February 25, 2012

Sinopsis Ojakgyo Brothers Episode 56


Sepertinya yang paling bahagia dengan berakhirnya masalah tabrak lari ini adalah ibu. Tapi, seperti orang sering bilang. Kalau senang, jangan terlalu senang. Nanti malah menangis.

Sinopsis Ojakgyo Brothers Episode 56




Dalam perjalanan pulang, Ibu berbicara dengan nenek dan ia tak dapat menutupi rasa gembiranya. Kata-katanya penuh dengan nada canda dan terus tertawa. Pada nenek Ibu mengatakan kalau ia merasa sekarang seperti mimpi dan ia terus mencubit kakinya sendiri. Ia minta nenek untuk tak mengkhawatirkan mereka, karena Tae Hee tak ngebut saat menyetir. Kenapa juga harus ngebut kalau ada Ja Eun di dalam mobil? Ibu bertanya apa kemarin nenek bermimpi, karena semalam ia bermimpi ada babi yang muncul di pekarangan mereka. Apa itu ada hubungannya dengan bayinya Tae Hee, ya?


Wakkss… belum juga menikah, sudah ada bayi? Wah.. ibu sudah berpikiran jauh ke depan nih.. atau ibu juga shaman ya?


Dari kaca spion tengah, Tae Hee senyum-senyum memandang Ja Eun yang duduk di belakang.


Ayah berdiri di depan perkebunan mereka. Tak seperti terakhir kali ia bertemu dengannya. Ia menunggu kedatangan Baek In Ho dan ketika Baek In Ho datang, ia langsung menyambutnya dengan mata berbinar-binar.


Mereka berjabat tangan dan ayah langsung bertanya seberapa mabuknya sih ayah Ja Eun sampai ia tak sadar kalau ia tak menyetiri mobil? Pura-pura marah, ayah Ja Eun bertanya balik pada temannya, apa ini kata pertama yang diucapkan untuk orang yang namanya baru saja dibersihkan?

Ayah mengatakan hal itu kalau sebenarnya ia sangat menyesal telah mengucapkan hinaan yang keji pada temannya. Tapi Ayah Ja Eun tak mempermasalahkan lagi, ia bahkan meminta ayah untuk memeluknya.

Ayah :  “Kenapa?”


“Karena aku tak dapat memeluk kakak ipar, setidaknya aku harus memelukmu. Sehingga aku benar-benar percaya kalau hal ini benar-benar terjadi,” Ayah Ja Eun memeluk ayah erat. “Sekarang aku percaya kalau hal ini memang terjadi.”


Ayah membalas pelukan temannya, “Kau telah mengalami banyak masalah. Semoga kau selalu sehat dan berumur panjang.”


Ditemani Tae Shik dan Tae Pil, nenek menunggu di depan rumah. Begitu melihat ayah Ja Eun, nenek menghampirinya dan menjabat erat tangannya. Ia berulang kali minta maaf karena ia telah bersalah pada ayah Ja Eun.


Ayah Ja Eun menolaknya. Bukan salah nenek, ia yang bersalah. “Jika 26 tahun yang lalu saya berpikiran benar dan langsung mengakui kesalahan, kejadian ini pasti tak akan terjadi dan pelakunya sebenarnya akan langsung ketahuan.  Saya benar-benar menyesal, Bu, .. maafkan saya. “


Nenek meminta ayah Ja Eun untuk tak menyesalinya. Karena kenyataan kalau ayah Ja Eun bukanlah penjahat adalah sebuah anugrah bagi mereka terutama bagi Ja Eun dan Tae Hee.


Tae Shik dan Tae Pil maju dan memperkenalkan diri pada ayah Ja Eun. Ayah Ja Eun terkejut melihat mereka berdua, seperti Tae Hee, kedua putranya juga tampan. Ia memuji karena ayah yang pasti sangat bangga karena tak ada putranya yang mirip dengannya. Ganti ayah yang pura-pura marah mendengar pujian sekaligus ejekan temannya.


Tae Hee datang bersama ibu dan Ja Eun. Ja Eun langsung lari memeluk dan menangis di pundak ayahnya. Ayah Ja Eun membelai punggung Ja Eun, menenangkannya,


“Kau pasti sangat menderita. Apakah kau terluka? Apa ada yang sakit?” Masih memeluknya, Ja Eun menggeleng.


Ayah Ja Eun menyuruh putrinya untuk menemui nenek. Nenek yang sedari tadi memandangnya, merentangkan tangannya, “Kemarilah..”


Ja Eun pun memeluk nenek dan berkata kalau ia kangen pada nenek. Ikut menangis, nenek meminta maaf pada Ja Eun. Tapi Ja Eun malah berterima kasih karena nenek telah memaafkannya sebelumnya. Mereka berdua masih terisak membuat suasana haru tak terelakkan.


Ayah berbisik pada Tae Hee memujinya yang telah menderita sekian lama. Tak ketinggalan Tae Pil memeluk kakaknya, memberi dukungan. Begitu pula Tae Shik yang menggenggam tangannya.


Malam harinya saat makan malam, semuanya berkumpul dan tertawa kecuali ayah yang cemberut. Kenapa? Karena ibu sedang menceritakan bagaimana suaminya terjun ke sungai dan patah kaki untuk membuktikan rasa cinta padanya. Ayah menggerutu kalau ia tak patah kaki, tapi terkilir.


Hehe.. tetap saja.


Nenek menyuruh cucunya untuk memasang foto keluarga mereka. Tae Shik dan Tae Pil langsung bangkit dan memasang foto itu, walaupun Tae Shik mengingatkan kalau mereka harus membuat foto keluarga lagi karena sebentar lagi Mi Seok dan Ha Na akan masuk dalam foto keluarga.


Ja Eun kaget mendengar Mi Seok akan menikah dan menyelamatinya.  Semua orang mengagumi foto itu, Tae Bum melakukan toss dengan Soo Young karena mereka berdua tampak keren, tapi bagi ayah yang paling keren di matanya hanyala Park Bo Ja, istrinya. Semua orang tertawa mendengarnya.


Yang paling keren bagi Ja Eun? Tentu saja Tae Hee.


Aww.. so much loving eyes..


Di tengah suasana bahagia ini, nenek malah menangis. Ia merasa sangat bahagia sekarang dan jika nanti malam ia meninggal, ia tak akan menyesal.


Seperti saat melakukan foto keluarga, semua orang terlihat sedih mendengar ucapan nenek. Ibu meminta nenek untuk tak mengatakan itu lagi karena nenek akan melihat pernikahan Tae Shi, Tae Hee dan Tae Pil. Tae Shik bahkan mendoakan nenek tetap berumur panjang hingga dapat melihat pernikahan Gook Soo maupun Ha Na.


Nenek mengatakan kalau sampai pernikahan cicitnya, itu berarti ia terlalu serakah. Nenek akhirnya tersenyum dan meminta semuanya untuk bersulang.


Tae Hee dan Ja Eun pergi ke gudang dengan bergandengan tangan. Ja Eun mengkritik Tae Hee yang sekarang tampak jauh lebih kurus. Walaupun ia juga bersedih, ia masih tetap makan. Setengah marah, Ja Eun menuduh Tae Hee yang tak makan ataupun tidur saat menghadapi masalah.

 “Segalanya tentang dirimu sudah hebat. Tapi kebiasaan tak mau berbicara kalau sedang marah, tak mau makan, tak mau tidur.. semua kebiasaan burukmu itu harus segera dikoreksi..”
Tae Hee kembali menghentikan kata-kata Ja Eun.


Hmm.. ini juga salah satu kebiasaan buruk Tae Hee, nih. Eh, kebiasaan buruk bukan, ya?


Tae Hee mengeluarkan cincin tunangannya dan memanggil Ja Eun. Ja Eun yang kaget, sedikit berteriak, “Ya?” sehingga Tae Hee harus memanggil lagi. Kali ini Ja Eun menjawab Tae Hee dengan lebih pelan.

 “Apakah kau mau menerimaku lagi, pria pemarah ini?”
Ja Eun mengangguk dan Tae Hee mengembalikan cincin Ja Eun ke tempatnya lagi, di jari manisnya.

Ja Eun kemudian memanggil Tae Hee, “Polisi Hwang Tae Hee..”

Tae Hee menjawab panggilan Ja Eun dengan pelan, tapi Ja Eun memanggil Tae Hee lagi. Tae Hee tersenyum dan berkata lebih keras, “Ya!”

“Apakah kau menerimaku?”
Tae Hee mengangguk. Matanya tak pernah lepas dari Ja Eun yang menyelipkan cincin itu ke jari manisnya.


Aww.. so sweet..


Mereka berdua datang terlambat ke restoran. Semua saudara Tae Hee telah datang menunggunya. Tae Pil menggoda kalau bintang utama mereka telah hadir, dan.. oh! Bibir mereka kelihatan lebih bengkak dari sebelumnya.


Ja Eun panik membantahnya, namun mengatupkan bibirnya. Sementara Tae Hee hanya melotot mendengar keusilan saudaranya.  Tae Pil tertawa dan meminta mereka semua bersulang untuk Tae Hee dan Ja Eun.


Tae Bum juga kumat usilnya. Ia menunjuk pada wajah Tae Hee yang selalu tersenyum berbeda dengan beberapa saat yang lalu. Tae Shik pun menyadarinya. Sebelum ini wajah Tae Hee mirip zombie. Ja Eun menanyakan kebenarannya pada Tae Hee. Serta merta Tae Hee menolaknya.

Tae Bum menyuruh Tae Hee untuk berlatih berbohong lebih banyak lagi, karena kali ini ia gagal.


Tae Shik meminta Ja Eun untuk tak melepaskan Tae Hee lagi. Walaupun Ja Eun bisa hidup tanpa Tae Hee, tapi Tae Hee jelas tak dapat hidup tanpa Ja Eun. Ja Eun malu-malu menjawabnya,

 “Aku juga tak dapat hidup tanpanya.”
#Eaaaa….


Tae Hee tak dapat menyembunyikan senyumnya yang lebar. Sadar kalau mereka tak dapat menggoda Tae Hee lebih banyak lagi (karena Ja Eun tetap akan membela Tae Hee), Tae Bum mengajak mereka untuk bersulang saja.


Cheers..


Melihat semua saudaranya berpasangan dan berbahagia, Tae Pil menggumam kalau ia seharusnya juga membawa Yoo Eul.


Sontak  suasana meja langsung berubah. Tae Hee dan Ja Eun ingin tahu siapa yang dimaksud oleh Tae Pil, sementara yang lain kecuali Mi Seok langsung berwajah suram. Tae Pil menjawab kalau Yoo Eul adalah pacarnya.


Ja Eun langsung menyelamati Tae Pil, siapa Yoo Eul itu?


Tae Bum menjawab kalau Tae Hee pasti mengenal gadis itu. Pada Tae Pil ia berkata kalau mertuanya memberi restu itu karena sedang tidak berpikiran waras. Soo Young menambahkan kalau ibunya saat itu akan menjalani medical check up lanjutan sehingga tak memikirkan hal lainnya selain kesehatannya. Tae Shik pun juga merasa kalau restu itu tak murni sepenuhnya.

Tae Hee bertanya mengapa harus membawa-bawa mertua Tae Bum? Ia langsung menebak kalau yang dipacari oleh Tae Pil adalah tante Soo Young. Tae Pil menggerutu kalau Tae Hee benar-benar seorang detektif.


Tae Hee terbelalak menyadari apa dampak yang akan terjadi , tapi Ja Eun malah menyelamati Tae Pil karena ia mendengar kalau tante Soo Young katanya sangat cantik.


Tae Pil gembira karena Ja Eun berada di pihaknya. Ja Eun tak mengerti, kenapa hubungan Tae Pil dijadikan masalah? Setelah diberitahu tentang ketakwajaran yang akan dialami oleh Cha Gom jika mereka menikah -Cha gom harus memanggil apa, nenek atau tante- Ja Eun menyadari hubungan itu memang aneh.

“Tapi secara hukum mereka tak salah. Kurasa sangat menyedihkan jika ada pasangan yang dipaksa berpisah hanya karena masalah seperti ini. Bukan begitu, paman?”

Tae Pil memuji Ja Eun yang mengerti akan arti cinta. Ia menyuruh Tae Hee menjawab pertanyaan Ja Eun.


Tae Hee tentu saja akan menolak, tapi Ja Eun menatapnya dengan tatapan manis yang membujuk. Semua orang menunggu reaksi Tae Hee, pada siapa ia akan memihak?


Tae Hee mengiyakan dan tersenyum minta maaf pada Tae Bum dan Soo Young.

LOL. Sepertinya benar kata nenek, Ja Eun kelihatannya menyembunyikan ekor gumiho di balik mantelnya.


Sepanjang malam ibu tak dapat memejamkan mata. Tapi kali ini ibu tertawa-tawa sendiri, membuat ayah bertanya mengapa ibu belum tidur juga? Ibu berkata kalau ia merasa ini seperti mimpi dan meminta ayah untuk mencubitnya sekali lagi. Ayah tersenyum melihat ibu yang begitu bahagia.


Ia menyuruh ibu untuk kembali tidur, tapi mereka berdua malah sama-sama tertawa bahagia.


Keesokan harinya, Mi Seok membangunkan Soo Young untuk menyiapkan sarapan. Soo Young yang masih mengantuk mengikuti Mi Seok dengan malas-malasan.


Mi Seok mengatakan kalau ibu sepertinya belum bangun, maka tugas Soo Young sebagai menantulah yang membuatkan sarapan untuk keluarga. Ia menawarkan bantuan pada Soo Young. Ia akan membuat soup dan Soo Young akan menanak nasi dan makanan pendamping.


Tapi Soo Young benar-benar nol dalam memasak. Saat disuruh memotong ujung tauge, Soo Young mengambil gunting dan memotong ujungnya, yang mungkin bagi Soo Young, ujung adalah bawah kepala tauge. Mi Seok menyuruh Soo Young untuk menanak nasi saja. Tapi Soo young mengusulkan untuk membeli nasi instansaja, karena ia selalu menggunakan nasi instan.


Mi Seok yang frustasi, akhirnya menyuruh Soo Young untuk memotong labu saja. Walau Mi Seok harus menutup mata agar tak melihat potongan yang dibuat Soo Young karena.. serba besar dan tebal!


Sarapan pagi tersaji, dan ibu mengatakan kalau yang menyiapkan sarapan ini adalah buatan Soo Young dan Mi Seok. Dengan tersipu malu, Soo Young mengatakan kalau yang menyiapkan semuanya adalah Mi Seok, karena ia tak dapat memasak. Nenek memuji Mi Seok yang makanannya benar-benar enak khas restoran.


Tae Shik juga memuji masakan Mi Seok. Mereka juga sudah menentukan hari pernikahan, yaitu Sabtu pertama di bulan Maret. Ibu dan nenek senang mendengarnya. Nenek meminta Tae Hee untuk menentukan hari pernikahan mereka. Jika Tae Shik bulan Maret, bisakah Tae Hee menikahi Ja Eun bulan Mei?


Ibu mengatakan akan mepet sekali jika persiapan dilakukan hanya dalam waktu 2 bulan. Maka nenek pun mengalah, jadi Juni?


Ckckck.. nenek benar-benar tak sabaran nih..


Ayah mengingatkan kalau Tae Hee harus meminta restu dulu dari ayah Ja Eun, membuat hati nenek yang menggelembung, kempis lagi. Apakah ayah Ja Eun akan memberi restu? (karena kasus kemarin, walau kecil, kemungkinan ayah Ja Eun tak menyetujui tetap ada)


Ibu mencoba menenangkan nenek, tapi juga tak tahu bagaimana menenangkannya.


Akhirnya Tae Bum memecahkan keheningan dengan mengatakan kalau ia akan pindah rumah. Ibu bertanya apa ada masalah? Soo Young membantahnya, tak ada masalah yang terjadi. Tae Bum mengatakan kalau mereka ingin pindah karena ingin mandiri.


Nenek mengungkapkan kekhawatirannya kalau mereka pindah rumah karena Soo Young tak bisa memasak, tapi Soo Young mengatakan kalau ia akan belajar dan Tae Bum juga akan membantunya. Ibu pun tersenyum dan memuji mereka berdua.


Di rumah sakit ibu Soo Young sudah hampir mengurungkan niatnya, tapi namanya keburu dipanggil sehingga ia tak sempat kabur.


Ibupun menjalani pemeriksaan.


Dan ternyata benar kata ayah, ibu tak perlu mengkhawatirkan karena ternyata kondisi ibu sehat-sehat saja.



Ibu pun keluar ruang dokter dengan senyum bahagia. Tapi senyumnya memudar ketika ayah menyindir ibu yang sekarang berbeda dengan ibu yang menangis dan menulis surat perpisahan. Ayah sudah menemukannya?
Ayah melihat ibu meletakkan surat itu di sofa tadi pagi, dan terus terang ayah menangis membaca surat ibu.



Ayah mengeluarkan suratnya dan beberapa kalimat ia kutip, “Aku adalah pria paling keren di dunia ini dan aku adalah anugerah terindah yang pernah kau miliki? Kau seharusnya mengatakannya langsung padaku.”

Ibu buru-buru merebut surat itu, namun mendadak teringat sesuatu. Dimanakah Tae Bum sekarang?


Ayah baru saja memberitahu kabar baik ibu pada Soo Young yang ada di rumah bersama Tae Bum. Dan ayah langsung menebak kalau ibu pasti juga menulis surat untuk Tae Bum.


LOL.

Ibu langsung menyuruh ayah untuk segera pulang. Tae Bum tak boleh menemukan surat itu.


Tae Bum ternyata sedang bekerja di rumah dan ikut bahagia mendengar kabar dari Soo Young kalau kondisi ibu ternyata baik-baik saja. Ia mengusulkan kalau kabar kepindahan mereka lebih baik disampaikan hari ini karena mereka tak sempat memberitahukan pada mereka kemarin.

Soo Young setuju dan akan membuatkan makan siang untuk mereka.


Kalau kita sedang buru-buru, pasti perjalanan akan terasa lama. Begitu pula dengan ibu. Ibu menyuruh ayah untuk menyalip mobil depan dan pindah jalur. Ayah merasa ibu terlalu berlebihan. Ibu tak menulis surat dengan isi ‘aku menyayangimu’ atau ‘maafkan aku’, kan?

Ibu hanya diam tak menjawab, malah menyuruh ayah menyetir lebih cepat lagi.


Namun terlambat karena Tae Bum telah menemukannya di laci meja. Melihat ada namanya di amplop surat, ia pun membacanya,


“Menantu Hwang, ini aku, ibu mertuamu. Saat kau membaca surat ini, aku mungkin sedang melawan penyakitku. Sebenarnya aku ingin lebih dekat denganmu, tapi aku tak melihat kalau akhir hidupku sudah tiba jadi aku sangat menyesal.


Apakah kau tahu, sejak kapan aku menyukaimu? Pertama kali kau mengucapkan salam di rumah padaku, saat itulah aku mulai menyukaimu. Aku menyukai percaya dirimu yang sangat tinggi, dan aku suka saat kau berlutut demi Soo Young. Jika ada pria yang seperti ini, aku merasa aku dapat mempercayakan Soo Young pada pria itu.


Jadi aku memperlakukanmu seperti anakku sendiri dan ingin dekat denganmu. Tapi ternyata hal ini menyesakkanmu dan membuatmu terbebani. Aku menyesalinya dan minta maaf. Aku seharusnya mengerti perasaanmu tapi aku tak dapat memahaminya.


Aku sangat bersyukur kau ada di sisi Soo Young, jadi aku akan merasa tenang meninggalkannya.


Menantu Hwang, aku memintamu untuk menjaga Soo Young dan Cha Gom. Aku akan sangat berterima kasih jika kau juga sering mengunjungi ayah mertuamu. Sehat-sehatlah. Aku bersyukur memiliki menantu sepertimu. Aku akan mengingatmu selamanya.”


Tae Bum mengawasi Soo Young yang sedang memasak. Tapi Soo Young masih perlu banyak belajar. Jarinya terkena panas panci dan Tae Bum buru-buru menyelamatkannya. Ia mengajak Soo Young untuk berbicara di kamar.


Diam-diam ibu masuk ke rumah, dan senang ketika melihat rumah sepi. Namun ia menghentikan langkahnya karena mendengar suara Tae Bum di kamar.


Tae Bum mengatakan kalau sebaiknya niat pindah rumah mereka ditunda. Setelah Cha Gom lahir, sekitar setahun kemudian, niat itu akan mereka bicarakan lagi.


Soo Young heran dengan perasaan Tae Bum yang tiba-tiba berubah. Tae Bum mengatakan kalau kepindahan ini pasti akan sangat menyulitkan Soo Young, padahal masa-masa setelah kelahiran adalah masa-masa yang sangat penting bagi Soo Young dan si kecil. Dan ia juga ingin menabung untuk membeli tempat tinggal yang lebih besar dan lebih nyaman.

Soo Young sangat bangga mendengar kata-kata Tae Bum. Tapi ia merasa ada alasan ketiganya. Tae Bum menyebutkan alasan berikutnya karena ia ingin menghabiskan waktu bersama mertuanya. Soo Young terhenyak mendengarnya, “Ayah ibuku?”

 “Ya, aku ingin dekat dengan mereka. Jika kita pindah sekarang dan mengatakan akan mengunjungi mereka tiap akhir pekan, pasti lama-lama mereka akan terasa jauh. Jika kita tinggal di sini, aku ingin menjaga mereka seperti orang tuaku sendiri karena mereka adalah orang tua yang melahirkanmu.”

Soo Young memeluk suaminya dan mengatakan kalau Tae Bum adalah suami yang paling keren.    


Tapi Tae Bum meminta Soo Young untuk tak membebani ibunya dengan pekerjaan rumah tangga mereka. Ibu Soo Young sudah tak muda lagi, dan ia tak seharusnya bekerja keras karena tak baik baginya.


Ibu tersenyum mendengar kata-kata menantunya. Ia pun berjingkat-jingkat pergi meninggalkan rumah anaknya.


Aww.. mungkin ini adalah menguping yang paling sukses. Tak ada yang salah paham dan tak ada yang marah karenanya.

Mmmhh… mungkin juga tidak.


Ibu sedang memasak dengan Mi Seok dan mengatakan kalau ia tak pernah berkunjung ke rumah anaknya. Ia merasa sungkan karena Tae Bum tinggal di samping rumah mertuanya, sehingga jika nanti Tae Bum pindah, ia baru akan lebih sering mengunjungi  rumah anaknya lagi.


Mi Seok menyarankan ibu untuk mengunjungi rumah Tae Bum sekarang. Sedikit mengompori, Mi Seok mengatakan kalau sebenarnya tadi pagi Soo Young tak melakukan apa-apa saat menyiapkan sarapan. Ia bahkan tak dapat menanak nasi dan selalu membeli nasi instan.


Dengan nada tinggi, ibu membela Soo Young karena Soo Young bekerja, orang kan tak bisa sempurna. Tapi Mi Seok mengatakan iapun juga bekerja, tapi ia bisa memasak.

Sebenarnya Mi Seok tak mau menceritakan hal ini, tapi sebenarnya saat menyajikan sarapan Soo Young tak bisa berbuat apa-apa. Dan karena ibu bersikap seperti ini, maka Soo Young akan selamanya tak dapat memasak. Padahal sebentar lagi mereka akan pindah dan Cha Gom akan lahir. Jika pada saat itu ibu akan sering datang dan mengatakan ini itu pada Soo Young, keadaan tak akan berbeda dengan sekarang.

Ibu menyadari kebenaran ucapan Mi Seok, dan ia ingat kalau hari ini Tae Bum dan Soo Young sedang tak bekerja. Ia mengajak Mi Seok untuk mengunjungi mereka.


Dan.. mereka menyadari kalau rumah yang ditempati Tae Bum besaaarr… sekali. Mi Seok bahkan sedikit terpesona melihat rumah itu. Mendengar kekaguman Mi Seok, nada suara Ibu menjadi sedikit ketus ketika mengajaknya masuk.


Hmm.. saat itu nampaknya bukan saat yang tepat bagi ibu untuk mengunjungi Tae Bum. Karena yang menyambut kedatangan mereka bukanlah Tae Bum atau Soo Young tapi mertua Tae Bum. Ibu Soo Young mengatakan kalau Tae Bum dan Soo Young sedang pergi menonton panggung musikal dan ia kebetulan sedang di rumah mereka karena sedang menyelesaikan cucian. Ia mengajak mereka untuk masuk.


Betapa shocknya ibu dan Mi Seok melihat ibu Soo Young yang sedang melipat dan menata baju Tae Bum (bahkan celana dalamnya!). Seakan sudah melakukan ribuan kali, ibu Soo Young memasukkan cucian bersih itu di dalam kamar dan bertanya tentang siapakah wanita yang bersama ibu?


Ibu menjelaskan kalau Mi Seok adalah calon menantunya yang paling besar yang akan menikah bulan Maret. Mereka pun berkenalan dan Mi Seok memberikan bungkusan berisi kimchi yang sedianya untuk Tae Bum dan Soo Young. Ibu Soo Young mengatakan kalau kimchi yang ia buat masih cukup banyak, tapi ia akan memastikan untuk memberikan kimchi ibu untuk makanan mereka.


Ia membawa bungkusan kimchi ke dapur, dan ibu pun kembali shock. Besannya juga memasak untuk anak dan menantunya!


Ibu Soo Young yang tak menyadari perasaan ibu yang sudah mulai memanas, mengatakan kalau ia mungkin akan membelikan kulkas kimchi untuk anaknya. (biasanya orang Korea menyimpan kimchi terpisah di kulkas khusus yang mempunyai laci banyak)


Ibu menjawab kalau sebenarnya hal itu tak perlu dilakukan. Bukankah Tae Bum dan Soo Young akan pindah? Ia nanti yang akan membelikan untuk mereka.

Tapi dengan senyum lebar Ibu Soo Young berkata kalau mungkin ibu belum mendengar dari Tae Bum, karena Tae Bum menyerah dan memutuskan untuk tak pindah.


Ibu terpana mendengar pujian ibu Soo Young karena telah membesarkan putra yang sangat baik. Kata Tae Bum ia akan merawat  orang tua Soo Young dengan baik seperti orang tuanya sendiri.

Mata ibu semakin mendelik mendengar lanjutannya,


Ibu Soo Young: “Aku tak tahu bagaimana harus berterima kasih. Pantas saja kalau orang-orang ingin memiliki anak laki. Dalam hatiku yang paling dalam, aku sangat berterima kasih padamu. Kau memiliki 4 putra, dan telah mengirimkan satu putramu untuk kami. Aku akan memperlakukan menantu Hwang secara tulus lebih dari seorang anak dan akan menjaganya seumur hidupku. Kami sangat berterima kasih karena telah membesarkan seorang putra yang hebat dan mengirimkannya pada kami. Kami sangat berterima kasih.”


Ibu memastikan sekali lagi, apakah Tae Bum anaknya benar-benar mengatakannya? Ibu Soo Young mengangguk. “Jika Tae Bum mengatakan di depanku, mungkin tak akan terdengar tulus. Tapi Tae Bum mengatakannya tidak didepanku, ia sedang berbicara pada Soo Young. Aku kebetulan mendengarnya, maka dari itu aku benar-benar sangat tersentuh.”


Ibu Soo Young memberikan bingkisan untuk nenek, sebuah ginseng yang sudah beruntuk menjaga kesehatan nenek. Mereka mendengar nenek baru saja keluar dari rumah sakit, maka mereka mencari obat ini dengan usaha yang keras. Mula-mula ibu menolak pemberian itu. Tapi Ibu Soo Young meminta ibu menerima bingkisan ini, karena ini sebagai bentuk terima kasihnya pada ibu.


Haduuh… ada yang kesal banget nih.. Mi Seok hanya dapat menatap ibu dengan khawatir.


Di luar rumah, ibu ingin menenangkan diri dan menyuruh Mi Seok untuk pergi duluan, karena bukankah Mi Seok berencana untuk membeli perlengakapan rumah tangga? Mi Seok mencoba berpihak pada ibu dengan mengatakan kalau ibu Soo Young sudah kelewatan.


Ibu pun naik darah mendengarnya, “Apa kau ingin menyiramkan minyak ke dalam rumah yang sudah terbakar?”

LOL.


Begitu sampai di rumah, ia langsung menenangkan diri dengan meminum segelas air putih. Setelah itu ia menelepon Tae Bum dan menyalak, “Setelah pulang kerja kau harus pulang ke rumah. Ada yang ingin aku katakan!”


Hari ini sepertinya hari yang membahagiakan bagi ibu Soo Young. Suaminya pun melihatnya dan bertanya alasan ibu yang tak biasanya bahagia seperti ini. Ibu tak menjawab malah mengatakan kalau semakin dirasa-rasa, ia semakin menyukai menantunya.


Ayah pun menarik ibu ke dunia nyata. Lantas bagaimana dengan Yoo Eul? Mula-mula ibu masih tak mengerti maksud ayah, tapi kemudian..


Ayah Soo Young: “Tuh, kan! Sudah kubilang, kau pasti akan menyesal esok harinya.”


Ibu malah menyalahkan ayah yang tak menghentikannya saat ia memberikan ijin yang seharusnya tak mungkin terjadi. Kebetulan Yoo Eul muncul karena hendak pergi menemui Tae Pil. Ibu langsung bertanya apakah Yoo Eul sudah mendapat restu dari orang tua Tae Pil? Yoo Eul menjawab kalau mereka belum tahu.


Ibu langsung memarahinya karena belum meminta restu dari mereka, malah sudah meminta restu darinya dulu. Ia menyuruh Yoo Eul untuk meminta restu pada orang tua Tae Pil hari ini. Jika orang tua Tae Pil setuju, ia juga akan tetap setuju. Jika mereka menentang, ia juga akan menentangnya.


Wihhh.. si ibu ini, begitu kesehatannya kembali, kepintarannya (a.k.a akal licik a.k.a ngeles.com-nya) juga ikut kembali.


Yoo Eul bengong  mendengar permintaan kakaknya sementara ayah hanya bisa men-ckckck atas kelakuan istrinya.


Ja Eun dan Tae Hee makan siang di restoran tempat mereka putus dulu. Tae Hee ingat kalau saat itu Ja Eun tak menikmati hidangannya, dan kali ini ia ingin Ja Eun makan dengan puas.

Aww.. seperti ingin menggantikan kenangan buruk dengan kenangan indah? So Sweet..

Ja Eun bertanya apakah ia harus makan steak juga? Karena ia ingin makan pasta hari ini.

Tentu saja boleh.


Saat makanan sudah dihidangkan, Tae Hee bertanya kapan saat yang tepat untuk menemui ayah Ja Eun? Bagaimana dengan akhir minggu ini? Ja Eun menyetujui usul tersebut dan menenangkan Tae Hee agar tak perlu mencemaskan persetujuan ayahnya. Ayah kan sangat menyukainya.


Tae Hee mengatakan kalau kakaknya menikah di awal bulan Maret. Ia mengusulkan bagaimana jika mereka menikah di awal bulan Mei.

Ja Eun hanya terdiam.

Atau mereka menikah bersamaan dengan Tae Shik saja?

Ja Eun tetap terdiam.

Menyadari kalau Ja Eun tak menyukai idenya, ia pun mengalah dan menyarankan kalau mereka menikah seperti yang mereka rencanakan sebelumnya. Di musim gugur.

“Harus, ya? Kenapa tidak kita lakukan bulan April saja?”
Dengan polos, Tae Hee pun mengutip kata-kata ibunya yang mengatakan kalau persiapan pernikahan sebaiknya dilakukan 2 bulan sebelumnya (makanya ia mengusulkan untuk menikah bersama dengan Tae Shik).

Ja Eun tampak kecewa. Ia akhirnya menyetujui kalau pernikahan mereka dilakukan di bulan Mei saja.


Kekecewaan itu tertangkap oleh Tae Hee yang kemudian bertanya, “Apakah kau ingin buru-buru? Apa aku perlu mengatakan pada ibu untuk memajukan di bulan April?”

Ketauan!

“Ah, nggak. Aku hanya bertanya karena ingin tahu, bukannya aku ingin terburu-buru atau apa.”

Tae Hee tersenyum  melihat Ja Eun yang jaim, “Aku juga ingin buru-buru.”

“Yah.. kalau kau benar-benar menginginkannya, ayo kita katakan pada bibi nanti.”
Aww.. ada yang pengen kawin!


Setelah makan siang, Tae Hee mengantarkan Ja Eun ke kantor. Walaupun Ja Eun melarang Tae Hee untuk keluar dari mobil, karena cuaca sangat dingin, Tae Hee tetap keluar. Ja Eun menyuruhnya untuk segera masuk mobil lagi dan segera pergi ke kantor. Sambil memperbaiki kerah baju Ja Eun (yang, btw, tak tampak berantakan), ia menyuruh Ja Eun untuk masuk gedung, baru ia akan pergi.


Akhirnya Ja Eun mengalah. Sambil berjalan mundur, ia melambaikan tangan dan masuk ke gedung.


Tae Hee sudah hampir membuka pintu mobil, namun tiba-tiba terhenti. Dan sesaat kemudian, ia melesat lari mengejar Ja Eun.


Tapi seperti drama-drama di TV, ia ketinggalan sepersekian detik karena pintu lift keburu tertutup. Tae Hee pun tak menyerah dan mengejar Ja Eun dengan menaiki tangga darurat.


Sementara Ja Eun tak memperhatikan sekeliling dan terus mengingat Tae Hee melalui cincin yang tersemat di jari dan foto-foto yang tersimpan di handphonenya.


Jadi betapa kagetnya ia melihat orang yang sedang ia pikirkan muncul di hadapannya dan terengah-engah karena kehabisan nafas. Apa yang sedang Tae Hee lakukan di sini?


“Aku hanya ingin hidup lebih ekspresif lagi,” kata Tae Hee sambil masuk ke dalam lift, menarik Ja Eun yang masih kaget dan menciumnya.


Pintu lift pun tertutup. Hmmm… liftnya naik, turun atau berhenti di tempat ya?


Calon keluarga baru mulai memilih-milih barang yang akan mereka gunakan di rumah baru mereka. Dan Mi Seok memilih lemari es yang sama dengan milik Soo Young. Ia tak mempedulikan Tae Shik yang terbelalak melihat harganya. Ia (Mi Seok) sanggup membelinya, kok. Ia juga memilih TV yang paling canggih dan tempat tidur buatan luar negeri.


Tae Shik akhirnya mengatakan cukup! pada Mi Seok. Ia merasa Mi Seok sudah berlebihan dan memintanya untuk membeli barang-barang yang sesuai dengan yang keluarga mereka perlukan.


Mi Seok tetap bersikeras membeli barang-barang itu. Ia ingin seperti  Soo Young.  Dan karena ia tak sekaya Soo Young dan orang tuanya sudah meninggal, ia hanya dapat melakukan ini. Jika ibunya masih hidup, ibunya akan membelikan barang-barang yang lebih bagus dari ini. Jadi ia melakukan ini sebagai ganti ibunya yang melakukannya.

Oh my..

“Jika ibumu sekarang masih hidup, aku juga akan tetap mengatakan ini. Mereka tak perlu membelikan barang-barang semahal ini. Dengan mereka melahirkan dan membesarkan anaknya dengan amat sangat baik, dan mengijinkannya untuk menikah dengan seorang pria seperti diriku, aku sudah sangat berterima kasih. Jadi jangan lakukan ini lagi. Tahukah kau? Dengan memilikimu saja sudah sangat berharga untukku.”
Oh my..


Tae Shik benar-benar sangat mencintai Mi Seok. Dan ia sangat terpesona melihat Mi Seok yang mencoba gaun pengantinnya. Gaunnya pun juga tampak cantik dengan ekor gaun yang sangat panjang.


Mi Seok meminta pendapat jujur  dari yang lain, bagaimana penampilannya. Gook Soo dan Ha Na sudah mengatakan cantik, Tae Shik pun begitu. Namun Mi Seok tak percaya diri. Benarkah ia tampak cantik dan tak kelihatan tua?


Tae Shik meyakinkannya kalau ia amat sangat cantik. Seperti dalam film-film romantis lainnya ia mengangkat Mi Seok dan berputar-putar untuk mengungkapkan kekagumannya.


Berputar-putar.. hingga mereka terlilit oleh ekor gaun Mi Seok yang panjang .. dan


.. dan kedua calon mempelai pun terjatuh.


Jika pandangan dapat mengeluarkan belati, Tae Shik sudah menjadi mayat sekarang.


Seluruh anggota keluarga hanya dapat terpana melihat tangan Mi Seok yang sekarang dihiasi oleh gips. Dengan sungkan, Tae Shik mengatakan kalau ia terlalu antusias dengan Mi Seok yang memakai gaun pengantin dan pergelangan tangannya terkilir.


Nenek mengkhawatirkan pernikahan mereka yang sudah tinggal menghitung hari. Bisakah Mi Seok melakukannya? Mi Seok mengatakan tidak –ia tak mau difoto dengan tangan terbalut gips, karena foto pernikahan itu untuk selamanya-, tapi Tae Shik mengatakan bisa karena yang sakit adalah tangannya dan bukannya kaki.

Heheh.. kata pria yang tak tahu fashion dan yang menyebabkan tangan calon istrinya terkilir..

Mi Seok melotot padanya hingga Tae Shik pun mundur dan mengatakan kalau mereka akan mengundurkan jadwal pernikahan mereka.


Kalau keluarga Cha memiliki ibu yang amat pintar, begitu pula keluarga Hwang. Nenek langsung menyambar kesempatan ini dan mengatakan kalau mereka tak perlu mengundurkan jadwal pernikahan. Yang diganti pengantinnya saja.


Tae Hee dan Ja Eun berpandangan penuh arti, dan mengatakan kalau mereka akan memutuskan setelah menemui ayah Ja Eun. Nenek menyuruh mereka untuk cepat melakukannya karena semua persiapan pernikahan sudah siap sedia.


Tae Shik juga menyuruh Tae Hee untuk melakukannya karena ia dan Mi Seok tak masalah kalau pernikahan ini dilakukan oleh mereka dulu. Tae Shik pun bertanya pada Tae Bum, kok tumben Tae Bum dan Soo Young pulang ke rumah lagi?


Tae Bum pun juga ingin tahu, karena ia ditelepon ibunya untuk pulang. Apa yang ingin ibu bicarakan?


Semua mata memandang ibu, membuat ibu ragu-ragu. Ia memanggil Tae Bum, tapi tak ia lanjutkan.
Kedua kalinya ia memanggil, tetap tak terucap sebuah kata. Sampai yang ketiga kali, ibu tetap tak melanjutkan kata-katanya.


Keragu-raguan ibu membuat nenek kesal dan menyuruhnya untuk segera mengatakan apa yang dipikirkan.

“Ibu! Untuk sekali ini bisa tidak Ibu diam? Sebentar lagi umurku 60 tahun, dan memiliki 3 orang menantu. Jadi biarkan aku bicara!”


Nenek (dan yang lain) terkejut mendengar kata-kata ibu yang pedas. Apakah sekarang karena ibu akan memiliki 3 menantu jadi ia bisa berkata seenaknya pada mertuanya?


Tak seperti biasanya, ibu tak diam mendengar nenek marah, malah balik menyentak kalau ia sebenarnya tak ingin menyentak balik tapi nenek terus-terusan menyela dan itu membuatnya marah.


Whoaaa… nenek sangat kaget mendengar kata-kata menantunya bahkan ayah harus menghardiknya agar tak berbicara sekasar itu pada mertuanya.


Belum sempat ibu berkata-kata lagi, ada yang menyapa dari pintu depan. Tae Pil ternyata datang, dengan seorang wanita.


Semua saudara Tae Pil dan pasangannya terperanjat melihat kedatangan Yoo Eul. Nenek yang merasa pernah melihat Yoo Eul bertanya siapakah wanita yang dibawa Tae Pil? Ayah mengatakan kalau Yoo Eul adalah tante Soo Young.


Tapi Tae Pil mengatakan kalau Yoo Eul adalah pacarnya. Yoo Eul pun memperkenalkan diri.


Ayah, ibu dan nenek kaget mendengarnya. Tapi tak lama karena kemudian ibu tertawa setengah histeris.


Semua orang saling menatap cemas melihat perubahan sikap ibu.


Komentar :

Kalau ibu marah-marah karena mereka berlaku nakal (atau tak sesuai yang ia inginkan)? Sudah biasa. Semuanya sudah pernah mengalaminya. Bahkan Ja Eun yang saat itu masih baru pacaran dengan Tae Hee pun merasakannya. Dan ia merasa bahagia saat dimarahi oleh ibu. 

Kalau ibu diam karena marah? Anak-anaknya pun pernah mengalaminya. Saat itu mereka harus langsung meminta maaf karenanya.

Kalau ibu tertawa histeris seperti itu? Pertama kalinya terjadi. Pantas saja semua merasa cemas karenanya.  


Selanjutnya : Sinopsis Ojakgyo Brothers Epside 57

9 comments :

  1. Mba Dee, makasi buat sinopsis eps 56 nya
    akhirnya yang ditunggu tunggu dateng juga
    happy weekend ya mba
    fighting !!!

    ReplyDelete
  2. heheh,
    episod 56 daebak dari awal sampe akhir..

    scene terakhir kalo kenyataan emg shocking..
    tp ngeliat ekspresi Ojak family, priceless!

    sukses dibikin LOL!

    ReplyDelete
  3. huaaaaa,,, tinggal 2 episode lg. bener2 nda sbar pengen sgera mmbacanya. mkasih buat sinopnya...
    cayo!!!

    ReplyDelete
  4. oahhh...tambah seru aja..
    semangat mba dee buat lanjutin sinopsis'a ^^

    ReplyDelete
  5. pgi2 bka blog mbak Dee,seneng deh udah da sinopsis OB ep 56,ktawa2 sendiri...super LOL pkoknya,ayo mbak ditunggu yg 2 ep lgi..^_^

    ReplyDelete
  6. tinggal 2 ep lg semagat mbak dee ....
    seneng akhirnya nanti liat ja eun dan tae hee menikah...
    :)

    ReplyDelete
  7. pengantinnya diganti kasian mi seok sama Tae Shik kan udah pada tua, apalagi tae shik dilangkah 2 kali... tapi end nya happy yachh...

    ReplyDelete
  8. @all : thank you. Tinggal posting satu kali lagi, ya.. :)

    ReplyDelete