November 4, 2011

Sinopsis Protect The Boss Episode 15



Heartbreaking …

Sinopsis Protect The Boss Episode 15



Ji Heon menunggu penjelasan dari Eun Seol, tapi Eun Seol tetap membisu. Maka Ji Heon meminta Eun Seol untuk pulang sendiri kali ini. Jelas sekali kalau ia marah. Eun Seol pun menyadarinya. Semalaman ia berpikir, begitu juga dengan Ji Heon.


Namun keputusan yang mereka ambil berbeda 180 derajat. Eun Seol memutuskan untuk menelepon Ji Heon, namun Ji Heon malah tak menggubrisnya. Ia terus bermain game walaupun handphonenya berdering dan  berkedip-kedip memanggilnya. 


Akhirnya Ji Heon tak tahan dan keluar kamar dan handphonenya masih dibiarkan berdering. Ia kemudian mengkonfrontasi ayahnya, apa alasan ayah menyuruhnya putus dengan Eun Seol?

Ayah yang diam seribu bahasa membuat Ji Heon marah. Kenapa Ayah dan Eun Seol sama-sama tak mempercayainya? Apakah ia memang anak dan pacar yang tak berguna?

Akhirnya ayah menceritakan kalau Eun Seol menemukan dokumen penggelapan pajak DN grup. Ia juga meminta Ji Heon untuk bersiap-siap menghadapi penyelidikan. Tapi apakah Eun Seol benar-benar orang yang membocorkan dokumen itu? Ayah sendiri juga belum begitu yakin. Ji Heon marah dan meminta ayah untuk menerima konsekuensi akibat perbuatan ilegalnya.

"Aku melakukannya ini untukmu."
Kata-kata itu yang membuat Ji Heon semakin marah. Semua ini demi Ji Heon? Ia tertawa miris dan mengatakan pada ayahnya kalau ia akan menyudahi semuanya, baik dengan ayahnya maupun dengan Eun Seol.


Ji Heon keluar rumah, dan duduk termangu di taman.  Sementara itu tak jauh dari Ji Heon, Eun Seol duduk di gerbang luar rumah Ji Heon mencoba meneleponnya.


Keesokan harinya, Eun Seol kembali datang ke rumah Ji Heon namun ditahan oleh Sekretaris Jang. Apakah Eun Seol sudah gila? Tapi Eun Seol bersikeras ingin menemui Presdir Cha untuk menjelaskan kesalahpahaman kemarin.

Sekretaris Jang menahannya dan memintanya untuk diam sampai masalahnya reda. Eun tak mau karena menuruti sarannya untuk tak memberitahukan Presdir Cha dan Ji Heon, sekarang mereka salah paham padanya. Tapi Sekretraris Jang tetap memaksanya untuk segera pergi karena tak mau membuat Presdir Cha semakin marah. Eun Seol pun akhirnya menurut.


Dan di kantor, ia harus berhadapan dengan sekretaris lainnya yang menuntut penjelasan Eun Seol karena mereka mendapat permintaan untuk mengemasi barang-barang Eun Seol dari ruang sekretaris.  Belum sempat Eun Seol menjelaskan lebih banyak, Ji Heon datang dengan muka masam dan teman-teman sekretarisnya menyadari kalau, tak seperti biasanya, ia malah tak menghiraukan Eun Seol.


Eun Seol segera menyusul Ji Heon untuk memberitahukan hal yang kemarin ditanyakan oleh Ji Heon. Dengan dingin Ji Heon menolak, karena mereka telah berjanji untuk tak membicarakan hal-hal personal di kantor. Namun Eun Seol mendesak dengannya dan akhirnya Ji Heon mau mendengarkan. Tapi ia hanya akan mendengarkan hal-hal yang belum ia ketahui dan ia mengerti, dan ia tidak akan mendengar untuk hal yang ia sudah tahu.

Eun Seol mengatakan kalau ia melihat sesuatu yang rahasia. Ji Heon menyelanya, dokumen rahasia? Ia sudah tahu. Ada lagi? Eun Seol terkejut mendengarnya. Ia kemudian menjelaskan kalau sepertinya ada orang yang tahu hal ini dan memanipulasi keadaan hingga terlihat kalau ia yang melaporkan.


Ji Heon mengatakan kalau Eun Seol bukan tipe orang yang seperti itu. Ia mengerti dan tak akan salah paham pada Eun Seol. Jadi mereka tak perlu membicarakan lebih jauh lagi. Eun Seol mengerti namun ia juga ingin menjelaskan alasannya mengapa ia tak dapat memberitahu hal ini pada Ji Heon.

Belum sempat ia mengatakan alasannya, ada sekelompok orang dari pengadialan yang datang dan meminta semua orang untuk menghentikan kegiatannya karena mereka mendapat surat izin untuk memeriksa DN Grup.


Dan Nenek akhirnya mengetahui melalui televisi kalau akan ada pemeriksaan terkait dengan tuduhan penggelapan pajak yang dilakukan oleh Presdir Cha Bong Man, anaknya dan Cha Ji Heon, cucunya.


Para pengacara DN grup mulai memberitahu apa yang harus dilakukan oleh Presdir Cha dan Ji Heon. Intinya mereka hanya mengatakan ‘tidak tahu’ atau diam untuk semua pertanyaan yang diberikan pemeriksa.

Presdir Cha mendengarkan setengah hati karena pemeriksaan ini bukan untuk yang pertama kali baginya. Mendengar semua itu, Ji Heon hanya tertawa kecil, mereka ini lucu sekali dan mereka bahkan sedang tidak bermain komedi. Ia pun meninggalkan ruangan kerja ayahnya, membuat Presdir Cha berteriak marah mengatai Ji Heon anak nakal.

Manager Park mengikuti rapat itu dengan sedikit ketakutan, apalagi saat Presdir Cha memperingatkan kalau ia akan menghukum orang yang berkhianat padanya.


“Hidup adalah mati dan mati adalah hidup. Orang yang ingin mati akan dapat hidup, begitu juga sebaliknya. Siapa yang mau cari selamat sendiri pasti akan mati.”
Presdir Cha juga mengatakan kalau ia tak percaya Eun Seol yang membocorkan rahasia ini. Pasti ada orang yang mendalanginya. Dan orang itu adalah pengkhianat yang akan mati di tangannya.

Manager Park meneguk ludah ketakutan.Presdir Cha mengeluh dadanya sakit dan minta diantar ke rumah sakit segera. Sekretaris Jang yang masih dipenuhi oleh pikiran pemeriksaan dan dakwaan menyarankan Presdir Cha agar sabar sedikit, karena masuk rumah sakit biasanya dilakukan pada saat pembacaan dakwaan. Presdir Cha berkata kalau ia benar-benar kesakitan.

“Ah.. senang mendengarnya, Pak. Dokter Kim sudah memesankan satu kamar VIP untuk Bapak.”

Presdir Cha minta SEGERA ke rumah sakit sekarang.

“Baik, Pak. Akan lebih baik kalau saya memanggil ambulans, ya..”
LOL. Benar kata Ji Heon, mereka sangat lucu padahal tidak sedang bermain komedi.


Ibu Na Yoon menerima pengaduan Manager Park yang ketakutan, dan mengeluh kalau Manager Park sangatlah aneh. Sebentar-sebentar ia mengatakan tak ingin dipenjara, tapi sekarang Manager Park mengatakan tak masalah jika ia dipenjara.

Ibu Moo Won tak percaya pada kelakuan temannya yang menyelidikinya, bahkan mengambil mata-matanya. Ia memperingatkan agar ibu Na Yoon tak menyeretnya ke dalam kasus ini, atau kalau tidak ia akan menjambak rambut ibu Na Yoon.


Ibu Na Yoon terkesiap mendengar ancaman ibu Moo Won. Na Yoon datang dan langsung menuduh ibunya yang menjadi dalang di balik semua ini. Tapi ibu Na Yoon berpura-pura polos tak  tahu apa-apa. Hanya saja ibu Moo Won bangkit meninggalkan ibu dan anak itu sambil membenarkan perkataan Na Yoon.


Ji Heon kembali ke ruangannya dan melihat Eun Seol sedang memunguti kertas-kertas yang berantakan akibat pemeriksaan tadi. Ia menyuruh Eun Seol menyiapkan mobil sekarang juga. Dalam bahasa Korea, kata mobil dan teh memiliki bunyi yang sama dan Eun Seol mengusulkan untuk menyiapkan teih hijau untu Ji Heon.

Tak seperti biasanya, Ji Heon tak menanggapi kesalahan Eun Seol. Ia menelepon Sekretaris lainnya untuk langsung untuk mempersiapkan mobil, membuat Eun Seol menyadari kesalahannya dan meminta maaf.

Menanggapi permintaan maaf Eun Seol, Ji Heon hanya berkata dingin,

“Tak masalah. Kau membuat kesalahan seperti ini bukan untuk yang pertama kalinya.”
Dan Ji Heon langsung pergi meninggalkan Eun Seol. Buru-buru Eun Seol mengambil tasnya dan mengejar bosnya, meninggalkan sekretaris lainnya yang mulai sibuk bergosip. Kabarnya, Eun Seol adalah orang yang membocorkan rahasia perusahaan?


Tiba-tiba pintu ruang Moo Won terbuka dan Moo Won menghardik para sekretaris agar menghentikan gosip itu, bukan malah menyebarkannya. Noh Eun Seol bukan orang yang membocorkan rahasia, jadi jangan membicarakan hal itu atau menyebarkannya.


Pintu lift yang membawa Ji Heon turun hampirmenutup dan hampir membentur Eun Seol yang ingin masuk. Refleks Ji Heon menahan pintu. Dengan acuh Ji Heon bertanya apakah Eun Seol baik-baik saja? Eun Seol mengiyakan.


Eun Seol meminta kesempatan untuk  meneruskan apa yang mereka bicarakan sebelum terpotong oleh kedatangan pemeriksa, Setidaknya Ji Heon memberikan kesempatan Eun SEol untuk meminta maaf. Tapi Ji Heon tak mau. Ia malah memalingkan mukanya, membuat Eun Seol meraih muka Ji Heon dan memaksanya untuk memandangnya. Ji Heon mengingatkan Eun Seol apa yang baru saja ia lakukan?

Tiba-tiba pintu lift terbuka sehingga Eun Seol melepaskan tangannya dan beberapa pegawai masuk. Mereka melirik diam-diam ke arah Eun Seol. Rupanya gosip itu memang sudah menyebar.


Di lobi kantor mereka bertemu dengan Presdir Cha yang terbaring di tempat tidur dorong. Melihat Eun Seol, ia menghardik Eun Seol yang masih berani muncul di hadapannya. Eun Seol buru-buru meminta Presdir Cha untuk mendengarkannya, karena semuanya ini adalah salah paham. Ji Heon menarik Eun Seol, menghentikannya bicara.


Ia berkata sarkastik kalau ayahnya sudah semakin mahir. Presdir Cha kesal, ia benar-benar kesakitan sekarang. Presdir Cha akhirnya meminta Sekretaris Jang untuk segera membawanya pergi.

Ji Heon menyuruh Eun Seol untuk tak mengikutinya. Ia malu pada Eun Seol, dan banyak wartawan yang nanti menghadangnya. Eun Seol menyarankan untuk keluar lewat parkir basement, tapi  Ji Heon menolak. Tak seperti Eun Seol, ia sudah terbiasa menghadapi wartawan. Dan untuk kesekian kalinya, mereka, Ayah preman dan anak papa akan bertemu di headline koran.


Di atas tempat tidur dorong, Presdir Cha kesulitan masuk ke dalam ambulans karena para wartawan menghadangnya dan memberondongnya dengan pertanyaan. Ji Heon memandang kerumunan itu, kemudian ia berteriak, memberi isyarat kalau ia sudah hadir. Dan kerumunan itu mencair dan mulai mengerubuti Ji Heon, membuat Presdir Cha dapat masuk ke dalam ambulans.

Namun sekarang Ji Heon yang kesulitan memasuki mobilnya. Para wartawan itu tak mau memberi kesempatan untuk Ji Heon memasuki mobilnya, hingga Ji Heon berkata kalau ia akan menjawab pertanyaan mereka di lain kesempatan mereka bertemu.


Tiba-tiba Eun Seol menyeruak masuk ke dalam kerumunan itu dan menghalangi mereka mendekati Ji Heon. Ji Heon langsung masuk mobil, dan mobilnya pun langsung pergi meninggalkan Eun Seol. Dari spion, Ji Heon melihat Eun Seol yang didorong kesana kemari. Ia tak tega melihatnya.

Ji Heon menyuruh supirnya menghentikan mobil sekarang juga, tapi supirnya menyarankan sebaliknya karena berbahaya bagi Ji Heon. Ji Heon bingung bercampur kesal karena tak dapat melakukan apapun.


Malang bagi Presdir Cha. Sesampainya di rumah sakit, rasa sakitnya menghilang. Kebetulan nenek orang pertama yang mengunjunginya. Ia langsung menghardik Presdir Cha karena mempermalukannya. Apakah anaknya ini tak tahu malu? Presdir Cha menyahut kalau ia sebenarnya juga malu.

Nenek mengusulkan agar menggunakan kesempatan ini untuk mengaku dan menghentikan tindakan finansial yang illegal di dalam perusahaan. Presdir Cha mengatakan kalau ia hampir saja melakukan itu, namun keburu ketahuan semuanya.


Ibu Moo Won meyakinkan anaknya kalau ia benar-benar tak terlibat dalam masalah yang ditimbulkan ibu Na Yoon. Bahkan ia sudah memperingatkannya. Ibu meminta Moo Won percaya padanya.

Moo Won mencoba percaya pada ucapan ibunya. Walaupun begitu, ibunya tak dapat menghindari kenyataan kalau ia memiliki andil dalam masalah ini. Dan ia sekarang tak sanggup menghadapi Ji Heon dan Eun Seol, bahkan untuk meminta maaf pada mereka. Ia tak tahu jalan keluarnya untuk memecahkan masalah ini.

Ibu juga sedih akan masalah ini, tapi ia tak dapat meminta maaf pada Presdir Cha karena jika ia ketahuan memiliki andil, ia akan dipecat oleh para pemegang saham. Moo Won memperingatkan ibunya kalau ini kali terakhir ibunya berbuat ulah dalam pertikaian ini, jika tidak ia akan memutus hubungan dengan ibunya.

Whoahh.. ibu Moo Won terbelalak mendengar peringatan keras dari anaknya.


Na Yoon menemui Moo Won untuk mencari tahu, apakah ibunya yang menyebabkan kasus ini tereksploitasi? Moo Won mengiyakan, ia juga mengatakan kalau ibu Na Yoon juga membuat Eun Seol sebagai orang yang membocorkan dokumen itu.


Mendengar hal itu, Na Yoon mengatakan kalau ia memiliki muka untuk bertemu dengan Ji Heon dan Eun Seol. Moo Won pun berpikiran sama. Sambil menangis, Na Yoon bertanya apa yang bisa ia lakukan untuk Eun Seol?


Moo Won tak menjawab, hanya mengomentari Na Yoon yang gampang menangis jika mendapat suatu masalah. Ia menyuruh Na Yoon untuk kuat dan tak selalu menangis. Na Yoon menatap Moo Won dari samping, dan Moo Won pun tertawa menggodanya. Ketahuan juga kalau ia sedang terpesona pada Moo Won.


Ji Heon membaca berita tentang ayahnya dan teringat kata-kata Eun Seol untuk memberinya kesempatan bicara dan minta maaf. Ia kemudian bangkit untuk kemudian pergi.


Myung Ran melihat berita Presdir Cha yang ada di internet. Eun Seol mengeluh pada Myung Ran, karena dirinyalah, mengutip kata Ji Heon: batu semesta, semuanya jadi kacau. Myung Ran mengkoreksi kalau hal itu bukan kesalahannya. Ia hanya melihat dokumen itu. Untuk menghiburnya, ia menyarankan agar mereka makanan agar Eun Seol mendapat tenaga dan akan merasa lebih baik. Tapi Eun Seol menolaknya karena ia memutuskan untuk pergi. Jika Ji Heon tak datang menemuinya, ia yang akan datang padanya.


Moo Won mengantarkan Na Yoon pulang. Na Yoon ingin meminjam uang pada Moo Won, karena ia ingin pindah dari rumah Eun Seol. Tabungannya diblokir oleh ibunya, dan sekarang ia hanya hidup dari gaji bulanan. Jika ia masih tetap di rumah Eun Seol, ia takut ibunya akan terus mencari gara-gara. Moo Won berjanji untuk meminjamkannya. Na Yoon menawarkan untuk memanggil Eun Seol, tapi Moo Won menolaknya.

Namun Moo Won tetap harus bertemu, karena mereka berpapasan dengan Eun Seol yang akan pergi menemui Ji Heon. Na Yoon tahu diri dan meninggalkan mereka berdua.


Mulanya Eun Seol ingin langsung pergi, tapi ia menghentikan langkahnya dan bertanya pada Moo Won. Apakah ibunya ikut andil dalam masalah ini? Moo Won minta maaf, tapi ia tak dapat menjawabnya. Tapi jawaban itu sudah cukup bagi Eun Seol. Tapi hal itu membuat masalah menjadi rumit, karena ia tak dapat membela diri di hadapan Presdir Cha tanpa membawa-bawa nama ibu Moo Won.

Moo Won memintanya untuk menceritakan hal yang sebenarnya. Ia menepuk bahu Eun Seol untuk memberi dukungan.


Dan ternyata Ji Heon melihat hal itu semua. Ia berbalik dan beranjak pergi. Moo Won memanggilnya dan menjelaskan kalau ia pasti salah paham pada mereka. Ji Heon mengatakan kalau tak ada kesalahpahaman. Ia pun beranjak pergi.


Eun Seol lari menghambur dan memeluk Ji Heon dari belakang. Ia minta maaf dan mengatakan kalau semua itu adalah kesalahannya. Ji Heon memegang wajah Eun Seol dan menghapus air matanya.


Di mobil Eun Seol menyuruh Ji Heon untuk memukul dirinya. Dengan nada ringan, Ji Heon menolaknya. Karena Eun Seol akan memukulnya dua kali lebih sakit. Ia mengakui kalau pukulan Eun Seol lebih keras darinya. Jadi apa yang Ji Heon inginkan? Apakah Ji Heon ingin durinya pergi dari hadapannya?


Ji Heon menepikan mobilnya dan berkata kalau ia mungkin akan mengatakannya. Tapi sampai saatnya nanti, ia ingin Eun Seol tetap berada di posisinya sekarang. 

Ia menjelaskan kalau kemarahannya bukan ia tujukan pada Eun Seol. Tapi lebih pada dirinya sendiri. Ia ingin masuk ke dunianya Eun Seol, ia ingin menjadi Presiden Direktur yang baik, tapi apa yang ia lakukan sekarang masih belum cukup.

Sekarang ini, ia ingin berpikir ulang, apa arti dirinya bagi Eun Seol. Dan mungkin setelah ini ia akan amat sangat sibuk dengan pemeriksaan pengadilan.


Jadi ia meminta Eun Seol untuk keluar dari mobil (membiarkannya sendiri). Ia percaya karena Eun Seol mahir berkelahi, maka Eun Seol akan baik-baik saja. Eun Seol mematuhi ucapan Ji Heon dan memintanya untuk mematuhinya lain kali.


Setelah itu Sekretaris Jang, Manager Park, Eun Seol, Presdir Cha dan Ji Heon menjalani pemeriksaan secara terpisah. Eun Seol mengamati kalau pertanyaan yang diajukan padanya mengindikasikan kalau Ji Heon tak memiliki bukti keterlibatan penggelapan pajak itu.


Presdir Cha menjalani pemeriksaan di atas kursi roda dan didampingi oleh Sekretaris Jang dan Ji Heon. Eun Seol yang baru saja keluar dari gedung penyidik bertukar pandang dengan Ji Heon. Di luar gedung, ia menunggu Ji Heon yang sedang diperiksa.


Kebetulan ia melihat Manager Park yang sedang menelepon seseorang. Ia mengikuti Manager Park ke taman sambil menyalakan recorder dari handphonenya. Usai menelepon, Manager Park berhadapan dengan Eun Seol yang langsung mengkonfrontasi, dengan siapa Manager Park bicara ? Ibu Na Yoon atau ibu Moo Won?


Manager Park tak mau menjawab, membuat Eun Seol kesal. Ia menundukkan kepala meminta maaf pada Manager Park karena selama ini ia tak pernah memukul orang sakit atau orang tua. Dan ia langsung meninju perut Manager Park sampai Manager Park terjatuh kesakitan. Ia mencoba bangkit lagi dan mengatakan akan menuntut Eun Seol.


Eun Seol menantang Manager Park untuk melakukannya dan ia akan memberikan rekaman pembicaraanya pada Presdir Cha. Manager Park langsung mengkeret. Tapi Eun Seol merasa satu kali belumlah cukup. Maka ia memukul Manager Park sekali lagi.

Eun Seol akan mengampuni Manager Park kali ini. Tapi ia tak tahu kalau nanti ia akan menjadi preman lagi seperti sekarang ini. Manager Park kaget, akan ada lain kali? Tapi ia akan menerimanya asal rekaman itu tak jatuh ke tangan Presdir Cha.

Wartawan yang berlarian membuat Eun Seol meninggalkan Manager Park. Melihat Ji Heon yang keluar dari gedung penyidik, ia menarik nafas lega. Ji Heon sepertinya baik-baik saja.


Berita mengenai Ji Heon yang kemungkinan tak terlibat dan Presdir Cha yang terancam hukuman 5 tahun penjara kembali menjadi headline di media. Dan Ji Heon kembali dipanggil menjadi anak papa. Bahkan ia dijuluki si Ikan Badut Nasional. Eun Seol mengeluh, apa yang harus ia lakukan sekarang? Myung Ran menyarankan agar Eun Seol menceritakan semuanya pada Presdir Cha. Dan ia menawarkan untuk menemani Eun Seol ke penjara.


Di penjara, Presdir Cha bertanya teman satu selnya, Manager Park, siapa kira-kira yang membocorkan dokumen itu? Ia berpikir, orang itu pasti akan keluar negeri setelah pencekalan dicabut. Manager Park tampak pucat mendengarnya. Ia tak berani menatap bos-nya. Presdir Cha melanjutkan, jika ia melepas jabatannya nanti, ia akan memiliki banyak waktu untuk mengejar pengkhianat itu sampai kemanapun juga.
Presdir Cha mengeluh dadanya sakit lagi, dan akan pergi ke rumah sakit.


Di luar penjara, Eun Seol dan Myung Ran yang hendak menemui Presdir Cha melihatnya dibawa memasuki ambulans.


Sekretaris Jang meminta Ji Heon untuk menjenguk ayahnya di rumah sakit, karena tak seorang pun mengunjunginya. JI Heon menolak karena seperti diketahui oleh seluruh rakyat Korea, ayahnya hanya pura-pura sakit saja. Sekretaris Jang membenarkan, walaupun Presdir Jang kadang-kadang memang mengeluh sakit dada.

Ia juga menjelaskan kalau sebenarnya Presdir Cha sudah berniat untuk membersihkan hal-hal yang illegal di perusahannya. Namun sebelum terjadi, masalah itu sudah terkuak. Ji Heon masih tak percaya. Ayahnya sudah diberi banyak kesempatan tapi tetap tak sadar juga. Ia tak percaya kalau Presdir Cha adalah ayahnya.


Sekretaris Jang mengatakan kalau bossnya mengatakan hal yang sama dengannya. Presdir Cha tak percaya kalau Ji Heon adalah anaknya. Nenek menyela dan mengatakan kalau ia juga tak percaya kalau Sekretaris Jang adalah sekretaris anaknya.

Namun Nenek menyuruh Ji Heon untuk menemui ayahnya. Jika ingin marah, marahlah padanya. Jika orang tua bersalah, ia patut dimarahi oleh anaknya.


Moo Won menemui ibu Na Yoon dan menyerahkan daftar lukisan yang akan ia sita sebagai jaminan aset pembeliah saham terdahulu jika ia masih melakukan maneuver seperti dulu. Walaupun panik, tapi Ibu Na Yoon berpura-pura kalem dan mengatakan kalau  ibunya juga memiliki andil dalam hal ini. Moo Won tak bergeming dan mengatakan iapun akan melaporkan ibunya.

Ibu Na Yoon tak bergeming. Ia menyilahkan Moo Won melakukannya. Ia tak takut pada ancaman Moo Won.  Moo Won juga tak bergeming. Ia masih memiliki Na Yoon  yang menyukainya. Ibu Na Yoon terkejut. Bukannya dulu Moo Won menyukai Na Yoon? Moo Won membenarkannya. Tapi ia akan main-main dalam berhubungan dengan Na Yoon jika ibu Na Yoon masih berbuat onar.


Malang, pada saat itu Na Yoon datang dan mendengar semuanya. Ia menangis dan berlari pergi, dan Moo Won pun mengejarnya. Ia menjelaskan kalau yang ia katakan tadi hanya untuk ibu Na Yoon.


Moo Won membawanya ke suatu tempat yang ternyata adalah calon apartemen Na Yoon. Tapi Moo Won tak memiliki waktu untuk menemani Na Yoon melihat tempat barunya karena ia akan  menjenguk Presdir Cha. Na Yoon pun ikut karena ingin menjenguk.

Dan keempat orang itu pun menuju rumah sakit.


Eun Seol yang pertama kali mencoba masuk, tapi ditahan oleh pengawal di depan pintu. Ruangan ini bukan untuk umum.


Maka ia menyamar menjadi dokter dan mencoba masuk ruangan dengan beberapa dokter yang lewat.  Kedatangannya yang kedua dilihat oleh Ji Heon dan Na Yoon yang menyadari samaran Eun Seol.


Sayangnya Eun Seol gagal lagi. Para pengawal itu memegang Eun Seol untuk menghentikannya. Refleks Eun Seol berkelit dan menghajar pengawal-pengawal itu, membuat Moo Won dan Na Yoon terbengong-bengong melihat keperkasaan Eun Seol secara live.



Setelah itu Eun Seol masuk dan bersembunyi dalam satu ruangan. Tak ia sangka, ternyata ia masuk ke dalam ruangan Presdir Cha. Tak ia sangka pula, Ji Heon ada di dalam ruangan itu, mendengarkan permintaan ayahnya tentang Eun Seol.


Ayah meminta Ji Heon untuk tak meneruskan hubungannya dengan Eun Seol. Ayah tak percaya kalau Eun Seol yang membocorkan dokumen perusahaan, tapi Eun Seol tetap bukan calon tepat untuk Ji Heon. Karena rasa sukanya pada Eun Seol, membuatnya lupa kalau semua kejadian yang menimpanya karena Eun Seol. Saat ia harus menjalani pelayanan masyarakat dan kasus yang terakhir, semuanya diawali oleh Eun Seol.


Ji Heon tertawa mendengarnya. Setengah adalah salah si kepala cepol, dan setengahnya lagi salah dari seorang Presiden Direktur kekanak-kanakkan yang ingin balas dendam.

Ayah mengakui hal itu. Tapi ia melakukannya karena ia mencintai perusahaannya. Ia mungkin harus melepas jabatannya, dan ia ingin Ji Heon yang maju menggantikannya. Tapi hal itu tak akan terjadi jika Ji Heon masih bersama  dengan Eun Seol.

Mendengar hal ini, Ji Heon hanya dapat bertanya,

“Jadi apakah Ayah menginginkan kami berpisah? Atau.. apakah Ayah ingin aku memutuskan Eun Seol?”
Merasa cukup mendengar semuanya, dengan sedih Eun Seol memutuskan untuk keluar ruangan. Di depan pintu, pengawal itu segera menangkap Eun Seol. Mereka memegang jas dokter Eun Seol dan akan membawanya ke kantor polisi untuk diinterogasi.


Perlahan-lahan Eun Seol melepas jas dan langsung melarikan diri. Hanya seorang yang pro dan terlatih mampu melakukannya. Para pengawal itu mencoba mengejar Eun Seol, namun segera ditahan oleh Moo Won dan Na Yoon yang mengancam akan menggigitnya.


Ayah bertanya apakah Ji Heon yakin mampu memutuskan Eun Seol? Ji Heon mengatakan ia  tak mampu. Tapi jika memang harus, ia akan melakukannya.

Ayah kesal karena tak mengerti kata-kata Ji Heon yang berputar-putar. Apalagi Ji Heon berkata kalaupun ia memutuskan Eun Seol, pastinya bukan karena alasan yang diberikan oleh Ayah.


Na Yoon dan Moo Won mengejar Eun Seol dan bertanya apakah ia tak dapat menemui Presdir Cha? Eun Seol tak menjawab, ia malah bertanya pada mereka apakah boleh jika ia bertindak tak sopan sekaliii saja pada ibu mereka?


Moo Won memperbolehkan dan Na Yoon tak menolak. Ia hanya khawatir kalau nanti Eun Seol memukul mereka. Eun Seol hanya tersenyum tak menjawab kekhawatiran Na Yoon.

Sepanjang malam, Eun Seol duduk di halte bis memutar ulang apa yang ia dengar di rumah sakit dan apa yang dikatakan Ji Heon saat di dalam mobil. Ia berkata pada dirinya sendiri,

“Sebagai sekretarismu, tugasku adalah melindungi dan menjagamu. Dan sekarang hal itu menjadi kebiasaan. Dan aku tak menyadari kalau semuanya akan berakhir karena itu.”
Saat itu juga mobil Ji Heon melewati Eun Seol tapi mereka tak melihat satu sama lain.


Ibu Na Yoon mengeluh kalau telepon dari Manager Park sangat mengganggunya. Ia bahkan menyebut Manager Park sebagai hantu air yang selalu meminta lebih padanya.

Menurut urban legend Korea, hantu air adalah mereka yang meninggal karena tenggelam dan kesepian. Karena tak ingin kesepian di dalam air, mereka biasanya menarik perenang untuk menemani mereka.


Namun kali ini yang menemui mereka bukanlah hantu air, melainkan Eun Seol dan Myung Ran yang ingin memberi pelajaran pada mereka. Sia-sia saja ada pengawal yang mencoba meringkus mereka, karena dengan mudah Eun Seol dan Myung Ran menghajar mereka. Myung Ran bahkan memiting mereka ketika Eun Seol ‘bertukar sapa’ dengan ibu Na Yoon dan ibu Moo Won.


Eun Seol tahu kalau mereka berdua yang menjebaknya agar tampak seperti pengkhianat.  Namun karena mereka adalah ibu dari orang-orang yang disayangi Eun Seol maka kedatangannya kali ini hanya untuk memperingatkan mereka agar tak mengulangi lagi perbuatannya. Jika tidak Eun Seol akan bertindak lebih dari sekarang, yang tak menganggap ibu Moo Won dan ibu Na Yoon sebagai wanita dan orang yang lebih tua.


Ibu Na Yoon dan Ibu Moo Won ketakutan, dan berjanji (dengan bahasa formal, jonmal) kalau mereka tak akan mengulanginya lagi. Eun Seol juga menyuruh mereka agar tak memecat pengawal yang mereka ringkus. Bukannya mereka yang tak becus, tapi Eun Seol dan Myung Ranlah yang luar biasa perkasa.

LOL. Kedua wanita itu semakin ketakutan mendengarnya.


Di luar, Myung Ran bertanya pada Eun Seol, apakah ia sudah merasa lebih baik? Eun Seol mengiyakan walaupun rasanya tak sebaik yang ia perkirakan. Karena yang ia lakukan tadi tak membuat Presdir Cha lepas dari jeratan hukum.


Myung Ran memeluk Eun Seol untuk memberikan dukungan padanya. Namun hanya sesaat karena ada handphonenya berbunyi. Ji Heon! Serta merta Eun Seol mendorong Myung Ran membuat Myung Ran menggerundel kalau semuanya pasti akan lupa kalau berhubungan dengan cowok.

Ternyata Ji Heon memintanya untuk bertemu. Kabar itu bagi Myung Ran menggembirakan, tapi Eun Seol merasa kalau suara Ji Heon sedikit aneh.


Eun Seol berdandan secantik mungkin dan membuat Ji Heon terkesima, mengapa Eun Seol berdandan secantik ini? Eun Seol berdalih kalau ia memang selalu cantik dan meminta kalau biarlah mereka melupakan semua masalah yang ada dan menikmati kencan mereka.


Dan mereka pun pergi ke pinggiran kota. Ji Heon mengajari Eun Seol menunggang kuda dan piknik di padang rumput.


Mereka pun duduk di rumput dan piknik di sana.Mereka memakan bekal, saling menyuapi dan bercanda ria.  Hmm.. mengapa kejadian ini mengingatkan saya pada Boys Before Flowers? Apakah sebentar lagi ..


Ji Heon membawa Eun Seol kembali, namun tidak pulang ke rumah. Ia membawanya ke taman tempat ia kabur dan tersesat ketakutan. Saat itu Eun Seol selalu menemukannya. Mereka bergandengan tangan menikmati udara sore.


Namun perlahan Ji Heon melepaskan tangan Eun Seol dan berkata, “Aku ingin mengistirahatkan hubungan kita sekarang.”



Komentar:

Apa yang menyedihkan bagi seorang pria? Saya bukan pria, jadi saya tak bisa menebak. Tapi menurut Ji Heon adalah jika ia tak dapat menjadi sandaran bagi orang lain. Ia ingin menjadi sandaran, ia telah berusaha, tapi kemampuannya memang masih belum cukup.


Pada awal episode, saya merasa Ji Heon marah pada Eun Seol. Namun di tengan cerita, penjelasan Ji Heon membuat saya menangis. Sebenarnya Ji Heon lebih marah pada dirinya sendiri karena ia tahu, dengan kemampuannya yang sekarang,  belum membuat ayahnya dan Eun Seol mempercayainya untuk menghadapi masalah sebesar ini.

Ia dihadapkan kenyataan kalau sampai sekarang mereka masih belum menganggapnya sebagai laki-laki dewasa yang mampu memecahkan persoalan hidup. Mereka memilih untuk melindunginya dan memecahkan masalah tersebut untuk Ji Heon.

Tentu tindakan ini atas dasar cinta ayah pada anaknya, cinta seorang wanita pada kekasihnya. Tapi apakah hal itu yang diharapkan Ji Heon sebagai pria dewasa yang diharapkan menjadi Presiden Direktur? Apakah hal itu yang diharapkan Ji Heon yang akan menjadi imam dalam keluarga?

Dan benar kata orang, kalau uang bukanlah segalanya. What makes you a man is yourself.


2 comments :

  1. Oenni dee : anyeong haseyo...minal aidin walfaizin....meet idul adha ya Mohon maaf lahir batin.

    Hmmm....Ji Heon sepertinya akan mulai dewasa pada episode 16.
    Daebak oenni dee!

    ReplyDelete
  2. @chasya: met idul adha juga. Mohon maaf lahir batin, sya. Iya mulai dewasa, ya. Jadi tambah serius..

    ReplyDelete