February 12, 2012

Sinopsis Ojakgyo Brothers Episode 52

Sinopsis Ojakkyo Brothers Episode 52



Sarapan pagi di rumah keluarga Hwang, yang pertama ditanyakan oleh Nenek adalah apakah Tae Hee pulang hari ini? Ayah menjawab tidak dan ibu menambahkan kalau Tae Hee memang tak pernah memberitahu kalau ia akan tak pulang.




Ibu mencoba meramaikan suasana dengan berkata riang tentang makanan yang ia sajikan. Tapi nenek malah menegur ibu karena merasa gembira padahal tahu suasana keluarga ini sedang muram.


Ayah mencoba membela ibu. Nenek juga tahu niat baik ibu, tapi seharusnya ibu tahu kapan saat yang tepat untuk meramaikan suasana. Ibu buru-buru minta maaf dan berjanji lain kali akan berhati-hati.

Nenek menyuruh ibu untuk mempersiapkan makanan dan baju untuk Tae Hee. Ia ingin mengunjunginya di kantor. Ibu sebenarnya berencana untuk pergi mengunjungi Tae Hee juga, tapi jika Nenek yang pergi, pasti Tae Hee akan lebih mendengarkan kata-kata Nenek.


Tae Shik mencoba menyenangkan hati semua dengan memberikan sebuah kabar gembira. Karena tempat di meja makan ini sudah mulai kosong, ia akan mengisinya. Ia akan menikah.

Nenek terkejut mendengarnya. Menikah? Dengan wajah ceria, Tae Shik membenarkan. Dan tempat yang diisi tak hanya satu, tapi dua. Karena ia akan menikahi Mi Seok.


Ayah dan ibu pun kaget mendengarnya. Nenek yang menyuarakan kekagetan mereka. Bukankah Mi Seok sudah pernah menikah sebelumnya?


Tae Shik menjelaskan kalau Mi Seok sebenarnya belum pernah menikah, dan Ha Na sebenarnya adalah keponakannya, anak dari kakak perempuannya yang sudah meninggal.


Kenyataan yang baru saja Tae Shik katakan, membuat penilaian terhadap Mi Seok menjadi berkali-kali lipat sangat baik. Ayah langsung menyetujui dan mengatakan kalau Tae Shik sangat cocok bersanding dengan Mi Seok. Begitu pula Nenek dan Ibu. Bahkan Tae Pil sudah menyebut Mi Seok sebagai kakak iparnya.


Hanya Gook Soo yang menundukkan kepalanya terdiam. Di kamar, ia sepertinya ingin mengatakan sesuatu pada ayahnya tapi Tae Shik malah menyuruhnya untuk bersiap-siap ke sekolah karena ia sudah hampir terlambat ke rumah sakit.


Sementara itu Tae Bum kembali mendapatkan kejutan di pagi hari. Ibu mertuanya membangunkan putri dan menantunya. Ia terjatuh dari tempat tidur karena kaget, namun ia pura-pura tetap tertidur. Kenapa? Karena saat mertuanya melongok ke dalam kamarnya, ia hanya memakai baju piyama dan celana pendek saja.


Saat mertuanya sibuk membangunkan putri tunggalnya, perlahan-lahan Tae Bum menarik piyamanya agar menutupi celana pendeknya. Begitu mertuanya berhasil membangunkan istrinya untuk mandi (Soo Young bangun masih dengan mata tertutup), Tae Bum pun bangkit dan kesal melihat kelakuan ibu mertuanya.


Ia lebih kesal saat setelah mandi ia melihat baju kerjanya adalah baju baru yang telah disiapkan hingga mendetail ke saputangan dan kaos kakinya oleh mertuanya. Kekesalannya semakin menjadi-jadi ketika mengetahui kalau semua baju lamanya sudah tak ada di lemari. Ia teringat saat belanja kemarin kalau ibu Soo Young menyuruhnya membuang semua baju lamanya.


Ia menemui mertuanya yang sedang menyajikan sarapan untuk Soo Young dan menanyakan dikemanakan semua baju-bajunya, apakah dibuang? Dengan polos ibu Soo Young membenarkan. Tae Bum pun marah karena mertuanya telah turut campur. Ia mencontohkan pagi ini ibu Soo Young masuk ke dalam kamar tidurnya.


“Hal itu karena aku takut kalian akan terlambat ke kantor,” kata ibu membela diri.

“Tapi ada hal-hal yang tak seharusnya Ibu langgar. Bukankah saya dulu pernah katakan kalau, perhatian, dan kasih sayang yang Ibu berikan dapat membuat orang yang menerimanya akan sesak hatinya?”

“Kalau begitu jangan menerimanya. Jika kau memang tak mau, jangan menerima semua yang kuberikan. Baju, sepatu, semua yang kubeli, jangan kau terima semuanya. Sarapan setiap pagi, bersih-bersih rumah, laundry, kenapa kau mau menerima hal itu? Apa kau anggap aku ini seperti jenis eskrim yang dapat kau pilih?”


Soo Young berusaha melerai, tapi ibu masih tetap mengomel. Tae Bum pun meminta maaf karena yang Ibu katakan semuanya benar. Karena ini rumah ibu, maka Ibu berhak melakukan apa saja di rumah ini. Maka dari itu, seperti yang ia dan Soo Young telah diskusikan, mereka akan pindah rumah.

Ibu dan Soo Young terkejut mendengar kata-kata Tae Bum.


Di rumah, ibu langsung minum air untuk mendinginkan rasa panas di hatinya. Tapi rasa panas itu masih belum hilang. Ia curhat (setengah mengomel) pada suaminya, mengatakan kalau Tae Bum berencana pindah dari rumah mereka. Di dunia ini, mana ada ibu mertua yang seperti dirinya, Tae Bum harusnya berterima kasih padanya.


Ayah mencoba menasihati kalau yang dilakukan istrinya itu terlalu banyak, tapi ucapan itu hanya separuh jalan karena Ibu menatap suaminya kesal.


Setelah kejadian malam itu, Ja Eun belum beranjak dari tempat tidurnya. Ayah menyuruhnya bangun dan sarapan, tapi Ja Eun seolah tak mendengarnya. Ayah menyarankan agar mereka jalan-jalan dan belanja, tapi Ja Eun malah berbaring kembali, tetap tak mendengarkan ayahnya.


Begitu pula dengan Tae Hee.  Dong Min membangunkan Tae Hee dan menyuruhnya untuk tak minum soju untuk agar bisa tertidur. Dong Min juga menyarankan agar Tae Hee sarapan dulu tapi seolah tak mendengarnya, Tae Hee bangun, mengecek jam di handphonenya dan langsung mengajak Dong Min pergi untuk menginterogasi.


Di jalan, Dong Min tetap memaksa Tae Hee untuk sarapan dulu, tapi Tae Hee tak menjawab dan tetap meneruskan langkahnya. Dong Min berteriak kalau ia akan marah jika Tae Hee tetap bersikap seperti itu.
Dan Tae Hee pun menghentikan langkahnya. Bukan karena ia mendengarkan kata-kata Dong Min, tapi ia melihat sosok Ja Eun di trotoar menunggu lampu hijau untuk menyeberang.


Tanpa pikir panjang Tae Hee pun lari mengejar Ja Eun yang sudah berjalan melewati zebra cross.


Di tengah jalan Tae Hee berhasil mendekatinya dan meraih pundak Ja Eun. Ja Eun kaget dan menoleh..


.. hanya saja ia bukan Ja Eun.


Tae Hee terpaku, menyadari bayangan itu akan selalu mengikutinya.


Mereka kembali ke kantor polisi dan melihat kalau Nenek dan Ayah sedang menunggunya. Tae Hee menyuruh Dong Min untuk masuk duluan agar ia bisa menemui orang tuanya.


Nenek terkejut melihat paras Tae Hee yang kacau dan menyuruhnya untuk pulang ke rumah malam ini. Ia juga menyuruh Tae Hee untuk makan siang dulu bersama mereka karena ibu telah menyiapkan makanan untuknya.


Tanpa memandang wajah Nenek,  Tae Hee menolak dan beralasan kalau ia ada rapat setelah ini, jadi tak dapat makan siang bersama mereka. Walaupun nenek memaksa, tapi Tae Hee tetap pada pendiriannya. Ia sedang sibuk sekarang. Nenek pun mencoba mengalah dan meminta agar Tae Hee setidaknya pulang ke rumah nanti malam. Tapi Tae Hee hanya bisa berjanji kalau ia akan pulang setelah pekerjaannya selesai.


“Sampai kapan kau akan seperti ini? Apa kau pikir aku sekarang sabar karena hatiku baik-baik saja? Pergilah ke matseon. Aku akan menemukan gadis yang sesuai untukmu. Bukankah kau berjanji untuk menikah tahun ini?”


Tae Hee tak menjawab, malah meminta Nenek dan Ayah untuk pulang terlebih dahulu karena ia sedang bekerja.

“Apa mungkin kau masih menemuinya tanpa sepengetahuanku?”


Akhirnya Tae Hee menatap nenek, walaupun tatapan itu adalah tatapan kecewa karena nenek tak mempercayainya.

Nenek pun menyadarinya walaupun tetap bersikeras, “Kalau begitu, kenapa kau tak mau? Berapa lama lagi aku harus menunggu?”

Tae Hee akhirnya berjanji akan pulang malam ini. Jawaban Tae Hee sedikit melegakan Nenek tapi nenek juga mengatakan akan mengatur matseonnya di kemudian hari. Ia pun akhirnya mau pulang.

Tapi ayah meminta Nenek pergi ke mobil dulu karena ada yang ingin ia bicarakan pada Tae Hee.


Ayah menjelaskan pada Tae Hee kalau nenek juga sangat kecewa dan tersiksa dengan kenyataan ini. Ayah dan ibu juga kecewa namun nenek yang paling kecewa. Apalagi nenek sudah tak muda lagi, sejak nenek keluar rumah sakit, nenek masih belum sehat. Ayah tak mengharapkan Tae Hee untuk berkencan lagi, tapi ia hanya meminta Tae Hee untuk pulang ke rumah.


Soo Young dan Tae Bum sedang diwawancarai sebagai pasangan baru. Walaupun pertanyaan yang dilontarkan sangat sepele, tapi Soo Young harus jungkir balik untuk menjawabnya. Seperti masakan apa yang sering dimasak? Ramen. Tae Bum mendelik pada Soo Young membuat Soo Young langsung berganti dengan spaghetti. Jawaban itu memuaskan Tae Bum, bahkan Tae Bum menambahkan kalau spaghetti buatan istrinya sangat lezat.


Wartawan wanita itu jadi tertarik dan menanyakan resep spaghetti buatan Soo Young. Soo Young terperangah dan akhirnya menjawab kalau resepnya rahasia.

Saat ditanya berapa belanja yang harus dikeluarkan oleh Soo Young setiap bulannya, Soo Young sedikit gelagapan. Akhirnya ia menjawabnya, “500 ribu won.”


Namun melihat mata wartawan itu terbelalak, Soo Young tahu jawabannya terlalu sedikit dan mengatakan kalau “Tentu saja pengeluaran kami lebih dari 500 ribu. Dan itu rahasia.” Tae Bum pun membenarkan kalau informasi itu adalah rahasia.


Walaupun saat pengambilan gambar, Tae Bum berbisik mencercanya karena tak tahu berapa pengeluaran bulanan mereka. Tapi Soo Young memang tak tahu karena ibu yang menangani semua itu. Tae Bum membalas kalau yang ia nikahi adalah Soo Young dan bukan ibunya.


Walaupun bertengkar, mereka tetap memandang wajah ceria. Say Kimchi…


Saat di kantor sendirian, Soo Young mengingat permintaan Tae Bum untuk hidup terpisah dari keluarganya.


Dan itu membawanya pada sebuah tindakan.

Merayu Tae Bum.


Dengan jepit di rambut dan secangkir the di tangan, Soo Young mendatangi Tae Bum yang sedang bekerja dan bergaya sok imut, mencolek lengan Tae Bum membuat Tae Bum curiga. Mengapa Soo Young seperti ini? Malah membuatnya merinding saja.


“Tae bum-ssi, aku akan berusaha. Mulai sekarang aku tak akan bergantung pada ibuku. Tapi jangan pindah, ya? Aku akan belajar membuat makanan tradisional dan akan mengontrol ibuku,” Soo Young mencolek Tae Bum lagi dan dengan suara imut sok manis ia meneruskan. “Pasti sekarang terasa berat ya, Oppa..”


Tae Bum membelalakkan mata mendengar rayuan gombal Soo Young dan malah mencemooh “Oppa..? Astaga..”


Kesal rayuannya tak berhasil, Soo Young melepas jepit rambutnya dan membantingnya ke meja. Kali ini dengan suara keras ia berkata,”Bagaimanapun juga, kita tak bisa pindah. Bagaimana kalu nanti Cha Gom lahir? Walaupun kau nanti membantuku, tapi akhirnya kinerjaku pasti berantakan. Aku nanti tak akan bisa menjadi team leader ataupun reporter yang handal. Apa kau mau seperti itu?”


Tentu saja Tae Bum tak mau hal itu terjadi. Kebahagiaan Soo Younglah yang paling penting. Soo Young sangat bahagia mendengarnya. Ia memeluk Tae Bum dan berterima kasih padanya.


“Karena itu, mari kita pindah ke perkebunan.”

Soo Young melepas pelukannya dan berteriak kaget, “Apa?”


Sambil tersenyum Tae Bum memeluk Soo Young lagi dan berkata kalau di perkebunan, Soo Young tak perlu mengerjakan pekerjaan rumah dan ibunya akan mengasuh Cha Gom. Soo Young hendak membantah ucapan Tae Bum, tapi Tae Bum memotongnya dan berkata, “Percaya deh sama Oppa.. Ayo pindah.. Ayo pindah..”


Bwahahaha.. Senjata makan tuan. Gak ikut bersih-bersih di rumah mertua? Hahah.. you wish..


Baek In Ho mendatangi kantor polisi untuk diinterogasi oleh Tae Hee. Ketika Tae Hee hendak memulai interogasinya, Baek In Ho malah minta maaf akan segala perbuatannya 26 tahun yang lalu. Ia ingin mendapat hukuman atas perbuatannya dan bertanya pada Tae Hee, apakah ada yang dapat ia lakukan agar ia dapat dihukum?


Seperti membuka luka yang belum kering, Tae Hee menyuruh Baek In Ho diam. Tapi Baek In Ho malah melanjutkan. Saat peristiwa itu, karena mabuk ia bahkan tak ingat kalau ia menyetir mobil. Ia sudah lama tak hiking, dan ia minum-minum setelahnya.


“Karena mabuk, aku sangat takut saat diberitahu aku mabuk dan menabrak seseorang. Aku sangat ketakutan sehingga aku melarikan diri. Aku tak tahu kalau ayahmulah yang kutabrak dan ia meninggal karenanya. Aku benar-benar berdosa, aku pantas mati.”

Tae Hee membentak Baek In Ho agar diam, tapi Baek In Ho tetap mengutuk dirinya sendiri sambil menangis. Tak tahan melihatnya, Tae Hee keluar dari ruang interogasi.


Dan ia pun menangis di kamar mandi.


Tae Pil dan Yoo Eul menikmati kencan mereka di udara terbuka. Mereka pergi hiking, mengambil selca dan bermain mainan anak-anak. Tapi Yoo Eul selalu kalah dan akhirnya bermain curang agar bisa menang.


So Sweet.. Walaupun keduanya sama-sama bungsu, tapi Yoo Eul yang lebih tua malah kelihatan seperti adik Tae Pil.


Mereka melanjutkan perjalanannya, dan ditengah jalan bertemu dengan seorang nenek yang selalu terpeleset karena tak memakai sepatu khusus untuk mendaki. Apalagi batu pijakan sangat licin karena salju.


Yoo Eul berinisiatif untuk meminjamkan sepatunya pada nenek itu, membuat Tae Pil tersenyum melihat betapa perhatiannya Yoo Eul pada orang asing.


Walaupun ia kemudian menggoda Yoo Eul karena menggunakan kesempatan ini dengan selalu berpegangan pada Tae Pil karena sekarang ia yang memakai sepatu licin itu.


Tae Pil menceritakan kalau nanti malam ia akan minum-minum dengan kakak-kakaknya untuk merayakan salah satu kakaknya akan menikah. Ia ingin mengenalkan Yoo Eul pada mereka. Yoo Eul langsung menolak. Bukankah rencananya mereka tak akan membiarkan semua orang tahu tentang hubungan mereka? Tae Pil hanya ingin mengenalkan pada kakaknya saja, karena ia merasa tak nyaman jika tak  ada seorang pun yang tahu tentang hubungan mereka. Mereka tak melakukan sesuatu yang berdosa, kenapa harus takut?


Yoo Eul beralasan kalau kakaknya tahu, kakaknya pasti marah besar. Tapi menurut Tae Pil, cepat atau lambat mereka harus mengumumkannya karena toh nantinya mereka akan menikah. Menikah? Yoo Eul kaget mendengar kata-kata itu.

Apakah Yoo Eul tak pernah menginginkan pernikahan lagi, tanya Tae Pil padanya. Yoo Eul tak menjawab, malah mengatakan kalau mereka sudah ketinggalan jauh dari nenek, pasti nenek sedang menunggu mereka.


Di rumah, ibu memikirkan keadaan Ja Eun. Ia mencoba menelepon Ja Eun tapi tak diangkat. Maka ia pun mengirim SMS yang berbunyi : “Ja Eun, bagaimana kabarmu. Telepon dariku tak kau angkat, membuatku khawatir. Teleponlah aku.”


Ayah mendapat telepon dari Baek In Ho yang masih dihantui oleh rasa bersalah. Baek In Ho meraa menyesal, dan mau melakukan apapun sebagai hukumannya. Ia bersedia lompat ke laut jika itu yang diinginkan ayah. Tapi ayah hanya mengatainya pembunuh.


Baek In Ho tak marah dikatai seperti itu. Denga menahan air mata , iaa bahkan memberitahu kalau ia bernencana untuk memberikan perkebunan pada keluarga Hwang, karena toh nama ayah sudah tertera di surat tanah itu. Ia sudah bertemu dengan Direktur Good Film, Kim Jae Ha. Mereka sudah menemukan tempat lain untuk membangun taman bermain dan tak ada orang lain yang akan membeli perkebunan ini.


Ayah marah mendengarnya. Apakah Baek In Ho berencana untuk membayar kejahatannya dengan cara seperti ini? Ibunya tak akan mau menerimanya. Ia juga tak akan menerimanya. Mereka tak akan membiarkan Baek In Ho membayar kejahatannya dengan cara seperti ini dan dapat tidur nyenyak setelahnya.


Ayah kembali mengatainya pembunuh sebelum pergi meninggalkan Baek In Ho yang tertunduk menangis menyesalinya.


Baek In Ho kembali ke rumah dan menemukan Ja Eun masih pada posisinya di pagi hari. Ia menyuruh Ja Eun untuk keluar, karena sampai kapan Ja Eun berniat untuk mendekam di dalam kamar?


Ja Eun yang sedari tadi hanya memandangi gantungan kunci bebek Tae Hee, kali ini tak dapat menyimpan perasaannya lagi dan marah pada ayah. Sambil menangis ia bertanya orang jenis apa ayah yang melarikan diri setelah menabrak seseorang?


“Kenapa ayah melakukan itu? Kenapa ayah berdosa sebesar itu? Sekarang semuanya sudah berakhir. Aku tak dapat menemui Tae Hee lagi. Aku bahkan tak berhak untuk merindukannya. Semua sudah berakhir!”


Akhirnya Ja Eun keluar rumah. Namun ingatannya malah selalu kembali kepada Tae Hee. Saat menyeberang jalan, ia teringat bagaimana Tae Hee menghiburnya. Nyanyian dan tarian Tae Hee di depan orang banyak, betapa lagu katak itu hanyalah lagu yang konyol tapi Tae Hee tetap menyanyikannya dengan serius.


Mengingatnya, Ja Eun hanya dapat menangis di tengah jalan.



Begitu juga saat ia menggambar di kantornya. Ia malah menyobek-nyobek kertas gambarnya yang sudah jadi, dan beranjak pergi. Kebetulan Jae Ha datang dan bertanya kemana Ja Eun akan pergi. Jae Ha melihat betapa galaunya hati Ja Eun sekarang, mengajak Ja Eun pergi, kemanapun Ja Eun inginkan.


Ja Eun menyetujui usul tersebut. Ini adalah kencan ketiga mereka, kan? Ja Eun ingin berbelanja. Apa Jae Ha mau membayarinya?


Jae Ha mau. Maka berbelanjalah mereka. Walaupun terlihat Ja Eun tak menikmati acara belanja itu. Di tengah kencan mereka, Jae Ha mendadak ditelepon dari kantor yang mengharuskan ia kembali ke kantor. Jae Ha berjanji akan kembali 3 jam lagi, tapi Ja Eun mempersilahkan Jae Ha pergi, kencan mereka berakhir sampai sini saja.


Di sekolah, Gook Soo belajar menggambar, dan kali ini temanya adalah menggambar ibu. Semua temannya mulai menggambar tapi Gook Soo hanya terdiam lama, tak mengangkat crayonnya sama sekali. Akhirnya ia mengambil foto ibunya dan mulai menggambar, dengan kulit wajah ibunya coklat tua.


Setelah selesai, Gook Soo hanya dapat menangis menatap wajah yang ada di atas kertasnya.


Tae Shik memperkenalkan Mi Seok dan Hana secara resmi pada keluarganya. Mi Seok ingin memberi hormat (yang biasanya dilakukan oleh calon menantu pada calon keluarga barunya). Tapi Nenek tersenyum dan mengatakan kalau mereka tak perlu melakukan hal itu karena sudah mengenal satu sama lain.


Ha Na pun juga memperkenalkan diri dan menambahkan ia senang karena akan mempunya paman-paman yang keren seperti Tae Bum dan Tae Pil.


Tae Bum tertawa dan memuji Ha Na yang memiliki mata jeli. Tae Bum dan Tae Pil berterima kasih pada Mi Seok yang mau menyelamatkan Tae Shik (dengan menikahinya), tapi Mi Seok malah mengatakan kalau ialah yang diselamatkan.


Tae Shik tertawa mendengarnya dan ia menyuruh adik-adiknya mendengarkan perkataan jujur calon istrinya.


Ibu meminta agar Tae Shik dan Mi Seok untuk menentukan hari pernikahannya. Tae Shik menyanggupinya dengan bersemangat, membuat Mi Seok malu. Yang lain tertawa, hanya Gook Soo saja yang tidak. Ia malah meninggalkan meja makan, dan pergi. Tak ada seorangpun yang menyadari kepergiannya.


Ibu juga meminta agar pernikahan mereka dilakukan dengan cara sederhana (agar tak menghabiskan banyak biaya), tapi Mi Seok bersikeras akan melakukan semua tatacara yang ada. Tae Shik menenangkan ibunya, kalau ibu tak perlu khawatir karena sebenarnya Mi Seok adalah pemiliki asli restoran bebek itu. Semua kaget mendengar berita baru itu.


Nenek memuji ayah yang pandai memilih menantu. Menantu paling besar adalah pemilik restoran dan menantu lainnya adalah seorang reporter dari stasiun TV terkenal dan anak seorang professor pula.


Mi Seok menatap Soo Young dan bertanya separuh menyindir, bukannya Soo Young sedang di luar negeri? Ia pikir seperti itu karena ia tak pernah melihat Soo Young ada di rumah ini.


Soo Young malu dan jengah dan menjawab kalau ia sangat sibuk bekerja di kantor sehingga tak sering berkunjung ke perkebunan. Mi Seok berkata jika ia sudah menikah dengan Tae Shik, dan Soo Young masih belum sempat juga, ia akan bertindak seperti kakak ipar tertua yang sebenarnya.


Anggota keluarga yang lain mendengarkan percakapan kedua ipar dengan geli dan rasa ingin tahu. Soo Young pun hanya tersenyum-senyum separuh sungkan separuh gondok. Mi Seok pun tersenyum dan berkata, “Senang bertemu denganmu, adik ipar.”


Soo Young pun menyapa balik, “Senang bertemu denganmu, Mi Seok –ssi.”


Mi Seok mengkoreksi ucapan Soo Young, seharusnya Soo Young memanggilnya dengan kakak ipar. Dan Soo Young pun menjawab, “Mi Seok-ssi kan belum resmi menikah dengan Tae Shik.”


Uppss… Mi Seok pun tak dapat membalas serangan balik Soo Young karena kata-kata itu memang benar adanya. Yang lain? Hanya dapat tersenyum geli mendengar perang kecil kedua ipar itu.


Tae Hee dan Dong Min pergi untuk mengintai seseorang. Tapi Tae Hee melihat restoran bubur yang malah mengingatkannya pada Ja Eun. Ia pun pergi ke kantor Ja Eun. Tapi ia melihat Jae  Ha yang sedang menelepon Ja Eun yang ternyata sedang ada di club.


Sepeninggal Jae Ha, Ja Eun pergi ke club untuk minum-minum. Hampir sama dengan kali terakhir ia mabuk, Ja Eun tersenyum melihat kedatangan orang yang ia kenal, . Ia mengajak Jae Ha untuk minum bersama. Tak sengaja ia menyenggol meja pengunjung lain sehingga gelas dan meja pun jatuh berantakan. Tapi Ja Eun tetap cuek, membuat pengunjung lain kesal. Jae Ha akhirnya yang meminta maaf pada mereka.


Jae Ha menarik Ja Eun untuk membawanya pulang. Tapi Ja Eun yang masih mabuk tak mau pulang. Jae Ha menarik Ja Eun lagi, tapi Ja Eun tetap tak mau.


Namun kali ini matanya bertemu dengan seseorang yang memperhatikannya dari belakang.


Tae Hee yang mendengar percakapan Jae Ha di telepon dan mengikuti Jae Ha pergi. Ia menghampiri Ja Eun, namun Ja Eun mundur dan berlari pergi.


Tae Hee bergerak untuk mengejarnya, tapi keburu dihalangi oleh Jae Ha. Ia menyuruh Jae Ha minggir, tapi Jae Ha tak mau, “Apakah kau tahu kenapa ia kabur? Karena ia tak ingin kau melihatnya dalam kondisi seperti itu.”

“Kubilang minggir!”


Jae Ha menahan Tae Hee, namun tangannya malah dicengkeram oleh Tae Hee. “Jika kau mengkhawatirkannya, seharusnya kau tak melepasnya sebelumnya. Kau seharusnya tak melepas tangannya dan pergi kabur bersamanya. Jika kau punya keberanian itu, maka sekarang kau boleh mengejarnya. Pada akhirnya, kau tak dapat melakukan apa-apa untuknya. Jadi untuk apa kau mengejarnya sekarang? Ja Eun mengalami masa-masa sulit sekarang. Jika kau tak dapat melakukan apa-apa, jangan mengejarnya. Pergilah sekarang. Itu hal terbaik yang dapat kau lakukan.”


Menyadari semua perkataan Jae Ha benar, ia melepas cengkeramannya dan meninggalkan tempat itu.


Di luar, ia hanya dapat berteriak frustasi dengan semua langkah yang tak dapat ia lakukan. Maju kena, mundur pun ia tak sanggup.


Akhirnya ia hanya dapat melakukan satu hal. Kembali minum-minum.


Jae Ha menyusul Ja Eun ke kamar kecil, membuat para wanita yang masuk mengomelinya, tapi Jae Ha tetap masuk. Ia mencari ke setiap WC, sampai ia menemukan Ja Eun yang duduk menangis. Maskaranya telah luntur semua. Ia meratap dan meminta Jae Ha untuk mengantarkannya pada Tae Hee di perkebunan. Ia sangat merindukannya.


Jae Ha menatap Ja Eun kasihan, dan bergumam, “Haruskah aku membawamu kesana? Kau telah menahan perasaanmu dengan baik selama ini. Haruskah aku membawamu kesana?”


Setelah pertemuan keluarga, Nenek menyuruh Tae Bum untuk segera pulang karena Soo Young pasti sudah menunggunya di rumah.


Belum sempat Tae Bum pulang, Tae Hee datang dengan kondisi sangat mabuk dan menangis. Begitu datang, ia langsung memohon pada nenek agar menyelamatkannya kali ini saja. Kali ini saja, ia mohon agar nenek dapat memaafkan Ja Eun.


“Aku tak tahan, Nek. Perasaan ini membuatku gila. Aku tak dapat makan, tak dapat tidur, aku tak dapat melakukan apapun karena aku rindu pada Ja Eun,” Tae Hee mendekap dadanya, air matanya tak dapat berhenti, “Rasanya di sini semuanya hancur dan rasanya sesak sekali. Aku tak dapat bernafas karenanya, Nek. “


Nenek memandang Tae Hee tak percaya, “Kau sudah gila, ya. Apakah kau masih berpikir waras?”


Tapi Tae Hee malah memegang tangan nenek, memintanya untuk mengabulkan permintaannya kali ini saja. “Waktu Baek In Ho hidup kembali, aku pikir semuanya tak mungkin berlanjut. Jadi aku memutuskannya. Aku memutuskannya, Nek. Tapi aku sekarang tak tahan lagi.”


Tae Shik menutup matanya, tak tega melihat Tae Hee mengemis pada nenek. Tae Pil dan Tae Bum termangu mendengar tangisan Tae Hee. Hanya ibu yang menatap Tae Hee dengan rasa iba.


Nenek malah membentaknya, “Apakah kau ingin mengatakan kalau kau ingin menikahinya? Itu yang ingin kau katakan? Kau ingin menikahi putri dari orang yang membunuh ayahmu?!”

“Ya, Nek. Kalau nenek mengijinkan,” jawab Tae Hee keras kepala.


Nenek menatap Tae Hee tak percaya, dan setelah beberapa saat akhirnya hanya dapat mengatakan, “Pergi dan matilah kau.” Ia memukuli Tae Hee yang tak bergerak menerima pukulan itu.


Ia akan terus memukuli Tae Hee jika tak ditahan oleh Tae Shik dan Ibu, “Apakah kau sudah gila? Lepaskan aku! Aku akan membunuh anak ini dan aku akan mati juga hari ini!”


“Nenek, maafkanlah Ja Eun. Aku akan membalasnya seumur hidupku, tapi maafkanlah ia.”

Kali ini Ayah yang marah mendengar kata-kata Tae Hee, dan menyuruhnya berhenti. Tae Pil buru-buru menahan ayah, dan Tae Shik menyuruh Tae Bum untuk membawa Tae Hee pergi sekarang. Tae Bum mengangkat Tae Hee untuk menjauhi nenek yang masih ingin memukuli Tae Hee.


Tapi Tae Hee berteriak tetap memohon padanya, “Nenek!”


Selanjutnya : Sinopsis Ojakgyo Brothers Episode 53


Thanks to : Cadence from Soulsrebel

14 comments :

  1. Kasian Ja eun sama Tae Hee..

    pertengkaran 2 ipar yang lucu ^^

    ReplyDelete
  2. wah... makin sedih nih... apalagi nanti ep 55.. akhirnya semua kebenaran terungkap.....^^

    ReplyDelete
  3. ugh.........
    menyedihkan.....

    ReplyDelete
  4. Mbak dee thanks yah..
    mbk dee tolong dong ngerecap ep 53 ampe 56 nya lbh cepat.., dah gak sabar neh.., mksh yh mbk dee.., ttp semangat.., ^^

    ReplyDelete
  5. kapan kesedihan ini akan berakhir dan berganti kebahagiaan???kngn pngn liat senyum Tae Hee&Je Eun lgi,cepet2 posting ep slanjutnya mbak..@_@

    ReplyDelete
  6. tq sinopsisnya...sya dri Msia...sya ska sgt dgn drama ni...

    ReplyDelete