February 18, 2012

Sinopsis Ojakgyo Brothers Episode 55


Officer Hwang Tae Hee? Awesome!

And handsome, of course .. :)

Sinopsis Ojakgyo Brothers Episode 55



Tae Hee dan ayah Ja Eun menunggu kedatangan Hong Man Shik. Walau begitu, ayah Ja Eun masih tak percaya kalau supirnya melakukan hal itu. Tae Hee menjelaskan alasannya, karena Lee Ki Chul menyogoknya dengan membayari biaya operasi ibunya.


Hong Man Shik akhirnya muncul, dan mereka menghadangnya. Di dalam kamar Hong Man Shik, Tae Hee menunjukkan foto dimana Lee Ki Chul memakai jaket putih dan berkata kalau ada saksi yang mengatakan pelaku tabrak larinya berbaju putih.


Ia menjelaskan kalau masa hukum kasus ini telah berakhir. Jadi siapapun pelakunya tak akan dapat dipenjara. Hanya saja mereka membutuhkan kebenaran. Karena kasus ini, Baek In Ho, Ja Eun dan keluarganya terluka karenanya. Baek In Ho menjadi penjahat, dan Ja Eun pergi meninggalkan Seoul.

Tae Hee membujuk Hong Man Shik. Sebelumnya ia berani memberikan video untuk membongkar kasus suap yang akhirnya membersihkan nama Ja Eun. Dan kali ini, Hong Man Shik diharapkan memiliki keberanian untuk mengatakan siapa yang menyetir pada malam itu. Tanpa kebenaran yang muncul dari mulutnya, banyak orang akan merasa hidupunya seperti di neraka. Benarkah yang menyetir adalah Lee Ki Chul?


Hong Man Shik tetap teguh mengatakan kalau yang menyetir pada malam itu ada di hadapannya. Yaitu Baek In Ho.


Tae Hee mengepalkan tangannya, marah. “Sampai kapan kau akan tetap berbohong? Beginikah caramu membalas orang yang telah mempekerjakanmu selama 30 tahun? Lihatlah foto ini baik-baik! Siapa yang memakai jaket putih saat itu?”


Hong Man Shik tetap mengatakan Baek In Ho. Ayah Ja Eun pasrah dan meminta Tae Hee untuk menghentikan interogasinya.


Di luar penginapan, ayah Ja Eun berterima kasih pada Tae Hee tapi ia minta Tae Hee tak memaksa diri dan melupakan Ja Eun. Mulailah membuka lembaran baru. Mungkin ini yang diinginkan oleh Ja Eun, karena itu ia meninggalkan Seoul.


Tae Hee tak memberi jawaban apapun. Tapi dari pandangannya, ia tak berpikiran sama dengan ayah Ja Eun.


Hong Man Shik masih shock dengan kedatangan Tae Hee yang membawa bukti baru. Kebetulah Lee Ki Chul meneleponnya dan ia melaporkan kalau Tae Hee menemukan foto 26 tahun yang lalu.


Foto itu juga Tae Hee tunjukkan pada Dong Min. Dong Min terkejut melihat bukti baru yang sangat jelas ini.


“Kepala Polisi memakai jaket putih,” kata Dong Min yang diiyakan oleh Tae Hee. “Berarti Kepala Polisi yang menyetir, dan seperti tebakanmu, bertukar tempat dengan Baek In Ho yang sedang mabuk.”

“Dan Hong Man Shik menerima uang untuk operasi ibunya dan gantinya ia disuruh diam,” kata Tae Hee menambahkan.

“Berarti ia disogok,” Dong Min menyimpulkan.

“Tapi hal ini belum 100% benar, karena itu kita butuh pengakuan dari Hong Man Shik juga bukti terkait. Lee Ki Chul membayar Hong Man Shik, jadi pasti ada bukti yang bisa kita dapatkan dari sana,” Tae Hee kembali membuat dugaan yang langsung disetujui oleh Dong Min. “Walaupun sudah terjadi 26 tahun yang lalu, pasti ada bukti yang dapat ditemukan walaupun tak banyak. Coba telusuri uang yang dimiliki rekening Hong Man Shik dan rekam medis dari rumah sakit.”


Dong Min berjanji akan melakukannya. Tae Hee juga menanyakan tentang kepulangan Profesor Seo esok hari. Dong Min malah mengkhawatirkan luka di pelipis Tae Hee. Tae Hee tak mempermasalahkan luka kecil itu. Ia malah ingin tahu bagaimana menggunakan USB yang ia miliki untuk menyelesaikan kasus Lee Ki Chul.


Ja Eun disibukkan dengan kegiatan mengasuh anak-anak. Ia sedang membasuh wajah seorang gadis kecil ketika salah satu anak memberitahukannya kalau ada wanita yang mencarinya.


Betapa kagetnya Ja Eun melihat ibu berdiri di hadapannya dengan senyum lebar dan berkata, “Kau pikir aku tak dapat menemukanmu?”


Ja Eun memeluk ibu dengan gembira. Ibu memuji Ja Eun yang sekarang tampak lebih cerah dan ceria. Anak-anak ingin tahu, siapa bibi yang ada di hadapan mereka. Apakah ibunya kak Ja Eun?


Dengan senyum lebar, ibu mengatakan kalau ia memang ibunya dan menanyakan kemiripan mereka. Anak-anak mengakui kemiripan mereka, walaupun tinggi mereka tak mirip. Ibu tertawa mendengar ungkapan polos anak-anak itu.


Di kamar, Ibu bertanya apakah Ja Eun tak percaya dengan berita yang ia bawa? Percayalah, karena nenek telah memaafkan. Ia tak menyalahkan anak-anak karena mereka tak menanggung dosa. Ibu menggengam tangan Ja Eun dan mengatakan kalau Ja Eun pasti menderita selama ini. Jadi sekarang lebih baik mereka lekas pergi agar bisa kembali dengan bis yang terakhir.


Ja Eun menggeleng dan menarik tangannya. Ia minta maaf tapi ia tak dapat menerimanya. Ia sangat bersyukur, sangat sangat bersyukur yang bahkan tak dapat ia ungkapkan lewat kata-kata. Namun karena itu pula ia tak dapat menerima lebih banyaklagi kebaikan hati nenek.

Untuk sementara waktu, ia akan tinggal di panti asuhan ini. Karena ia bersama dengan anak-anak, ia dapat melupakan kesusahan yang ia alami dan tertawa bersama anak-anak. Ia tak tertawa karena ia bahagia. Ia sekarang mengerti ungkapan tersenyumlah maka kau akan merasa bahagia.


Ibu tak memaksa Ja Eun. Tapi karena ia sudah berada di panti asuhan ini, ia juga ingin tinggal lebih lama. Sekian lama berhadapan dengan pria-pria Hwang, hatinya menjadi lebih ceria saat melihat anak-anak ini.


Tentu saja Ja Eun sangat senang. Bisakah ibu melakukan hal ini? Bolehkah?


"Tentu saja boleh", kata ibu. "Bukankah kau adalah putriku? Siapa yang dapat melarang seorang ibu yang ingin tinggal bersama putrinya? Kau kan mendengar tadi kalau anak-anak mengatakan kalau kau mirip denganku."


Malam harinya, di meja makan nenek berkata pada Tae Hee, “Menikahlah dengan Ja Eun. Pergilah dan bawalah pulang Ja Eun.”


Tae Hee, Tae Shik dan Tae Pil terkejut mendengar perintah nenek. Untuk sesaat mereka tak dapat berkata-kata, hanya berpandang-pandangan.


Akhirnya Tae Pil-lah yang pertama kali mengeluarkan suara. Ia memanggil nenek, namun nenek langsung menyela, “Kenapa? Apa kau tak suka dengan keputusanku?” Tae Pil buru-buru menggeleng.


“Kecuali dengan Ja Eun, kau pasti tak mau menikah dengan siapapun. Jadi jika aku ingin cucuku menikah, tentu pemecahannya adalah aku yang mengalah.” Nenek berkata pada Tae Hee yang menatapnya dengan haru. “Aku belum bisa mengatakan kalau aku telah memaafkannya. Tapi dengan hati gembira aku memberikan restu padamu. Aku ingin melihat cucuku bahagia, agar aku akan memiliki alasan untuk hidup.”

Nenek menghela nafas dan mengatakan kalau ia melakukan ini juga untuk Ja Eun. Ia tak mau Ja Eun menanggung beban ini seumur hidupnya. Dengan sedikit bercanda, nenek mengatakan kalau sepertinya Ja Eun benar-benar memiliki ekor gumiho karena hampir semua orang yang ditemui akan menyukainya.


Tae Hee berkali-kali berterima kasih pada nenek dan ayah. Ayah menepuk kepala Tae Hee main-main, mengatakan kalau Tae Hee pasti menderita selama ini dan pasti sangat membencinya. Tae Hee menggeleng dan mengatakan kalau ia tak membenci mereka.

Tae Shik dan Tae Pil juga berterima kasih pada kebesaran hati orang tua mereka. Dengan senyum lebar mereka menyelamati Tae Hee dan memuji kalau nenek memang  yang paling hebat. Ayah menyuruh Tae Hee segera pergi menjemput Ja Eun agar ia dapat tidur dengan tenang. Ibu mereka sudah ada di sana.


Ayah mendapat telepon dari ibu yang mengabarkan kalau Ja Eun berterima kasih tapi ia tak dapat menerima kebaikan hati nenek. Nenek menghela nafas sudah menduga Ja Eun akan melakukannya karena hatinya sangat baik. Ayah mengatakan kalau ibu akan tinggal di sana beberapa hari lagi untuk meyakinkan Ja Eun.


Tae Shik dan Tae Pil mengikuti Tae Hee yang tak mau buru-buru pergi ke tempat Ja Eun. Apa yang Tae Hee tunggu sekarang? Ayo pergi jemput Ja Eun. Tapi Tae Hee tak mau karena sekarang bukan waktu yang tepat. Ia malah harus pergi ke kantor karena ada kasus yang harus ia selesaikan.

Tae Shik tersenyum melihat kelakuan yang Tae Hee banget namun Tae Pil bingung. Apa mungkin luka di pelipis Tae Hee sebenarnya cukup parah sehingga membuatnya tak dapat berpikir lurus.


Ja Eun dan ibu melalui malam dengan minum-minum. Ibu senang mereka dapat melakukan ini lagi, dan Ja Eun mengenang pertama kali mereka melakukannya adalah di malam pernikahan Tae Bum.


Tiba-tiba ibu bertanya mengapa Ja Eun menyukai Tae Hee. Ia sudah tahu alasan Tae Hee menyukai Ja Eun tapi ia belum tahu alasan Ja Eun.


“Bagiku, setiap kali aku melihat paman, aku selalu ingin memeluknya. Ia tak banyak bicara juga tak pernah menunjukkan perasaannya. Tapi aku dapat merasakannya, kalau paman sekarang sedang marah, atau sedang gembira, atau sedang mengalami masa-masa sulit. 
Seperti ketika mau pulang sekolah, tapi turun hujan. Menunggu untuk dijemput tapi tak ada seorangpun yang menjemput. Paman juga seperti itu. Selama ini ia  sepertinya menunggu ada yang menjemputnya, walaupun selama itu pula ia telah tumbuh dengan sangat baik. 
Karena itulah aku ingin terus memeluknya dan aku ingin membuatnya selalu tertawa. Kalau ia tersenyum, sepertinya hatiku seperti ada popcorn yang meletus dan mengisi hatiku. Rasanya seperti lampu-lampu di pohon natal yang menyala bersamaan. Membuatku merasa gugup sekaligus bahagia.”

Ja Eun menebak ibu pasti merinding geli mendengar kata-katanya yang seperti raja gombal, tapi ibu menggeleng. Ia dapat mengerti perasaan Ja Eun karena ia dulunya juga seperti Ja Eun. Ia juga memiliki asmara yang berapi-api. Ia dulu seperti Ja Eun dan paman adalah pangerannya.

Ia kemudian menceritakan kalau dulu nenek tak menyetujui pernikahannya. Dan ayah yang tak mau hidup jika tak menikahinya mengancam untuk bunuh diri dan ia pun melompat ke sungai di depan mata kepala nenek.


Mata Ja Eun membulat, bertanya benarkah ayah pernah melakukannya?

Hehe.. kelihatannya kisah cinta Ja Eun-Tae Hee kurang seru dibandingkan kisah cinta ayah ibu.


Ibu membenarkan kalau saat itu kisah cinta mereka sangat membara. Tapi sekarang karena mereka telah tua, perasaan itu sepertinya mulai menguap. Tapi Ja Eun membantahnya. Ia dapat merasakan kalau cinta ayah hanya untuk ibu.

Ibu mengatakan kalau semasa muda ia juga seperti Ja Eun, memiliki mimpi dan ambisi. Ia juga memiliki cinta yang ingin ia pertahankan setengah mati. Tapi setelah menikah rasanya semua mulai menghilang. Mencukupi makanan sehari-hari menjadi lebih penting dari cinta.

Jika Ja Eun tak mau kembali, ia tak akan memaksa. Karena cinta bukan segalanya. Hidup sendirian juga tak masalah. Karena suatu hari cinta yang berapi-api akan mendingin juga. Ibaratnya manusia salju yang melihat salju di sekitarnya akhirnya mengalir ke sungai. Begitu pula cinta yang ia rasakan, semuanya mengalir pada anak-anaknya.


Ibu sepertinya sudah mabuk, karena omongannya mulai melantur. Ia pun menyadarinya. Bukankah ia datang ke sini untuk meyakinkan Ja Eun untuk pulang? Ia membatalkan semua kata-katanya, dan menyuruh Ja Eun memutuskan yang terbaik baginya, dan ia akan mendukung keputusan Ja Eun.

“Karena aku bukanlah ibunya Tae Hee, tapi ibunya Ja Eun.”
Mendengar kata-kata ibu, Ja Eun tertawa dan mereka kembali minum.


Walaupun Tae Hee tak mau menjemput dan Ja Eun tak mau pulang, tapi mereka berdua tetap memikirkan satu sama lain. Di kantor Tae Hee yang sedang bekerja, teringat pada Ja Eun dan menatap cincin pertunangan mereka yang selalu ia bawa.


Begitu pula Ja Eun yang duduk di kegelapan, dengan ibu yang telah terlelap di tempat tidur. Ia terus mengingat Tae Hee melalui bebek Tae Hee yang selalu ia bawa.


Akhirnya Gook Soo memberi jawaban pada ayahnya. Ia memperbolehkan ayahnya menikah lagi, karena toh ayah ibunya telah berpisah bertahun-tahun yang lalu. Tae Shik sangat gembira mendengarnya. Ia memeluk Gook Soo dan berterima kasih padanya. Gook Soo tersenyum merasakan kebahagiaan ayahnya.


Tae Shik memberitahukan keputusan Gook Soo ini pada Mi Seok. Walaupun senang, Mi Seok menyalahkan Tae Shik yang tak memberitahukannya kalau selama ini Gook Soo belum merestui mereka. Ia merasa tak enak karena dapat merasakan kegundahan Gook Soo. Selama ini anak itu selalu mengira ibunya masih hidup di Filipina.


Mi Seok pun berencana memasak makanan Filipina. Ia mencari resepnya di internet dan mulai memasak  sesuai resep.


Setelah matang, ia memanggil Gook Soo. Pada Gook Soo, ia mengatakan kalau ia sedang mencoba memasak makanan Filipina dan meminta pendapat jujurnya. Menurut Gook Soo, makanan Mi Seok sangat enak sekali.


Mi Seok senang mendengarnya. Lain kali ia akan memasakkan makanan lain untuknya. Ia bertanya apa makanan yang sering dimasakkan ibu untuknya? Mi Seok buru-buru mengatakan kalau ia minta maaf karena telah merobekkan fotonya, tapi Gook Soo menenangkannya karena ia telah memperbaiki foto tersebut.


Gook Soo mengatakan kalau yang ia sukai adalah pansit, yang jika di Korea disebut chapchae –sejenis mi korea-


Tae Bum dan Soo Young sarapan di rumah orang tuanya. Mereka memperhatikan kalau ibu hanya makan bubur, dan bertanya apa ibu sakit? Ibu mengatakan kalau ia hanya kurang enak badan dan ayah menenangkan mereka kalau ibu hanya kurang sehat.


Tae Bum dan Soo Young akan memberitahukan keputusan mereka untuk pindah rumah, tapi ibu menyelanya. Ia ingin memberitahukan sesuatu. Sepertinya ia tak bisa sering mengunjungi rumah Soo Young setiap pagi. Ia juga tak dapat mengerjakan pekerjaan rumah untuk Soo Young. Walaupun ia terbiasa melakukannya selama bertahun-tahun, tapi sekarang hal itu mulai membuatnya capek.


Takut tak dapat menutupi perasaannya lebih lama lagi, ibu pamit untuk masuk ke kamar terlebih dahulu. Soo Young  dan Tae Bum bertanya-tanya apa penyebab ibu tiba-tiba bersikap aneh?


Ayah menjelaskan kalau ibu baru saja ditelepon oleh rumah sakit karena hasil medical check up terakhirnya menunjukkan kalau ada sesuatu yang abnormal di payudaranya, dan pihak rumah sakit meminta untuk memeriksa ulang.


Soo Young mulai khawatir. Apakah ibu merasa tak sehat? Mengapa harus diperiksa ulang lagi? Ayah menenangkannya kalau keadaan ibu tak separah yang dibayangkan. Ayah malah bertanya apa yang ingin Soo Young dan Tae Bum katakan sebelumnya?

Tae Bum dan Soo Young mengatakan yang ingin mereka sampaikan bukan hal yang penting.


Di kamar, ibu mulai menulis surat untuk anaknya, ‘Untuk Soo Young yang aku sayangi..’ tapi ia tak dapat melanjutkan karena menulisnya malah membuatnya ingin menangis.


Ia buru-buru menyembunyikan surat itu karena Soo Young datang. Kok Soo Young tak pergi ke kantor? Soo Young memundurkan waktu berangkatnya karena takut ibunya tinggal sendiri dan mulai berpikiran aneh-aneh. Soo Young meminta ibu untuk tak khawatir dengan pemeriksaan ulang ini.


Ia mengingatkan ibu saat ia SMA dulu. Saat ayah harus menjalani pemeriksaan ulang, dan malam sebelumnya mereka bertiga gugup dan tak dapat tidur sepanjang malam. Ibu mengingatnya dan juga ingat kalau ia sangat khawatir sesuatu yang parah akan terjadi.

“Tapi ternyata tidak, kan? Begitu pula dengan pemeriksaan ibu, pasti tak akann ada masalah,” kata Soo Young menenangkan.


Ibu mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau memang tak akan ada masalah. Ia belum sempat melihat cha gom lahir, belum sempat melihat Tae Bum menjadi pembawa acara di IBC, belum sempat melihat Soo Young memandu acara sendiri jadi pasti tak ada masalah di pemeriksaannya.

Juga ayah yang belum menerbitkan buku otobiografinya, kata Soo Young menmbahkan.


Ibu menyuruhnya untuk mendekat agar ia bisa memeluk Soo Young. Soo Young meminta ibu untuk tak khawatir lagi, Ibu menurutinya.  Ia tak akan khawatir lagi,

“Terima kasih telah menjadi putriku. Maafkan ibumu ini karena tak dapat memahamimu dan tak mendengarkan kata-katamu. Aku ingin menjadi ibu yang bisa menjadi temanmu, tapi ternyata aku tak dapat melakukannya.”
Soo Young tak mau ibunya mengatakan hal-hal seperti itu. Tapi ibu tetap meneruskan,

“Soo Young, aku menyayangimu.”


Soo Young menangis mendengar kata-kata ibunya. Ini hanyalah pemeriksaan ulang, jadi ibu jangan terlalu khawatir. Ibu pasti tak apa-apa. Ibu pasti akan selalu sehat. Soo Young yang menenangkan ibu, tapi Soo Young pula yang tetap menangis.


Ibu meminta Soo Young untuk tak menangis. Bagaimana Soo Young bisa membesarkan Cha Gom kalau ia masih seperti  bayi?

Kalau begitu Soo Young meminta ibu untuk tetap berada di sampingnya. Ibu harus tetap ada untuk menemaninya.

Ibu mengiyakan permintaan Soo Young dan meminta Soo Young untuk tak memberitahukan pada tantenya  karena hati Yoo Eul lebih lemah daripada Soo Young. Soo Young mengajak ibunya untuk makan siang bersama di restoran favorit ibu.


Yoo Eul yang diundang makan siang bersama dengan keluarga kakaknya, mengatakan pada Tae Pil kalau pengumuman pada keluarganya dimajukan dari akhir minggu menjadi hari ini. Apakah Tae Pil bersedia?

Tae Pil mau, tapi mengkhawatirkan penampilannya. Yoo Eul menyuruh Tae Pil berputar-putar bak peragawan untuk akhirnya mengatakan kalau bagaimanapun juga, penampilan Tae Pil selalu bersinar.


Saat makan siang, semua sudah berkumpul kecuali Yoo Eul yang belum hadir. Ibu menyuruh ayah sabar menunggu karena mungkin di toko sedang banyak pelanggan.


Untung Yoo Eul sudah datang, tapi Tae Bum dan Soo Young yang melihatnya pertama kali langsung sadar apa yang akan terjadi. Buru-buru Soo Young bangkit dari duduknya dan mencoba menghalangi mereka berdua untuk mendekati ibu. Ia minta mereka tak melakukannya hari ini (meminta restu), karena  waktunya tak tepat. Tapi Tae Pil dan Yoo Eul maju terus tanpa mendengarkan Soo Young.


Ayah dan ibu melihat kedatangan Soo Young dan bertanya mengapa Tae Pil juga ikut serta. Soo Young berbohong kalau ia yang mengundang Tae Pil untuk ikut makan siang.


Tapi Tae Pil malah memperkenalkan diri sebagai pacar Yoo Eul. Mulut ayah dan ibu menganga mendengar kata-kata itu. Tae Bum dan Soo Young hanya dapat diam, mengantisipasi apa yang akan terjadi.


Ayah yang pertama kali mengeluarkan perasaannya. Apakah yang dikatakan mereka berdua saat dirumah hanyalah sebuah pertunjukkan? Yoo Eul minta maaf karena yang kemarin itu adalah idenya. Ayah menganggap yang mereka lakukan keterlaluan. Apa dengan begini ia dan ibu akan merestui hubungan mereka?


Tae Pil tahu kalau ia memiliki banyak kekurangan dibandingkan Yoo Eul, seperti perbedaan umur, status dan latar belakang keluarga. Tapi ia mencintai Yoo Eul dengan tulus, dan tak akan mengecewakannya.

Begitu pula dengan Yoo Eul. Ia juga mencintai Tae Pil, jadi ia mohon restu pada kakak dan kakak iparnya.

Ayah Soo Young tetap menolak, kalaupun ia menerima ibu Soo Young pasti tak menyukai..

“Aku memberi restu pada kalian.”

Semua orang tercengang. Soo Young bertanya memastikan, apakah ibu yakin dengan keputusannya?

Ibu yakin. Karena mereka berdua sangat mencintai satu sama lain, jadi ia tak mungkin untuk menghentikan mereka. Maka sekarang ini cintailah dan berbahagialah. Hanya itu yang diharapkan dari Yoo Eul dan Tae Pil.


Tae Pil tak kuasa menyembunyikan rasa gembiranya. Ia berdiri dan berterima kasih, walau ayah mengingatkan kalau ibu mungkin besok akan menyesalinya. Tae Pil berkata kalau ia akan membayar tagihan makan hari ini. Yoo Eul pun berterima kasih pada kakaknya dan menikmati makanan yang paling enak.


Selain Ja Eun, ibu juga menikmati hari-harinya di panti asuhan. Ia bahkan mengajari anak-anak bagaimana membuat pangsit. Jae Ha mengatakan kalau anak-anak menyukai kehadiran ibu di sini. Ia telah mendengar kalau nenek telah memberi restu pada hubungannya dengan Tae Hee. Apakah Ja Eun tak mau kembali ke Seoul sekarang juga?


Ja Eun malah bertanya balik, jika Jae Ha menjadi dirinya, apakah ia mampu menemui Tae Hee? Jae Ha tak dapat menjawab dan Ja Eun meminta Jae Ha untuk membawa ibu kalau ia kembali ke Seoul.


Lee Ki Chul meyakinkan Hong Man Shik ia tak perlu cemas, semuanya tak akan mungkin terbongkar. Namun Hong Man Shik yang tersiksa hatinya mengajak Lee Ki Chul untuk mengungkapkan semuanya. Lee Ki Chul tentu marah mendengarnya. Apakah sekarang Hong Man Shik baru merasa bersalah setelah 26 tahun telah berlalu? Apakah Hong Man Shik ingin mengkhianatinya?


Hong Man Shik tak menjawab. Lee Ki Chul menyodorkan tiket pesawat dan menyuruhnya untuk pergi ke Cina untuk sementara waktu, sampai ia memperbolehkannya pulang. Tapi Hong Man Shik tak mau, sehingga Lee Ki Chul mengancam akan memberitahukan asal uang yang digunakan untuk operasi  pada ibunya jika Hong Man Shik masih tak mau pergi.


Tae Hee dan Dong Min menemui ibu Hong Man Shik dan memperkenalkan diri sebagai polisi yang sedang menyelidiki sebuah kasus rumah sakit. Mula-mula ibu Hong enggan berbicara banyak pada mereka. Namun ketika nama anaknya disinggung dan Dong Min mengaku telah menemui Hong Man Shik yang tak pernah melanggar hukum, ibu Hong langsung berubah lebih terbuka.


Ia mengatakan kalau anaknya memang sangat baik. Makanya banyak orang yang mau membantunya.


Dong Min langsung menyambar kesempatan ini. Bukankah 26 tahun yang lalu saat ibu Hong operasi, ada orang yang membantu biaya pengobatan yang pastinya cukup besar? Ibu Hong dengan bangga mengatakan memang ada, walaupun ia tak tahu siapa namanya. Tapi ia pernah melihat orang itu sekali saat di rumah sakit.


Tae Hee meminta ibu Hong untuk mengingat namanya, tapi Ibu Hong tak bisa karena sudah sangat lama. Ibu Hong kemudian meminta mereka untuk pergi. Tapi sebelum Tae Hee dan Dong Min berjalan jauh, ibu Hong berkata kalau nama itu pasti tercetak di buku rekeningnya. Dan apakah ibu Hong masih menyimpan buku rekening itu? Ibu Hong tentu saja menyimpannya.


Ia masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa tumpukan buku. Salah satunya adalah buku rekening itu. Dan disitu tertulis uang 30 juta won yang dikirim dari rekening Lee Ki Chul.


Bingo!


Mereka langsung menuju ke penginapan Hong Man Shik, tapi Hong Man Shik sudah check out. Tae Hee menyuruh Dong Min untuk memeriksa, jangan-jangan Hong Man Shik pergi keluar negeri. Tae Hee mendapat kabar dari teman satu timnya kalau Profesor Seo akan kembali hari ini, yang berarti kubu Lee Ki Chul akan bertindak.


Dong Min menemukan kalau Hong Man Shik benar akan ke Cina dan penerbangannya pada jam tiga sore ini. Buru-buru mereka membunyikan sirene dan melarikan mobilnya ke bandara.


Sesampainya di bandara, Tae Hee turun dan mencari-cari keberadaan Hong Man Shik, tapi tak ketemu.


Yang menemukan Hong Man Shik malah ayah Ja Eun, yang memang menunggunya di bandara setelah mengetahui kalau mantan supirnya ini akan keluar negeri. Ia merasa tak enak karena telah menuduhnya kemarin, maka ia datang untuk mengantarkannya pergi.


Ia minta maaf, karena demi Ja Eun ia menginterogasi Hong Man Shik berharap dapat membersihkan namanya. Ia memberikan alamat kenalannya di Cina, dan menyuruh Hong Man Shik menghubungi kenalannya jika membutuhkan bantuan. Kata Ja Eun, Hong Man Shik turut menjaga Ja Eun dengan baik, dan gantinya, ia akan menjaga ibu Hong. Jadi ia minta agar mantan supirnya tak mengkhawatirkan ibunya, pergi dan kembalilah dengan selamat.


Hong Man Shik tak dapat berkata apapun, bahkan ketika ayah Ja Eun menyuruhnya untuk segera pergi kalau tidak ia akan terlambat boarding.


Tepat pada saat itu, Tae Hee menemukan Hong Man Shik. Ia berteriak memanggil, membuat Hong Man Shik ketakutan dan berlari pergi. Tapi dengan mudah Tae Hee mengejarnya dan menghentikannya. Ia menyuruh Hong Man Shik melihat buku rekening yang ia pegang. Apakah ia masih berniat untuk menyangkalnya? Lebih baik katakan yang sebenarnya sekarang.


Ayah Ja Eun yang melihat pengejaran itu, bertanya apa yang sedang terjadi. Tapi tanpa penjelasan dari Tae Hee, ia sudah dapat menebaknya. Buku rekening itu menunjukkan siapa pelaku tabrak lari yang sebenarnya. Walau begitu, ia tak dapat mempercayainya. Bagaimana mungkin mantan supirnya dapat melakukan hal ini?

Hong Man Shik meminta ampun pada ayah Ja Eun. Ia pantas dihukum karena telah berdosa padanya. Tae Hee menyuruhnya mengatakan siapa pelaku tabrak lari itu.

“Kepala Polisi Lee Ki Chul yang menyetir mobil dan bukannya Pak Direktur.”

Teman satu tim Tae Hee pergi ke suatu tempat dengan membawa USB bukti untuk kasus penyuapan di unversitas. Namun USB itu tertinggal di dalam mobil.


Ternyata ada mobil yang mengikuti mereka dan setelah mereka meninggalkan mobil, orang-orang itu mencongkel pintu mobil untuk mengambil USB itu.


Namun itu hanyalah jebakan, karena teman satu tim Tae Hee langsung muncul dan meringkus komplotan Lee Ki Chul. Mereka bahkan berhasil mengambil kembali buku catatan keuangan yang dulu pernah dicuri dari mobil Tae Hee.


Kepala polisi mendapat kabar kalau misi mereka telah gagal, dan bahkan buku catatan keuangan itu juga telah dirampas. Belum sempat ia memikirkan jalan keluar lain, Tae Hee, Baek In Ho dan Dong Min memasuki ruangan kantornya.


Mereka menunjukkan buku rekening dan memperdengarkan rekaman suaranya yang mengancam Hong Man Shik di malam sebelum kepergiannya. Kepala Polisi tak dapat berkilah lagi saat Tae Hee menyatakan kalau Kepala Polisi yang menabrak ayahnya.


Ayah Ja Eun tak dapat menutupi kemarahannya. Ia memukul temannya dan mengatainya bukan manusia. Kepala polisi minta maaf dan mengakui segalanya. Tapi ia minta agar Tae Hee tak mengungkapkan kasus penyuapan di universitas karena ia tak tega pada putrinya. Ia akan mengakui semuanya, tapi ia mohon agar kasus penyuapan itu tak diungkapkan.


Namun sudah terlambat, karena atasan langsung Tae Hee datang bersama teman satu timnya. Dengan canggung, ia menunjukkan bukti-bukti yang memberatkan Kepala Polisi dan menyebutkan pasal-pasal yang dilanggar oleh Kepala Polisi dan menyuruh anak buahnya untuk menahan Kepala polisi.


Tae Hee menghela nafas lega walau belum bergerak dari tempatnya berdiri. Ayah Ja Eun menyuruhnya untuk segera menjemput Ja Eun. Begitu pula dengan Dong Min yang menyuruhnya segera pergi karena ia yang akan menyelesaikan sisa kerja Tae Hee.


Saat itu di panti asuhan sedang makan siang. Ibu, Ja Eun dan Jae Ha sedang menyajikan makanan bagi anak-anak dan suasananya sangat riuh ramai. Namanya juga anak-anak.


Ja Eun menerima telepon dari ayah namun karena ramai ia tak dapat mendengar kata-kata ayah. Ia pun mencari tempat yang agak sepi agar dapat mendengar lebih jelas.

Ayah Ja Eun:  “Tae Hee berhasil mengungkap semuanya. Aku bukan penjahat, aku tak bersalah.  Hari itu bukan aku yang menyetir mobil. Aku hanya dijebak. Kau mendengarnya, kan Ja Eun? Apakah kau mendengarkanku?”
Ja Eun mendengarnya.


Ibu dan Jae Ha mendekat untuk mengetahui apa yang membuat Ja Eun terkejut. Sambil menangis, Ja Eun mengatakan kalau ayahnya ternyata tak bersalah.


Ja Eun buru-buru keluar rumah dan berlari sampai ke pinggir jalan. Yang ia tunggu akhirnya datang.


Tae Hee menepikan mobilnya tak jauh dari Ja Eun. Tanpa buru-buru, ia berjalan menghampiri Ja Eun.

“Apakah kau baik-baik saja?”
"Apa kau baik-baik saja?"
"Tak begitu baik."
“Aku juga, tak begitu baik. Kupikir aku tak akan dapat menemuimu lagi, Paman. Kupikir aku tak akan dapat..”

Dan Tae Hee pun memeluk Ja Eun yang menangis bahagia. 




Komentar :


Aww.. sang pangeran telah menyelamatkan putri. 


Kalau saja ini adalah kisah dongeng, adegan terakhir di episode ini hampir mirip dengan adegan dongeng saat pangeran (Tae Hee) turun dari kuda putihnya (mobil dinas warna perak)menghampiri putri (Ja Eun). Pangeran berhasil membasmi rintangan (Kasus ayah Ja Eun) dan menjemput putri  yang sedang terpenjara di dalam kastil (panti asuhan).


And they will live happily ever after..
Thanks to Cadence from Soulsrebel 

14 comments :

  1. hhaha.. wew.. first commentkah saya? wow... Ojakgyo Brothers daebak! Sayang besok Ojakgyo brothers harus tamat di ep 58!.... Sedih.. O iya buat review tentang Happy Together juga dunk yang peserta para pemain ojakgyo Brothers... Tq ^^a...

    ReplyDelete
  2. yeee,,,keprok2,akhirnya kebahagiaan itu datang..lucu juga tuh klo ke 3 sdra hwang itu nikah bareng,xixixi...nikah masal^^

    ReplyDelete
  3. woowww... DAEBAKKKKK....
    tidak bisa berkata-kata lg..,

    ReplyDelete
  4. Annyong.. Aq seneng bget baca sinopsis ojakgyo brother disini... Mulai suka ob dari ep 42.. Eh nmu sinopsis disini...
    Salam kenal ya kaka.. Eh iya klo bisa bahas tthg happy together.. Katanya disitu.. Seruu bget.. N ditunggu sinopsis ep 56 57 58 nya y fightinggg.

    ReplyDelete
  5. wah.. gak sabar liat endingnya yang bahagia.. suka banget liat ja eun ma tae hee.. di korenya udah tamat ya..

    ada happy together pemain ojagkyo brother? wah.. jadi ingin liat...

    ReplyDelete
  6. mbak dee...
    thanks ya sinopnya..
    keep fighting mbak..

    dephie_

    ReplyDelete
  7. whuaaa... makasih bgt sinopnya...

    ReplyDelete
  8. mbak dee.......
    makasih makasih makasih
    .....
    ...
    ditunggu ditunggu ditunggu
    episode selanjutnya.........

    -PHIRDA-

    ReplyDelete
  9. mbak dee...
    ayo juga buat sinopsisnya Happy Together Ojakgyo Brother y...tak tunggu

    ReplyDelete
  10. daebaakk...

    walaupun udah jadi happy camper di cadence,
    tetap aja anis suka mampir ke blog mbak dee..

    fav drama of the year :D

    ReplyDelete
  11. semangat kak, aq tetap sabar nunggu episodenya .... fighting

    ReplyDelete
  12. merindng gue bca detik2 terakhirnya T.T

    ReplyDelete
  13. @all : thank you.
    @jjangnisa : iya.. fav drama of the year. Gak nyangka bisa nyelesain nonton drama sepanjang ini. :)
    @fatikyun, jazin, irfa & anonim : iya, liat sepotong-sepotong.. jadi mungkin ada happy together, tapi juga gak semua.

    ReplyDelete