October 2, 2011

Mengingat Masa Lalu – Bagian 1


Sewaktu kecil, pernah menunggu seseorang satu hari tertentu? Dan seseorang itu bukan pacar, karena saat itu masih terlalu kecil untuk pacaran. Ia adalah loper majalah langganan. Tak seperti sekarang, majalah anak-anak saat saya kecil dulu hanyalah tiga, yaitu Bobo, Kawanku dan Donal Bebek. And I’m proud to say that I’m a Bobo’s girl.
 
Di majalah Bobo, banyak cerita-cerita lucu dan bagus yang tercetak di majalah yang hanya berisi 32 halaman. Bahkan saya masih teringat dimana letak cerita Paman Kikuk yang bergantian dengan Juwita-Si Sirik, cerita Bona, cerita Oki dan Nirmala, halaman soal pelajaran dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 (yang selalu saya balik secepat-cepatnya tanpa melirik sedikitpun) dan cerita karya teman-teman sebaya saya dalam Aneka Kecil Tak Disangka.

Sampai sekarang ada beberapa cerita yang masih melekat di benak saya. Salah satunya adalah :

Kisah Sebuah Keluarga Penjahit

Pak Amin adalah seorang penjahit terkenal di desanya. Penduduk desa selalu menjahitkan pakaian di tempat Pak Amin. Kadangkala, karena terlalu banyak jahitan, Pak Amin meminta istri, ibu mertua bahkan anak gadisnya untuk membantunya. Namun jika hanya sedikit jahitan, Pak Amin melakukannya, dari membuat pola, memotong dan menjahit sendiri.

Saat mendekati hari lebaran, Pak Amin menerima banyak pesanan baju hingga Pak Amin kewalahan. Suatu hari, Pak Lurah meminta tolong agar Pak Amin memperbaiki celananya yang kepanjangan.

“Celananya harus dipotong 10 cm, Pak Lurah,” kata Pak Amin.

“Apakah kau bisa melakukannya, Pak?” tanya Pak Lurah. “Celana ini aku dapat dari saudaraku yang baru saja pulang dari luar negeri. Dan aku ingin memakainya saat hari raya nanti.”

“Tapi saya sangat sibuk, Pak Lurah,” Pak Amin mencoba menjelaskan.

Tapi Pak Lurah tak mau memotongkan celananya ke penjahit lain dan ia terus memohon agar Pak Amin yang memotong celananya.

Akhirnya Pak Amin menyetujuinya dengan berat hati. Ia berjanji celananya akan selesai seminggu lagi, yaitu satu hari sebelum lebaran.

Tapi Pak Amin memang benar-benar sibuk. Kain-kain menggunung, menunggunya untuk dijadikan sepotong baju yang cantik dan menawan. Roda mesin jahitnya selalu berputar dan menghasilkan rok dan celana yang nyaman dipakai.

Ia akhirnya meminta tolong pada anak gadisnya agar memotongkan celananya 10 cm lebih pendek. Tapi anak gadisnya menjawab, “Tapi pola yang harus aku gunting masih banyak, Pak. Nanti saja kalau aku sempat ya, Pak.”

Pak Amin melihat kertas-kertas pola yang memang masih setumpuk di meja anak gadisnya, hanya mengiyakan. Ia kemudian meminta bantuan pada ibu mertuanya. Tapi ibu mertuanya keberatan, “Kain yang harus dipotong banyak sekali, Amin.”

Dan Pak Amin meminta tolong pada istrinya, Tapi istrinya juga memberi jawaban yang sama. Ia akan melakukannya kalau sempat, tapi kain-kain yang harus dijelujuri sangatlah banyak. Jarumnya tak pernah berhenti siang dan malam.

Dan celana itu akhirnya dibiarkan teronggok di sudut ruang tamu mereka selama berhari-hari.

Hingga dua malam sebelum hari raya…

Anak gadis Pak Amin akhirnya menyelesaikan menggunting pola. Pesanan jahitan ayahnya telah selesai ia kerjakan semua. Saat ia beristirahat di ruang tamu, ia melihat celana Pak Lurah yang belum tersentuh. Ayah, Ibu dan Nenekya semua masih sibuk bekerja. Dan iapun teringat akan permintaan ayahnya.

Di ruang tamu, anak gadis Pak Amin memotong dan menjahit celana itu kembali. Baru saja ia selesai melipat rapi celana itu, temannya memanggil untuk ngabuburit dan berbuka puasa di rumah Bu Dokter. Sebelum keluar rumah, ia berpamitan pada ayah ibunya.

Setelah pola-pola selesai dibuat, sesaat kemudian kain terakhir pesanan untuk lebaran pun berhasil digunting oleh ibu mertua Pak Amin. Ketika ibu mertua Pak Amin duduk di ruang tamu untuk meregangkan badan, ia melihat celana Pak Lurah. Cucunya setelah membantu mereka, langsung pergi bermain, anak dan menantunya masih sibuk mengerjakan jahitan. Lebih baik ia membantu memotong celana Pak Lurah itu.

Pekerjaan itu tak membutuhkan waktu lama. Sesaat kemudian, kantuk pun menyerang. Tubuhnya yang tak muda lagi sekarang tak seprima dulu. Sebelum masuk kamar untuk tidur, ia meminta pada anaknya untuk menyiapkan makanan berbuka di samping tempat tidurnya.

Sesaat sebelum maghrib tiba, pekerjaan istri Pak Amin berakhir juga. Kain-kain yang ia jelujuri sudah siap di tumpukan samping mesin jahit Pak Amin untuk dibuat menjadi pakaian yang akan menjadi baju lebaran para penduduk desa.

Sebelum memasak untuk berbuka, ia menyempatkan diri duduk berselonjor di kursi tamu. Celana Pak Lurah mengganggu penglihatannya. Anaknya pergi entah kemana dan ibunya berada di dalam kamar, tidur kelelahan. Segunung kain masih harus dikerjakan oleh suaminya. Maka, sebelum masuk ke dapur, ia memotong dan melipat celana itu dengan rapi. Setelah itu ia mulai menyiapkan makanan berbuka dan mulai mempersiapkan masakan untuk lebaran yang tinggal dua hari lagi.

Saat maghrib datang, Pak Amin belum juga menyelesaikan jahitan pesanan para penduduk desa. Bahkan ia harus berbuka puasa di depan mesin jahitnya. Istrinya sekarang sibuk meracik bumbu di dapur untuk lebaran nanti, sementara anaknya belum pulang dari tarawih. Sedangkan ibu mertuanya, tak keluar dari kamar sejak tadi sore.

Tepat sebelum tengah malam, baju terakhir berhasil dijahitnya. Ia melipat semua baju itu dan membungkusnya dengan rapi. Tak lupa ia tuliskan nama pemilik di tiap-tiap bungkusan itu. Istrinya sudah tidur di kamar. Begitu pula dengan anak dan ibu mertuanya. Saat akan mengunci pintu depan rumah, ia melihat celana Pak Lurah masih terlipat rapi, menunggu untuk dikerjakan.

Ia mendesah karena ternyata pekerjaannya masih belum usai. Tapi pesanan tetap pesanan. Apalagi Pak Lurah akan mengambilnya besok pagi. Maka ia kembali membuka mesin jahitnya. Ia memotong 10 cm dan menjahitnya lagi.

Esok harinya ia terbangun karena ada suara ribut-ribut di luar kamar. Saat keluar kamar, ternyata ada Pak Lurah yang sedang memegang celana miliknya dan berkata dengan gusar,

“Kenapa celana panjangku jadi celana pendek?”

Disclaimer: Cerita di atas bukan milik dee. Saya membaca cerita itu di majalah Bobo belasan tahun yang lalu. Saya hanya menceritakan kembali cerita ini. Judulnya pun saya juga sudah lupa. Jika ada yang masih memiliki majalah yang berisi cerita tersebut, tolong saya diberitahu siapa pengarangnya.

Credit: Bobo 
Picture : e-book webkoe

6 comments :

  1. waktu smp ari juga suka baca majalah ini pinjam punya ade hahahaha

    ReplyDelete
  2. Iyaa..waktu masih kecil dulu sukaa bgt baca majalah bobo. pinjem punya sodara.
    suka sama cerita pak janggut.

    ReplyDelete
  3. @ari: sampe sekarang aku masih nyulik bobo punya anakku :)
    @melly : iya.. Pak Janggut! Doraemon jaman dulu :) Eh duluan mana ya?

    ReplyDelete
  4. Crita fav d mjlh Bobo slah stunya ttg seorang anak manja yg maksa sopirnya nyalip dan ternyta mengakibtkan kcelakaan, crita tragis yg smpe skrg msh MuRy ingat. Yg 1 lg ttg crita anak yatim piatu yg kdinginan dan kelaparan lalu memakan nasi yg sngat hangat pemberian seseorg yg ternyta Adlh batu (!). Udah lma bgt jmn SD dulu, bhkn mjahnya tukeran sma tmen2 plus Donalnya minus Kawanku yg bru MuRy bca stlh SMP. Mkasih mbak Dee, sdh membntu mengenang msa lalu.
    - ai of MuRy -

    ReplyDelete
  5. klo di rumahku (ngawi, jatim) selain bobo masih ada lagi majalah kuncup dan mentari. Karna rumahku di desa jd tiap sabtu sore was2 nungguin kakak pulang dr sekolah di kota (ceritanya kakakku kos) bawa majalah bobo. Klo majalah kuncup dan mentari biasanya dapat pinjaman dr sekolah waktu SD.... yg paling aku suka oki dan nirmala plus bona dan rongrong...

    ReplyDelete
  6. @Mury : ada juga ya cerpen tragis. Biasanya yg tragis kan dongeng, bukan cerita ms kini. Kayanya Kawanku yang Mury baca, kawanku jaman skrg ya yg untuk abg? Kawanku jaman dulu sama kaya bobo. Untuk seumuran sd gitu deh..
    @Indun: eh iya.. mentari. Baru inget deh. :) Kalo kuncup gak begitu baca, soalnya gak ada yang supply. hihihi.. Sekolahku banyakan mentari. Kuncup dikit. Kayanya kertasnya lebih tipis dari bobo, kan? tau sendiri anak kecil. Hardcover aja bisa robek, apalagi yang tipis2kaya jaman dulu. menunjuk diri sendiri):)

    ReplyDelete