January 21, 2012

Novel : The Moon That Embracing The Sun - Bab 2


Novel The Moon That Embracing The Sun - Bab 2 ini ditransliterasi cukup singkat oleh Blue, namun mencakup semua. Kenyataan adalah pengantar yang diceritakan cukup panjang di novel tapi bisa menjelaskan bagaimana Woon dan perasaannya terutama di Bab 3.


The Moon That Embraces The Sun – Bab 2


Kenyataan : 

- Semua pria yang masuk ke dalam istana harus memakai topi, kecuali Woon.
- Nama panggilan Woon adalah Bingwoon, yang artinya Awan Beku
- Untuk alasan keamanan dan fengshui, Hwon tidur di kamar yang berbeda setiap malam. Beberapa orang yang tahu di mana raja tidur di kamar yang ditunjuk hanyalah tiga ahli nujum, beberapa kasim yang bertugas, beberapa dayang-dayang dan Woon.


Woon pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh pesan rahasia, di mana Hwon akan tidur malam ini. Tapi Woon malah menemukan Hwon di tempat lain.

“Apa yang membawa Paduka datang ke tempat ini?”

“Aku duduk di sini untuk menemui bulanku. Tapi, seberapa keras aku ingin menjadikannya sebagai milikku, langit pun juga bersikeras kalau bulan adalah miliknya. Jadi bagaimana mungkin aku dapat mengalahkan langit? Langit pasti membenciku karena harus membagi bulan denganku, maka ia menyembunyikannya seperti sekarang ini. Aku yakin kalau kau dapat membawakan bulan kepadaku, tapi..”

Setelah malam pertemuan mereka, Hwon telah menyuruh Woon untuk menjemput Wol, tapi ia tak dapat ditemukan di manapun. Pondoknya kosong dan semua orang di desa tak pernah mendengar wanita yang digambarkan seperti Wol. Bahkan tak ada nama Wol di daftar resmi Shaman.

Berhari-hari Woon berada di rumah Wol, tapi ia tetap tak muncul. Hanya saja Woon tak memberitahukan pada Hwon kalau wangi bunga anggrek tetap tercium dari ruangan itu. Atau saat ia menunggu, betapa ia menginginkan kemunculan Wol, walaupun hanya dalam bentuk roh. Woon tak tahu apakah keinginannya itu demi kepentingan Hwon atau untuk kepentingannya sendiri. Ia juga tak dapat memberitahukan bagaimana wangi bunga anggrek dan sinar bulan membuat hatinya pedih, tapi anehnya, juga memberikan perasaan lega.

Sementara itu di sebuah pondok kecil, seorang shaman wanita tua yang dikenal dengan Nyonya Jang, tak seperti biasanya sedang buruk suasana hatinya. Ia memerintahkan pelayan wanitanya, Janshil, untuk mempersiapkan sambutan bagi para tamu. Janshil mengeluh, bertanya-tanya tamu seperti apa yang harus ia sambut

Tapi betapa terkejutnya Janshil, ada dua tamu mengunjungi pondok mereka. Yang satu adalah pendeta Hyegak, seorang pria tua dengan rambut dan jenggot putih dan panjang sambil membawa tongkat. Satu lagi adalah seorang pejabat muda golongan 4, wakil dari Kantor Astronomi Kerajaan.

Mula-mula pendeta Hyegak meminta Nyonya Jang untuk kembali ke istana sebagai ketua Shaman, tapi pejabat kerajaan yang tak sabar, langsung memotong dan mengatakan alasan kunjungan mereka. Pejabat itu meminta Nyonya Jang untuk meminjamkan putrinya selama sebulan karena kesehatan Raja memburuk dan tabib istana tak tahu apa penyebabnya.

Nyonya Jang marah karena harus mengirimkan putrinya yang juga shaman ke istana saat bintang Sirius tertutup dalam kegelapan, yang menandakan firasat buruk kalau negara akan mengalami keterpurukan. Tapi ia tahu kalau ia tak punya pilihan lain.

Setelah kedua tamu itu pergi, Nyonya Jang mulai minum-minum, rasanya ingin minum sampai mati. Kemudian ia berbicara di hadapan sebuah kamar yang gelap.

“Tuanku Putri. Apakah Anda mendengarnya? Sepertinya Anda harus masuk ke istana.”

Dari dalam ruangan gelap itu, Wol berkata, meyakinkan kembali pada Nyonya Jang, “Aku hanya akan duduk di dekat Baginda Raja untuk satu bulan.”

“Bukan berada di dekat Baginda Raja. Tapi lebih tepatnya lagi, berada di sampingnya saat ia sedang tidur. Untuk satu bulan, namun Baginda Raja tak boleh tahu kalau Anda mengunjunginya. Tidak, beliau tak boleh tahu.”

Selanjutnya : The Moon that Embraces the Sun - Bab 3

All credits go to the author of The Moon that Embraces the Sun, Jung Eun Gwol. Thanks to Blue for her English translation from Bellectricground. Indonesian translation by Dee from Kutudrama.


5 comments :

  1. Klo dipikir2..mungkin Woon jg suka pada Wol???

    Tanda tanya besaaaaaaaaarrrr..
    *berharap mba Dee mo bantu ngejelasin..

    Gomawo n Fighttttiiiiing!!!! ^_^

    ReplyDelete
  2. @Sambenx : kayanya sih begitu. Sebenernya dr bab 1, Woon kayanya sudah berempati dengan Wol
    Bab 1 : Di hadapan Woon terlihat sisi samping wanita itu. Walaupun sebuah wajah dapat berdusta, tapi tidak dengan postur tubuhnya. Dan bagi Woon, kesedihan wanita itu nampak kentara sekali. Agar tak melihat wanita itu, Woon menundukkan kepala dan menutup matanya.
    Bab 2 : di paragraf ke 5 dan penutupnya 'Ia juga tak dapat memberitahukan bagaimana wangi bunga anggrek dan sinar bulan membuat hatinya pedih, tapi anehnya, juga memberikan perasaan lega'. Anggrek adalah wewangian yang dipakai oleh Wol. Dan perasaan lega karena Hwon belum dapat menemukannya.

    Di bab 3 dan 4 juga ada sekilas perasaan Woon pada Wol, tapi karena ia pendiam, sepertinya Jung Eun Gwol (pengarangnya) juga irit saat menceritakan perasaan Woon.
    Beda dengan perasaan Minhwa yang sangat ceplas ceplos. Jung Eun Gwol dapat menceritakan perasaan Minhwa dengan leluasa.

    ReplyDelete
  3. sippppppppppppppp...beda banget ceritanya mbak ^^

    ReplyDelete
  4. bab 7 nya mana nih?

    ReplyDelete
  5. Itu dirangkum? Soalnya di bab 1 panjang banget tapi intinya cuma ketemu trs rajanya ditolak. Hahaha.
    Novel saeguk (ada nggak sih istilah ini) ternyata bahasanya muter2. Nggak jauh beda sama novel indo jaman dulu ya. Haha.
    Sekali lg, thanks buat mbak translatornya :D

    ReplyDelete