia malah menggoda si pemilik toko. Tae Pil tak mau dikatai menggoda. Ia toh sudah mendapat restu dari ayah dan ibu Soo Young.


Ibu kaget mendengarnya. Orang tua Soo Young sudah setuju? Tae Pil membenarkannya bahkan mengatakan kalau orang tua Soo Young menerima hubungan itu dengan tangan terbuka. Ibu mendorong Tae Pil sampai Tae Pil terjatuh. “Kalau begitu pergi saja ke sana! Jika kau memang menyukai ibu Soo Young, tinggal saja di rumah mereka!”


Semuanya kaget mendengar ucapan ibu yang nggak nyambung. Tae Hee mencoba menenangkan ibunya, tapi malah kena semprotannya juga. Ibu melihat Tae Hee tak kaget sama sekali dengan berita ini, apakah Tae Hee sudah mengetahuinya?


Ragu-ragu Tae Hee mengangguk mengiyakan. Langsung ibu ganti memukulinya, “Mengapa tak kau katakan padaku? Kau lebih parah! Lebih parah! Seharusnya kau memberitahukanku atau menghentikannya!”


Tae Bum buru-buru bangkit dan menengahi ibu yang masih memukuli Tae Hee. Tapi ibu malah ganti memukuli Tae Bum dengan bantal dan menyuruhnya minggir. “Setelah tadi pagi kau mengatakan akan pindah, tapi belum sehari ternyata kau sudah menarik kembali ucapanmu. Kalau kau memang tak ada niat untuk pindah, kenapa juga memberitahu kami? Apakah kau tak menganggap serius orang tuamu?”


Betapa kagetnya Tae Bum mendengar ibu yang ganti memarahinya. Darimana ibu mendengar hal ini? Ia tak berencana tinggal selamanya di sana tapi hanya selama setahun.


Ibu tetap memukulinya dan menyebutnya anak nakal. Tae Hee dan Tae Pil  menyingkir, sepertinya takut kena semprot ibu lagi. Dari kejauhan Tae Shik mencoba menenangkan ibu, tapi ibu malah melemparkan bantal ke wajah Tae Shik.


Ibu memarahinya karena Tae Shik yang menjadi anak sulung malah tak pernah bersikap sebagai anak sulung. Kalau ia tahu, tak seharusnya Tae Shik diam saja. Ia harus membimbing adik-adiknya.


Wah.. paket komplit deh marah-marahnya ibu malam ini.


Soo Young dan Yoo Eul pulang bersama. Melihat paras Yoo Eul yang lesu dan langsung masuk kamar, ayah bertanya pada Soo Young, apakah orang tua Tae Pil berkata pedas padanya?

“Tidak, bukannya menolak dengan pedas, mereka malah tak berkata banyak.”
Ayah mengatakan mungkin ini adalah cara terbaik untuk menolak hubungan itu. Tapi Soo Young yang melihat bagaimana Yoo Eul duduk dengan tegang di depan mertuanya, membuatnya malah merasa kasihan pada tantenya.


Tae Hee mengantarkan Ja Eun pulang. Ja Eun memberitahukannya kalau ayahnya menyuruhnya datang  besok pagi untuk menemuinya.

“Oke, aku akan datang. Harus memakai jas, kan?”

Ja Eun mengangguk, “Berdandanlah setampan mungkin seperti saat kita berfoto wisuda.”


Ja Eun pun harus keluar mobil. Ia sudah memegang handle mobil, tapi ia enggan menariknya. Tae Hee bertanya apakah ayahnya akan pulang segera? Jika begitu, Ja Eun harus segera pulang.


Ja Eun mengangguk dan akan keluar. Tapi kali ini Tae Hee yang menahannya karena ia ingin makan makanan kecil dan menemukan tempat makan yang enak. Ja Eun menyesal, seharusnya Tae Hee mengatakannya dari tadi, sehingga ia dapat minta ijin pada ayahnya.

Akhirnya Tae Hee melepaskan Ja Eun untuk pulang ke rumah.


Ayah menanyakan apakah kemarahan ibu berkaitan dengan kunjungannya ke rumah Tae Bum tadi siang? Ibu mengiyakan, dan ia merasa ia tak berhak marah karena selama ini Tae Bum selalu mandiri dan tak bergantung pada mereka. Bahkan Tae Bum mencari uang kuliahnya sendiri. Jadi dengan kata-kata yang keluar dari mulut Tae Bum yang ingin menjaga mertuanya seperti orang tuanya sendiri, ia merasa kalau Tae Bum bukanlah anaknya.


Ayah menenangkannya karena Tae Bum juga berkata kalau ia akan tinggal bersama dengan mertuanya hanya setahun lagi. Karena Soo Young akan mempunya bayi, jadi kondisi rumah tangga mereka tidaklah mudah. Tapi bagaimana dengan Tae Pil?


Ibu kembali marah mendengar pertanyaan itu. Apalagi pada besan mereka. Apa yang sebenarnya dipikirkan besan mereka sampai merestui hubungan Tae Pil dan Yoo Eul? Ibu meminta ayah untuk menemui ayah Soo Young untuk mengetahui pertimbangan mereka tentang hubungan itu.


Sarapan di pagi hari kembali suram. Ibu terlambat menyajikan sarapan, dan berkata sangatlah wajar kalau sehari atau dua dalam 365 hari ia telat melakukan tugasnya. Heheh.. ada yang lagi sensitif nih.


Nenek yang menyadari ibu sedang menghadapi masalah yang rumit, membiarkan kesensi-an ibu. Saat Tae Hee melaporkan kalau ia akan menemui ayah Ja Eun, nenek memintanya untuk segera melakukannya. Ia menyuruh Tae Hee untuk  membujuk ayah Ja Eun agar mau menikahkan Ja Eun di bulan Maret.


Tae Shik mengatakan kalau ia iri dengan Tae Hee, namun Mi Seok malah melirik dan melengos kesal pada calon suaminya. Heheh.. Buru-buru Tae Shik mengatakan kalau hal itu adalah hal yang bagus.


Ayah juga memberitahukan kalau ia akan menemui besannya hari ini untuk membicarakan masalah Tae Pil. Tae Pil bertanya apa alasan ayah menemui ayah ibu Soo Young. Toh mereka sudah setuju. Ayah, ibu dan nenek hanya tinggal mengatakan iya, dan itu sudah cukup.


Ibu langsung menyuruh Tae Pil menutup mulutnya dan makan makanannya. Mendengar hal itu, Gook Soo langsung bertanya, “Nenek, bagaimana Nenek bisa makan dengan mulut tertutup?”


Uups..!Tae Shik langsung membungkam Gook Soo dengan menyuapkan mentimun ke mulutnya.


Ayah Ja Eun sudah berdandan rapi untuk menyambut Tae Hee, dan Ja Eun memuji penampilan ayahnya yang sudah lama ia tak melihatnya. Mengenai perkebunan yang tak ingin dimiliki oleh keluarga Hwang, Ja Eun mengusulkan pada ayah untuk mengganti nama pemilik perkebunan dengan nama ayah, Papa dan Mama Hwang.

“Bertiga memiliki bagian dalam perkebunan itu. Adalah keinginan terdalam dalam hidup Bibi untuk memiliki dan bekerja di tanah atas namanya sendiri.”
Ayah memuji kedewasaan Ja Eun dan setuju dengan usulan Ja Eun. Ia akan memberitahukan hal itu nanti malam.


Tae Hee telah datang dan menemui ayah Ja Eun untuk melakukan ritual lamaran, yaitu bersujud hormat pada ayah Ja Eun. Ayah Ja Eun tersenyum melihatnya dan mengucapkan terima kasih yang seharusnya sudah ia katakan sebelumnya.


“Terima kasih karena kau tak pernah menyerah dan membuktikan kalau aku tak bersalah. Kau tak perlu meminta dua kali, karena aku akan memberikan Ja Eun padamu.”


Tae Hee lega mendengar ayah memberi restu pada mereka, “Terima kasih, ayah.”

Ayah juga senang akhirnya Tae Hee memanggilnya ayah. Sebenarnya ia sudah menantikan saat-saat itu.

“Seperti yang kau tahu, Ja Eun aku besarkan sendiri hingga ia sering merasa kesepian. Kuminta, jagalah ia dan selalu menyertainyaa. Mulai sekarang kaulah pelindung Ja Eun.”
“Ya, ayah. Saya akan melakukan yang terbaik. Saya akan memperlakukan Ja Eun dengan baik, melebihi saya menjaga diri saya sendiri. Saya tak akan pernah menyakiti hatinya dan kami akan hidup dengan baik.”
Aww..


Calon pengantin yang sudah resmi ini berpegangan tangan bahkan saat di lift. Tae Hee bertanya pada Ja Eun, memastikan apakah mereka harus melakukan permintaan nenek untuk menikah di bulan Maret? Ja Eun berkata pasti, “Iya”. Tapi Tae Hee memastikan lagi, karena setelah ini Ja Eun tak boleh mundur.

Honey, she would jump and say yes! if you said the wedding is tomorrow..


Tentu saja Ja Eun menjawab iya. Ia mengajak Tae Hee untuk makan siang bersama karena Jae Ha akan pulang ke Amerika dalam waktu dekat dan ia mengajak untuk makan siang bersama.


Tae Hee baru tahu kalau Jae Ha akan pulang, maka Tae Hee pun menyuruh Ja Eun untuk makan siang berdua saja.


Ja Eun dan Jae Ha makan siang bersama dan Jae Ha memberikan kabar baik untuk Ja Eun, yaitu Ja Eun mendapat kesempatan magang selama setahun di perusahaan animasi Amerika. Masa magangnya itu dimulai bulan April. Jae Ha menjelaskan kalau diam-diam ia mendaftarkan Ja Eun saat Ja Eun tinggalsementara di panti asuhan.


Ja Eun terkejut mendengar berita gembira itu. Ia benar-benar gembira dan tak menyangka tapi sepertinya ia tak dapat melakukannya. Ia memberitahu Jae Ha kalau ia akan menikah pada minggu pertama di bulan maret ini.

Gantian Jae Ha yang terkejut. Ia menyelamati Ja Eun dan bertanya sekali lagi, tak bisakah Ja Eun menikah untuk kemudian pergi ke Amerika?

Ja Eun tak dapat menjawabnya sekarang, tapi ia akan memikirkannya. Jae Ha berkata kalau pernikahan Ja Eun di awal bulan Maret, berarti ia dapat menghadirinya. Ia harus pulang ke Amerika, dan akan kembali minimal setahun atau 2-3 tahun jika ayahnya masih tetap marah.

Ja Eun meminta Jae Ha untuk kembali ke Korea nanti, agar ia dapat membayar segala kebaikan Jae Ha. Jae Ha telah banyak membantunya, dengan mengabaikan kemarahan ayah Jae Ha, Jae Ha tetap membantunya dalam mempertahankan perkebunan.


Jae Ha mengakui kalau sebenarnya ialah yang harus berterimakasih pada Ja Eun, karena Ja Eunlah ia tak merasa kesepian selama tinggal di Korea. Karena Ja Eunlah, ia dapat bertemu dengan Tae Hee, dan berdamai dengannya.

Aww.. so sweet..


Soo Young sudah memasuki waktu cuti hamilnya. Ia mengadakan rapat terakhir dan membagi-bagi tugas dan pesan pada anak buahnya. Ia terharu saat anak buahnya memberi hadiah baju bayi sebagai salam perpisahan sementaranya.


Saat membawa barang yang harus ia bawa pulang, ia melihat betapa sibuknya rekan kantornya dan merasa sedikit sedih, khawatir dengan cutinya selama 3 bulan, kemampuannya akan menurun. Tae Bum yang melihat hal itu, mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat.

Dan tadaa…!


Ternyata Tae Bum mengajaknya ke panggung talk show yang sedang kosong dan menyuruh Soo Young menjadi host untuk talk show kali ini. Hanya ada mereka berdua, Bukankah impian Soo Young adalah menjadi host sebuah acara bincang-bincang? Dan ini adalah latihan kecil untuknya.


Soo Young tak mau melakukannya, dan hendak pergi. Tapi Tae Bum menahannya, karena Soo Young akan mewawancarai reporter handal dan tampan dari IBC. Soo Young pun akhirnya melakukannya. Mereka membicarakan tentang istri Tae Bum dan putrinya yang cantik yang selalu mendukung karirnya. Dan kabar kalau Tae Bum juga hebat dalam memask.


Tae Bum pun merendah dan mengatakan kalau istrinya jauh lebih mahir darinya dalam memasak.


Hehehe.. pencitraan banget.


Tae Shik memiliki kejutan untuk Gook Soo dan Ha Na. Ia menunjukkan kartu keluarganya, dan disana tertera Hwang Gook Soo dan Hwang Ha Na.


Kedua anak itu sangat gembira. Namun Gook Soo sedikit iri karena Ha Na memiliki adik, yaitu dirinya. Tapi ia tak memiliki adik. Bisakah ayah dan bibi Mi Seok memberikan adik untuknya? Ha Na sangat senang mendengar keinginan Gook Soo. Iapun juga ingin memiliki adik perempuan yang lucu.


Dengan senyum lebar Tae Shik menyuruh mereka sabar menunggu, karena saat itu pasti akan datang.


Ha Na sangat senang dengan ia mendapat nama Hwang, dan yang pertama kali ia lakukan adalah mengganti semua label nama di buku sekolahnya. Gook Soo datang membantu kakaknya dan sebagai hadiah, Ha Na memberikan adiknya pensil biru yang cantik.

Aww.. betapa senangnya punya saudara. Bahkan lebih tepatnya, memiliki keluarga yang lengkap.


Tae Shik mencoba mengambil kesempatan dari permintaan Gook Soo dan Ha Na. Pada Mi Seok ia berkata, “Karena aku telah mendaftarkan pernikahan kita dan Ha Na juga sudah kuadopsi menjadi anakku, jadi sekarang kita adalah keluarga yang sebenarnya. Apa tak lebih baik kita juga menyatukan kamar kita?”


Mi Seok terkejut, bagaimana mungkin mereka belum menikah tapi sudah sekamar? Tae Shik mendekat padanya dan mengatakan walaupun belum menikah, mereka sudah pasti menjadi suami istri. Bukankah anak-anak juga sudah menginginkan adik?


Nggak lah, ya.. Jangan mimpi. Mi Seok menolak dan mengatakan kalau mereka sekamar jika sudah menikah. Sebelum Tae Shik berkata yang aneh-aneh lagi, ia langsung berteriak mengajak anak-anaknya pergi belanja.
Heheh.. yang namanya cowok, sekali cowok pasti kelakuannya seperti cowok.


Ayah Tae Pil menemui ayah Soo Young untuk mengetahui apa yang sebenarnya dipikirkan orang tua Soo Young merestui hubungan Tae Pil dan Yoo Eul.


Ayah Soo Young menjelaskan kalau saat itu istrinya khawatir kesehatannya memburuk saat mendapat berita kalau hasil medical check upnya tidak baik. Namun ternyata hasilnya tidak mengkhawatirkan. Tapi istrinya sudah keburu memberi restu pada mereka berdua, jadi susah untuk menariknya kembali. Ia pun lega saat mengetahui orang tua Tae Pil tak merestui hubungan mereka.

Mereka berdua sama-sama legai mendengar mereka berada di pihak yang sama. Masing-masing akan meyakinkan anak/keponakannya. Walaupun begitu, ayah Soo Young merasa Tae Pil adalah calon suami yang sangat baik. Dengan jujur ayah Soo Young mengatakan kalau ia sangat menyukai Tae Pil. Anak yang pintar dan sopan. Jika semuanya dalam kondisi normal, Tae Pil dapat menjadi calon ipar yang baik.


Untuk pertama kalinya ada orang yang memberi penilaian jujur akan anak bungsunya, ayah tersenyum dan berterima kasih pada besannya.


Ayah pun mengajak Tae Pil untuk bertemu di restoran. Alih-alih mengatakan ketaksetujuaan semua pihak, ayah malah menceritakan bagaimana ia menikah dulu.


“Maknae (anak terkecil), saat kau datang meminta ijin kemarin, mengingatkanku jaman dahulu saat aku mengajak ibumu menemui orang tuaku. Saat itu kakek dan nenek tak merestui hubungan kami dan berniat menghentikan niatku. Tapi saat itu aku tetap memaksa untuk menikah. Aku berpikir, jika kami saling mencintai, tak peduli seberapa kesulitan yang kami hadapi, kami pasti dapat mengatasinya.
Tapi setelah itu aku menyesalinya. Karena kami menikah muda dan tanpa persiapan, aku membuat ibumu menderita. Aku ingat waktu dulu ibumu yang sedang hamil kakakmu Tae Shik, tetap harus bekerja. Rasanya ingin mati saja melihat penderitaan ibumu.


Maknae, daripada mengkhawatirkan hubungan dengan besanku, aku lebih mengkhawatirkan kalian berdua. Kau mungkin belum tahu, kalau Yoo Eul sekarang berpacaran, ia berada di usia menikah. Apakah kau sudah siap dengan hal itu?
Dari penglihatanku, kau belum siap. Pernikahan bukan sesuatu yang berdasarkan atas cinta saja. Kau tak tahu bagaimana kau harus mengorbankan harga dirimu demi suatu pernikahan.
Seperti kemarin malam, jika kau ingin meyakinkan kami, setidaknya kau memberitahu kami terlebih dahulu, bukannya langsung membawa Yoo Eul ke rumah. Dan katakan apa rencana dan ambisimu di masa depan dan bagaimana cara menggapainya. Kau seharusnya memberikan sesuatu yang dapat kami percayai.
Bukankah seharusnya seperti itu, nak? Aku mengatakan hal ini bukan karena akan besanku. Kau terlalu muda untuk dapat menghadapi orang tua Soo Young. Kau belum siap. Jadi, kuburkanlah semuanya.”

Di lain tempat, Yoo Eul juga menemui kakaknya dan marah saat mengetahui kalau sebenarnya kakaknya tak menyetujui hubungannya dengan Tae Pil. Ibu Soo Young beralasan kalau ia memberi restu karena saat itu ia sedang menghadapi masa sulit dengan kesehatannya. Tapi dengan sekarang semuanya sudah kembali normal, ia meminta Yoo Eul untuk tak melanjutkan hubungannya. Karena tak hanya dirinya, tapi juga orang tua Tae Pil pun juga melarang.

Yoo Eul menangis mendengarnya. Semuanya tak masuk akal. Mengapa mereka memutuskan sesuatu tanpa bertanya pada yang berkepentingan? Jika kakaknya telah merestui, seharusnya kakaknya tak menarik balik restu itu.

“Saat itu aku memiliki keberanian datang ke rumah mereka karena kau telah merestuiku. Walaun aku hanya adikmu, bagaimana mungkin kau menganggap enteng diriku? Apakah aku kelihatan main-main dengan Tae Pil? Tak tahukah kau bagaimana sulitnya aku mengumpulkan keberanian untuk datang ke rumah mereka?”

Ibu meminta maaf karena telah ceroboh. Tapi Yoo Eul tak mau tahu, restui mereka kembali. Mengalahlah padanya kali ini saja.


Ibu mengatakan kalau masalah ini tak akan terpecahkan dengan restunya saja. Yoo Eul tak mau mendengarnya lagi, dan meninggalkan kakaknya dengan alasan ia sibuk.


Tapi Yoo Eul tidak kembali ke toko. Ia hanya berjalan-jalan, memikirkan semuanya. Begitu pula Tae Pil.


Ja Eun pulang ke perkebunan dan menemukan ibu yang sedang duduk termenung di depan kandang bebek sedang merebus bebek. Apakah ibu akan menguji rasa sekali lagi? Takut gagal, ibu mengajaknya untuk menguji rasa hanya berdua saja, tak perlu mengajak-ajak yang lain.


Saat menunggu bebek matang, Ja Eun memperhatikan kalau ibu terlihat sedih. Apa ada sesuatu yang terjadi.


Ibu mengatakan kalau hidup itu sangatlah sia-sia. Sekarang yang ia lakukan saat ini hanyalah memasak. Setelah semua anaknya besar, mereka berpikiran kalau mereka tumbuh besar dengan kemampuan mereka sendiri. Dan saat ia berada di depan cermin, ia melihat betapa tua dan kurus dirinya.


Ja Eun membantah kata-kata ibu, karena ibu masih tetap cantik seperti dulu. Ibu menyuruhnya untuk tak bermulut manis. Ia juga memperhatikan kalau Ja Eun sedang gembira. Apakah ada sesuatu yang terjadi? Ja Eun memberitahukan kalau ia mendapat kesempatang magang selama setahun di Amerika.


Ibu sangat senang mendengarnya. Tapi ia kecewa saat mendengar Ja Eun tak mengambil kesempatan itu karena ia ingin menikah. Seharusnya ia tetap berangkat dan memundurkan jadwal pernikahannya sampai tahun depan.

Ja Eun tak mau karena hal itu berarti ia akan berpisah dengan Tae Hee. Ia sudah sangat senang mendengar ia diterima magang di perusahaan Amerika. Ibu menghardiknya, “Tae Hee adalah seseorang yang akan hidup bersamamu selamanya. Hanya setahun berpisah dengannya, apakah ada sesuatu yang akan terjadi? Apakah Tae Hee tak membiarkanmu pergi?”

Tidak, Ja Eun malah belum memberitahukannya. Ibu menyuruhnya untuk memberitahukan pada Tae Hee terlebih dahulu karena kesempatan itu sangatlah berharga dan susah untuk didapatkan, jadi kenapa juga harus dilepas.


“Mengapa kau sangat mudah melepaskan impianmu? Apakah kau menganggap enteng mimpi-mimpimu? Saat aku muda dulu, aku juga punya mimpi. Sebelum aku menikah, aku melakukan semuanya dengan baik. Kemudian setelah itu aku menikah dan memiliki anak. Sejak saat itu aku tak mampu mengerjakan yang lain.
Park Bo Ja telah lenyap dan berganti menjadi menantu seseorang, istri sesorang, atau ibu seseorang. Seberapapun Tae Hee mencintaimu, tapi ada hal-hal yang tak mampu dipenuhi oleh Tae Hee.
Setelah menikah, kau mungkin mampu menjaga untuk tak memiliki anak. Tapi walaupun begitu, jika Tuhan berkehendak, kita tak dapat menolaknya. Dan jika saat itu tiba, kehidupanmu bukan hanya menjadi milikmu sendiri.
Lihatlah aku. Aku hanyalah seorang ibu. Tak ada yang kuwariskan di dunia ini. Kau seharusnya tak hidup seperti itu. Ketika kau hidup dengan bekerja, bekerjalah dengan membuat impianmu menjadi kenyataan.”

Ja Eun memandang ibu dan bertanya apakah ibu tak menyukai kehidupannya sekarang? “Impianku adalah menjadi seorang ibu seperti Bibi. Aku benar-benar sangat menghormati Bibi.”

Ibu setengah mentertawakan kata-kata Ja Eun, apakah Ja Eun tak punya orang lain yang bisa dihormati selain dirinya?  



Tapi Ja Eun tetap berkata kalau ia menghormati ibu. Dan bagaimana mungkin ibu tak mewariskan apapun? Ada keempat anaknya, juga perkebunan ini. Ibu menganggap kata-kata Ja Eun angin lalu. Ia malah menyuruh Ja Eun untuk mengambil pakan ternak karena sudah waktunya memberi makan bebek-bebek itu.


Ja Eun menuruti kata-kata ibu, namun di dalam gudang, ia terdiam. Sepertinya ia teringat semua kata-kata ibu barusan.



Di dapur, di depan hadapan ibu dan Ja Eun tersaji lima piring bebek yang telah matang. Satu persatu mereka coba, dan hasilnya tak ada yang memuaskan. Kecuali piring terakhir. Rasanya enak dan tak berbau. Mereka berhasil!


Malam harinya ibu menyajikan bebek itu tanpa memberi tahu asal dagingnya. Ayah Ja Eun yang ikut datang untuk makan malam, merasakan kalau bebek yang ibu masak sangatlah enak. Nenek pun juga merasakannya. Ayah bertanya apakah Mi Seok yang membawa makanan ini?


Mi Seok tak membawanya, dan langsung menebak kalau bebek ini adalah bebek hasil ternak ibu. Ibu tak menjawab, malah menanyakan rasa bebek itu pada yang lainnya. Semua menjawab kalau bebeknya sangat gurih dan enak.


Ja Eun berteriak kalau mereka akhirnya berhasil! Mereka berhasil mengembangkan pakan ternak yang bagus. Semua orang menyelamati ibu.


Setelah makan malam, ayah Ja Eun mengungkapkan rencananya untuk membagi kepemilikan perkebunan ini bertiga dengan ayah dan ibu, lagipula ia sudah merestui pernikahan Ja Eun dengan Tae Hee. Ayah berterima kasih tapi menolaknya, hanya ibu yang kelihatan tertarik dengan hal itu. Ayah Ja Eun meminta temannya untuk tak mempermasalahkan hal itu, karena ada yang lebih penting yaitu pernikahan anak mereka.


Ayah pun menanyakan hal itu pada calon mempelai. Tae Hee menjelaskan kalau pernikahan mereka akan diadakan di minggu pertama bulan Maret. Semua orang menyelamatinya, bahkan Tae Shik pun mengungkapkan keiriannya.


Hanya ayah Ja Eun saja yang kaget dengan berita itu. Maret? Lantas bagaimana dengan kesempatan magang di Amerika? Ibu terkejut mendengar ayah Ja Eun juga mengetahuinya. Ternyata Ayah Ja Eun mendengar kabar itu dari Jae Ha.


Tae Hee separuh menegur Ja Eun, mengatakan kalau seharusnya Ja Eun memberitahukan kabar itu langsung lewat telepon. Nenek pun bertanya, apakah dengan kesempatan yang datang itu, mereka harus memundurkan pernikahannya?


Ibu langsung mengatakan kalau kesempatan itu sangat jarang sekali dan susah didapatkan. Ayah Ja Eun pun juga setuju. Kalaupun pernikahan itu harus ditunda setahun, sangatlah menggembirakan jika Ja Eun tak melewatkan kesempatan itu. Iapun bertanya pada Tae Hee, apakah Tae Hee setuju dengan pendapatnya?


Tae Hee mengangguk setuju. Tapi tidak dengan Ja Eun, “Ayah, aku akan menikah dengan paman. Sangatlah sulit bagi kami untuk bersama. Aku tak mau berpisah sekali lagi dengannya, walaupun aku harus mati.”


Tae Hee tersenyum dan tersipu mendengarnya. Nenek langsung menyetujui kata-kata Ja Eun. Mengapa harus berpisah jika sekarang sudah sangat sempurnya?


Ayah Ja Eun tak percaya pada kata-kata anaknya. “Apakah kau benar-benar ingin menikah cepat-cepat? Apakah kau sedemikian suka padanya?”


Ja Eun pun tersenyum dan berteriak, “Ya! Aku saaaa.. nggatt menyukainya!”


Tae Hee tersenyum mendengar teriakan khas Ja Eun. Bahkan Tae Shik pun tertawa dan menirunya, “Aku mengerti perasaanmu, Ja Eun-shi. Aku saaaa.. nggatt mengerti dirimu.”

Ayah memandang Ja Eun dengan berbinar-binar, “Ja Eun ah, menantuku. Kau benar-benar yang paling baik!”


Tae Hee membawa Ja Eun keluar rumah. Ia ingin menanyakan mengapa Ja Eun tak mengajaknya diskusi tentang kesempatan yang sangat langka ini? Ja Eun menganggap ini adalah sesuatu yang harus ia putuskan sendiri. Walaupun misalnya ia menikah dulu untuk kemudian pergi selama setahun, berarti ia akan berpisah dengan Tae Hee, dan ia tak mau. Ia sekarang menyadari kalau ia tak boleh serakah ingin semuanya.

“Sekarang, aku hanya ingin bersamamu, di sampingmu. Magang adalah sebuah kesempatan yang berarti. Tapi tak lebih berarti dibandingkan dirimu.”
Aww…


Tae Hee berterima kasih pada Ja Eun dan memeluknya.


Hari ini adalah hari pernikahan. Ja Eun dan Tae Hee sedang bersiap-siap dan malu-malu ketika melihat satu sama lain. Tae Hee memuji penampilan Ja Eun yang sangat cantik.


Di luar Tae Hee dan orang tuanya menyambut kedatangan para tamu. Tae Pil kebagian tugas untuk menerima hadiah dari para tamu. (Catatan: di Korea ternyata amplop uang tak langsung dimasukkan dalam kotak, tapi diberikan pada penerima tamu –berarti orang yang dapat dipercaya- dibuka, kemudian baru dicatat. Wow! Beda kebun, beda ilalang, ya..)


Jae Ha datang dan memberikan amplop pada Tae Pil. Sebelumnya ia menyapa Tae Pil yang tak mengenalnya. Tapi begitu Jae Ha memegang dagunya (yang dulu pernah dijotos Tae Pil), Tae Pil pun langsung mengenalinya.


Dan betapa kagetnya ia melihat uang yang diberikan Jae Ha. 2 juta won!


Orang tua Soo Young juga datang bersama dengan Yoo Eul. Saat menyelamati Tae Hee, Yoo Eul melirik Tae Pil dan tak sengaja mata mereka bertemu dan mereka tampak sedih.


Teman-teman Ja Eun menjadi fotografer dadakan di ruang pengantin wanita, memotret nenek dan Ja Eun yang sama-sama bergaun putih.


Soo Young, Mi Seok dan anak-anaknya datang dan mereka pun berfoto bersama. Wow, Gook Soo jadi seperti Gu Jun Pyo!


Ayah Ja Eun mengintip ruang pengantin wanita dan tersenyum haru melihat kebahagiaan anaknya.


Upacara perkawinan ternyata terlambat dilakukan. Kedua mempelai belum muncul juga. Dong Min bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Tae Hee dan Ja Eun belum muncul juga? Ternyata penghulu (atau semacamnya) tak dapat hadir karena mendapat kecelakaan. Ja Eun mempunyai sebuah ide dan menelepon Tae Hee.

Akhirnya Dong Min yang menjadi pembawa acara, mempersilahkan kedua pengantin untuk masuk.

Ja Eun: “Bisakah kita masuk?”
Tae Hee : “Ya.” 
Didahului oleh Gook Soo dan Ha Na yang membawa bunga, Tae Hee dan Ja Eun memasuki ruangan.


Dong Min meminta semua tamu untuk menjadi saksi pernikahan antara Tae Hee dan Ja Eun. Kedua mempelai dipersilahkan untuk saling menghormat. Tae Hee dan Ja Eun pun saling membungkuk untuk memberi hormat.


*Uppss.. Tae Hee belum selesai membungkuk.*
*Ohh.. Ja Eun masih membungkuk.*
*Duh.. kok Tae Hee lama sekali ya membungkuknya?*
Sampai kapan Ja Eun membungkuknya, ya?



Tae Hee dan Ja Eun akhirnya menyadari kekonyolan mereka setelah mendengar tawa yang berkumandang dari seantero ballroom.

*Maaf ya. Ini kan pernikahan pertama kami.*

Mereka pun mengucapkan sumpah pernikahan.

“Aku, Hwang Tae Hee, akan menerimamu, Baek Ja Eun sebagai istriku. Aku akan selalu mencintaimu dan membahagiakanmu. Aku akan menjadi bayanganmu untuk selamanya.”
“Aku, Baek Ja Eun, akan menerimamu Hwang Tae Hee sebagai suamiku. Aku akan selalu mencintaimu dan menjadi pohon bagimu. Aku akan selalu bersama denganmu.”

Nenek menangis mendengarnya.


Acara selanjutnya adalah kata-kata dari penghulu. Tapi Dong Min mengumumkan kalau penghulu tak dapat hadir karena mendapat kecelakaan. Maka dari itu, kedua mempelai meminta seseorang menggantikannya. Dan orang itu adalah ibu Tae Hee, yaitu Park Bo Ja.


Ibu tak mau melakukannya. Tapi Ja Eun memohon ibu untuk memenuhi permintaannya. Hanya sampai hari ini saja ia akan memanggil ibu dengan sapaan ‘bibi’. Lagi pula ibu belum menyelamatinya sebagai pengantin baru.


Tae Hee pun ikut membujuk ibunya. Nenek bahkan harus memukulnya agar ibu mau naik ke atas mimbar.


Dengan diiringi tepuk tangan anak-anaknya,Ibu pun naik ke atas mimbar. Dan dengan lantang ia berkata,

“Jika aku boleh berbicara jujur, aku menentang pernikahan ini.”




Komentar :

Tinggal satu episode terakhir, pasti kata-kata ibu hanya klimaks yang tak perlu dikhawatirkan, bukan?


Episode ini menurut saya sebuah kampanye KB yang efektif. Kata-kata ayah pada Tae Pil benar-benar mengena. Pengalaman ayah di masa lalu benar-benar membukakan mata kalau perkawinan itu tak melulu hanya cinta.

Perkawinan itu adalah sebuah kesiapan. Tae Shik berani memutuskan untuk menikah setelah ia mendapatkan pekerjaannya di rumah sakit dengan gaji yang lebih besar.

Perkawinan itu juga berani mengorbankan harga diri. Tae Bum rela berlutut di hadapan orang tua Soo Young untuk memperoleh ijin dari mereka.

Perkawinan itu juga harus direncanakan. Ja Eun berani mengorbankan impiannya untuk menikah dengan Tae Hee. Spoiler : Tapi Tae Hee tentu memiliki rencana yang sempurna agar perkawinan mereka bahagia tanpa mengorbankan impian Ja Eun.



Tae Pil sudah berjalan ke arah yang tepat. Tapi ia belum sampai tujuan. Ia belum dapat melakukan ketiganya. Namun kata-kata ayah, pengalaman ayah telah mengajarkan sesuatu baginya.

Dahulu saat keempat saudara Hwang duduk-duduk di warung dan minum soju (setelah Tae Shik putus dan ditampar oleh mantan pacarnya), mereka menyadari kalau Gook Soo adalah titik balik kehidupan Tae Shik. Tae Bum berkata kalau titik balik kehidupannya adalah saat ia harus memutuskan Hye Ryung. Sedangkan titik balik kehidupan Tae Hee adalah saat ia yang berumur 6 tahun, ditinggal oleh ibunya. Saat itu Tae Bum mengatakan kalau ia kalah dengan Tae Hee karena Tae Hee dululah yang mengalami titik balik kehidupannya paling awal.

Mungkin saat inilah titik balik kehidupan Tae Pil. Mungkin Yoo Eul-lah titik balik kehidupannya.


Better late than never..

Selanjutnya : Sinopsis Ojakgyo Brothers Episode 58 - Akhir

8 comments :

  1. lucu bgt pas mreka sling memberi hormat,sampe ngakak liatnya,emg biasanya gak ada yg memberi aba2 buat berhnti apa ya???klo msalah ibu seh aku jga ga bgtu kaget,tgl mslah Tae Pil nih,blm nntn ep 58,jdi ga tw...yg aku tau JE&TH bakaln honeymoon,hohoho....

    ReplyDelete
  2. 2 episode terakhir yang menyenangkan tapi mengharukan.

    bravo, sama writernya yang nulis cerita keren begini,
    sama bravo buat mbak dee yang bikin sinopnya gak kalah menarik :)

    ReplyDelete
  3. "yang namanya cowok, sekali cowok pasti kelakuannya seperti cowok." suka komentar mbak dee sama yang 1 ini.. drama ini ada makna untuk menghadapi pernikahaan yachhh ^^ 1 episode lagiii

    ReplyDelete
  4. wah benar2 ceriat yang sangat menakjubkan..., dan sayang jika tv swasta tak menayangkan nya.

    makasih ya mba dah bersedia membuat sinop nya klu gk mungkin kisah ini akan berlalu
    tetap semangat ya

    rezki

    ReplyDelete
  5. Mba Dee, 1 eps lagi nih.
    tetep semangat ya Mba. fighting :)

    ReplyDelete
  6. suka ketika tae pil lg diintrogasi ama ibunya, kakak2nya pada ngumpul belainn.. betul-betulll persaudaraaan merek. klu cewek sich udh biasa, tap kli ini persaudaraan laki2, sangt luar biasa kompak. jarng didpatkan seakur persaudaraan mreka. ajungan jempol.
    n n n
    mbak dee: waoooow saluuuttt dngn pndiriannya. ttap jln sinop yg spanjang ini, hmpir aq ragu2 ap smpai finish...tinggal 1 ep trakhir sich. tpi TOP abisss mbak dee... > cool..tak dpt dinilai dngan kata2.. takjub aqunya... hmmm

    ReplyDelete
  7. wah,,, mbak dee, meski dah nonton ni eps 57 na, tpi tetep dibca dan dinantikan sinopsis dari mbak nei... kereeenn. apalagi komen2 authorna. patutt diconth. hehhee

    ReplyDelete
  8. pas waktu drama ini mulai tayang di korea ak udh ngikutin di Youtube dgn bahasa kalbu n sempat cari2 di eyang google sinopsisnya dan akhirnya menemukan di tempat u mb dee...gumowo

    tetep semangat untuk ep. akhirnya...udh nonton sih cuman transetnya rada acak2kan so sinopsisnya tetep tak tunggu mb...
    Semoga project selanjutnya Tke Kin2Heart y...

    ReplyDelete