October 17, 2011

Sinopsis Protect The Boss Episode 11

Ji Heon: “Aku akan masuk ke duniamu.”

Moo Won: “Aku akan mengubah duniamu hingga kau menyukainya.”
Aww.. Apa yang harus dilakukan Eun Seol? Siapa yang harus ia pilih?

Sinopsis Protect The Boss Episode 11




Eun Seol  membentak mereka berdua. Walaupun ia merasa bersyukur dan beruntung hingga ingin menangis, tapi  karena keberuntungan itulah sekarang rasanya ia tak dapat bernafas dan tenggorokannya terasa tercekik.


Ia mencekik lehernya membuat Ji Heon khawatir dan membujuk Eun Seol agar tenang. Tapi Eun Seol  malah memukulnya dan memepetnya ke dinding sambil mengatakan jika Ji Heon, yang hanya sebentar menjadi pegawai paruh waktu,  memang ingin memasuki dunianya, ia tak akan melarang. Tapi jika nanti ia mati karenanya, jangan salahkan Eun Seol!


Eun Seol mengepalkan tangannya ke arah Ji Heon, yang membuat Ji Heon otomatis langsung menunduk. Moo Won tersenyum melihatnya. Tapi senyum itu tak bertahan lama karena Eun Seol mendorong Moo Won hingga Moo Won kaget melihat perangai Eun Seol. Apakah Moo Won terkejut melihatnya seperti ini? Inilah Eun Seol yang sebenarnya. Apa yang harus dilakukannya jika mereka berdua menyukainya? Tubuhnya tak dapat dibelah dua.


Ia kemudian mengepalkan tangannya, hendak memukul Moo Won juga, tapi ia tak sanggup. Kenapa? Karena Moo Won bukan orang jahat. Bahkan sebenarnya, dirinyalah yang jahat. Ia memukul-mukul kepalanya sambil merutuki kalau dirinyalah orang jahat.


Ji Heon dan Moo Won berteriak mencegah Eun Seol memukuli kepalanya lagi, namun hal itu malah membuat Eun Seol tersadar kalau tadi ia hendak memukul kedua sepupu Cha itu. Moo Won menggeleng dan Ji Heon mulai khawatir dan meminta Eun Seol untuk kembali ke akal sehatnya. Tapi Eun Seol malah meminta mereka pulang dan terbirit-birit masuk ke dalam rumah.


Moo Won dan Ji Heon saling bertatapan dan bertanya, “Sebenarnya apa yang baru saja terjadi?”

Have  you see that love makes you crazy? She is the proven one.


Di rumah, kedua bukan sahabat -Myung Ran dan Na Yoon- sedang menonton acara gulat. Myung Ran menyuruh Na Yoon untuk meminta orangtuanya menginvestasikan uangnya ke olahraga gulat. Namun Myung Ran menolak karena gulat bukan olahraga yang populer. Mereka, orang kaya, tak akan mau membelanjakan pada sesuatu yang tidak menghasilkan. Myung Ran kesal mendengar jawaban Na Yoon dan secara ‘tak sengaja’ memukulnya.


Na Yoon terjatuh ke samping dan ia melihat Eun Seol sedang berdiri membelakangi mereka, dan membentur-benturkan kepalanya.  Apa yang sedang Eun Seol lakukan?

"Kepalaku penuh dengan banyak pikiran. Jadi sekarang aku dalam proses mengeluarkan pikiran-pikiran itu."
LOL. Don’t try this at home, kids.


Sementara Myung Ran malah menanyakan keberhasilan proses pengeluaran pikiran itu, Na Yoon membantu Eun Seol dengan menyemprotkan cairan relaksasi miliknya.

Double LOL. Mereka benar-benar teman  baik, ya? Menghibur Eun Seol dengan cara mereka sendiri.


Sebelum Moo Won pergi, Ji Heon menghentikannya karena ada yang ingin dibicarakan. Ia ingin menginvestasikan uangnya pada Moo Won, dan membantu ibu Moo Won untuk keluar dari masalah mereka. Kenapa? Agar Eun Seolnya tidak khawatir tentang Moo Won lagi. Ia juga mengajak Moo Won melakukan gencatan senjata. Dan apakah Moo Won tak lelah dengan semua ini?


Tak disangka-sangka Ji Heon mememeluk Moo Won. Moo Won yang terkejut dengan tingkah Ji Heon yang aneh langsung melepaskan diri dan bertanya apakah  Ji Heon  sudah gila?

Ji Heon kesal dengan jawaban Moo Won yang tak tahu berterima kasih.

Hehe.. ternyata Moo  Won memang selalu disayang oleh Ji Heon.


Di rumah Moo Won menyalahkan ibunya atas semua yang terjadi di perusahaan. Iapun menanyakan tentang kata-kata ayah Ji Heon di kantor kemarin yang menuduh ibu yang memulainya lebih dulu. Apakah ibu telah melakukan sesuatu?


Ibu lantas membeberkan apa yang telah ia lakukan bersama Manager Park, tapi Presdir Cha mengetahui rencana mereka?  Sepertinya tidak. Tapi untuk jaga-jaga, ibu Moo Won menelepon Manager Park agar berhati-hati dengan tindakannya.


Nenek memarahi Presdir Cha dan menyuruhnya untuk membantu ibu Moo Won. Namun Presdir Cha berkelit dan mengatakan kalau ibu Moo Won yang memulai semua.  Ia malah meminta Nenek untuk membelanya, membela Ji Heon. Nenek tak ingin membela siapapun karena Moo Won adalah cucunya juga.


Walaupun sudah tua, Presdir Cha masih tetap manja pada ibunya. Untuk menyenangkan hati ibunya, Presdir Cha memijat Nenek sehingga kekesalan Nenek berkurang. Ji Heon yang baru saja pulang tersenyum melihat interaksi ayah dan neneknya.


Di dalam kamar, ia mengeluarkan isi hatinya pada gambar Eun Seol. Ia akan menunggu Eun Seol kembali pada Eun Seol si gila kepala cepol. Ia akan bersabar. Masih tetap memandangi ‘Eun Seol’ ia meminta Eun Seol agar tak membuatnya menunggu terlalu lama.


Ayah yang mengintip pembicaraan Ji Heon-‘Eun Seol’ langsung membuka pintu lebar dan memarahi anaknya. Apakah ini yang selalu dilakukan oleh Ji Heon? Ji Heon langsung berteriak karena kaget. Tapi ayah berkata kalau ia yang seharusnya kaget karena kelakuan Ji Heon yang berbicara dengan Eun Seol. Ji Heon membantahnya kalau ia tak berkelakuan aneh dan meminta ayah untuk menyampaikan apa yang ingin dikatakannya. Ayah memintanya untuk membuktikan kinerjanya sebagai ganti restu hubungan antara Ji Heon dan Eun Seol. Sebelum pergi, ayah menyuruh Ji Heon untuk mengganti gambar Eun Seol dengan boneka saja.

Hihihi.. kalau seperti itu malah membuat Ji Heon jadi orang aneh nggak sih?


Na Yoon belum terbiasa akan kerasnya lantai rumah Eun Seol yang ia tiduri dan pindah ke samping Myung Ran. Ia mengajak Eun Seol berbicara tentang siapa yang akhirnya ia pilih? Apakah Eun Seol sudah membuat keputusan? Ia pernah menonton film tentang seorang wanita yang hidup bahagia dengan dua pria yang mencintainya. Dan terbayang kembali film tersebut dengan ia, Ji Heon dan Moo Won sebagai pemeran utamanya.


Namun Na Yoon segera mengenyahkan pikiran itu karena ia bukan lagi pemeran utamanya. Eun Seol kemudian membayangkan dirinya yang berada dalam film tersebut dan mendesah alangkah mudahnya jika hal itu dapat terjadi.


Tapi ia teringat akan nasehat ayahnya kalau dengan tak memilih malah akan menyakiti kedua belah pihak. Ia meyakinkan dirinya sendiri kalau ia tak akan menjadi pengecut dan hidup seperti yang selalu ia inginkan.


Keesokan harinya saat membangunkan Ji Heon, ia ingin mengatakan sesuatu tentang keputusannya. Tapi Ji Heon mendahuluinya dengan mengatakan kalau ia akan mengembalikan Eun Seol menjadi gadis gila si kepala cepol yang dulu dikenalnya. Eun Seol terbelalak mendengar kata-kata Ji Heon, apalagi saat Ji Heon mengatakan kalau ia akan berhenti menyukai Eun Seol sampai ia kembali menjadi Eun Seol yang dahulu ia kenal.


Ia hanya meminta Eun Seol selalu bersamanya 24 jam sehari selama ia butuhkan. Eun Seol menolak hal itu karena siang ini ia telah berjanji untuk menemui Bong Seuk, temannya. Ji Heon menggerutu karena  Bong Seuk selalu menemui Eun Seol, tapi ia mengijinkannya.

Aww.. belum menjadi pacar, tapi Ji Heon sudah membuktikan dirinya akan menjadi pacar yang pengertian. So sweet..


Di lift Moo Won bertemu dengan Presdir Cha. Ia meminta maaf atas apapun yang telah dilakukan oleh ibunya dan kata-kata tak menyenangkan yang ia katakana kemarin. Tapi ia juga mengkritik tindakan Presdir Cha yang membuat perusahaan rugi. Dan  ia akan membawa kasus ini ke pengadilan jika Presdir Cha tak mengambil tindakan.


Moo Won benar-benar serius dengan perkataannya karena ia mulai berkonsultasi dengan pengacara dan ibunya. Kebetulan ia bertemu dengan Eun Seol di depan lift dan seperti biasanya ia mengagetkan Eun Seol yang sedang tekun membaca dokumen.  Ia kemudian berkata kalau untuk beberapa saat ke depan, ia akan sibuk dan tak akan sempat mengejutkan Eun Seol atau menyiksa Eun Seol. Eun Seol mengiyakan dan meyemangati Moo Won karena ia yakin kalau Moo Won pasti mampu.


Presdir Cha mendapat laporan dari Sekretaris Jang kalau pihak Moo Won sudah mendapatkan dana untuk melakukan pembelian saham yang sangat tinggi. Tapi hal itu bukan publikasi yang bagus bagi perusahaan DN, karena publik menganggap ada masalah keluarga yang menyeret perusahaan ke dalam konflik. Presdir Cha kesal karena seperti Sekretaris Jang, ia pun juga membaca koran yang membahas isu tersebut.


Saat istirahat siang Eun Seol menemui ‘Bong Seuk’. Ia menerima uang sebagai imbalan yang telah dijanjikan oleh Presdir Cha untuknya. Dia berterima kasih dan berjanji untuk tak kaget pada berapapun nominal yang berada di amplop tersebut karena sebelumnya ia sudah takjub akan jumlah uang yang diberikan oleh Presdir Cha sebelumnya. Presdir Cha tertawa mendengar ucapan terima kasih sekaligus pujian untuknya.


Ia pun mengajak Eun Seul untuk makan siang bersama. Di lift mereka bertemu dengan Manager Park yang merasa lehernya sakit. Presdir Cha menyarankan agar Manager Park menjaga kesehatannya karena ia dan Sekretaris Jang adalah tangan kanan dan kirinya. Ia juga bertanya pada Eun Seol tentang kesetiaan dan apakah ada orang yang dapat berkhianat?


Eun Seol langsung menangkap maksud Presdir Cha dan berkata kalau orang seperti itu harus dihukum seberat-beratnya. Manager Park terlihat ketakutan mendengarnya. Ketika Manager Park pergi, Eun Seol menanyakan tentang Manager Park yang mungkin berkhianat padanya. Dan apakah Presdir Cha akan menyuruh orang untuk menghukumnya? Presdir Cha menolak melakukan itu karena jika ia melakukannya ia terancam akan melakukan pelayanan masyarakat lagi. Kali ini ia akan melakukannya sendiri. Eun Seol bergidik ketakutan mendengar kata-kata Presdir Cha.


Manager Park mencoba mengulik informasi dari Sekretaris Jang tentang apa yang dikatakan Presdir Cha tentang dirinya. Sekretaris Jang mengulang kata-kata Presdir Cha tentang ia dan Manager Park yang merupakan tangan kanan dan kirinya. Dan jika ada yang mengkhianatinya, ia akan menghancurkannya sampai berkeping-keping.


LOL Wajah Manager Park langsung pucat pasi mendengar kata-kata Sekretaris Jang. Wajahnya masih tetap memucat ketika Sekretaris Jang menambahkan kalau kata-kata Presdir Cha itu mungkin terpengaruh oleh drama sageuk yang ia tonton semalam.


Di restoran, Eun Seol dan Presdir Cha memesan mie dingin, dan Eun Seul menyiapkan mie Presdir Cha agar rasanya maksimal.

Heheh.. mereka berdua sudah bertindak seperti mertua dan menantu, ya. Bukan Eun Seol saja yang memperhatikan Presdir Cha, tapi Presdir Cha juga. Ia menyuruh Eun Seol lebih memperhatikan tubuhnya saat tahu Eun Seol sering makan ramen untuk menghemat uang. Karena bagaimanapun juga ia akan menjadi bagian keluarga Cha.

Aww..


Presdir Cha mengatakan kalau ia sekarang menyetujui hubungan Ji Heon-Eun Seol. Eun Seol heran, karena dula Presdir Cha menolak karena latar belakang dan pendidikannya yang tak memadai. Tapi keheranannya terjawab saat Presdir Cha menyuruh  Eun Seol agar nantinya ia harus pergi ke luar negeri untuk mengambil pendidikan lanjutan dan selanjutnya Presdir Cha akan membersihkan masa lalu Eun Seol. Eun Seol jelas-jelas menolaknya karena ia tak kotor dan perlu dibersihkan.


Presdir Cha tahu kalau Eun Seol tidak kotor dan perlu dibersihkan, tapi lingkungan yang mencapnya seperti itu. Dan ia tak ingin hal itu menghalangi hubungan Ji Heon dan Eun Seol. Hanya satu permintaannya, yaitu membantu Ji Heon untuk dapat mengambil alih posisinya sebagai Presdir. 

Ia kemudian menanyakan tentang kesiapan Ji Heon untuk presentasi proyek Coffee Shop mereka. Apakah Ji Heon akan melakukan teleconference lagi? Eun Seol menjawab kalau Ji Heon yang sekarang sudah lebih baik daripada yang dulu.


Dan memang benar, Ji Heon yang sekarang sudah berbeda dengan Ji Heon yang dahulu. Ia sekarang sudah fasih dalam melaksanakan pekerjaannya di Coffee Shop. Bahkan saat ada pelanggan yang mempersulit teman kerjanya –si paruh waktu-, ia membantu menghadapinya.


Namun customer kali ini memang sangat menjengkelkan. Ia menyuruh mereka untuk memanggil pemilik Coffee Shop ini. Walaupun ditahan oleh si paruh waktu, Ji Heon mengantakan kalau ialah yang memegang posisi tertinggi di café ini. Customer itu tak percaya, maka Ji Heon menyuruh customer itu untuk menggoogle dirinya, Cha J, dan pasti ada berita yang berkaitan dengan dirinya.


Si paruh waktu terkejut saat ia menggoogle Cha J dan keluar wajah Ji Heon. Ia menunjukkan hasil googlingnya.  Namun customer tersebut masih bersikeras  untuk  mengancam mereka dan mengadukan hal ini ke media. Maka Ji Heon mengeluarkan kartu As-nya. Ia mempersilahkan customer itu untuk mengadukannya ke media. Ia nanti akan mengadukan pada ayahnya dan ayahnya akan menghukumnya.


Customer itu langsung pucat. Ia tentu sudah pernah tentang hukuman Presdir Grup DN yang membuatnya melakukan pelayan masyarakat. Ia pun beranjak pergi. Namun Ji Heon menghentikannya. Ia menyuruh customer itu untuk meminta maaf pada si paruh waktu.

Yay! Hidup Ji Heon. Dan Eun Seol, yang kebetulan baru saja datang untuk menemui Ji Heon melihat kejadian ini, tak dapat menyembunyikan rasa bangganya melihat Ji Heon mampu menghadapi orang dan menyelesaikan masalah pula.


Sementara si paruh waktu masih menyisakan rasa terkejut dan kekesalannya. Karena rupanya hanya dirinyalah pegawai yang tak tahu status Ji Heon di coffee shop ini.  Dan siapakah sebenarnya wanita yang sering  mendampingi Ji Heon? Baby sitternya? Ji Heon membantah, karena wanita yang suka menyiksanya itu adalah sekretarisnya.

Dan Eun Seol pun melangkah masuk dan mengatakan kalau sebaliknya, Ji Heon lah pria yang suka menyiksanya.

Ji Heon kegirangan mendengarnya. Bukan girang karena Eun Seol mengatakan kalau ia suka menyiksa Eun Seol. Tapi girang karena Eun Seol mengakui kalau ia adalah seorang PRIA.


Di taman, Eun Seol menceritakan kesulitannya dulu sebagai pegawai paruh waktu yang juga bersekolah, dan ia tak mendapatkan tunjangan (termasuk juga beasiswa) yang umumnya diberikan pada pegawai tetap. Ji Heon menatap Eun Seol membuat Eun Seol canggung dan meminta Ji Heon untuk berhenti menatapnya.


Ji Heon tak menghiraukan permintaan Eun Seol malah berkata, “Aku pernah menjanjikan sesuatu pada Moo Won, namun sepertinya aku harus melanggar janjiku padanya.”


Dan ia pun mendekat pada Eun Seol, mencium dahi sambil membelai pipinya.

Aww…


Romantic progress yang sangat pesat ini membuat hati Ji Heon berbunga-bunga. Sesampainya di toko, ia langsung memeluk erat si paruh waktu yang kebingungan melihat kelakuan bosnya.


Na Yoon menemui ibunya untuk meminta ibu membantu Moo Won. Ibu Na Yoon kesal karena pertemuan mereka bukan karena Na Yoon ingin pulang. Tapi Na Yoon memang tak ingin pulang sekarang, karena ia sekarang sudah merasa cukup nyaman. Ibunya menjawab kalau urusan bisnis akan ia tangani sendiri.


Tiba-tiba Moo Won muncul dan menyapa mereka. Ia bertanya pada ibu Na Yoon, sebenarnya ibu Moo Won akan berdiri di pihak mana. Ia harus memutuskannya, karena dengan nilai sahan yang ia miliki tak akan  cukup untuk menjadi saham mayoritas. Sebelum pergi, Moo Won meminta Ibu Na Yoon untuk memikirkannya mulai sekarang.

Na Yoon memuji Moo Won yang menurutnya keren saat menghadapi ibunya yang tak mudah dikalahkan. Apakah Moo Won sekarang menghadapi kesulitan saat ini? Moo Won mengakui kalau ia sedang mencari pinjaman di sana sini. Apakah Moo Won masih sempat menemui Eun Seol?


Moo Won mengakui kalau ia sekarang sedang menghindari Eun Seol karena ia takut padanya. Na Yoon mengakui kalau Eun Seol sedikit menakutkan. Moo Won membantah, ia bukan takut seperti itu, tapi ia  takut ditolak. Na Yoon kesal karena sekarang Moo Won tampak menyedihkan dengan sikap seperti itu. Karena kesal, ia pun merasa kegerahan dan menyalahkan cuaca musim panas yang sekarang lebih lama.


Na Yoon pun bangkit meninggalkan Moo Won. Tapi kekesalannya berujung pada hak sepatunya yang tersangkut pada lantai taman. Sambil tersenyum, Moo Won menghampiri Na Yoon dan melepaskan hak sepatunya yang tersangkut.  Malu-malu Na Yoon berterima kasih atas bantuan Moo Won.


Nenek memanggil seluruh anggota keluarga untuk makan malam bersama. Ia menanyakan jumlah uang yang harus dikumpulkan oleh Moo Won karena nenek akan memberikannya pada Moo Won. Sikap ini tentu membuat kaget semua yang hadir. Ji Heon mengatakan kalau ia telah menginvestasikan uangnya pada Moo Won, membuat nenek senang dan meminta ayah Ji Heon dan ibu Moo Won untuk menyelesaikan masalah mereka.


Setelah makan malam ayah Ji Heon dan ibu Moo Won melakukan pembicaraan empat mata. Hampir saja mereka bertengkar tentang siapa yang berkhianat terlebih dahulu. Apakah ibu Moo Won yang berniat untuk menusuk ayah Ji Heon dari belakang atau ayah Ji Heon yang pada akhirnya membelot dan memihak saingan mereka?


Tak ada jawaban pasti, karena Nenek mengintip mereka, membuat ibu Moo Won dan ayah Ji Heon harus berkata manis dan berbaikan kembali. Walaupun sedikit curiga, Nenek melihat mereka dengan puas.


Sementara itu di kamar Ji Heon juga terjadi pembicaraan empat mata. Moo Won mengagumi figurine yang dimiliki Ji Heon. Dengan murah hati Ji Heon memberikan pada figurine yang limited edition pada Moo Won.
Moo Won bukan orang bodoh. Ia langsung tahu pemberian murah hati itu pasti sebagai ganti sesuatu yang penting. Dan ia dengan tepat menebaknya,

“Kau tak memegang janji, ya?”

Ji Heon tak mengiyakan, tapi ia meminta Moo Won memukulnya saja. Dengan marah, Moo Won beranjak pergi, tapi ia kemudian berbalik dan menendang Ji Heon.


Kekesalan Na Yoon akan Eun Seol dan Moo Won masih berlangsung. Saat pulang ke rumah Eun Seol, ia melihat Eun Seol sedang membawa belanjaan. Dengan sengaja  ia menabraknya hingga apel yang dibeli Eun Seol berjatuhan. Mereka berdua langsung terbirit-birit  memungutinya.
Eun Seol yang tahu kalau Na Yoon masih cemburu padanya, memintanya untuk memukulnya saja langsung daripada menjatuhkan apel yang dibeli. Apel itu sangat mahal baginya.  Dan mereka pun mufakat kalau lain kali Na Yoon yang akan membelikan apel dan lainkali jika Na Yoon kesal maka ia dapat memukul Eun Seol. Eun Seol menyetujui, walaupun ia tak dapat berjanji tak akan reflek memukul balik.


Moo Won dan Ji Heon sama-sama membuktikan dirinya untuk melakukan yang terbaik. Moo Won berhasil mengendalikan media dan publikasi dengan menepis rumor kalau pihak mereka tak memiliki uang untuk pembelian saham. Dan ia bersama ibunya melakukan penandatangan akuisisi yang membuat ibunya bangga.


Sementara Ji Heon dibantu Eun Seol juga berusaha keras mempersiapkan presentasi untuk rencana marketing Coffee Shop. Mereka menemui karyawan Coffee Shop tempat ia bekerja untuk mendapat masukan.  Ia juga menemui Na Yoon dan membicarakan masalah promosi yang mungkin dapat dilakukan untuk memasarkan Coffee Shop-nya. Mereka berlatih di taman agar Ji Heon dapat mengatasi phobianya.

Dan hari H pun tiba. Saatnya untuk presentasi.


Eun Seol meyakinkan Ji Heon yang pasti dapat melakukan presentasi ini. Tapi Ji Heon masih ragu. Bagaimana nanti jika ia mulai gemetar? Maka gemetarlah. Tapi lakukan nanti, bukan sekarang. Ji Heon meminta Eun Seol agar diam sejenak agar ia dapat terbiasa dengan penonton yang akan memandangnya. Dan sekarang ia akan berlatih untuk dipandangi oleh penonton. Ia memandang Eun Seol lama, dan setelah merasa cukup ia melepaskan Eun Seol.


Di ruang meeting,  ketika dipersilahkan untuk memulai presentasinya, Ji Heon tak juga memulai. Tubuhnya mulai diserang rasa panik, dan ia teringat akan perkataan Eun Seol yang mengingatkannya kalau ia telah mempersiapkan dirinya selama ini. Tapi tubuhnya tetap tak mau diajak kompromi.

Ayah Ji Heon mulai khawatir dan mengatakan kalau ia yang akan menggantikan Ji Heon dalam presentasi ini, namun Ji Heon menyela,

“Pertama-tama, mari kita lihat bersama-sama di layar ini. Coffee Shop H ini..”
Dan Ji Heon mulai membeberkan presentasinya. Apa yang telah ia pelajari selama bekerja di Coffee shop, dan pentingnya peranan customer service dalam industry ini. Dan tanggung jawab customer service terletak pada para pegawai. Dan ia mengusulkan untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai, begitu pula dengan pegawai paruh waktu.

Akhirnya Ji Heon  menutup presentasi dengan mengatakan kalau, “Coffee shop H kita akan memberikan kepuasan mengopi yang maksimal bagi para pelanggan.”


Presdir Cha tak dapat menyembunyikan kebanggaannya melihat presentasi Ji Heon. Semua orang bertepuk tangan, bahkan Moo Won dan ibunya pun mengakui walau dengan sedikit enggan. Mereka juga ikut bertepuk tangan.


Eun Seol yang selama itu menguping dari balik pintu ruang meeting juga tak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya. Saat Ji Heon keluar, mereka berpelukan dan Eun Seol memuji performance Ji Heon. Dan semua  itu tak luput dari pandangan Moo Won yang juga baru saja keluar dari ruang meeting.


Tapi ia sepertinya ia sudah mempersiapkan diri menghadapi hal itu. Namun ia belum mempersiapkan diri saat sekretarisnya memberitahu kalau Eun Seol meminta dirinya dipindahkan ke bagian lain. Dan sekarang HRD sedang memasang iklan lowongan untuk posisi Eun Seol. Moo Won pun menerima telepon dari Eun SEol yang memintanya untuk bertemu.

Eun Seol menolak ajakan Ji Heon untuk mengantarnya pulang. Ia akan menemui temannya. Ji Heon langsung menebak kalau Eun Seol akan pergi dengan Bong Seuk lagi. Tapi kali ini bukan Bong Seuk. Karena Bong Seuk juga keluar kantor dan memuji presentasi yang disiapkan oleh Ji Heon dan teman Bong Seuk ini.


Ibu Moo Won cemberut terus menerus membuat ibu Na Yoon bertanya alasannya. Tentu saja tak lain dan tak bukan karena Eun Seol. Ia tak percaya kalau Moo Wonnya dapat kalah oleh Ji Heon. Tapi ia menolak mentah-mentah saran ibu Na Yoon untuk membuat ulah lagi. Ia tak mau dimarahi oleh ibu mertuanya. Tapi ia tak dapat menyembunyikan keingintahuannya, sebenarnya ide apa yang timbul dari benak ibu Na Yoon? Dan ibu Na Yoon pun mengatakan kalau tak ada orang yang ‘bersih’ di sekitar mereka.


Di rumah, ayah Ji Heon menyuruh Ji Heon untuk mulai memilih sekretaris yang baru. Ji Heon kaget mendengarnya. Ia sudah memiliki Eun Seol. Tapi ayah  Ji Heon memberitahukan kalau Eun Seol meminta untuk dipindahkan ke bagian lain. Ji Heon langsung buru-buru pergi setelah mengomel kesal pada ayahnya, kenapa baru sekarang ayah memberitahukan hal seperti ini padanya?


Eun Seol menemui Moo Won yang memintanya untuk mengurungkan niatnya untuk pindah ke bagian lain. Jika hal itu dikarenakan canggung berada disekitarnya, maka jangan. Jika ia menyesal karena menolaknya, maka tetaplah di posisi itu. Ia sudah mengetahui perasaan Eun Seol sebenarnya. Dan ia telah berpikir jika Eun Seol tak dapat menyukainya lebih dari sekedar teman, maka ia akan cukup puas hanya sebagai teman saja.

“Aku tahu sepertinya hal itu tak mungkin. Tapi aku akan berusaha. Kenapa? Karena jika kau hilang dari pandanganku, aku takut kalau aku akan tersesat dan kehilangan arah. Jadi jika kau mengkhawatirkanku, tetaplah berada dalam pandanganku, seperti saat ini.”
Sigh.. best speech ever.


Moo Won mengantarkan Eun Seol pulang. Eun Seol mengaku kalau ia akan mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Moo Won. Moo Won meminta ijin Eun Seol untuk memeluknya. Untuk kali ini saja.


Dan Moo Won pun memeluknya.


Dan Ji Heon pun melihatnya.


Komentar :

Jujur saya belum menonton episode berikutnya. Tapi saya merasa kalau Ji Heon tak akan marah dengan pelukan Moo Won ini. Ia akan lebih mengkhawatirkan kepindahan Eun Seol ke divisi lain.

Dan Na Yoon, saya suka dengan karakter second lead yang berbeda dengan Oh Yoon Ju versi 1 dan versi 2. Dia mengakui kalau Ji Heon tak menyukainya. Titik. Dan dunianya tetap akan berputar walaupun tanpa Ji Heon. Juga tanpa Moo Won.

Cowok bukan hanya satu di dunia. Hilang satu masih ada yang tumbuh. Bukan hanya seribu. Tapi ada sejuta, kali.

Selanjutnya : Sinopsis Protect The Boss Episode 12

Artikel terkait:
- All About Protect The Boss

5 comments :

  1. Iya disini akting Na Yoon keren ya, jadi suka liat dia di Protect The Boss daripada di Personal Taste yang nyebelin.. Hehe

    Moo Won selalu tampan <3
    Saranghae Jeje Oppa :)

    ~ Ayra ~

    ReplyDelete
  2. @ husnul khotima: :)
    @ ayra : berarti Wang Ji Hye aktris bagus, ya. Bisa mainin peran nyebelin juga peran yang nggemesin.

    ReplyDelete
  3. KREN jdi bgung mau plih yang mna yach !!! and Na yoon I like your character !!!

    ReplyDelete
  4. tar dulu,, aku lupa,, janji apa yaa yg diomngin mon woo n ji heon????????

    ReplyDelete